"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Misi Pertama dan Desa Seribu Kabut
Mo Xie mendongak menatap sang Ketua Agung, mendengarkan setiap patah kata yang terucap dari bibir penguasa tertinggi sekte tersebut dengan kesadaran penuh.
"Dunia ini teramat sangat luas dan memiliki ribuan jalan besar—ribuan Dao yang menggoda setiap praktisi. Namun ingatlah nasihat tua ini dengan baik: jiwamu pada hakikatnya hanyalah sekecil wadah. Jika kamu secara serakah memaksakan dua hukum alam yang berbeda berdiri sejajar di dalamnya... wadah itu pada akhirnya akan pecah."
Han Wuyan menjeda kalimatnya sejenak. Suasana di dalam pondok bambu mendadak terasa begitu menekan, seolah kata-kata sang Ketua Agung barusan memiliki bobot ribuan ton yang menindih atmosfer di sekeliling mereka.
"Kau mungkin memiliki Hukum Chaos yang mampu menampung guncangan turbulensi dimensi," lanjut Han Wuyan, tatapannya menembus langsung ke dalam sanubari Mo Xie. "Namun, Hukum Ruang bukanlah sesuatu yang bisa kau pelajari sebagai Dao kedua yang berdiri sendiri. Jika kau memperlakukannya sebagai jalan baru yang terpisah di dalam batinmu, energi Chaos di dalam tubuhmu dan energi Ruang dari giok ini akan saling bertolak belakang. Mereka akan memperebutkan Dantianmu sebagai medan perang, dan kau... akan hancur menjadi debu sebelum sempat melepaskan satu serangan pun."
Mo Xie tidak memotong. Ia mendengarkan dalam keheningan yang absolut, merasakan kebenaran yang mutlak dari penuturan sang Ascendant.
"Oleh karena itu, Mo Xie," Han Wuyan mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah menjadi bisikan yang sarat akan otoritas seorang tetua. "Jika kau memutuskan untuk menyentuh dan menyerap giok hitam ini, jangan pernah berjalan di dua Dao yang berbeda. Jangan biarkan pikiranmu terbagi oleh ketamakan. Sebaliknya... kau harus menelan Hukum Ruang tersebut, mencabik-cabik strukturnya, dan menjadikannya sebagai makanan bagi Dao Chaos yang kau anut!"
Han Wuyan tegak kembali. Guratan-guratan usia di wajah tuanya tampak mengeras penuh ketegasan yang tak terbantahkan.
"Jadikan Ruang itu sebagai bagian dari kekacauanmu, bukan saingan bagi jiwamu. Hanya dengan keteguhan hati untuk tetap berada di satu jalan absolut, wadah di dalam ragamu tidak akan pernah pecah... melainkan meluas tanpa batas."
Mo Xie menatap giok hitam di hadapannya. Kilat biru gletser dan pendar merah di matanya berdenyut serempak. Ia kini mengerti secara utuh. Sang Ketua Agung tidak sedang menyuruhnya mendua hati atau membagi fokus pada hukum alam lain, melainkan menantangnya untuk memperluas dominasi Hukum Chaos miliknya dengan cara melahap dan menundukkan Hukum Ruang itu sendiri.
Dengan perlahan namun pasti, Mo Xie mengulurkan tangan kanannya ke depan, meraih giok hitam legam di atas meja kayu. Ia merasakan getaran dingin tak berwujud yang memancar dari balik ukiran segel kuno benda tersebut saat bersentuhan dengan kulitnya.
"Aku akan menyimpannya untuk saat ini, Tetua Agung," ucap Mo Xie pelan, menyimpan giok hitam tersebut ke dalam cincin ruang yang melingkar di jarinya. Ia paham betul bahwa menelan Hukum Ruang membutuhkan momen yang tepat dan konsentrasi yang tak terganggu.
Han Wuyan mengangguk pelan, memperlihatkan raut puas melihat kejernihan pikiran pemuda di hadapannya yang tidak tergesa-gesa oleh ketamakan.
"Keputusan yang bijaksana," ujar Han Wuyan, melambaikan tangan tuanya di udara. "Sekarang, kembalilah dan pergilah ke Aula Misi. Kau harus mulai berkontribusi kepada sekte. Buktikan kemampuanmu kepada para Tetua dan murid-murid yang selama ini meragukan serta mempertanyakan keberadaanmu di tempat ini."
Mo Xie berdiri dari duduknya, merapikan jubah hitam barunya. Ia menyilangkan tangan kirinya di atas kepalan tangan kanannya yang terbalut kain hitam, lalu membungkukkan badan memberikan penghormatan tertinggi.
"Terima kasih atas nasihat dan bimbingan Tetua Agung. Mo Xie akan selalu mengingatnya di dalam jiwa," ucap Mo Xie dengan nada mantap.
