Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Mandi Air Dingin
Sebastian melepaskan pinggang Amaya seketika.
Ia bangkit terlalu cepat hingga lututnya membentur meja rendah.
"Hati-hati," kata Amaya, masih menahan tawa.
"Kamu sengaja."
"Sengaja apa?"
"Menyuruhku menutup mata."
"Aku memberi pilihan untuk mundur. Koh Sebas malah mendekat."
Sebastian tidak bisa menyangkal. Kesadarannya cukup jernih untuk mengingat setiap keputusan.
Ia mengambil ponsel dan berjalan ke pintu.
"Sudah mau pulang?"
"Kamu harus tidur."
"Kalau belum pulang juga, aku bisa mengira Koh Sebas ingin menginap."
Langkahnya bertambah cepat.
Amaya mengantar sampai pintu. "Selamat malam, tetangga."
Sebastian masuk ke 27-01 tanpa membalas.
Begitu pintu tertutup, ia berdiri beberapa detik dalam kegelapan. Bibirnya masih merasakan tekanan telapak Amaya yang seharusnya menghentikan segala sesuatu, tetapi justru membuat keinginannya semakin jelas.
Ia langsung menuju kamar mandi.
Air dingin jatuh dari kepala hingga punggung. Panas di tubuhnya tidak segera turun.
Gambaran Amaya terus kembali. Pipi merah karena bir. Wajah terangkat. Napas hangat. Mata yang tertutup sebelum telapak itu menutup mulutnya.
Sebastian menekan kedua tangan ke dinding kamar mandi.
Untuk kedua kalinya ia mengikuti perintah menutup mata seperti orang bodoh. Untuk kedua kalinya perempuan itu memainkan batas sampai dirinya yang kehilangan arah.
Ia seharusnya marah.
Yang membuatnya marah justru kenyataan bahwa ia tetap ingin kembali ke seberang.
Selama bertahun-tahun, rumah ini adalah wilayah yang tidak boleh dimasuki orang lain. Nathan tumbuh bersamanya, tetapi tidak pernah meninggalkan sikat gigi, sandal, atau pakaian di sini. Bahkan staf kebersihan datang hanya pada jam yang ia tentukan.
Sebastian membutuhkan tempat yang tidak menuntut apa pun setelah sehari penuh memegang hidup orang lain.
Ia memilih setiap benda berdasarkan fungsi. Satu cangkir untuk kopi, satu gelas untuk air, dua set seprai, dan tidak ada foto keluarga di ruang utama. Jika Nathan berkunjung, adiknya membawa pulang semua yang datang bersamanya. Jika ibunya mengirim dekorasi, benda itu disimpan dalam lemari tanpa pernah dipajang.
Ketertiban bukan kebiasaan kecil. Itu cara Sebastian menjaga pikirannya tetap utuh. Di rumah sakit, alarm bisa berbunyi kapan saja dan rencana operasi bisa berubah dalam satu telepon. Di rumah, tidak ada kejutan.
Sampai malam ini.
Tiga kantong makanan muncul di pintu. Sebuah perempuan menariknya ke ruang beraroma persik, menyebutnya seperti suami orang, lalu membuatnya menutup mata hanya dengan satu permintaan.
Sekarang ada gantungan domba di pintunya.
Ada aroma persik yang masih menempel pada kaus.
Dan hanya beberapa langkah di seberang, Amaya mungkin sedang tertawa karena berhasil mempermainkannya lagi.
Ia sendiri yang menyetujui perempuan itu tinggal di sana. Ia bahkan menolak ketika Nathan menawarkan kamar tamu. Tidak ada seorang pun yang bisa disalahkan.
Alasan yang ia berikan terdengar profesional. Akses proyek. Keamanan. Efisiensi koordinasi. Semua benar, tetapi tidak satu pun menjelaskan mengapa bayangan Amaya tinggal bersama Nathan membuatnya ingin memutus panggilan.
Ia tidak menginginkan perempuan itu tinggal di rumah adiknya.
Ia juga tidak rela membiarkannya jauh.
Keputusan menaruh Amaya di seberang adalah kompromi paling egois yang pernah ia bungkus sebagai kebijakan kerja.
Amaya adalah calon istri adiknya.
Satu hari nanti, perempuan itu mungkin benar-benar memanggilnya kakak ipar di depan keluarga, sementara ia harus berpura-pura tidak pernah mencium bibir tersebut di balik tirai dan panel ballroom.
