DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**BAB 13: BAYARAN UNTUK SEBUAH NYAWA**
Reza duduk di kamarnya yang dipenuhi pajangan trofi golf yang tidak pernah benar-benar dia mainkan, laptop menyala di pangkuan, jarinya mengetik cepat di kolom pencarian, mencari sesuatu yang lebih dari sekadar balas dendam kecil-kecilan.
"Gue butuh orang yang bener-bener bisa beresin David," gumamnya, matanya menyusuri forum-forum gelap dunia persilatan bawah tanah, "siapa jagoan paling kuat sekarang."
Nama pertama yang muncul berulang kali adalah Dadang Hermawan, jawara dari Lembang yang reputasinya menjulang tinggi di kalangan pencari bayaran semacam ini. Tapi begitu Reza mencari lebih jauh, dia menemukan kabar bahwa Dadang sudah meninggal beberapa minggu lalu, tertabrak kereta.
"Sial, yang paling kuat malah udah mati."
Dia menggali lebih dalam, dan nama kedua yang muncul adalah Maman Suherman, alias Rambo, ketua kelompok bernama Black Dragon, yang memang pernah kalah dari Dadang dalam tarung antar padepokan, tapi setelah kematian sang jawara muda itu, posisinya otomatis melonjak jadi yang paling ditakuti di seantero Jawa Barat.
Reza menghubungi nomor kontak yang tertera, suaranya berusaha terdengar berwibawa walaupun jantungnya berdebar tidak karuan, "Saya butuh jasa, untuk, eh, mengamankan seseorang. Bayarannya empat puluh juta."
Suara di seberang telepon terdengar berat, datar, penuh pengalaman, "DP dulu dua puluh juta, baru kita gerak."
Reza, tanpa pikir panjang, langsung mentransfer uang itu dari rekening pribadinya, jari-jarinya bergetar sedikit antara gugup dan puas, seolah dia sudah memegang kemenangan di tangan.
***
Malam itu, di kamar mewahnya, David sedang berbaring santai sambil main ponsel, ketika panggilan video dari Anto masuk.
"Vid, gawat. Gue nyadap jaringan komunikasi Reza, dan gue nemu, dia barusan transfer dua puluh juta ke seseorang buat nyulik lo."
David hanya menguap, melanjutkan scroll di ponselnya, "Gausah khawatir, Tot. Masalah kayak gini mah hobi gue. Kalo gue gak gelud satu hari aja, berasa gak cowok, malah berasa jadi bencong, Tot."
"VID! Ini serius, anjir! Lo dengerin gue gak?!"
"Iya iya, gue dengerin, tapi serius, santai aja. Gue udah biasa."
David mematikan panggilan begitu saja, kembali asyik dengan ponselnya, sementara di seberang, Anto melempar handphone-nya sendiri ke kasur, frustasi setengah mati.
"ANJIR INI ANAK! Gue khawatir setengah mati, dia malah cuek kayak gak ada apa-apa! Dan lagi, kenapa dia manggil gue Tot terus sih, nama gue Anto, A-N-T-O, bukan Tot doang, anjir, gak terima gue!"
***
Pagi berikutnya, David untuk pertama kalinya melangkah masuk ke gedung pusat perusahaan keluarga Wijayakusuma, gedung tinggi berkaca yang puncaknya hampir menyentuh awan, dengan logo besar berkilau di lobi utama.
Reza, yang kini menyandang posisi Deputy CEO, menyambutnya di lantai eksekutif dengan senyum ramah yang terlalu sempurna, "Selamat pagi, David. Siap belajar hari ini?"
David tahu, senyum itu palsu, sepalsu senyum penjual obat di pasar yang menjamin obatnya bisa menyembuhkan segala penyakit. Tapi dia membalas dengan tenang, "Siap, Kak."
Hari itu, dengan bimbingan dari Junaedi yang sesekali ikut mengawasi, David mulai diperkenalkan pada struktur perusahaan, mulai dari rapat dengan klien besar, lalu rapat koordinasi bersama jajaran direksi: Reza sebagai Deputy CEO, lalu di bawahnya COO atau Managing Director, Direktur dari berbagai divisi, General Manager, hingga level Manager.
