Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Panggilan dari Kejauhan
Pagi itu, tiga hari setelah malam di beranda penginapan, kehidupan mereka yang mulai terasa tenang kembali terusik oleh sesuatu yang tidak terduga.
Sasuke duduk di meja ruang makan penginapan, selembar kertas berisi deretan aksara dasar Astral terbentang di hadapannya, sementara Elaina duduk di sampingnya dengan sepotong arang kecil di tangan, dahinya berkerut serius mencoba meniru bentuk huruf yang Sasuke tunjukkan.
"Yang ini apa, Papa?" Elaina bertanya, menunjuk sebuah simbol melengkung yang menyerupai gelombang kecil.
"Itu huruf 'sa'," Sasuke menjelaskan sabar. "Seperti di awal namamu—Sa-vi-e-ra."
"Ooh!" Elaina langsung mencoba menirunya di atas kertas, lidahnya sedikit terjulur karena konsentrasi, hasilnya agak miring dan tidak rapi namun cukup bisa dikenali. "Kalau gitu, nama Papa juga ada 'sa'-nya, kan? Sa-su-ke!"
"Benar," Sasuke mengangguk, sedikit terkejut dengan kecepatan tangkapnya. "Kau belajar cepat."
"Elaina mau belajar cepat, biar bisa baca surat kalau nanti Papa sama Mama pergi jauh lagi," Elaina berkata, sedikit merajuk di ujung kalimatnya, mengingatkan pada insiden Sasuke pergi diam-diam tengah malam ke Aldric beberapa minggu lalu—kejadian yang rupanya masih membekas di ingatannya meski ia tidak sepenuhnya memahami detailnya.
Sasuke tersenyum kecil, mengusap kepalanya lembut. "Aku janji tidak akan pergi tanpa pamit lagi."
"Janji beneran?" Elaina bertanya, mengangkat kelingkingnya kecil-kecil, menuntut Sasuke melakukan hal yang sama.
Sasuke, meski hanya punya satu tangan, mengaitkan kelingking kanannya dengan kelingking kecil Elaina, gestur yang terasa aneh sekaligus menghangatkan hatinya. "Janji beneran."
Elaina tersenyum puas, kembali fokus pada latihan menulisnya, kali ini mencoba merangkai huruf-huruf sederhana menjadi kata "Mama" dengan penuh semangat, sesekali bertanya lagi setiap kali menemui huruf yang belum ia kenali.
"Ini apa, Papa?" tanyanya lagi, menunjuk huruf berbentuk lingkaran kecil dengan garis di tengahnya.
"Itu 'e', seperti di 'Elaina'," Sasuke menjawab, menunjukkan cara menulisnya sekali lagi di sudut kertas.
Elaina mencoba menirunya berkali-kali, wajahnya semakin berseri setiap kali hasilnya terlihat sedikit lebih rapi dari percobaan sebelumnya. Sasuke mengawasi dengan sabar, sesuatu yang aneh namun menyenangkan tumbuh di dadanya melihat kegigihan kecil itu—momen sederhana yang terasa jauh lebih berharga daripada pertarungan besar mana pun yang pernah ia menangkan.
Momen tenang itu baru terusik ketika sebuah tekanan aneh tiba-tiba menjalar di udara, cukup halus hingga hanya bisa dirasakan oleh seseorang dengan indra setajam miliknya.
Sasuke mendongak, matanya menyipit menatap ke arah pintu masuk penginapan.
Seorang pria berjubah putih bersih dengan lambang matahari bersinar disulam di dadanya melangkah masuk, gerakannya anggun dan penuh wibawa, menarik perhatian setiap orang di ruangan itu tanpa perlu berusaha. Rambutnya putih keperakan meski wajahnya masih terlihat muda, matanya berwarna emas yang berpendar lembut—ciri khas yang hanya dimiliki oleh pendeta tinggi Gereja.
"Sasuke Uchiha," pria itu berkata, suaranya menggema dengan wibawa yang tenang namun tegas, matanya langsung tertuju padanya meski belum pernah bertemu sebelumnya. "Akhirnya aku menemukanmu. Butuh waktu lebih lama dari yang kuduga."
Sasuke berdiri perlahan, menempatkan dirinya secara halus di antara pendeta itu dan Elaina, insting protektifnya langsung aktif meski ia belum tahu apakah pria ini benar-benar ancaman.
