Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 25 — Pengkhianat di Tengah Keluarga
Ruangan itu masih diselimuti kegelapan.
Hanya lampu darurat di sudut ruangan yang menyala redup.
Semua orang berdiri diam.
Tidak ada yang berani bergerak.
Aria menatap tangannya sendiri dengan wajah pucat.
Flashdisk yang beberapa detik lalu masih berada di genggamannya kini telah menghilang.
“Tidak…”
Suara Aria bergetar.
“Aku masih memegangnya.”
Clara segera mendekat.
“Aria, tenang.”
“Aku tidak mungkin menjatuhkannya.”
Aria memeriksa lantai.
Tidak ada apa pun.
Ia kemudian memeriksa saku jaketnya.
Kosong.
“Aku tidak tahu bagaimana bisa hilang.”
Clara mengamati seluruh ruangan.
Pintu masih tertutup.
Jendela terkunci.
Tidak ada orang yang terlihat keluar.
Namun seseorang di antara mereka pasti telah mengambil flashdisk itu.
Fedro berdiri di samping Clara.
“Tidak ada seorang pun yang keluar dari ruangan ini.”
Raka mengangguk.
“Benar. Aku berdiri dekat pintu sejak lampu padam.”
Rafael menatap semua orang.
“Berarti pencurinya masih di sini.”
Suasana kembali menegang.
Clara menatap satu per satu orang yang berada di ruangan.
Adrian.
Amara.
Alena.
Aria.
Fedro.
Raka.
Rafael.
Gabriel.
Tidak ada yang bergerak.
Namun Clara teringat pesan yang masuk beberapa menit sebelumnya.
Musuh yang sebenarnya bukan berada di luar. Dia sudah berada di dalam.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
“Semua orang tetap di tempat.”
Clara berkata tegas.
Tidak ada yang membantah.
Raka mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter.
Ia memeriksa lantai.
“Tidak ada.”
Rafael berjalan menuju meja.
“Aku akan memeriksa kamera.”
“Bagaimana?” tanya Raka.
“Server utama mungkin masih aktif.”
Rafael berbalik menuju ruang keamanan.
Namun Clara langsung menghentikannya.
“Tunggu.”
Rafael menatapnya.
“Apa?”
“Kau jangan pergi sendirian.”
Rafael mengerutkan kening.
“Kau mencurigaiku?”
Clara terdiam.
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Tapi tatapanmu mengatakan sebaliknya.”
Rafael menarik napas.
“Aku sudah menjelaskan. Aku tidak pernah bekerja untuk Damian.”
Clara menatapnya.
“Aku ingin mempercayaimu.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin memastikan semuanya.”
Rafael mengangguk.
“Baik.”
Raka berdiri di sampingnya.
“Aku ikut.”
Mereka berdua berjalan menuju ruang keamanan.
Fedro menatap Clara.
“Kamu melakukan hal yang benar.”
Clara menghela napas.
“Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.”
Fedro menggenggam tangannya.
“Percayalah kepadaku.”
Clara menatap suaminya.
“Aku percaya.”
Fedro tersenyum tipis.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”
Namun sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, terdengar suara dari lantai atas.
Brak!
Semua langsung menoleh.
Adrian berteriak,
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Raka dan Rafael kembali berlari ke ruang utama.
“Ada apa?” tanya Rafael.
“Ada suara dari atas,” jawab Clara.
Raka segera naik tangga.
Yang lain mengikutinya.
Mereka sampai di lorong lantai dua.
Sebuah pintu kamar terbuka.
Raka mengangkat tangan.
“Jangan masuk dulu.”
Ia memeriksa bagian dalam.
Kosong.
Namun sebuah laci terbuka.
Clara masuk perlahan.
“Itu kamar Papi.”
Adrian mengerutkan kening.
“Aku tidak meninggalkan kamar ini terbuka.”
Clara mendekati meja.
Di atasnya terdapat beberapa dokumen lama.
Salah satunya terjatuh di lantai.
Clara mengambilnya.
Matanya langsung membesar.
“Papi…”
Adrian mendekat.
“Apa?”
Clara menyerahkan dokumen itu.
