NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Hujan Deras dan Punggung yang Membentur Tanah

Malam tanpa tidur itu tidak pernah mereka bicarakan.

Beberapa hari berikutnya berjalan tenang. Arum datang pagi, pulang bersama Bu Inah setelah magrib, dan mengerjakan rumah sambil menahan senyum setiap kali melihat singlet bermotif melati dijemur terpisah dari pakaian lain.

Bara juga tidak berkata apa-apa tentang bunga kecil itu. Namun, ia selalu memastikan Arum sendiri yang mencuci dan melipatnya.

Menjelang sore pada hari keempat, udara Malang berubah dingin. Awan gelap turun cepat dari arah pegunungan. Arum baru selesai menjemur seragam, handuk, dan seprai di halaman belakang Blok C-3.

Bara duduk di ruang tengah memeriksa laporan. Tongkat bersandar pada sisi kursi. Kaki kanannya ditopang bangku rendah karena nyeri sejak pagi.

Di meja, ada resep baru dari poliklinik. Arum sudah membacanya sekilas saat menyusun obat. Dokter meminta Bara mengurangi beban pada kaki, mengganti perban punggung teratur, dan kembali jika kesemutan menjalar sampai telapak.

"Mayor seharusnya istirahat, bukan membaca laporan," kata Arum dari halaman.

"Membaca tidak memakai kaki."

"Tapi Mayor duduk sejak siang."

"Kamu menghitung?"

"Saya juga menghitung obatnya. Yang siang belum diminum."

Bara melirik tablet di samping gelas. Ia memasukkannya ke mulut tanpa berdebat, lalu mengangkat gelas kosong untuk menunjukkan kepatuhan.

Arum tersenyum puas. "Ternyata Sang Macan bisa menurut."

"Jangan terbiasa."

"Sudah terlambat."

Bara kembali pada laporannya, tetapi satu sudut kertas tidak bergerak cukup lama. Perhatiannya tertahan pada Arum yang menjepit kain dengan rambut ditiup angin. Rumah itu belum pernah mempunyai suara seseorang yang mengingatkan obatnya.

Guntur pertama terdengar.

Arum menoleh ke halaman. "Sepertinya hujan."

"Biarkan."

"Kalau seragam Mayor basah, besok tidak kering."

"Masih ada seragam lain."

Titik air pertama jatuh sebesar koin. Dalam hitungan detik, hujan turun seperti tirai tebal.

Arum berlari ke halaman.

"Arum!"

Suara Bara tertelan guntur.

Angin menerbangkan ujung seprai. Arum meraih dua seragam sekaligus, menekannya ke dada, lalu menjangkau singlet loreng yang tergantung paling ujung. Air sudah membasahi rambut dan bahunya.

"Masuk!" teriak Bara dari pintu.

"Sebentar!"

Tali jemuran terlepas dari tiang. Pakaian jatuh. Arum membungkuk cepat untuk menangkapnya sebelum menyentuh tanah.

Telapak kakinya menginjak lumut basah.

Pergelangan yang baru sembuh terpelintir. Tubuhnya meluncur ke belakang menuju lantai semen dan sudut batu penyangga jemuran.

Arum sempat melihat langit kelabu berputar.

Kemudian sebuah lengan keras melingkari pinggangnya.

Bara datang tanpa tongkat.

Ia menarik Arum ke dadanya, memutar tubuh mereka di udara, lalu membiarkan punggungnya sendiri menghantam tanah.

Duk!

Benturan itu terdengar bahkan di tengah hujan.

Napas Bara putus. Wajahnya memucat seketika. Namun, kedua lengannya tetap mengurung Arum, memastikan kepala dan tubuh gadis itu tidak menyentuh semen.

"Pak Mayor!"

Arum berada di atas dadanya. Hujan menampar wajah mereka. Singlet loreng terjepit di antara tubuh keduanya, motif melatinya tepat di atas jantung Bara.

Ia meraba sisi wajah Bara. "Mayor bisa dengar saya?"

"Aku tidak pingsan."

"Jangan bergerak dulu. Bisa ada tulang yang cedera."

"Kamu sekarang dokter?"

"Petugas poliklinik menjelaskan waktu mengganti perban."