"Siapa kau?" Sasuke bertanya, nadanya waspada namun terkendali.
"Uskup Aldric Valemont," pria itu memperkenalkan diri, membungkuk singkat dengan formalitas yang berlebihan. "Perwakilan Gereja Cabang Utama, ditugaskan langsung untuk mencarimu."
Nama "Gereja" itu langsung membuat Sasuke lebih waspada, mengingat percakapannya dengan Dewa Agung tentang hubungan antara institusi itu dan kekuatan yang memberinya misi ini.
"Untuk apa Gereja mencariku?" Sasuke bertanya, suaranya tetap tenang meski kewaspadaannya meningkat.
Uskup Valemont tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah Elaina yang duduk diam memperhatikan dengan mata lebar penuh rasa ingin tahu, sebelum kembali menatap Sasuke. "Mungkin sebaiknya kita bicara berdua saja, Tuan Uchiha. Beberapa hal tidak pantas didengar oleh telinga sekecil itu."
---
Mereka pindah ke sudut ruangan yang lebih sepi, Saviera—yang baru saja turun dari kamar atas dan langsung merasakan ketegangan di udara—memilih untuk tetap berdiri di dekat Elaina, matanya waspada mengawasi percakapan dari kejauhan meski tidak sepenuhnya bisa mendengar setiap kata.
"Sudah hampir tiga bulan sejak kau diturunkan ke Astral," Uskup Valemont memulai, duduk dengan anggun di kursi kosong, tangannya terlipat rapi di atas meja. "Namun laporan yang kami terima soal progresmu terhadap misi yang diberikan Dewa Agung... boleh dikatakan, mengecewakan."
"Aku tidak tahu ada yang mengawasi progresku," Sasuke berkata datar, tidak menyukai arah percakapan ini.
"Tentu saja ada," Uskup Valemont menjawab, seolah itu adalah hal yang seharusnya sudah jelas. "Gereja adalah mata dan telinga Dewa Agung di dunia ini. Setiap orang yang diberi kekuatan olehnya, secara alami, berada dalam pengawasan kami."
Sasuke merasakan sesuatu yang tidak nyaman menjalar di dalam dirinya—bukan ketakutan, melainkan kewaspadaan yang tumbuh semakin besar. "Lalu apa yang kalian temukan dari pengawasan itu?"
"Bahwa kau menghabiskan waktu tiga bulan terakhir mengawal pedagang, membantu desa-desa kecil, dan—" Uskup Valemont berhenti sejenak, matanya melirik lagi ke arah Saviera dan Elaina di kejauhan, "—membangun kehidupan pribadi, alih-alih fokus mencari dan menghentikan pemilik System sesuai perintah yang kau terima."
"Aku sedang mengumpulkan informasi," Sasuke membela diri, meski nadanya tetap tenang. "Dunia ini luas. Aku tidak bisa asal menyerang tanpa tahu di mana harus mencari."
"Aku mengerti kesulitan itu," Uskup Valemont berkata, meski nadanya tidak sepenuhnya terdengar simpatik. "Namun Dewa Agung memberimu kekuatan luar biasa dengan harapan yang jelas. Setiap hari yang berlalu tanpa progres berarti, adalah hari di mana ancaman itu terus tumbuh tanpa terkendali."
Sasuke teringat pada percakapannya dengan sosok berjubah hitam di Aldric, pada demonstrasi kekuatan yang ditunjukkan klon Eternity dulu—kekuatan yang begitu besar hingga rasanya mustahil untuk dihadapi dengan tergesa-gesa.
"Kalau aku menyerang tanpa persiapan cukup, aku akan mati," Sasuke berkata jujur. "Dan kalau aku mati, misi ini tidak akan pernah selesai sama sekali."
Uskup Valemont menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca. "Argumen yang masuk akal," ia akhirnya mengakui. "Tapi Dewa Agung tidak selalu sabar menunggu, Tuan Uchiha. Ada... pihak-pihak lain yang mulai mempertanyakan kenapa buruan sebesar ini dipercayakan pada seseorang yang tampaknya lebih tertarik membangun keluarga daripada menyelesaikan tugasnya."
Kata-kata itu menyentuh saraf yang sensitif, dan meski Sasuke berusaha keras menjaga ekspresinya tetap datar, sesuatu di matanya pasti berubah, karena Uskup Valemont tersenyum tipis, seolah berhasil menemukan celah yang ia cari.
