Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pecutan dan Harga Diri yang Tercabik
Langkah kaki Dallas terhenti tepat di depan pintu jati ganda ruang kerja Fernando Enrique. Perasaan hangat dan sisa-sisa kasmaran akibat pesan teks Bellamy yang baru dibacanya beberapa menit lalu instan menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Hans, asisten pribadinya, berdiri di samping pintu dengan wajah pucat menggeleng pelan—sebuah sinyal bahaya.
Cklek.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam ruangan langsung membuat rahang Dallas mengeras. Di atas sofa kulit, Javier duduk menyilangkan kaki dengan segelas wiski di tangan, menatapnya dengan pandangan penuh penghinaan dan kepuasan yang sinis.
Namun, bukan Javier yang membuat napas Dallas tercekat. Di atas lantai marmer yang dingin, seorang wanita paruh baya berwajah pucat sedang bersimpuh sambil terisak pelan, meremas ujung daster usangnya.
"Ibu...?" desis Dallas, langkahnya bergegas maju, namun sebuah suara bariton yang menggelegar menghentikannya.
"Berhenti di situ, anak haram!" Fernando Enrique berdiri di balik meja kerjanya, sebilah pecutan kuda berbahan kulit hitam legam berada di cengkeraman tangan kanannya. "Siapa yang mengizinkanmu melangkah mendekati ibumu?"
"Tuan Besar Fernando, saya mohon... ampuni Dallas... Ini semua salah saya yang tidak bisa mendidiknya dengan benar," tangis Danila pecah, tubuhnya gemetar hebat di atas lantai. Saat wanita itu mengangkat tangannya untuk memohon, Dallas melihat sebuah gari memar merah keunguan yang mengeluarkan darah segar di lengan ibunya. Bekas pecutan baru.
Darah Dallas mendidih seketika. Matanya berkilat penuh kilat murka yang amat sangat, namun ia mati-matian menahan tinjunya agar tidak melayang ke wajah ayah tirinya. "Apa yang Ibu lakukan hingga Anda harus menyentuhnya dengan benda itu, Tuan Fernando?!"
"Kau masih berani bertanya, Dallas?!" Javier menyela dari sofa, berdiri lalu berjalan mendekati kakak tirinya dengan senyuman mengejek. "Kau pikir tindakan pengecutmu merebut Bellamy di pelelangan kemarin tidak akan sampai ke telinga Papa? Kau menggunakan uang perusahaan untuk bermain gila dengan wanita yang jelas-jelas milikku!"
"Aku menggunakan dana pribadi dari keuntungan lini bisnisku sendiri, Javier. Tidak ada sepeser pun uang Enrique Group yang kusentuh," sahut Dallas, suaranya sangat rendah dan bergetar menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.
"Diam!" Plak! Fernando mencambuk meja kerja mahagoninya hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. "Berani-beraninya kau membantah adikmu! Kau di sini hanya karena belas kasihanku pada ibumu yang pelayan desa ini! Tanpa nama Enrique, kau bukan apa-apa!"
"Dallas... Ibu mohon, minta maaflah pada Tuan Besar... Minta maaf pada Tuan Muda Javier..." Danila merangkak, memegang ujung sepatu Dallas dengan tangan yang gemetar.
"Ibu, berdiri. Jangan merendahkan dirimu di depan mereka," Dallas mencoba membantu ibunya berdiri, namun Fernando sudah bergerak cepat dari balik meja.
Wusss—Plak!
Pecutan kulit itu melayang di udara, menghantam telak punggung Dallas hingga setelan jas hitamnya robek dan menyisakan garis panas yang membakar kulitnya. Dallas tidak mengerang, ia hanya memejamkan mata erat-araf, memasang tubuhnya sebagai perisai di depan Danila.
"Ini hukuman karena kau tidak tahu diri, Dallas!" bentak Fernando, napasnya memburu tua. "Kau sengaja mendekati Bellamy Guinevere untuk mempermalukan Javier di depan publik, bukan?! Kau ingin merebut aliansi Guinevere dari tangan adikmu?!"
"Bellamy yang mendatangi saya, Tuan Fernando. Dia yang memilih untuk memutuskan hubungan dengan anak manja Anda ini," jawab Dallas, menatap lurus ke dalam mata Fernando dengan pandangan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, meskipun punggungnya terasa seperti disayat pisau.
"Kau berbohong!" Javier berteriak murka, wajahnya memerah karena egonya terluka parah. "Bellamy mencintaiku! Dia hanya memanfaatkan pria kaku sepertimu untuk membuatku cemburu! Papa, pecut dia lagi! Dia tidak tahu sopan santun!"
Plak! Plak!
Dua sabetan beruntun kembali mendarat di bahu dan punggung Dallas. Danila menjerit histeris, mencoba memeluk kaki suaminya. "Tuan Besar, saya mohon hentikan! Jangan pukul anak saya lagi! Dallas, Ibu mohon bicaralah yang baik!"
Dallas tetap bergeming di posisinya, membiarkan tubuhnya menerima hantaman fisik yang sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak kecil di rumah terkutuk ini. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, matanya beralih menatap Javier dengan tatapan dingin yang amat mematikan.
"Kau boleh memukulku seratus kali lagi, Tuan Fernando," ucap Dallas, suaranya terdengar begitu tenang namun sanggup membuat bulu kuduk Javier meremang. "Tapi faktanya tidak akan berubah. Minggu depan di pesta gala, aku yang akan berdiri di samping Bellamy Guinevere sebagai pasangannya. Bukan Javier."
"Kau bajingan keras kepala!" Fernando mengangkat pecutannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan hantaman yang lebih keras ke arah wajah Dallas.
"Papa, tunggu," Javier tiba-tiba menahan tangan ayahnya. Sebuah ide licik mendadak muncul di kepala pria mabuk itu. Javier menatap Dallas dengan senyuman meremehkan. "Biarkan dia pergi ke pesta gala itu, Pa. Aku ingin melihat bagaimana wajah anak haram ini saat Bellamy mencampakkannya di depan ribuan pasang mata dan kembali berlutut memohon cintaku."
Fernando menurunkan tangannya perlahan, mendengus kasar lalu melemparkan pecutan kulit itu ke atas meja. "Keluar dari ruanganku sekarang juga, Dallas! Dan bawa wanita penyakitanmu ini pergi dari pandanganku!"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dallas langsung menggendong tubuh ibunya yang lemas berlumuran air mata. Ia membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari ruangan neraka itu dengan punggung yang basah oleh darah segar yang mulai merembes di kain jas hitamnya.
Di koridor luar yang sepi, setelah menyerahkan ibunya ke tangan Hans untuk diobati, Dallas bersandar pada dinding marmer yang dingin. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menatap layar yang menampilkan pesan terakhir dari Bellamy: 'Selamat malam, Calon Suamiku.'
Dallas mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengannya menonjol ekstrem. Sepasang matanya menggelap penuh dengan kabut obsesi dan dendam yang sudah mencapai puncaknya. "Javier... Fernando... kalian sudah salah memilih hari untuk menyentuh Ibuku. Di pesta gala nanti... aku bersumpah akan meruntuhkan seluruh kesombongan Enrique dari tangan kalian."
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