Arum melihat tanah di bawah punggung Bara. Air hujan yang mengalir tidak berwarna merah, tetapi kain kaus di dekat rusuk mulai gelap. Luka lama mungkin terbuka kembali.

"Perbannya basah."

"Kamu aman?"

"Saya aman karena Mayor menjadikan punggung sendiri alas jatuh."

"Berarti keputusan itu benar."

"Bagaimana kalau tulang Mayor retak?"

Bara menatapnya lurus. "Kalau aku membiarkan kepalamu mengenai batu, aku akan lebih menyesal daripada menanggung satu tulang retak."

Arum kehilangan jawaban. Air hujan mengalir di wajahnya, menyamarkan sesuatu yang lebih hangat di sudut mata.

"Jangan menangis," kata Bara.

"Ini air hujan."

"Bohongmu tetap buruk."

Arum menekan bibir. Meski kesakitan, Bara masih memeriksa siku dan belakang kepalanya, memastikan tak ada kulit yang terluka.

"Kamu kena batu?" tanya Bara dengan suara tertahan.

"Tidak. Punggung Mayor..."

"Jawab. Kamu terluka?"

Arum menggeleng. "Tidak."

Baru setelah itu mata Bara menutup sesaat. Rasa sakit menembus luka lama dan perban baru di punggungnya. Kaki kanannya tergeletak kaku, tidak mampu segera ditekuk.

Arum berusaha bangun, tetapi telapak tangannya tergelincir di dada Bara. Wajah mereka nyaris bertabrakan. Wangi melati dari kulitnya bercampur dengan bau hujan dan tanah basah.

Mata Bara terbuka lagi.

"Jangan bergerak dulu," katanya.

"Saya menekan luka Mayor."

"Kalau kamu tergelincir lagi, kepalamu yang pecah."

Arum menahan napas. Tangannya kini bertumpu di sisi leher Bara. Detak nadi lelaki itu keras di bawah ujung jarinya.

Dari rumah sebelah, Bu Lastri membuka tirai. Ia melihat dua tubuh di tanah, Arum di atas Bara, pakaian melekat karena hujan. Ponselnya langsung terangkat.

"Apa yang kamu lakukan?"

Kapten Broto muncul di belakangnya dan merampas ponsel itu sebelum kamera terbuka.

"Saya cuma mau merekam. Biar orang tahu saya tidak mengarang."

"Turunkan tirai."

"Mas, lihat sendiri. Mereka berpelukan di halaman."

Broto melihat ke luar. Ia juga melihat tiang jemuran yang jatuh, lumut licin, dan cara Bara menahan kepala Arum agar tidak membentur lantai.

"Dia menyelamatkan orang jatuh," katanya. "Kalau kamu sebar foto tanpa konteks lagi, laporan Yusuf kemarin masuk catatan saya. Kamu mau pangkat saya berhenti karena mulutmu?"

Lastri mendengus. "Kamu selalu membela mereka."

"Saya membela pekerjaan saya. Tutup jendelanya."

Broto menarik tirai. Lastri masih mencoba mengintip dari celah, tetapi tak berani menyentuh ponselnya lagi.

Di halaman, Bara menggerakkan kaki kiri dan mencoba duduk. Wajahnya menegang.

"Pegang bahuku," katanya.

Arum menggeser tubuh ke samping, lalu menopang bahunya. Bara berhasil duduk, tetapi kaki kanannya tidak segera merespons.

"Tongkat saya di dalam."

"Saya ambil."

Arum baru hendak berdiri ketika tangan Bara menangkap pergelangan tangannya.

"Jangan lari lagi di lantai basah."

"Lalu bagaimana Mayor masuk?"

Bara melihat pintu yang hanya berjarak beberapa meter. "Aku bisa."

"Tidak bisa."

"Arum."

"Pak Mayor."

Hujan mengalir dari dagu mereka. Bara menatap tekad di wajah Arum, lalu mengembuskan napas berat.

"Baik. Berdiri di sisi kiri."

Arum melingkarkan lengan Bara di bahunya. Ia merangkul pinggang lelaki itu dengan kedua tangan. Perlahan, mereka berdiri. Kaki kanan Bara hampir ambruk, tetapi Arum menahan beban sebanyak yang ia mampu.

