Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Tira langsung menoleh. “Wawancara?”
Sepupunya tertawa. “Iya Tur. Kita semua ditanya kamu suka apa, waktu kecil sering ikut acara apa, keluarga kita biasanya pakai adat apa. Bahkan Om tadi ditanya pertunjukan apa yang paling kamu suka.”
Tira memandang Fahri dengan mulut sedikit terbuka. “Abang... Abang wawancara keluarga saya?”
“Bukan wawancara, cuma ngobrol.”
“Ngobrol sampai tanya masa kecil saya? Isss, jangan sampai aib saya juga ke spill.”
“Biar saya kenal istri saya.”
Tira kehilangan kata-kata. Lelaki asing yang beberapa waktu lalu bahkan belum ia kenal, kini berdiri di sampingnya dan tahu hal-hal yang bahkan tidak pernah ia ceritakan. Ia tahu Tira menyukai pertunjukan adat Minangkabau. Ia tahu Tira pernah mengatakan kepada ibunya bahwa suatu hari ingin melihat pesta pernikahan dengan suasana seperti ini. Ia tahu keluarga Tira memiliki beberapa tradisi yang ingin tetap dipertahankan. Dan semua itu ia cari tahu bukan dari Tira, melainkan dari orang-orang terdekatnya.
“Kenapa harus repot?” tanya Tira akhirnya.
Fahri menatapnya. “Karena kamu bilang tidak punya permintaan.”
“Memang.”
“Bukan berarti saya tidak perlu mencari tahu apa yang kamu suka.” Tira terdiam. Fahri kemudian kembali melihat pertunjukan di depan mereka. “Saya ingin hari ini menjadi hari yang kamu ingat dengan senang.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi justru karena itulah Tira merasa dadanya hangat. Tira kembali menatap panggung. Tari pasambahan terus berlangsung. Musik tradisional mengisi ruangan, disusul tepuk tangan para tamu. Di sampingnya, Fahri berdiri sebagai suaminya. Lelaki asing yang awalnya ia terima karena lelah menunggu lelaki lain. Lelaki yang kini perlahan membuatnya bertanya-tanya, mungkin keputusan ini bukan akhir dari kisah cintanya. Mungkin justru awalnya.
"Bagaimana?" tanya Fahri.
"Sebenarnya ada satu lagi yang lebih penting." Tira tersenyum.
"Apa?"
"Dulu aku punya mimpi nari piring di acara nikahanku. Coba Abang ngasih bocoran tentang acara hari ini aku pasti ikut tampil."
Fahri melongo, lalu buru-buru menggeleng. "Jangan ya, nanti Suntiang kamu terbang kemana-mana." Fahri dan Tira tertawa bersamaan.
***
Di tengah ramainya tamu yang bergantian naik ke pelaminan, Tira tiba-tiba melihat seseorang di antara kerumunan. Langkahnya terhenti sesaat. Dimas. Lelaki itu berdiri beberapa meter dari pelaminan, bersama beberapa teman kampus Tira yang dulu juga menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Tira langsung tahu bahwa ia tidak datang karena undangan. Ia tidak pernah mengundang Dimas. Ketika memberikan undangan itu beberapa waktu lalu, niat Tira hanya satu, mengucapkan selamat tinggal. Ia tidak pernah meminta Dimas datang, apalagi menyaksikan pernikahannya.
Tira menarik napas dan berusaha mengalihkan pandangan. “Jangan sekarang,” gumamnya pelan. Hari ini adalah hari pernikahannya. Ia tidak mau masa lalu mengambil tempat di tengah kebahagiaan yang baru saja ia mulai.
Tetapi Dimas ternyata tidak datang untuk sekadar melihat dari jauh. Beberapa saat kemudian lelaki itu berjalan mendekati pelaminan. Salah seorang teman kampus sempat mencoba menahannya, tetapi Dimas tetap melangkah. Wajahnya sudah merah. Matanya sembap. Entah sejak kapan ia menangis.
Tira mulai tidak nyaman. “Bang...” bisiknya kepada Fahri.
Fahri langsung menoleh. “Kenapa?”
“Itu Dimas.”
Fahri mengikuti arah pandangan Tira. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah waspada. Dimas semakin dekat. Beberapa tamu mulai memperhatikan. Suasana yang tadinya riuh perlahan menjadi aneh. Dimas akhirnya naik ke pelaminan. Tira spontan mundur setengah langkah. Lelaki itu berdiri di hadapan mereka dengan mata penuh air. “Tir...” Suaranya bergetar.
