Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 HATI YANG BERSABAR
Pintu kamar Bee tertutup perlahan. Begitu tubuhnya bersandar di balik pintu, senyum tipis yang sedari tadi ia pertahankan akhirnya menghilang.
Bee mengembuskan napas panjang, Matanya menatap kosong ke seluruh sudut kamar.
Kamar yang dulu selalu terasa hangat Tempat di mana Mamah Lana sering datang membawakan buah potong.
Tempat Papah Prans dulu mengucapkan selamat tidur.
Tempat Kak Darius sering menggodanya karena bangun kesiangan Namun sekarang... Semuanya tinggal kenangan.
Bee berjalan pelan menuju tempat tidur, lalu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Air mata kembali menetes tanpa bisa ditahan.
"Kenapa semuanya berubah...?" lirihnya.
Tak ada lagi kehangatan keluarga.
Tak ada lagi pelukan.
Tak ada lagi perhatian kecil yang dulu selalu ia dapatkan.
Yang tersisa hanyalah tatapan dingin, bentakan, dan tuduhan Bee mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Bee... Kamu pasti kuat, Kamu sudah bertahan sejauh ini, Sedikit lagi... kamu pasti bisa." Ia berusaha tersenyum menyemangati dirinya sendiri.
Tok... tok...
Belum sempat Bee merebahkan tubuhnya, pintu kamarnya kembali diketuk.
Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka.
Jelita masuk dengan langkah santai.
Bee hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap ke arah jendela. "Ada apa?" tanyanya datar.
Jelita menutup pintu, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Sebenarnya aku datang cuma mau memastikan sesuatu."
Bee tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus ke luar jendela.
Jelita tersenyum tipis. "Senang ya... tadi diantar pulang Kak Juna?"
Bee tetap diam.
"Sekarang seluruh keluarga sudah tahu kalau kamu semakin dekat sama Kak Juna."
Bee menarik napas pelan. "Lalu?"
Jelita terkekeh kecil. "Aku puas."
Kali ini Bee menoleh Tatapannya tenang. "Puas?"
"Iya. Satu per satu kehidupanmu mulai hancur." Jelita mendekat beberapa langkah. "Perhatian Mamah dan Papah sekarang buat aku, Kak Darius juga sudah berada di pihakku Dan sebentar lagi..." Jelita tersenyum penuh kemenangan. "Kak Juna juga akan menjadi milikku."
Bee hanya memandangnya tanpa ekspresi.
Jelita kembali melanjutkan ucapannya. "Ingat statusmu Kamu hanya anak angkat, Jangan pernah bermimpi menjadi bagian utama di keluarga ini."
Bee masih diam.
Jelita mengembuskan napas pelan. "Kalau kamu memang tahu diri... Pergilah dari rumah ini Supaya aku bisa hidup bahagia bersama keluargaku... dan bersama Kak Juna."
Keheningan memenuhi kamar.
Bee perlahan berdiri Ia menatap Jelita dengan wajah yang sulit ditebak.
Tak ada marah.
Tak ada sedih.
Tak ada tangisan.
Justru ketenangan itu membuat Jelita sedikit tidak nyaman.
Bee tersenyum tipis. "Sudah selesai?"
Jelita mengernyit. "Maksudmu?"
"Kalau sudah puas mengatakan semuanya..." Bee berjalan melewati Jelita, lalu membuka pintu kamarnya. "Silakan keluar."
Jelita menatap Bee tak percaya. "Kamu tidak marah?"
Bee menggeleng pelan. "Buat apa? Kata-katamu tidak akan mengubah siapa diriku."
Bee menatap Jelita dengan senyum tipis yang justru terasa menyesakkan. "Dan satu lagi... Aku tidak pernah berniat merebut siapa pun darimu." Bee menunjuk ke arah pintu. Kalau sudah puas... Sekarang pergilah."
Jelita mengepalkan tangannya. Entah mengapa, sikap tenang Bee justru membuatnya merasa kalah Dengan mendengus kesal, Jelita melangkah keluar.