Adrian membacanya.
Wajahnya berubah.
“Ini…”
“Apa itu?”
Adrian tidak menjawab.
Alena mengambil dokumen tersebut.
Ia membacanya dengan cepat.
“Perjanjian pemisahan tiga anak?”
Clara membeku.
“Apa?”
Adrian memejamkan mata.
“Dokumen itu dibuat setelah kalian lahir.”
Clara mengambilnya.
Di dalamnya tertulis nama Clara, Alena, dan Aria.
Namun ada satu bagian yang membuat Clara terkejut.
Hak perlindungan anak ketiga diserahkan kepada keluarga Harland.
Clara menatap Aria.
Aria langsung pucat.
“Jadi benar…”
Ia mengambil dokumen tersebut.
“Sejak awal aku memang diserahkan kepada mereka.”
Amara menangis.
“Aria…”
“Jangan.”
Aria mundur.
“Sekarang aku ingin mendengar semuanya.”
Amara menatap Adrian.
Adrian menarik napas panjang.
“Kami tidak punya pilihan.”
Aria tertawa getir.
“Kalimat itu lagi.”
Ia menghapus air matanya.
“Setiap kali aku bertanya tentang masa laluku, jawabannya selalu sama.”
Adrian mendekat.
“Kami takut mereka akan membunuhmu.”
“Siapa mereka?”
Adrian terdiam.
Gabriel akhirnya menjawab.
“Keluarga Harland.”
Aria menatapnya.
“Kau tahu?”
“Ya.”
“Kenapa tidak pernah memberitahuku?”
Gabriel menatap Aria.
“Karena aku tidak yakin siapa yang bisa dipercaya.”
Clara mengerutkan kening.
“Termasuk keluarga sendiri?”
Gabriel mengangguk.
“Terutama keluarga sendiri.”
Clara menatapnya tajam.
“Kalau begitu, siapa sebenarnya yang membuat perjanjian ini?”
Gabriel menunjuk bagian bawah dokumen.
“Lihat tanda tangan.”
Clara melihatnya.
Tanda tangan Adrian.
Amara.
Dan seseorang bernama Leonard Evellyn.
Clara mengerutkan kening.
“Siapa Leonard?”
Adrian terlihat sangat terkejut.
“Pamanmu.”
“Bukankah Paman Gabriel saudara Papi?”
“Gabriel adalah adik keduaku.”
Clara membeku.
“Jadi masih ada satu lagi?”
Adrian mengangguk.
“Leonard adalah kakakku.”
Raka mengerutkan kening.
“Di mana dia sekarang?”
Adrian menatap kosong.
“Sudah meninggal.”
Gabriel tiba-tiba tersenyum pahit.
“Tidak.”
Semua menoleh kepadanya.
“Apa maksudmu?” tanya Adrian.
“Leonard masih hidup.”
Adrian membeku.
“Itu tidak mungkin.”
“Aku melihatnya tiga tahun lalu.”
Clara merasa semakin bingung.
“Kenapa selama ini semua orang mengatakan keluarga kita hanya memiliki tiga bersaudara?”
Gabriel menjawab,
“Karena Leonard sengaja menghilang.”
“Untuk apa?”
“Untuk mengendalikan E-17 dari balik bayangan.”
Ruangan langsung sunyi.
Clara teringat sosok misterius yang mengendalikan Damian.
“Apakah Leonard orang di balik semua ini?”
Gabriel tidak menjawab.
Namun wajahnya sudah cukup membuat semua orang curiga.
Tiba-tiba ponsel Aria berbunyi.
Satu pesan masuk.
Jangan percaya Gabriel.
Aria menatap layar.
Gabriel langsung berkata,
“Jangan percaya pesan itu.”
Clara menoleh.
“Kenapa?”
“Karena mereka sedang mencoba memecah kita.”
Rafael mengamati Gabriel.
“Atau karena pesan itu benar?”
Gabriel menatapnya tajam.
“Kau masih mencurigaiku?”
Rafael tidak menjawab.
Tiba-tiba dari lantai bawah terdengar suara kaca pecah.
Prang!
