10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGEJAR TARGET
...----------------...
Setelah memenuhi panggilan alam, mencuci muka dan gosok gigi, aku memindahkan beberapa liter air ke bak mandi.
Lalu melahap ransum pagiku dan secangkir kopi susu.
Berdiri di sisi pantai dan mengepalkan tangan serta mengangkatnya tinggi tinggi,aku mulai berseru, "SELAMAT PAGI SEMUA! AYO TETAP SEMANGAT! JANGAN JADI RACUN DUNIA! JADILAH PENGGEMBIRA!"
Kemudian aku melakukan aktifitas rutin seperti biasa, mulai dari melakukan pemanasan, cardio, lari keliling pulau yang sekarang bisa kulakukan sampai 3 kali!
Sekali jalan, dua tiga lalat kutepuki. Hehehe..
Menemukan 3 box bantuan dengan skill analisaku saat berlari keliling pulau, membawa semuanya ke depan rumah.
Lanjut berlatih kickboxing, disambung latihan menggunakan katana dan yoga.
Terakhir pendinginan.
Durasi waktu 01.45.56.
Aku menuju ke kebunku. Memeriksa kondisinya saat ini. Mencabuti gulma. Merapikan jalur tanaman.
Wortel sudah tampak siap dipanen. Kuambil satu dan menganalisanya. Kualitas wortel sangat baik, bahkan lebih baik dari wortel kebanyakan di bumi. Berwarna oren segar. Diameternya juga lebih besar, nyaris sebesar lobak.
Lalu kucabut semua wortel dan memotong bagian atasnya untuk pembibitan kembali.
10 wortel siap makan kumasukkan ke inventory.
Sepuluh bibit kulingkupi energiku selama beberapa waktu hingga tunas tunas baru mulai bermunculan. Total aku mendapatkan 20 tunas.
Setiap tunas wortel kutanam berjarak, kuberi kapsul pupuk dan kusirami dengan air bercampur nutrisi tanaman.
Selanjutnya tinggal menunggu tomat, cabai dan melon yang akan ku panen besok. Jambu biji pun sudah berbentuk buah kecil kecil, akan kupanen beberapa hari lagi.
Tanah gembur yang kuberi pupuk limbah ikan tempo hari kugunakan untuk menanam biji mangga. Posisinya sudah tepat untuk menumbuhkan pohon tersebut. Sebelum kutanam, biji mangga kualirkan energiku, hingga tak lama tumbuh tunas pada bijinya.
Aku memulai ekspedisiku menelusuri hutan. Setelah dua jam berkeliling aku menemukan 2 box bantuan.
Seekor kelelawar kecil bergelantung disalah satu pohon pendek ditengah hutan, sepertinya sejenis kelelawar pemakan buah.
Entah kenapa, aku kepikiran untuk memperingati kelelawar itu. "Kamu gak boleh ya curi curi buah di kebunku. Kalau mau kamu harus ijin dulu. Nanti aku kasih. Kalo kamu nakal, nanti kukurung. Inget ya!"
Aku girang sekali menemukan sejenis tanaman bumbu dapur yang sama dengan di bumi, kunyit dan sereh. Langsung kuambil beberapa untuk masakan dan ditanam kembali di kebunku.
...----------------...
Di depan rumah, aku menumpuk kelima box bantuan dan menggandakannya.
Aku mendapatkan :
* 10 tali rami dan 60 bilah kayu dari hasil membongkar box.
* 4 liter air minum.
* 6 biskuit asin.
* 2 panci tembikar dengan penutup.
* 2 kantung beras ukuran 1kg.
* 2 kotak paku isi 20pcs.
* 2 tombak pendek/ lembing.
* 2 gulung benang sintetis.
* 2 bongkah tanah liat.
Semua masuk inventory.
"Celia, ada berapa jenis senjata yang kupunya?"
"Naya, kamu punya senjata :
* Crossbow.
* Katana.
* Lembing.
* Pistol kejut.
* Pisau lipat.
* Palu.
* Kapak kecil.
* Paper spray."
"Banyak juga ya." Ucapku manggut-manggut.
Btw, aku sudah lama tidak menggunakan crossbow. Aku harus mulai berlatih lagi. Maka segera kubuat papan target dan memasangnya di area belakang rumahku, mengarah ke dinding rumah yang sudah kulapisi beberapa bilah kayu. Takutnya kan aku khilaf ya.
Membuat jarak tembak 10-20-30-40-50 meter ke belakang, yang kutandai dengan tonggak kayu.
Aku berlatih selama satu jam. Mulai dari jarak terdekat hingga terjauh. Dan ternyata masih cukup lihai. Tak ada satu pun yang meleset.
Setelah meminum habis satu botol 600ml air, aku beralih ke lembing. Dapat digunakan untuk serangan jarak pendek, atau dilemparkan untuk jarak jauh.