Tira tidak menjawab. Ia tidak tahu apa yang hendak dilakukan Dimas. Menangis di depan pelaminan? Meminta Tira membatalkan pernikahan? Atau sekadar ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah terlambat?
Dimas mengusap wajahnya. “Aku...”
Kalimatnya belum selesai ketika Fahri bergerak. Lelaki itu berdiri sedikit di depan Tira, bukan dengan kasar, tetapi cukup untuk menjadi batas yang jelas antara Dimas dan istrinya. “Mas,” katanya tenang, “ini bukan tempatnya.”
Dimas menatap Fahri. “Saya cuma mau bicara sama Tira.”
“Saya mengerti.” Fahri tetap tenang. “Tapi hari ini dia sudah resmi jadi istri saya.” Dimas terdiam. Fahri kemudian melirik panitia yang berada tidak jauh dari pelaminan. “Tolong temani Mas ini turun dulu. Jangan sampai mengganggu tamu yang lain.”
Dua orang teman Dimas segera mendekat. Salah satunya memegang bahunya. “Dim, sudah. Turun dulu.”
Dimas masih menatap Tira. Matanya seolah meminta sesuatu yang tidak mungkin diberikan.
Tira hanya memandangnya tanpa berkata apa-apa. Tidak ada lagi rasa ingin mengejar. Tidak ada pula keinginan menghibur. Yang ada justru rasa kesal. Sangat kesal. Ini hari pernikahannya. Hari yang sejak pagi dipersiapkan begitu banyak orang. Hari ketika keluarganya berkumpul. Hari ketika Fahri sudah melakukan segala hal agar dirinya bahagia. Lalu Dimas datang tanpa diundang dan hampir membuat semua orang melupakan alasan mereka berkumpul.
“Tir...” Dimas kembali memanggil.
Kali ini Tira menjawab. “Dimas, pulanglah.” Suaranya tidak keras, tetapi cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar pelaminan. Dimas terdiam. “Aku sudah memilih.” Ia menoleh kepada Fahri sebentar. Lelaki itu masih berdiri di sampingnya. “Tolong hormati pilihanku.”
Dimas menunduk. Air matanya kembali jatuh. Untuk beberapa detik ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tidak jadi.
Teman-temannya membawanya turun dari pelaminan.
Tira baru mengembuskan napas setelah Dimas benar-benar menjauh. Ia menatap Fahri. “Maaf.”
“Untuk apa?”
“Harusnya dia nggak datang.”
Fahri menggeleng. “Bukan salah kamu.”
“Aku kesal.”
“Wajar.” Fahri mengambil gelas air dari meja dan menyerahkannya kepada Tira. “Minum dulu.”
Tira menerima gelas itu. Tangannya masih sedikit gemetar. “Kalau Abang nggak ada tadi...”
Fahri tersenyum kecil. “Saya ada.”
Dua kata itu membuat Tira terdiam. Tidak ada ceramah. Tidak ada kecemburuan. Fahri hanya berdiri di sampingnya dan memastikan keadaan tidak semakin buruk.
Dari bawah pelaminan terdengar musik kembali dimainkan. Para tamu perlahan kembali berbincang. Acara yang sempat terganggu akhirnya berjalan lagi. Tira menatap kerumunan, lalu tanpa sadar menggenggam tangan Fahri. Lelaki itu menoleh, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membalas genggamannya.
Tira menarik napas panjang. Hari ini ia menikah. Ia tidak ingin menghabiskan satu menit pun lagi untuk memikirkan lelaki yang sudah ia tinggalkan. Kalau Dimas memilih datang untuk melihat apa yang telah hilang dari tangannya, itu bukan lagi urusan Tira. Ia sudah memilih hidupnya. Dan sekarang, ia hanya ingin menjalani hidup itu bersama lelaki yang berdiri di sampingnya. Aammaun Tira mungkin belum tahu seperti apa perjalanan rumah tangganya dengan Fahri nanti, setidaknya hari ini ia tahu satu hal, Fahri tidak membiarkannya menghadapi masa lalunya sendirian.
***
Malam itu, setelah seluruh rangkaian pernikahan selesai dan para tamu mulai meninggalkan gedung, Tira dan Fahri akhirnya tiba di hotel tempat mereka akan menginap untuk beberapa hari.