Semua terkejut.
Raka langsung berlari menuruni tangga.
“Semua tetap di sini!”
Clara hendak mengikuti.
Fedro menahannya.
“Tidak.”
“Raka sendirian.”
“Aku akan menyusul.”
Fedro bergerak cepat.
Clara akhirnya mengikuti bersama Alena dan Aria.
Ketika mereka sampai di ruang tamu, sebuah jendela pecah.
Tidak ada siapa pun di luar.
Namun di lantai terdapat sebuah benda.
Sebuah jaket hitam.
Raka mengambilnya.
Ia membalik bagian belakang jaket.
Terdapat lambang burung hitam.
“Ini milik kelompok Aria.”
Aria menggeleng.
“Bukan.”
Raka menatapnya.
“Lambangnya sama.”
“Tapi itu bukan milikku.”
Clara mendekat.
Ia memperhatikan simbol tersebut.
Kemudian ia melihat sesuatu di bagian dalam jaket.
Sebuah tulisan kecil.
E-17.
Rafael mengerutkan kening.
“Ini sengaja ditinggalkan.”
“Untuk membuat kita mencurigai Aria,” kata Clara.
Aria menatapnya.
“Jadi seseorang ingin membuatku terlihat sebagai pengkhianat.”
Clara mengangguk.
“Benar.”
Namun tiba-tiba suara motor terdengar dari luar.
Banyak sekali.
Raka melihat melalui jendela.
“Mereka datang.”
Fedro berdiri di samping Clara.
“Geng Serigala Merah?”
Raka mengangguk.
“Puluhan.”
Adrian terlihat panik.
“Mereka mengepung rumah.”
Clara menatap keluar.
Lampu motor memenuhi halaman.
Reno tiba-tiba muncul dari kelompok itu.
Clara terkejut.
“Reno?”
Reno turun dari motornya.
Ia mengangkat tangan.
“Clara!”
Clara membuka pintu sedikit.
“Apa yang terjadi?”
Reno berteriak,
“Kami bukan musuh!”
Clara menatapnya curiga.
“Lalu kenapa kalian datang?”
Reno menunjuk ke arah jalan.
“Ada kelompok lain yang menuju rumah ini.”
“Siapa?”
“Geng Black Viper.”
Raka langsung menegang.
“Black Viper?”
Reno mengangguk.
“Mereka jauh lebih besar daripada kelompok Serigala Merah.”
Clara menatap Fedro.
“Berapa banyak?”
“Setidaknya lima puluh orang.”
Reno melanjutkan,
“Mereka tidak datang untuk menyerang kalian.”
Clara mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Mereka datang untuk mengambil seseorang.”
“Siapa?”
Reno menatap ke arah rumah.
“Aria.”
Aria langsung membeku.
“Kenapa aku?”
Reno menjawab,
“Karena mereka mendapat perintah untuk membawamu hidup-hidup.”
Clara berdiri di depan Aria.
“Tidak ada yang akan mengambil saudaraku.”
Reno mengangguk.
“Itu sebabnya aku datang.”
Ia melihat anggota kelompoknya.
“Kami akan membantu kalian.”
Clara membuka pintu lebih lebar.
“Masuk.”
Reno menggeleng.
“Kami tetap di luar.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kami masuk, mereka akan tahu bahwa kamu memiliki bantuan.”
Reno memasang helm.
“Jaga keluargamu.”
Kemudian suara motor dari kejauhan semakin keras.
Reno menoleh.
“Mereka datang.”
Puluhan motor memasuki jalan.
Lampu kendaraan menyilaukan.
Anggota Black Viper turun satu per satu.
Pemimpin mereka berjalan paling depan.
Seorang pria tinggi dengan jaket hitam.
Ia membuka helm.
Clara menatapnya.
Wajah pria itu terasa asing.
Namun Gabriel langsung pucat.
“Tidak…”
Adrian menatap Gabriel.
“Siapa dia?”
Gabriel menjawab dengan suara rendah.
“Leonard.”
Semua terdiam.
Clara menatap pria tersebut.
“Paman Leonard?”
Pria itu tersenyum.
