Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. KERIBUTAN DI PESTA DANSA
Keheningan yang mematikan langsung mencengkeram seluruh sudut Aula Utama Istana Agung Valdoria. Suara alunan musik orkestra terhenti total, menyisakan deru napas tertahan dari ratusan bangsawan yang terpaku di tempat masing-masing. Kalimat yang dilontarkan oleh Virelia meluncur begitu tajam, menghantam gendang telinga siapa pun yang mendengarnya bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Raja Lucien, yang berdiri di anak tangga singgasana, mengalami perubahan warna muka yang drastis. Dari rona merah kemarahan, wajah sang penguasa kini sepucat pualam.
"K-Kau! Apa yang kau katakan, anak kurang ajar?! Berani sekali kau memfitnah mahkota di hadapan para bangsawan!" pekik Raja Lucien tertahan, menunjuk Virelia dengan jari yang bergetar hebat.
Di sampingnya, Ratu mendadak menutup mulutnya dengan kipas tangan sutra, matanya membelalak ngeri mendengar rahasia gelap tentang bunga lili hitam dan kematian Ratu pertama yang tiba-tiba dibongkar di ruang publik.
Virelia tidak sedikit pun ciut. Alih-alih merasa takut, ia justru mulai memainkan sandiwara gilanya kembali untuk membalikkan situasi. Gadis itu tiba-tiba mengubah posturnya, memiringkan kepalanya dengan tatapan kosong yang jenaka, lalu melambaikan tangan ke arah lampu gantung kristal di atas kepala mereka.
"Hahaha! Lihat, lihat! Ada burung hantu berbulu pelangi menari di atas kepala raja bebek! Jangan ambil topi kelinciku, burung hantu! Nakal sekali!" teriak Virelia dengan suara melengking nyaring, sengaja mengabaikan tuduhan serius yang baru saja ia ucapkan seolah-olah itu hanyalah ocehan orang tidak waras.
Bisik-bisik di antara para bangsawan langsung meledak hebat. Suasana aula yang tadinya tegang kini berubah menjadi riuh oleh kebingungan massal.
"Apakah yang baru saja dikatakannya benar?!"
"Dia menyebut soal racun bunga lili hitam ... apakah itu sebabnya mendiang Ratu dulu mati secara mendadak?"
"Sssst! Jangan bicara sembarangan! Tapi lihatlah sang Putri, dia mendadak menuduh lalu langsung tertawa seperti orang gila ... apakah dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang diucapkannya?"
Raja Lucien, yang merasa wibawanya diinjak-injak di hadapan seluruh petinggi kerajaan, kehilangan sisa-sisa kesabarannya. Wajahnya merah padam karena amarah yang mendidih.
"Pengawal! Seret perempuan gila itu keluar dari aula! Tangkap dia dan masukkan ke dalam penjara bawah tanah sekarang juga!" bentak Raja Lucien menggelegar ke seluruh ruangan, suaranya bergetar hebat.
Dalam hitungan detik, belasan ksatria pengawal kerajaan berzirah lengkap berlari masuk dari pintu samping, menghunus pedang mereka dan mengepung posisi Virelia.
Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat melangkah mendekat, sebuah bayangan hitam bergerak jauh lebih cepat.
SCHWING!
Kael Dravenhart melangkah maju, menempatkan tubuh tegapnya tepat di depan Virelia. Sang panglima perang menghunus pedang panjang dari sarungnya dengan gerakan yang begitu dingin dan mematikan. Ujung mata pedang itu mengilap tajam, memantulkan cahaya lampu kristal.
Kael menatap para ksatria istana dengan sorot mata setajam serigala lapar, lalu mengalihkan pandangannya langsung kepada sang Raja. Suara baritonnya yang berat bergema memenuhi ruangan, menghentikan seluruh gerakan di tempat itu.
"Maju satu langkah lagi, dan aku akan memastikan kepala kalian terpisah dari leher sebelum sempat menyentuh ujung gaun istriku," ancam Kael mutlak, suaranya mengandung tekanan maut yang membuat para ksatria pengawal istana spontan mundur satu langkah ketakutan.
Raja Lucien membelalakkan matanya, menatap sang panglima perang dengan murka.
"Kael! Berani sekali kau menghalangi keadilan istana?! Perempuan itu telah melakukan penghinaan tingkat tinggi terhadap mahkota!" seru Raja Lucien.
"Keadilan? Jangan bicara soal keadilan di hadapanku, Baginda Raja. Sebagai salah satu dari empat keluarga bangsawan agung yang membangun kerajaan ini, aku ingatkan sekali lagi: tidak ada seorang pun di negeri ini, bahkan seorang Raja sekali pun, yang berani menyentuh anggota keluarga Dravenhart!" Kael mendengus sinis, senyuman dingin terukir di bibirnya.
Keluarga bangsawan di sekeliling aula langsung tersentak mendengar penyebutan hak istimewa Empat Keluarga Agung.
Kael melangkah maju satu langkah, menatap tajam ke arah singgasana.
"Anda mengeluh tentang istriku yang tidak waras, Baginda? Bukankah Anda sendiri yang mengingkari janji agung Anda untuk menikahkanku dengan Putri Liana, lalu dengan sengaja melemparkan Putri Virelia yang tidak waras ke dalam rumahku? Kau sendiri yang memaksa pernikahan ini!" lanjut Kael dengan suara penuh penekanan.
Raja Lucien tertegun, terdiam sesaat karena terikat oleh sumpah kuno empat keluarga agung dan posisinya sendiri yang memang bersalah dalam urusan perjodohan politik tersebut.