Air dingin mengalir lebih deras.
Jarak satu koridor seharusnya membantu urusan kerja. Kenyataannya, pintu itu membuat Amaya lebih sulit dihindari. Ia bisa muncul dengan makanan salah alamat, mengetuk untuk alasan kecil, atau sekadar melewati pintunya setiap pagi.
Hidup Sebastian yang rapi baru saja diberi celah selebar beberapa meter.
Perempuan itu tinggal di seberang. Cepat atau lambat, hidupnya akan habis di tangan Amaya.
Ia mematikan air, mengeringkan rambut, lalu mengambil ponsel.
Percakapan dengan `domba kecil` terbuka. Ia mengetik:
`Jangan minum dua kaleng lagi kalau sendirian.`
Sebastian menghapusnya.
Ia mengetik kalimat lain.
`Kunci pintu dan minum air sebelum tidur.`
Hapus.
`Jangan memainkan hal seperti tadi.`
Hapus lagi.
Semua terdengar terlalu peduli atau terlalu jelas mengakui bahwa dirinya terpengaruh.
Sebastian membuka profil Amaya tanpa sengaja. Foto domba putih dengan wajah polos muncul di layar. Di bawahnya, status terakhir hanya berisi satu kalimat: `Jangan percaya wajah baik.`
Ia hampir mendengus.
Setidaknya perempuan itu memberi peringatan yang jujur.
Jarinya bergerak ke kolom pesan lagi. Ia ingin bertanya apakah pusingnya sudah turun. Ingin mengingatkan bahwa alkohol mengganggu kualitas tidur dan besok akan menjadi hari panjang. Semua kalimat itu tetap tidak punya hubungan dengan tugas seorang pembimbing.
Akhirnya ia mengirim satu kalimat yang paling aman.
`Besok pukul 07.00 di pintu utama area klinis. Terlambat, nilai dikurangi.`
Tanda centang berubah biru hampir seketika.
Di 27-02, Amaya bersandar di balik pintu. Suara air dari unit seberang baru saja berhenti.
Ia membaca pesan tersebut dan tersenyum.
Naskah malam ini berjalan sesuai rencana. Sebastian masuk, minum, memeluknya, menutup mata, lalu pulang untuk mendinginkan diri.
Amaya seharusnya puas. Ia sudah membuktikan bahwa jarak sedekat satu pintu cukup untuk menggoyang pria yang terkenal tidak tersentuh. Besok ia bisa kembali bersikap profesional dan membiarkan Sebastian bertanya-tanya kapan gangguan berikutnya datang.
Sayangnya tubuhnya tidak sepenuhnya patuh pada rencana.
Ketika Sebastian menahan belakang kepalanya dari sudut meja, rasa aman datang terlalu cepat. Ketika pria itu memiringkan wajah ke telapak tangannya, Amaya hampir lupa menutup bibir tersebut.
Ia berhenti bukan karena tidak mau dicium.
Ia berhenti karena ingin melihat Sebastian mengaku bahwa ia mau.
Namun saat Amaya menaruh ponsel, ujung jarinya menekan dada sendiri.
Detaknya belum teratur.
Ia mulai kesulitan menentukan bagian mana yang hanya permainan dan bagian mana yang benar-benar ia inginkan.
Amaya mengetik balasan.
`Siap, Guru. Aku pasti datang.`
Amaya bangkit untuk minum dua gelas air. Ia mematikan diffuser, mengunci pintu dua kali, lalu memasang alarm pukul lima tiga puluh. Terlepas dari permainan mereka, pekerjaan besok nyata dan satu bulannya terus berjalan.
Ia tidak akan memberi Selena kemenangan hanya karena begadang menggoda tetangga.
Pesan berikutnya dari Sebastian muncul tanpa jeda.
`06.57. Tiga menit untuk ganti pakaian dan simpan barang.`
Amaya tertawa kecil.
Di balik dinding, Sebastian juga meletakkan ponselnya dan menatap jam. Dua pintu sudah tertutup, tetapi pikiran mereka masih berada di ruang tamu yang sama.
Besok mereka akan berpura-pura semua itu tidak pernah terjadi.
Pura-pura semacam itu mungkin jauh lebih sulit ketika mereka harus berdiri berdampingan sejak pagi sampai malam.
Medan permainan berikutnya sudah menunggu mereka pada pukul tujuh pagi.