Berkat sehari penuh belajar bersama Anto dan Camelia kemarin, David mampu mengikuti pembicaraan dengan baik, bahkan beberapa kali memberikan tanggapan yang membuat para direktur senior mengangguk-angguk kagum.
"Pemikiran yang menarik, David," salah satu direktur berkata, "biasanya butuh waktu bertahun-tahun buat ngerti pola pikir bisnis seperti ini."
Junaedi, yang duduk di ujung meja rapat, menatap anaknya dengan ekspresi campur aduk, antara bangga yang tidak pernah dia tunjukkan secara terbuka, dan kebingungan yang terus mengganggu pikirannya sejak insiden koma itu.
Reza, di sisi lain meja, tersenyum sopan setiap kali David berbicara, tapi di dalam hatinya, api kemarahan semakin membesar setiap detik.
***
Sore harinya, setelah David pulang dan suasana kantor kembali sepi, Reza berdiri sendirian di ruangannya, tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa dia bisa secerdas ini? Ini gak bisa dibiarkan. Harusnya gue yang jadi pemimpin perusahaan ini, bukan dia!"
Dia mengangkat ponselnya, menelepon kembali nomor yang sama dengan semalam, suaranya kali ini lebih tegas, lebih mendesak.
"Eksekusi sekarang. Saya transfer lima puluh juta lagi. Kalau berhasil, totalnya jadi seratus juta."
Suara berat di seberang telepon menjawab pendek, "Beres."
***
Malam itu, David berjalan sendirian menuju area parkir yang sepi, lampu-lampu jalan berkedip lemah, suasana yang berbeda jauh dari hiruk-pikuk gedung perusahaan tadi siang. Langkahnya santai, tangannya di dalam saku, bersiul kecil sambil memikirkan menu makan malam apa yang ingin dia minta nanti dari dapur rumah.
Tapi begitu dia berbelok ke jalan kecil di samping gedung parkir, sepuluh sosok berdiri menghadang, mengelilingi dengan postur siap menyerang.
David berhenti melangkah, matanya menyusuri satu per satu wajah-wajah itu, dan di tengah kerumunan, dia mengenali jaket dengan lambang naga hitam di punggung, lambang yang sangat familiar.
Black Dragon.
Dan di tengah mereka, berdiri sosok besar dengan bahu lebar, urat lengan yang menonjol seperti akar pohon tua, wajah yang penuh bekas luka dari pertarungan-pertarungan sebelumnya.
Rambo.
David, alih-alih takut, justru tertawa kecil, lalu makin keras, sampai bahunya terangkat naik turun.
"Wkwkwkwkwk... Rambo... Rambo... ini bisa jadi kejutan yang seru nih, lo bakal lawan siapa."
Dia menyeka sudut matanya yang berair karena tawa, menatap Rambo dengan pandangan penuh ejekan yang menyenangkan.
"Lo gak akan pernah nyangka siapa gue sebenarnya. Lo gak akan pernah tau kalau gue ini Dadang yang ganteng, wkwkwkwkwk, lo pasti kira gue cuma David si culun."
Rambo mengangkat alis, bingung dengan tawa yang tidak pada tempatnya itu, lalu mengeluarkan suara berat penuh ancaman, "Ngomong apa lo, bocah. Mau ketawa-ketawa sebelum mati juga gak masalah buat gue."
Sepuluh anggota Black Dragon mulai bergerak mengepung lebih rapat, kepalan tangan mereka mengeras, dan di tengah lingkaran itu, David berdiri tenang, menatap Rambo dengan senyum yang sulit diartikan, antara nostalgia, antara rasa geli, dan antara kesiapan penuh untuk membuktikan sesuatu yang Rambo sendiri belum tahu akan menghantamnya malam itu.
*(bersambung, pertarungan jalanan akan diceritakan di bab berikutnya)*