Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: DEKAPAN DI KAMAR UTAMA
Keheningan yang teramat pekat langsung menyelimuti setiap sudut kamar utama di lantai paling atas kedaiaman Mahardika setelah kepergian Mikael dan tim fisioterapi. Aroma terapi lavender yang menenangkan berpadu sempurna dengan kehangatan pendingin ruangan, mengusir sisa-sisa atmosfer medis yang sempat dibawa oleh para perawat tadi. Dari balik jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga ke langit-langit kamar, pemandangan kota di bawah bukit tampak terhampar luas dilingkupi cahaya siang yang cerah, namun keindahan dunia luar itu sama sekali tidak mampu mengalihkan perhatian sang pemilik tunggal takdir di dalam ruangan ini.
Dafa Mahardika masih duduk diam di tepi ranjang berukuran king size yang empuk. Sepasang mata elangnya yang tajam dan kelam menatap lurus ke arah kaki kanan Nazya yang masih bertengger di atas bantal penyangga sutra abu-abu tua. Meskipun tim medis baru saja menjamin bahwa kaki sang janda muda akan sembuh total dalam beberapa minggu melalui terapi intensif, guratan protektif yang teramat dalam masih tercetak jelas di kening tegas sang CEO dominan. Sifat posesif Dafa seolah menuntut kesembuhan instan, tidak rela melihat wanitanya harus menahan rasa tidak nyaman seujung jari pun.
Nazya Humaira menggeser tubuh rampingnya sedikit, mencoba mengurangi jarak di antara mereka. Gerakan kecil itu seketika memicu kedekatan fisik yang teramat intens. Wajah cantiknya yang kini telah kembali merona segar menatap Dafa dengan binar mata kepatuhan yang luar biasa manis. Merasakan perhatian yang begitu melimpah dan tak terbatas dari suaminya, rasa syukur dan cinta yang mendalam mengalir deras di dalam lubuk sanubari Nazya, melenyapkan seluruh sisa trauma masa lalu tentang teror racun yang sempat menimpa ayahnya.
"Mas Dafa..." panggil Nazya dengan suara yang teramat lembut, lirih, dan dipenuhi oleh nada manja yang hanya ia tunjukkan saat mereka sedang berdua saja di dalam kamar privasi ini. "Kenapa wajahmu masih sekaku itu? Dokter tadi kan sudah bilang kalau kakiku baik-baik saja dan pasti akan sembuh total. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Mas."
Dafa tidak langsung menjawab kata-kata wanitanya. Pria tegap dengan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menangkup rahang lembut Nazya dengan satu gerakan yang konstan dan kuat namun penuh kehati-hatian. Dafa menarik wajah cantik Nazya hingga jarak di antara hidung mereka terkikis habis, menyalurkan embusan napas baritonnya yang panas langsung ke atas permukaan bibir ranum sang istri yang sedikit terbuka pasrah.
"Aku tidak suka melihatmu meringis menahan sakit meskipun hanya sedetik, Nazya," desis Dafa dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan penuh dengan intimidasi sensual yang berkelas. "Mulai besok, aku sendiri yang akan mengawasi setiap sesi terapimu. Jika aku mendapati kamu melanggar jadwal atau mencoba berjalan tanpa perawat, aku tidak akan segan-segan mengurungmu di atas ranjang ini selama sebulan penuh di bawah tubuhku. Kamu dengar itu, sayang?"
Ancaman yang dipenuhi oleh luapan gairah dominan dan rasa kepemilikan mutlak dari Dafa seketika membuat jantung Nazya berdetak gila menembus rusuknya. Wajah cantiknya merona merah padam hingga ke dahi, tetapi anehnya, jerat gairah batin di dalam dirinya justru merasa teramat aman dan terlindungi di bawah jeratan posesif suaminya. Nazya melingkarkan kedua tangan kurusnya di sekeliling leher kokoh Dafa, meremas halus kerah kemeja hitam satin premium yang melekat di dada bidang suaminya.
"Iya, Mas... aku berjanji akan menurut dan patuh pada semua ucapanmu. Aku tidak akan berjalan sendiri sampai kakiku sembuh seutuhnya," bisik Nazya pasrah, menyerahkan seluruh silsilah hidup dan raganya ke dalam kendali sang CEO Mahardika.