Pintu kamar kembali sunyi setelah Jelita pergi. Bee masih berdiri di tempatnya sambil menatap pintu yang baru saja ditutup dengan keras.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang. "Aku tidak akan pergi..." Bee menoleh ke arah jendela. ".sampai saatnya tiba." Suaranya lirih, tetapi penuh keyakinan Ia memang lelah, Sangat lelah.
Namun ia tidak ingin pergi dengan cara menyerah.
Ia ingin menyelesaikan kuliahnya, magangnya, dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Ting...
Suara notifikasi ponsel memecah lamunannya.
Bee mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
Kak Juna
"Sudah makan malam?"
Bee tersenyum kecil Jari-jarinya mulai mengetik.
Bee: "Sudah, Kak."
Tak sampai semenit kemudian balasan datang lagi.
Kak Juna: "Jangan bohong. Aku tahu wajah orang yang sudah makan dan yang belum makan."
Bee terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar tersenyum.
Bee: "Hehe... nanti aku makan."
Kak Juna: "Kalau besok pagi tidak sempat sarapan, kabari aku."
"Dan satu lagi... Apa pun yang terjadi, jangan hadapi semuanya sendirian."
Bee menatap lama pesan itu. Dadanya yang sejak tadi terasa sesak perlahan menghangat.
Entah kenapa... Kalimat sederhana dari Kak Juna selalu berhasil membuatnya merasa tenang.
Bee membalas singkat.
Bee: "Terima kasih, Kak. Selamat malam."
Kak Juna: "Selamat malam, Bee. Mimpi yang indah."
Bee memeluk ponselnya sebentar.
"Terima kasih... Karena masih ada yang mengingatkanku untuk makan."
Keesokan paginya...
Seperti biasa, Bee turun dari tangga dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Begitu sampai di ruang makan, langkahnya terhenti.
Seluruh anggota keluarga ternyata sudah duduk di meja makan Mereka sedang menikmati sarapan bersama.
Bee memaksakan senyum. "Selamat pagi, Mah... Pah..."
Tak ada jawaban.
Tak ada senyum.
Tak ada tatapan.
Seolah sapaan Bee hanya angin yang berlalu.
Bee menelan ludah pelan Ia tetap berjalan menuju kursinya dan duduk seperti biasa, Tangannya baru saja hendak mengambil semangkuk sup hangat. Namun...
Bruk.
Sebuah tangan lebih dulu menahan mangkuk itu.
Bee menoleh.
Jelita tersenyum manis. "Maaf ya, Bee."
Bee menatapnya tenang.
"Ini punyaku." Jelita menggeser mangkuk itu ke hadapannya. "Mamah sengaja membuatkannya khusus buat aku."
Bee mengangguk pelan. "Oh... begitu."
"Kamu makan yang lain aja, ya."
Bee tidak membalas Ia mengalihkan pandangannya ke seluruh meja makan, Yang tersisa hanyalah beberapa lembar roti tawar.
Dan sepiring nasi goreng seafood Bee mengulas senyum tipis, Ia tahu... Ia tidak mungkin menyentuh nasi goreng itu.
Tanpa berkata apa-apa, Bee mengambil dua lembar roti tawar.
Tanpa selai.
Tanpa susu.
Hanya roti tawar dan segelas air putih.
Bee memakannya perlahan. Tak seorang pun memperhatikannya.
Papah Prans sibuk berbincang dengan Jelita.
Mamah Lana sesekali menambahkan lauk ke piring Jelita.
Kak Darius bahkan tidak sekalipun melirik Bee.
Bee hanya diam, Mengunyah roti yang terasa begitu hambar. Namun... Ia tetap memaksakan senyum kecil.
Tak lama kemudian, Bee berdiri sambil membawa gelasnya ke wastafel. "Aku sudah selesai."
Bee menatap keluarganya satu per satu. "Terima kasih... makanannya."
Tak ada jawaban.
Bee tersenyum tipis, lalu berbalik meninggalkan ruang makan. Tak seorang pun menyadari...
Roti tawar itu terasa jauh lebih mudah ditelan dibandingkan rasa kecewa yang kembali memenuhi hati Bee.