Tanpa membuang waktu lagi, Mo Xie berbalik melangkah meninggalkan pondok bambu yang tenang itu. Ia menyusuri jalan setapak di antara rimbunnya hutan bambu hijau, lalu memusatkan Hukum Chaos di raganya untuk melayang naik ke udara, melesat meninggalkan Puncak Utama.
Di dalam pondok bambu yang kembali hening, Han Wuyan berdiri dari duduknya. Sang penguasa Ascendant itu melangkah mendekati jendela kayu, memandangi siluet Mo Xie yang kian mengecil ditelan lautan awan malam.
"Semoga kau tidak mengecewakannya..." gumam Han Wuyan sangat lirih, menghembuskan uap dingin dari bibirnya. "...karena pada hakikatnya, teknik itu memang milikmu sendiri dari masa lalu, Mo Xie."
WUUUSH!
Di area tengah Sekte Es Abadi, sesosok bayangan hitam mendarat dengan gerakan yang sangat ringan di atas pelataran batu kristal. Hembusan angin kelabu memudar dari sekitar kaki Mo Xie saat ia menapak tepat di depan sebuah bangunan megah berlantai tiga.
Aula Misi Sekte Es Abadi.
Bangunan besar bercorak naga salju itu biasanya dipenuhi oleh lalu lalang para murid yang mencari gulungan tugas atau menyerahkan hasil perburuan bahan spiritual. Namun malam ini, bagian dalam aula tampak begitu sunyi, hanya diterangi oleh pendar biru redup dari kristal-kristal es yang tertancap di dinding.
Mo Xie melangkah masuk perlahan, membuat derit halus dari alas sepatusnya bergaung di lantai aula.
Di sudut ruangan utama, di balik meja kayu panjang yang dipenuhi oleh tumpukan gulungan perkamen, tampak seorang Tetua berjanggut tipis sedang duduk bersantai di atas kursi goyang kayu. Matanya terpejam rapat, tangan tuanya memegang kipas lipat, dan tubuhnya bergoyang perlahan mengikuti irama angin dingin tanpa memedulikan langkah kaki yang mendekat.
Mo Xie baru saja menghentikan langkahnya beberapa depak di depan meja, belum sempat membuka mulut atau mengutarakan niatnya—
"Murid baru... ranah Awakened awal," suara serak sang Tetua mendadak terdengar dari balik mata yang masih terpejam rapat.
Tanpa membuka mata atau mengubah posisi duduk santainya di kursi goyang, sang Tetua mengangkat tangan kanannya yang keriput, melemparkan sebuah gulungan kulit kayu tua yang terikat tali hitam ke arah meja di depan Mo Xie.
"Pergilah ke arah timur. Cari sebuah tempat bernama Desa Seribu Kabut," lanjut Tetua itu dengan nada datar yang dingin. "Selesaikan masalah di sana dan segera kembali. Pergilah sekarang, atau poin kontribusi bulananmu akan kupotong tanpa ampun."
Mo Xie berdiri mematung. Alisnya terangkat sedikit saat menatap gulungan di atas meja, lalu beralih menatap orang tua yang masih asyik bergoyang di kursinya.
Orang tua ini... bahkan tanpa membuka mata atau melihat identitasku, sudah langsung menyuruhku pergi begitu saja? batin Mo Xie, mendengus pelan di dalam hatinya.
Namun, Mo Xie tidak berniat membuang energi untuk memperdebatkan sikap eksentrik pengawas aula tersebut. Ia meraih gulungan tugas di atas meja, memasukkannya ke balik jubah hitamnya.
"Baiklah," ucap Mo Xie pendek, lalu membalikkan badannya untuk keluar dari aula.
"Tapi ingat, Bocah," suara Tetua itu kembali memotong keheningan saat Mo Xie baru mengambil tiga langkah ke arah pintu.
Mo Xie menghentikan langkah kakinya, namun tidak berbalik. Ia hanya menolehkan kepalanya sedikit dari balik pundaknya.
"Di dalam tugas ini... tidak ada kata kegagalan," sambung sang Tetua, kipas lipat di tangannya berhenti bergoyang untuk seketika. "Selesaikan sampai tuntas, atau jangan pernah menampakkan wajahmu kembali ke benteng ini."
Mo Xie mencerna peringatan dingin tersebut selama beberapa detik di dalam keheningan aula. Senyum tipis yang sarat akan keteguhan dan kepercayaan diri perlahan terukir di sudut bibirnya.
"Misi pertamaku setelah menapakkan kaki di ranah Awakened..." bisik Mo Xie rendah pada dirinya sendiri saat ia melangkah melintasi pintu keluar. "...tentu saja aku akan kembali dengan hasil mutlak."
WUUUSH!
Dengan satu hentakan kaki yang memancarkan pendar energi kelabu, Mo Xie melesat melayang menembus kabut malam utara, membelah angkasa menuju wilayah timur—menuju Desa Seribu Kabut tempat bahaya baru telah menantinya.