Mendengar kepatuhan yang begitu manis dari bibir ranum istrinya, pendaran kegelapan di sepasang mata elang Dafa perlahan melunak, digantikan oleh letupan romansa dewasa tingkat tinggi yang teramat pekat. Dafa menyunggingkan senyum predatornya yang teramat menawan sebelum akhirnya merendahkan wajahnya, membungkam bibir ranum Nazya ke dalam sebuah ciuman penyatuan yang dalam, lembut, namun dipenuhi oleh lumatan posesif yang mengisap habis seluruh sisa udara wanitanya. Ciuman hangat itu berlangsung lama, menyalurkan seluruh hasrat romantis mereka yang sempat tertunda oleh ketegangan badai di rumah sakit kemarin.
Setelah melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan, Dafa tidak membiarkan Nazya menjauh. Ia menarik tubuh ramping istrinya ke atas pangkuan dadanya yang bidang dan kekar, mendekapnya erat seolah Nazya adalah permata paling berharga yang tidak boleh disentuh oleh dunia luar. Nazya menyandarkan kepalanya di dada tegap Dafa, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup dengan ritme yang megah dan menenangkan.
Sembari menikmati momen kedamaian yang teramat mewah di dalam kamar utama, Nazya teringat akan sang ayah yang saat ini sedang beristirahat di paviliun barat. "Mas Dafa... terima kasih ya, sudah menyiapkan paviliun yang begitu luar biasa untuk Ayah Handoko. Tempat itu sangat nyaman, dan Ayah kelihatan sangat bahagia saat tim medis mengantarnya tadi."
Dafa mengusap punggung ramping Nazya dengan telapak tangannya yang besar, menyalurkan kehangatan yang menjalar di sekujur nadi sang istri. "Pak Handoko adalah ayahmu, Nazya, yang berarti beliau adalah ayahku juga. Menjamin kesehatan dan keselamatan beliau dari segala bentuk bahaya racun atau ancaman musuh bisnis adalah kewajiban mutlak bagiku. Mulai sekarang, fokusmu hanyalah memulihkan kakimu dan memberikan seluruh bakti serta cintamu padaku. Urusan keselamatan keluarga kita, biarkan aku yang menyelesaikannya di balik layar."
Nazya menganggukkan kepala cantiknya secara perlahan, merasa beruntung karena takdir telah memilih dirinya, seorang janda muda biasa, untuk dicintai dengan begitu hebat oleh seorang pria perkasa seperti Dafa Mahardika. Kehidupan mereka yang penuh badai perlahan mulai menemukan dermaga ketenangan yang sesungguhnya di dalam dinding rumah megah ini.
"Nanti malam... kita akan turun makan malam bersama Ayah Handoko, kan Mas?" tanya Nazya mendongak, menatap dagu kokoh Dafa dengan binar mata penuh harap. "Aku ingin menemaninya di meja makan utama untuk merayakan kepulangannya dari rumah sakit."
Dafa mengecup kening Nazya dengan kecupan yang lama dan penuh penekanan kepemilikan sebelum menjawab. "Tentu saja, sayang. Aku sudah memerintahkan kepala koki untuk memasak menu makanan sehat khusus pasca-pemulihan untuk Pak Handoko, dan menu terbaik untuk kita berdua. Tapi sebelum waktu makan malam tiba..." Dafa merendahkan suaranya, memancarkan pendaran sensual yang pekat saat jemarinya mulai merayap lembut di pinggang ramping Nazya. "...aku ingin menghabiskan sisa siang ini dengan mendekapmu di kamar ini tanpa ada gangguan dari siapa pun."
Nazya hanya bisa tersenyum pasrah dengan wajah yang semakin merona merah, membiarkan dirinya tenggelam seutuhnya di dalam dekapan hangat dan pelukan posesif Dafa Mahardika. Keindahan romansa fiksi dewasa yang berkelas dan damai mengunci kebersamaan mereka di sore hari itu, menjanjikan ketenangan tak terbatas di balik dinding kamar mewah yang sunyi dan penuh kehangatan, murni sebagai bab istirahat total yang memuaskan dahaga kebahagiaan mereka.