“Sudah lama sekali.”
Adrian melangkah maju.
“Kau seharusnya sudah mati.”
Leonard tertawa.
“Begitulah yang kuinginkan agar kalian percaya.”
Clara mengepalkan tangan.
“Kenapa kau datang?”
Leonard menatapnya.
“Untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
“E-17?”
“Bukan.”
Leonard menatap Aria.
“Dia.”
Aria mundur.
Clara berdiri di depannya.
“Kenapa Aria?”
Leonard tersenyum.
“Karena hanya Aria yang mengetahui lokasi ruang utama.”
Aria membeku.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
Leonard tertawa.
“Belum.”
Clara menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Leonard menunjuk kepala Aria.
“Informasi itu ditanamkan dalam ingatannya sejak kecil.”
Aria terlihat semakin pucat.
“Tidak.”
“Benar.”
Leonard berkata,
“Keluarga Harland membesarkanmu bukan untuk menjadi anak mereka.”
“Mereka membesarkanmu sebagai kunci hidup.”
Aria menggenggam kepalanya.
“Aku tidak ingat.”
“Karena ingatanmu dikunci.”
Clara segera memegang bahu Aria.
“Jangan dengarkan dia.”
Leonard tersenyum.
“Bawa Aria keluar.”
Puluhan anggota Black Viper bergerak.
Reno langsung berteriak,
“Jangan biarkan mereka masuk!”
Pertempuran kembali pecah di halaman.
Suara motor, teriakan, dan benturan memenuhi malam.
Clara menarik Aria masuk ke dalam rumah.
Fedro menutup pintu.
“Raka, amankan bagian belakang.”
“Baik!”
Rafael berdiri di dekat tangga.
“Aku menjaga lantai atas.”
Clara menatap Gabriel.
“Paman, kau tahu cara menghentikan Leonard?”
Gabriel menggeleng.
“Tidak.”
Clara mengerutkan kening.
“Kalau begitu kenapa kau kembali?”
Gabriel terdiam.
Kemudian ia berkata,
“Karena aku tahu siapa yang memberikan perintah kepada Leonard.”
Clara menatapnya.
“Siapa?”
Gabriel menarik napas panjang.
“Damian.”
Rafael langsung menoleh.
“Tidak mungkin.”
Gabriel menggeleng.
“Damian hanya menjalankan perintah.”
“Dari siapa?” tanya Clara.
Gabriel menatap Adrian.
“Dari orang yang sebenarnya mengendalikan E-17.”
Adrian terlihat pucat.
“Leonard?”
Gabriel menggeleng.
“Bukan.”
Semua terdiam.
“Lalu siapa?”
Gabriel menatap Clara.
“Orang yang selama ini kalian kira sudah mati.”
Clara membeku.
“Siapa?”
Gabriel menjawab,
“Ibumu.”
Clara tidak mampu berkata-kata.
“Apa?”
Amara langsung menangis.
“Tidak…”
Gabriel menatap mereka semua.
“Ibumu tidak meninggal.”
Clara merasa tubuhnya lemas.
“Paman berbohong.”
“Aku melihatnya.”
“Kapan?”
“Tiga tahun lalu.”
Clara menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Gabriel mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
Ia menyerahkannya kepada Clara.
Clara melihat foto itu.
Seorang wanita berdiri di depan sebuah bangunan tua.
Wajahnya sangat mirip dengan ibunya.
Clara membeku.
“Ibu…”
Amara menangis semakin keras.
Adrian menutup wajahnya.
Namun sebelum Clara sempat bertanya lebih banyak, terdengar suara tembakan dari luar.
Semua terkejut.
Reno berteriak,
“Clara! Mereka berhasil masuk!”
Fedro langsung menarik Clara ke belakangnya.
Raka berlari menuju pintu.
“Semua tetap bersama!”
Pintu depan dihantam dari luar.
Brak!
Sekali.
Brak!
Dua kali.
Kemudian pintu terbuka.
Beberapa anggota Black Viper masuk.
Raka dan Rafael segera menghadang mereka.
Fedro membawa Clara, Alena, dan Aria menuju ruangan belakang.