Mereka berjalan satu langkah demi satu langkah menuju teras.

"Saya berat?" tanya Bara di sela napas.

"Sangat."

"Tadi kamu bilang aku bohong saat menyebutmu ringan."

"Kita impas."

Meski kesakitan, Bara mengeluarkan bunyi pendek yang hampir seperti tawa.

Di teras, Arum mendudukkannya di kursi. Ia berlari kecil hanya setelah berada di lantai kering, mengambil tongkat, handuk, dan kotak obat. Ketika ia kembali, Bara sedang mencoba meraih pakaian yang masih berserakan di halaman.

"Biarkan pakaiannya."

"Kamu keluar karena pakaian itu."

"Karena saya bodoh."

"Akhirnya kita sepakat."

Arum berjongkok di belakang kursi dan mengangkat sedikit bagian bawah kaus Bara. Perban di sisi punggung benar-benar robek. Garis merah tipis muncul di dekat luka yang baru mengering.

"Terbuka lagi. Kita harus ke poliklinik."

"Hujannya terlalu deras. Bersihkan dulu di rumah."

"Kalau ada cedera tulang?"

"Aku masih bisa menggerakkan tangan dan leher. Setelah hujan reda, baru diperiksa."

Arum memasang kasa kering sebagai penahan sementara tanpa menekan luka. Tangannya gemetar. Bara merasakannya dari sentuhan ringan di punggung.

"Aku tidak akan mati karena jatuh sekali," katanya.

"Jangan bicara begitu."

Nada Arum membuat Bara berhenti bercanda. Ia menoleh sebisanya dan melihat ketakutan yang nyata di wajah gadis itu.

"Baik," ujarnya lebih lembut. "Aku tidak akan bicara begitu lagi."

Janji kecil itu membuat tangan Arum akhirnya berhenti gemetar di punggungnya.

Arum menyampirkan handuk ke kepala Bara sedikit lebih keras daripada perlu. Lelaki itu membiarkannya. Air menetes dari rambut ke luka kecil di pelipis.

"Punggungnya harus diperiksa."

"Nanti. Kamu ganti baju dulu."

"Mayor selalu bilang begitu."

"Karena kamu selalu basah di depanku."

Kalimat itu membuat keduanya diam.

Bara memalingkan wajah. Arum menarik handuk dari kepalanya dan menutupi tubuh sendiri. Kain bajunya melekat, memperjelas lekuk tubuh yang selama ini ia sembunyikan dalam pakaian longgar.

Tatapan Bara kembali kepadanya tanpa sengaja.

Hujan terdengar jauh lebih keras.

Arum berbalik hendak masuk, tetapi kaki kanannya yang tadi terpelintir kembali nyeri. Tubuhnya goyah. Bara menangkap tangannya dan menariknya ke sisi kursi.

"Duduk."

"Punggung Mayor lebih parah."

"Kamu dulu."

"Mayor dulu."

"Jangan berdebat."

"Mayor juga jangan."

Mereka saling menatap. Lengan Bara masih melingkari pinggang Arum. Tangannya berada di sisi tubuh yang lembut dan hangat meski diguyur hujan. Arum berdiri di antara kedua lututnya, satu tangan di bahu Bara, satu lagi menahan handuk di dada.

Jarak itu terlalu dekat.

Bara berdiri meski wajahnya menegang akibat sakit. Dengan satu lengan, ia mengangkat Arum dari lantai basah dan membawanya ke dalam.

"Saya bisa jalan."

"Tadi hampir jatuh lagi."

"Kaki Mayor..."

"Diam."

Di ambang pintu, langkah Bara berhenti. Arum menatap wajah yang basah oleh hujan. Lelaki itu menunduk. Napas mereka bercampur, hangat di tengah udara dingin.

Jari Arum yang memegang kerah Bara bergeser dan menyentuh kulit di lehernya.

Sebuah getaran halus melintas dari ujung jari ke seluruh tubuh.

Bara merasakannya juga.

Mereka tetap diam, basah kuyup, saling menatap seolah satu gerakan kecil saja akan mengubah arti semua perlindungan yang selama ini diberikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!