NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

BAB 32

MENCARI DI BAWAH HUJAN

Tiga malam setelah Raka diusir, Wiwid masih terbangun setiap kali hujan menyentuh jendela.

Bu Imas berkata Raka sempat mengirim satu pesan.

`Aku aman. Jangan cari dulu.`

Setelah itu ponselnya mati. Lokasi tidak dibagikan. Pak Herman melarang siapa pun menjemput sebelum Raka meminta maaf dan mencabut pengakuannya.

"Biar dia sadar sendiri," kata Wiwid di depan keluarga.

Malamnya, ia membuka album lama dan menemukan foto Raka usia tujuh tahun tidur sambil memegang ujung bajunya.

Ia tidak tidur sampai Subuh.

Pada hari keempat, hujan turun sejak siang. Wiwid menutup Studio lebih cepat dan menelepon nomor yang diperoleh dari Bu Imas, seorang teman sekelas Raka bernama Fikri.

"Raka nggak masuk dua hari," kata pemuda itu. "Katanya ada masalah keluarga."

"Lo tahu dia tinggal di mana?"

"Nggak. Mungkin Ardi tahu. Mereka pernah cari kos bareng."

Ardi hanya tahu Raka sempat bertanya tentang kamar murah dekat terminal. Dari pemilik warung di sekitar kampus, Wiwid mendapat nama sebuah kos-kosan di pinggir Depok. Informasinya belum pasti.

Ia naik angkot setelah taksi online membatalkan perjalanan karena genangan. Dua kali salah turun, sekali harus berjalan melewati jalan berlumpur, dan tiga kali menelepon nomor rumah kos yang tidak diangkat.

Ketika akhirnya menemukan papan bertuliskan `TERIMA KOS PUTRA`, ujung celananya basah sampai betis.

Pemilik kos duduk di teras sambil membetulkan payung.

"Cari siapa, Mbak?"

"Raka. Anak kuliah, tinggi, baru masuk tiga hari lalu."

"Kamar belakang. Tapi tadi bilang nggak mau diganggu."

"Saya keluarga. Boleh tolong panggil dari luar? Jangan buka kamarnya."

Pemilik kos berjalan ke lorong dan mengetuk. Tidak ada jawaban. Ketukan kedua baru menghasilkan suara langkah terseret.

Pintu terbuka.

Raka berdiri dengan kaus kusut dan rambut berantakan. Memar di pipinya mulai menguning. Garis rotan di lengan berubah kebiruan. Celana pendeknya menunjukkan luka lutut yang mengering tidak rapi.

"Teh?"

Wiwid ingin memeluknya. Yang keluar justru bentakan.

"Bodoh! Lo pikir pesan satu kali cukup?"

Raka memegang daun pintu. "Aku bilang aman."

"Ini yang lo sebut aman? Luka nggak dibersihkan, kamar lembap, muka kayak orang nggak tidur."

"Aku bisa urus."

"Terus kenapa ponsel mati?"

"Chargernya rusak kena air."

Wiwid mengangkat kantong yang dibawanya. "Gue bawa charger cadangan. Sama makanan."

Raka memandang kantong itu, lalu wajahnya. "Bapak suruh Teteh cari?"

"Kang Herman justru melarang."

Mata Raka berubah. Ia membuka pintu lebih lebar, tetapi tidak mempersilakan masuk sampai Wiwid sendiri bertanya.

"Boleh gue lihat kamar?"

"Boleh."

Kamar itu hanya berisi kasur tipis, meja plastik, kipas kecil, dan gantungan baju. Air merembes di sudut plafon ke ember. Laptop Raka tersimpan dalam plastik agar tidak lembap. Di meja ada dua bungkus mi instan kosong dan sebotol air.

Di samping laptop terdapat kuitansi sewa satu minggu dan formulir kerja paruh waktu dari toko servis komputer. Raka belum menyerah pada kuliah. Dua tugas tersimpan di layar, selesai tetapi belum terkirim karena ponselnya mati dan jaringan kos tidak stabil.

"Lo bolos dua hari," kata Wiwid.

"Kemarin urus kamar. Hari ini cari kerja. Aku sudah kirim email ke dosen dari warnet. Besok masuk."

"Uang kuliah bagaimana?"

"Semester ini sudah dibayar. Semester depan aku cari beasiswa atau cicilan."

Raka mengucapkannya seperti daftar yang sudah diulang berkali-kali agar rasa takut tidak terdengar. Wiwid melihat sisi lain dari pengusiran itu. Bukan cuma kehilangan rumah, tetapi juga ancaman pada pendidikan dan masa depan yang selama ini dianggap pasti.