30 menit pertama aku berlatih tusukan dengan jarak pendek.
30 menit selanjutnya aku berlatih melempar dengan jarak 10-15-20 meter. Yang menjadi korban adalah pohon kelapa yang masih berdiri tegak. Maaf ya pohon kelapa.
Jangan heran kenapa aku mampu berlatih selama itu. Karena tubuhku sekarang tak mudah lelah. Hanya rehat sejenak, energiku terisi kembali, bahkan aku tak merasakan sakit berlebihan di seluruh badan.
Hari menjelang siang saat aku berhenti berlatih.
Merasakan lengket akibat keringat. Menuju sumur, membasuh wajah dan tubuh ku.
...----------------...
Siang ini aku mau makan enak.
Dengan panci tembikar, aku mencuci beras, dan memasaknya di atas tungku.
Saat sudah setengah matang, kuberi sedikit penyedap, dan dilanjutkan memasaknya.
2 kepiting yang kubunuh (kejam kali naya!) lalu kubumbui dan kupanggang.
Panci tembikar panas berisi nasi, dan kepiting bakar ala chef naya, kuletakkan di atas anyaman daun kelapa.
Aku menggelar kain kanvas di depan rumah. Piknik dong ceritanya. Soalnya belum punya kursi meja.
Aku melambai ke arah langit. "Hai semuanya, mari kita mukbang! Yakin gw enak ini!"
Aku mulai melahap hasil masakanku, dan jelas gak mengecewakan. Endul surendul!
Dengan kekuatan mulut pedasku, kusedot capit capit sang kepiting. Dan menggunakan tang dari toolbox, kubuka cangkang kerasnya.
...----------------...
Di bumi.
Keluarga Celia.
"Asli naya, jahad bangets, laper kan gw." Celia misuh misuh melihat soulmatenya asik makan kepiting.
"Hahaha.. Parah emang dia. Kayak yang enak banget ya makannya." Sahut Dami.
"Naya tuh emang pinter masak tau! Aah.. Jadi kangen masakan dia." Celia langsung melow.
Di basis kota Jaya.
Seorang petugas menelan ludahnya, ikut mengiler melihat naya mukbang. "Dia nih makannya keliatan enak banget ya. Mana gada jaim jaimnya. Bodo amat gitu celemotan juga."
Petugas yang lain menanggapi, "Cewe cakep mah bebas. Mau makannya ngasal juga tetep aja kliatan cakep."
"Tapi dia beneran keren ya. Liat kan dari tadi pagi gada diemnya. Latihan, berkebun, eksplorasi, latihan lagi. Mana pinter masak juga. Gila idaman banget."
Di rumah keluarga naya.
Sepasang suami istri sepuh mendatangi rumah kedua eyang naya.
Mereka duduk saling berhadapan. Ketegangan terasa memenuhi ruang tamu.
"Jadi apa maksud kedatangan kalian kemari." Tanya yangkung dingin.
Si tamu pria berdeham. "Kami bermaksud mengenal kanaya secara pribadi, bagaimanapun dia juga cucu kami." Ucapnya dengan agak segan.
Yangti tersenyum mencibir, "Yakin dia cucu kalian? Kan kalian sendiri yang bilang dia bukan keturunan kalian. Udah lupa? Pikun? Amnesia?"
"Gak ada manfaatnya juga kalian mengenal kanaya. Apa yang kalian cari? Ketenaran? Mentang mentang sekarang kanaya jadi tontonan publik?! Mau numpang tenar kalian?! Kalian pikir kami senang kanaya sekarang terkenal?! Mana paham kalian betapa beratnya kami yang mengurus nya sedari kecil harus merelakan dia di pindah paksa ke planet lain yang entah ada di mana!" Yangti menggebu gebu menumpahkan kekesalannya.
"Tapi mba, gimanapun dia juga masih cucu kami, ada darah kami mengalir ditubuhnya. Ada nama anak kami yang tersemat didirinya." Ujar si tamu sepuh wanita. Berkata selemah lembut mungkin.
"Trus apa faedahnya?! Ada kalian nemuin dia waktu kedua orang tuanya meninggal?! Bahkan pradipta yang kalian bilang anak kalian itu, KAMI yang menguburkan nya! BUKAN KALIAN YANG KATANYA ORANG TUANYA! Padahal jelas jelas kami meminta kalian datang! Mana pengakuan kalian dulu kepada kanaya!! Bahkan melihatnya koma di ranjang rumah sakit saja kalian gak sudi!" Yangti makin emosional.
Yangkung sampai harus menenangkan nya. Bu Imah segera menuntun yangti pindah ke kamar.
Pasangan sepuh itu hanya terdiam. Namun wajah mereka mengeras dan merah padam. Malu dan menyesal dengan penolakan mereka di masa lalu.
...----------------...