Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Dingin Penjaga Malam
Gemuruh... Bzzzt!
Suara petir menyambar kencang di kejauhan, disusul suara hantaman air hujan yang tiba-tiba turun dengan sangat deras. Hujan lebat mengguyur atap rumah minimalis mereka, menciptakan simfoni bising yang seketika memecah keheningan kamar. Udara dingin yang diembuskan AC kini terasa berlipat ganda, meresap hingga ke balik selimut tipis yang mengenakan Riana.
Sentuhan lembut jemari Reza di atas guling terhenti sejenak akibat suara angin kencang yang menghempas jendela kaca.
Riana refleks menarik selimutnya makin tinggi hingga menutup setengah wajahnya, merapatkan tubuhnya sedikit menggelung karena rasa dingin yang menusuk kulit.
"Dingin banget ya..." bisik Riana pelan, suaranya hampir tenggelam di antara derasnya hujan di luar.
Reza mengamati gerakan refleks istrinya. Tanpa ragu, pria itu bergerak menyambar selimut tambahan yang terlipat di ujung kasur, lalu mengulurkannya perlahan untuk melapisi selimut Riana.
"Masih dingin?" tanya Reza halus, suaranya sangat dekat di telinga Riana.
Saat memasangkan selimut tambahan itu, Reza tanpa sadar mendorong guling pembatas di antara mereka semakin bergeser ke pinggir kasur. Pembatas empuk yang selama ini menjadi benteng jarak itu kini tak lagi benar-benar menghalangi pandangan mereka.
Riana mendongak, matanya yang jernih beradu langsung dengan iris mata Reza di bawah pendar temaram lampu tidur. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut sejengkal. Riana bisa merasakan hembusan napas hangat Reza yang kontras dengan dinginnya udara malam.
"Gak... udah hangat," jawab Riana jujur, dadanya berdesir hebat sampai-sampai ia takut Reza bisa mendengar detak jantungnya yang maraton.
Reza tidak menarik kembali tangannya. Jemarinya justru bergerak pelan merapikan beberapa helai rambut Riana yang menutupi dahi, lalu mengusap lembut pipi istrinya yang mulai merona hangat.
"Kalau gitu, tidur ya. Besok kita ada kelas pagi," bisik Reza dengan sunggingan senyum paling tulus yang pernah Riana lihat.
Riana mengangguk pelan, membiarkan jemari hangat Reza tetap berada di dekatnya, mengikis sisa-sisa prasangka bahwa pria itu bertahan hanya demi selembar surat warisan.
Kreeek...
Sayup-sayup denting jarum jam dinding beradu dengan sisa gerimis di luar. Pukul dua dini hari, Riana terusik dari tidur lelapnya. Suara erangan halus dan napas yang memburu dari sisi kasur sebelah membuatnya perlahan membuka mata.
"Ugh... dingin..." gumam Reza lirih, tubuhnya meringkuk makin rapat di dalam selimut.
Riana yang masih setengah sadar bergerak menggeser posisi tidurnya. Tangannya terulur meraba kegelapan di sampingnya, mencari keberadaan Reza. Begitu jemarinya mendarat di kening pria itu, Riana seketika terperanjat penuh.
Dahi Reza terasa begitu panas membakar, sementara tubuhnya justru gemetaran hebat di bawah gulungan selimut tebal.
"Za? Reza?" panggil Riana panik, langsung duduk tegap di atas kasur. Ia mengusap pipi dan leher suaminya yang juga sama panasnya.
Plester kecil di bibir Reza masih menempel, namun wajah tegas pria itu kini tampak pucat pasi dengan bibir yang meliuk menahan demam tinggi. Rupanya kombinasi dari luka di bibirnya, stres akibat bentrokan dengan Sela, serta rasa lelah yang tertahan akhirnya meruntuhkan ketahanan fisik Reza malam ini.
Riana menyibak selimutnya tanpa ragu, mengabaikan guling pembatas yang kini sudah sepenuhnya tergeletak tak berguna di lantai. Ia menyalakan lampu kamar, membuat cahaya remang menerangi raut wajah Reza yang memerah akibat suhu tubuhnya yang melonjak.
"Panas banget... Kamu demam tinggi ini, Za," ucap Riana cemas, berlutut di samping tubuh Reza.
Reza membuka matanya sedikit, tatapannya sayu dan berat akibat pusing yang menusuk kepalanya. "Ri... dingin..." bisiknya parau, jemarinya yang lemas bergerak pelan berusaha meraih tangan Riana.
Riana tidak menarik tangannya. Ia justru menggenggam erat jemari Reza yang panas, merasakan betapa rapuhnya sosok pria yang tadi pagi pasang badan membentaknya di kantin kampus demi membelanya.
"Tunggu sebentar ya, aku ambil kompresan sama obat dulu di dapur," bisik Riana lembut sembari mengusap pelan rambut Reza yang basah oleh keringat dingin.
Di tengah keheningan malam dan suhu badan Reza yang memuncak, prasangka Riana tentang 'alibi ahli waris' menguap sepenuhnya—berganti dengan rasa cemas dan dorongan kuat untuk merawat pria yang kini resmi menjadi pusat perhatian hatinya.