"Jangan berhenti kuliah karena bertengkar dengan Kang Herman," katanya.

"Aku nggak akan berhenti."

"Kalau butuh informasi beasiswa, bilang. Bantuan informasi, bukan uang."

"Baik."

Wiwid mengambil ponsel dan mengirim satu pesan kepada Bu Imas bahwa Raka sudah ditemukan, hidup, dan berencana masuk kuliah besok. Ia tidak membagikan alamat setelah Raka meminta waktu, tetapi berjanji akan memberi kabar jika kondisinya memburuk.

Balasan Bu Imas datang bersama emoji menangis dan ucapan syukur. Wiwid menunjukkan layar kepada Raka agar ia tahu ibunya menerima kabar.

"Lo makan cuma ini?"

"Kemarin beli nasi."

"Kapan?"

Raka diam.

Wiwid mengeluarkan nasi bungkus, ayam goreng, sayur, antiseptik, kasa, dan plester. "Makan dulu. Habis itu gue bersihkan lutut."

"Aku bisa sendiri."

"Kalau bisa, sudah lo lakukan."

Raka tidak berdebat lagi.

Ia makan perlahan, awalnya seperti tidak lapar, lalu menghabiskan hampir semuanya. Wiwid duduk di kursi plastik sambil menunggu. Kemarahan yang membawanya menembus hujan berubah menjadi rasa takut terlambat menemukan.

Setelah makan, Raka duduk di tepi kasur. Wiwid meminta izin sebelum menggulung celananya sampai atas luka. Keropengnya kotor, tetapi tidak ada nanah atau demam. Ia membersihkan perlahan dan menyuruh Raka pergi ke klinik jika bengkak, merah menyebar, bernanah, atau demam.

"Perih?"

"Nggak."

"Pembohong."

"Sedikit."

Hujan mengetuk atap seng. Jarak di antara mereka hanya selebar kotak obat.

"Kenapa nggak hubungi gue?" tanya Wiwid.

"Karena Bapak benar soal satu hal. Semua masalah ini kena ke Teteh."

"Jadi lo pergi dan bikin gue cari keliling Depok?"

"Aku sengaja menjauh supaya nggak nyusahin Teteh. Aku pikir kalau sendirian, mungkin aku bisa belajar berhenti."

"Berhasil?"

Raka menatapnya. "Nggak."

Wiwid menunduk pada kasa di tangan.

"Aku nggak mabuk malam pertama itu," lanjut Raka. "Aku juga nggak merencanakan Teteh salah lihat. Aku membalas karena lemah dan terlalu ingin. Setelahnya aku sudah mencoba menjauh, tapi waktu Teteh mencium aku sambil sadar di rumah... aku tahu ini bukan cuma khayalanku lagi."

"Gue cuma bilang satu kali."

"Aku ingat. Aku nggak menuntut lebih."

"Terus foto-foto itu?"

"Aku mulai simpan sejak SMA. Bukan foto pribadi. Setiap kali pengen ngomong, aku tulis di belakang dan simpan lagi. Itu cara bodoh supaya aku nggak bicara."

"Cara bodoh lo menghancurkan rumah."

"Iya."

Raka tidak membela diri. Wiwid membenci betapa mudahnya satu kata itu melucuti amarah.

Ia menempelkan plester terakhir. "Kamu ini benar-benar bikin susah."

"Maaf."

"Gue belum selesai ngomel."

"Aku dengar."

Wiwid menaruh sejumlah uang di meja. Raka langsung mendorongnya kembali.

"Aku punya tabungan dan lagi cari kerja paruh waktu."

"Ini buat pindah ke kamar yang nggak bocor."

"Kalau Teteh mau bantu, carikan informasi kos. Jangan bayar."

Wiwid menatapnya, lalu mengambil kembali uang itu. "Baik. Gue carikan. Tapi malam ini beli makan pakai uang lo sendiri. Kirim fotonya."

"Iya, Teh."

"Dan aktifkan ponsel begitu chargernya nyala. Bu Imas hampir sakit karena nangis."

Raka mengangguk.

Wiwid berdiri di ambang pintu. Ia seharusnya pergi setelah semua urusan praktis selesai. Sebaliknya, ia melihat plester putih di lutut Raka dan merasa ada sesuatu di dadanya yang ikut dibalut.

Raka menatapnya dari dalam kamar.

Tak ada lagi kata bibi di antara mereka.

Hujan masih turun, dan tak satu pun lebih dulu memalingkan wajah.

1
mmh nji35
suka cerita nya ramah bnget bhasa nya thor . semoga karya nya mkin suksessssss👍
mmh nji35
up ny yg bnyk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!