Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 LUKA YANG TAK PERNAH DI DENGAR
Mobil Kak Juna berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman keluarga Luwis.
Meski senja telah berganti malam, lampu-lampu rumah masih menyala terang.
Bee menarik napas panjang. "Terima kasih sudah nganterin aku, Kak."
Kak Juna menoleh. Tatapannya penuh kekhawatiran.
"Yakin mau masuk?"
Bee mengangguk pelan sambil tersenyum kecil. "Bagaimanapun juga... itu rumahku."
Kalimat itu terdengar begitu lirih.
Kak Juna mengusap pelan puncak kepala Bee.
"Kalau terjadi apa-apa, telepon aku."
"Iya."
Bee turun dari mobil. Sebelum menutup pintu, ia kembali menoleh.
"Terima kasih... sudah selalu ada."
Kak Juna membalas dengan senyum hangat. "Aku akan selalu ada."
Bee mengangguk, lalu berjalan memasuki rumah.
Mobil Kak Juna baru pergi setelah memastikan Bee benar-benar masuk ke dalam.
Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu...
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bee. Tubuh Bee sampai terhuyung ke samping, Tangannya refleks memegang pipi yang kembali terasa panas Ia mendongak perlahan.
Di depannya berdiri Papah Prans dengan wajah penuh amarah.
Mamah Lana, Kak Darius, dan Jelita juga berada di sana.
"Papah..."
"Jangan panggil papah!" bentak Prans.
Bee terdiam.
"Apa kamu tahu jam berapa sekarang?"
Bee menelan ludah. "Maaf... Bee—"
"Semalaman kamu tidak pulang!" suara Prans menggema memenuhi ruangan.
"Papah..."
"Lebih parahnya lagi..." Prans menunjuk ke arah pintu. kamu diantar pulang laki-laki!"
Bee mengepalkan jemarinya. "Itu Kak Juna hanya mengantar Bee...."
"Diam!"
Bentakan itu membuat Bee kembali terdiam. "Apa kamu sengaja mempermalukan keluarga ini?"
Bee menggeleng cepat. "Tidak, Pah."
"Kamu pikir orang-orang tidak akan bergosip?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Bee. "Aku benar-benar tidak berniat seperti itu...."
"Tidak berniat?" Prans tertawa sinis. "Kalau tidak berniat, kenapa kamu menginap di luar rumah bersama laki-laki?"
Bee menggigit bibirnya Ia ingin menjelaskan, Ingin mengatakan kalau saat itu dirinya sedang hancur.
Kalau Kak Juna hanya menolongnya. Tapi... Tidak ada satu pun yang mau mendengar.
Jelita melangkah mendekat Matanya berkaca-kaca. "Bee..."
Bee menatapnya datar.
"Aku mohon...." Jelita menggenggam kedua tangannya sendiri. "Tolong jauhi Kak Juna."
Bee terdiam. "Kenapa?" Suara Bee begitu pelan.
Jelita menundukkan kepala. "Karena... Kak Juna calon tunanganku."
Bee tersenyum tipis Senyum yang terasa begitu pahit.
"Aku gak pernah punya hubungan apa pun sama Kak Juna."
"Aku tahu."
"Terus?"
Jelita menggigit bibirnya. "Tapi... aku takut Kak Juna salah paham."
Bee tertawa lirih. "Salah paham?"
"Iya.... Aku cuma ditolong." Pinta jelita "Bee.... Tolong jangan jadikan aku musuhmu." Ucapan Bee membuat Jelita sejenak terdiam.
"Kamu dengar itu?" Suara Kak Darius memecah keheningan Ia berdiri sambil menatap Bee tajam. "Jangan pernah mengambil apa yang menjadi milik Jelita."
Bee menoleh perlahan. Tatapan kakak yang dulu selalu melindunginya.. Kini terasa begitu asing. "Kak...."
"Aku sudah pernah memperingatkanmu."
Bee menundukkan kepala.
"Kak Juna bukan untukmu."
Bee mengangguk pelan. "Iya."
"Kamu hanya anak angkat."
Bee kembali mengangguk. "Aku tahu."
"Jadi jangan pernah bermimpi terlalu tinggi."
Bee tersenyum tipis Senyum yang menyimpan ribuan luka. "Baik, Kak."
Tak ada satu pun yang bertanya... Kenapa Bee semalaman tidak pulang. Tak ada yang bertanya... Apa Bee sudah makan.
Tak ada yang bertanya... Apa Bee baik-baik saja.
Yang mereka pedulikan...
Hanyalah Kak Juna. Bee mengangkat wajahnya menatap satu per satu anggota keluarga yang selama ini sangat ia cintai. Lalu... Senyum kecil kembali terlukis di bibirnya Senyum yang dipaksakan.
"Jadi... mereka marah bukan karena aku tidak pulang Mereka marah... Karena aku dekat dengan Kak Juna." Hati Bee kembali terasa sesak.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia membungkukkan badan. "Maaf sudah membuat semuanya marah."
Bee berbalik Melangkah menuju kamarnya dengan langkah pelan.
Tak seorang pun menghentikannya.
Tak seorang pun memanggil namanya. Sementara di ruang tamu...
Jelita menundukkan wajah agar senyum puasnya tidak terlihat oleh siapa pun.
Sedangkan di luar rumah...
Mobil Kak Juna ternyata belum benar-benar pergi. Dari kejauhan, ia melihat Bee berjalan ke kamarnya sambil terus menundukkan kepala.
Rahang Kak Juna mengeras Tangannya mengepal di atas kemudi. "Apa sebenarnya yang mereka lakukan pada Bee...?"