Namun Aria tiba-tiba berhenti.
Tangannya memegang kepala.
“Aku…”
Clara menoleh.
“Ada apa?”
“Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
Aria menutup mata.
“Gudang.”
Clara membeku.
“Gudang apa?”
“Gudang lama.”
“Di mana?”
Aria membuka mata.
Tatapannya kosong.
“Aku tahu lokasinya.”
Alena langsung memahami.
“Ingatan yang dikunci.”
Aria mengangguk perlahan.
“Aku tahu di mana ruang utama E-17 berada.”
Clara menggenggam tangannya.
“Kalau begitu kita harus pergi.”
Namun suara Leonard terdengar dari belakang.
“Tidak perlu.”
Semua menoleh.
Leonard berdiri di ambang pintu.
“Karena aku sudah tahu kalian akan membawaku ke sana.”
Clara menatapnya.
Leonard tersenyum.
“Sekarang tiga saudari Evellyn sudah lengkap.”
Ia menunjuk Clara.
“Kunci.”
Kemudian menunjuk Alena.
“Kode.”
Terakhir menunjuk Aria.
“Lokasi.”
Leonard mengangkat tangan.
“Dan setelah kalian membuka ruang utama E-17…”
Tatapannya berubah dingin.
“…aku akan mengambil seluruh warisan Evellyn.”
Clara berdiri tegak.
“Tidak.”
Leonard tertawa.
“Kau masih belum mengerti.”
“Apa?”
“E-17 bukan sekadar ruang penyimpanan.”
Clara mengerutkan kening.
“Lalu?”
Leonard tersenyum.
“Di dalamnya tersimpan bukti yang bisa menghancurkan banyak keluarga besar.”
Ia menatap ketiga saudari.
“Termasuk keluarga kalian sendiri.”
Clara terdiam.
Di tengah kekacauan, ia menyadari bahwa semua yang mereka ketahui selama ini mungkin hanya sebagian kecil dari kebenaran.
Dan kini satu pertanyaan terbesar muncul di pikirannya.
Jika ibunya benar-benar masih hidup…
mengapa selama ini ibunya membiarkan mereka percaya bahwa dirinya telah meninggal?
Clara menatap Alena dan Aria.
“Kita harus menemukan jawabannya.”
Alena mengangguk.
Aria menggenggam tangan Clara.
“Aku akan membantumu.”
Fedro berdiri di samping Clara.
“Aku juga.”
Dari luar, suara pertempuran masih terdengar.
Reno dan anggota geng motor mereka berusaha menahan Black Viper.
Namun Leonard telah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Lokasi ruang utama E-17.
Dan yang lebih berbahaya—
seseorang dari masa lalu Clara ternyata masih hidup.
Seseorang yang seharusnya telah mati tujuh belas tahun lalu.
Seseorang yang mungkin bukan korban.
Melainkan bagian terbesar dari rahasia E-17.
Clara menatap foto ibunya sekali lagi.
Air matanya jatuh.
“Ibu…”
Tangannya mengepal.
“Kalau Ibu masih hidup, aku akan menemukanmu.”
Namun jauh di tempat lain, seorang wanita berdiri di depan layar.
Ia melihat rekaman rumah keluarga Adrian.
Di sampingnya berdiri Damian.
“Leonard sudah menemukan mereka,” kata Damian.
Wanita itu tersenyum.
“Bagus.”
“Apakah kita harus menghentikannya?”
“Tidak.”
Wanita itu menatap layar yang menampilkan wajah Clara.
“Biarkan mereka membuka ruang E-17.”
Damian terdiam.
“Kenapa?”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Karena hanya setelah ruang itu terbuka…”
Ia menyentuh sebuah foto lama.
Foto Clara, Alena, dan Aria ketika masih bayi.
“…mereka akan mengetahui siapa sebenarnya ayah dari ketiga anak itu.”
Damian menatapnya.
“Adrian?”
Wanita itu tertawa pelan.
“Bukan.”
Layar kemudian mati.
Rahasia terbesar keluarga Evellyn masih tersembunyi.
Dan perang baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.
Bersambung