"Tapi dengar baik-baik sumpahnya di hadapan seluruh saksi malam ini. Bagi dunia, dia mungkin dipandang sebelah mata. Tapi bagi keluarga Dravenhart, Virelia adalah istriku, bagian dari keluargaku. Siapa pun yang berani menyentuh sehelai pun rambutnya, baik dengan titah, dengan pedang, maupun dengan racun busuk, maka dia akan langsung berurusan denganku dan seluruh garnisun kesatria Dravenhart!" seru Kael lantang, merangkul pinggang Virelia dengan erat dan protektif.
Suasana di aula kembali membeku. Ancaman terang-terangan dari panglima perang terhebat Valdoria di hadapan sang raja membuat para menteri bergidik ngeri.
Raja Lucien mengepalkan tangan di atas singgasananya, gigi gerahamnya bergemeretup keras. Karena tidak bisa menggunakan kekerasan fisik akibat ancaman Kael, sang raja melemparkan racun kata-kata terakhirnya dengan nada penuh kebencian.
"Kau membela monster, Kael! Dia hanyalah perempuan gila yang liar, tidak bisa diatur, dan tidak punya tujuan hidup selain menyakiti siapa pun di sekitarnya! Sejak kecil dia sudah merusak istana, mengamuk, dan membuat onar! Dia seharusnya dihukum mati sejak dulu, jika bukan karena masih mengalir darah dari kerajaan tetangga di tubuhnya, dia sudah lama di eksekusi!" bentak Raja Lucien hilang kendali.
Mendengar bentakan keras dari sang Raja, Kael balas membentak tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Dia tidak akan menjadi liar jika dirawat dengan kasih sayang dan kelembutan, bukan dikurung dan disiksa di sudut istana yang gelap!" seru Kael marah sungguhan.
Tepat di tengah ketegangan memuncak itu, sebuah reaksi tak terduga muncul dari sang Duchess.
"Hiks ... ugh ... huaaaa!"
Virelia tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya jongkok ke atas lantai marmer, menutupi kedua telinganya dengan tangan, lalu menangis kencang bagaikan anak kecil berumur lima tahun yang ketakutan karena dibentak-bentak. Tangisan itu begitu nyaring, penuh kepedihan palsu, dan sangat dramatis.
Akting yang luar biasa, batin Kael dalam hati. Pria itu langsung paham apa yang harus dilakukan untuk mendukung sandiwara istrinya.
Kemarahan Kael di permukaan seketika melunak, berubah menjadi kepedulian yang mendalam. Panglima perang yang tadinya tampak seperti monster haus darah itu langsung berlutut di samping istrinya, mengabaikan ratusan pasang mata yang menatap mereka.
"Sssshh ... jangan menangis, Virelia, semuanya sudah baik-baik saja. Jangan dengarkan suara-suara bising itu. Suamimu ada di sini. Tidak ada yang boleh menyakitimu," bujuk Kael dengan suara paling lembut yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya, mengelus punggung dan rambut pirang istrinya dengan penuh kelembutan.
Virelia menyembunyikan wajahnya di dada Kael, terus merengek pelan sambil mencengkeram jas suaminya.
"Hiks ... mereka berisik ... mereka jahat ... aku mau pulang ..." rengek Virelia.
Kael mendongak menatap Raja Lucien dan seluruh bangsawan di aula dengan ekspresi wajah dingin dan penuh teguran.
"Baginda Raja, lihat apa yang telah kau perbuat dengan membentaknya. Istriku sedang dalam pemulihan mental. Aku harus membawanya keluar dari ruangan ini sekarang juga, sebelum dia mengamuk dan memecahkan seluruh vas mahal di istana kesayanganmu ini," ucap Kael dingin.
Tanpa menunggu jawaban atau izin dari sang Raja, Kael merangkul tubuh Virelia, membimbing istrinya untuk bangkit berdiri, lalu berjalan melangkah mundur meninggalkan altar singgasana menuju sudut tenang di dekat pintu keluar aula.
Di sepanjang jalan itu, Kael terus membisikkan kata-kata penenang, memamerkan sisi kelembutannya yang luar biasa kontras dengan reputasinya sebagai panglima perang yang kejam.
Ratusan bangsawan di dalam aula menyaksikan pemandangan tersebut dengan mulut sedikit terbuka dan rasa takjub yang mendalam. Pemandangan seorang panglima perang bertangan besi yang dengan sabar dan penuh cinta menjinakkan sang 'Putri Gila' meninggalkan kesan yang sangat kuat di benak mereka.
Dan di antara kerumunan para bangsawan, desas-desus baru mulai berbisik-bisik merambat dengan cepat.
"Tunggu ... perhatikan baik-baik. Selama ini Raja Lucien selalu mengumumkan bahwa Putri Virelia dikurung karena sifatnya yang beringas dan suka menyakiti orang ..." bisik seorang Count senior kepada istrinya.
"Tapi lihatlah cara Duke Kael memperlakukannya. Duke begitu lembut, penuh kesabaran, dan wanita itu langsung tenang dalam dekapan suaminya," sahut bangsawan wanita di sebelah mereka.
"Jangan-jangan ... selama ini Putri Virelia tidak gila sejak lahir? Jangan-jangan Putri Varelia menjadi tertekan dan bertingkah liar karena disiksa dan tidak diurus dengan benar di istana ini oleh Raja dan Ratu Kedua?" bisik count itu melanjutkan opininya dengan ngeri.
Opini baru itu menyebar bagaikan api di atas sekam rumput kering. Para bangsawan mulai saling melempar pandangan penuh curiga ke arah singgasana Raja Lucien.
Sang Raja, yang menyadari pergeseran opini publik di hadapannya, mengepalkan tinjunya begitu erat hingga kuku jarinya menancap ke telapak tangannya sendiri.
Permainan belum usai, namun malam ini, mahkota Kerajaan Valdoria baru saja menerima retakan pertamanya yang paling dalam.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