"Aku tidak berniat memaksamu bertindak gegabah," Uskup Valemont melanjutkan, nadanya kembali melembut. "Tapi aku di sini untuk menyampaikan pesan dengan jelas: waktu tidak tak terbatas, Tuan Uchiha. Tunjukkan progres nyata, atau Gereja mungkin akan mempertimbangkan langkah lain untuk memastikan misi ini terselesaikan—dengan atau tanpa keterlibatanmu."
---
Ancaman terselubung itu menggantung di udara, jelas maknanya meski disampaikan dengan bahasa yang sopan. Sasuke menatap pria di hadapannya, pikirannya berputar cepat memikirkan implikasi dari kata-kata itu.
"Apa maksudmu, 'dengan atau tanpa keterlibatanku'?" Sasuke bertanya, suaranya lebih tajam sekarang.
"Kau bukan satu-satunya yang pernah diberi kekuatan oleh Dewa Agung, Tuan Uchiha," Uskup Valemont menjawab, nadanya tetap tenang meski implikasinya jelas mengancam. "Jika kau terus menunjukkan... kurangnya minat pada tugasmu, ada kemungkinan tugas ini dialihkan pada seseorang yang lebih berkomitmen. Dan aku yakin kau tidak ingin melihat orang lain yang mungkin kurang berhati-hati sepertimu, mengejar target seberbahaya itu."
Sasuke merasakan kekhawatiran baru muncul—bukan untuk dirinya sendiri, melainkan bayangan tentang apa yang bisa terjadi jika seseorang yang kurang berhati-hati benar-benar mendekati sosok seperti Eternity tanpa pemahaman yang cukup.
"Aku akan mempercepat penyelidikanku," Sasuke akhirnya berkata, meski setiap kata itu terasa berat untuk diucapkan. "Tapi aku tidak akan bertindak gegabah hanya untuk memuaskan tenggat waktu yang kalian tetapkan."
Uskup Valemont berdiri, senyumnya kembali menjadi formalitas yang dingin. "Itu keputusan yang bijak, kuharap. Aku akan melaporkan perkembangan ini pada Dewa Agung." Ia melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak sebelum benar-benar pergi, menoleh sekali lagi ke arah Saviera dan Elaina yang masih menunggu dengan cemas.
"Keluarga kecil yang manis," ia berkata, nadanya sulit diartikan—entah pujian tulus atau sindiran halus. "Kuharap, demi kebaikan mereka juga, kau tidak melupakan prioritas aslimu, Tuan Uchiha."
Dan dengan itu, ia melangkah keluar dari penginapan, meninggalkan Sasuke berdiri dalam keheningan yang berat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran baru yang belum pernah ia rasakan sejak awal perjalanannya di Astral.
---
Saviera mendekat begitu Uskup Valemont benar-benar menghilang dari pandangan, wajahnya penuh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Siapa dia?"
Sasuke menghela napas panjang, mempertimbangkan seberapa banyak yang harus ia jelaskan. "Utusan dari Gereja. Mereka... tidak puas dengan progresku."
"Progres apa?" Saviera bertanya, meski dari nada suaranya, ia sudah bisa menebak jawabannya.
"Misi yang diberikan padaku," Sasuke menjawab jujur, matanya menatap ke arah pintu tempat Uskup Valemont menghilang. "Mereka pikir aku terlalu lama berkeliaran tanpa hasil nyata. Mereka mengancam akan... mencari cara lain, jika aku tidak segera menunjukkan kemajuan."
Wajah Saviera memucat sedikit, tangannya secara refleks meraih tangan Sasuke. "Apa artinya ini untuk kita?"
Sasuke menatapnya lama, kemudian menoleh ke arah Elaina yang duduk diam, wajahnya bingung namun tidak sepenuhnya memahami situasi berat yang baru saja terjadi.
"Aku tidak tahu," Sasuke mengakui jujur, genggamannya pada tangan Saviera mengerat. "Tapi apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan mereka memaksaku bertindak gegabah, atau membahayakan kalian berdua demi tenggat waktu mereka."
Di luar jendela penginapan, langit yang tadinya cerah kini mulai tertutup awan gelap, seolah menandakan badai yang akan datang—bukan hanya secara harfiah, melainkan juga dalam perjalanan panjang yang masih harus mereka hadapi bersama.
---
*Bersambung ke Bab 22: Bayang-Bayang Gereja*