NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pada akhirnya menerima tawaran

Hari mulai beranjak senja. Langit yang perlahan berubah jingga seakan menjadi saksi langkah lemah Felisyah yang akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang tinggi menjulang.

Dada gadis itu naik turun dengan napas yang tersengal. Keringat membasahi wajahnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari rumah sakit. Kakinya terasa nyaris tak mampu menopang tubuhnya lagi, tetapi bayangan wajah sang ayah yang sedang terbaring tak berdaya membuatnya terus bertahan.

Dengan mata yang berkaca-kaca, Felisyah menatap rumah mewah di hadapannya. Satu-satunya harapan yang tersisa kini berada di balik gerbang itu.

"Semoga ibu masih memiliki sedikit belas kasih..." bisiknya lirih.

Mengumpulkan sisa tenaga, Felisyah berjalan mendekat lalu menekan bel di samping gerbang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hingga akhirnya gerbang besar itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang satpam yang berdiri dengan tatapan heran.

"Maaf, Neng mencari siapa?" tanyanya sopan.

Felisyah segera mendekat. Matanya menoleh ke kanan dan kiri, berharap melihat sosok yang ingin ia temui.

"Saya Felisyah, Pak. Saya datang untuk menemui Bu Wirdah."

Satpam itu tampak berpikir sejenak.

"Ada keperluan apa ya, Neng?"

"Ada hal yang sangat penting, Pak. Tolong izinkan saya bertemu dengan ibu. Saya benar-benar membutuhkannya," ucap Felisyah dengan suara bergetar.

"Baik, Neng. Tunggu sebentar. Saya tidak bisa membiarkan Neng masuk tanpa izin dari Bu Wirdah."

Felisyah mengangguk cepat.

"Baik, Pak. Saya akan menunggu."

Gerbang kembali tertutup.

Felisyah berdiri sendiri di luar, menatap jalanan yang ramai. Namun di tengah keramaian itu, ia merasa begitu sendirian. Kedua tangannya saling menggenggam erat, mencoba menahan rasa takut yang terus menggerogoti hati.

"Ya Allah... tolong lembutkan hati ibu. Hanya kali ini saja, selamatkan ayah..." gumamnya sambil menahan tangis.

Tak lama kemudian, gerbang kembali terbuka.

"Neng, silakan masuk," ujar satpam itu dengan senyum ramah.

"Terima kasih, Pak."

Felisyah melangkah masuk dengan penuh harapan. Matanya menyapu halaman rumah yang begitu luas dan indah. Taman yang terawat, bunga-bunga yang bermekaran, serta bangunan megah di hadapannya membuat hatinya sesak.

Begitu banyak kemewahan di tempat ini, tetapi apakah ada sedikit kasih sayang untuk dirinya dan ayahnya?

Belum sempat pikirannya selesai, sebuah suara dingin terdengar dari belakang.

"Ada apa? Kenapa kamu mencari saya?"

Tubuh Felisyah menegang.

Perlahan ia berbalik.

"Bu... Ibu?"

Di hadapannya berdiri seorang wanita yang sangat ia kenal.

Bu Wirdah.

Wanita yang telah melahirkannya.

Di usia yang sudah menginjak empat puluh tahun, penampilannya masih begitu anggun dan terawat. Namun kecantikannya tak mampu menyembunyikan tatapan dingin yang tidak menunjukkan sedikit pun kehangatan seorang ibu.

"Jangan buang waktu saya. Cepat katakan apa tujuanmu datang ke sini," ucap Bu Wirdah tanpa ekspresi.

Hati Felisyah terasa semakin berat. Namun ia tidak punya pilihan.

"Bu... Felisyah datang untuk meminta pertolongan."

"Apa?"

"Felisyah ingin meminjam uang seratus juta rupiah untuk biaya operasi ayah."

Suasana mendadak hening.

Jantung Felisyah berdebar semakin cepat menunggu jawaban yang keluar dari bibir wanita itu.

"Seratus juta?" Bu Wirdah tertawa kecil penuh ejekan. "Memangnya kamu sanggup mengembalikan uang sebanyak itu?"

"Felisyah janji akan menggantinya, Bu. Felisyah akan bekerja sekeras apa pun. Tolong, Bu... Ayah sedang bertaruh nyawa. Felisyah tidak punya siapa-siapa lagi."

Namun wajah Bu Wirdah tidak menunjukkan rasa iba.

Bahkan senyum sinis mulai terukir di bibirnya.

"Biarkan saja dia mati."

Kalimat itu menghantam hati Felisyah seperti ribuan pisau.

Matanya melebar tak percaya.

"Bu...?"

"Untuk apa orang seperti dia diselamatkan? Hidupnya tidak ada gunanya."

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung.

"Bu, Felisyah tahu ibu membenci ayah. Tapi demi apa pun, aku mohon. Jangan hukum ayah seperti ini. Setidaknya bantu dia sekali saja."

"Sudah kubilang tidak! Saya tidak akan memberikan uang sepeser pun."

Bu Wirdah menatapnya dengan jijik.

"Dan sekarang keluar dari rumah saya. Jangan datang ke sini hanya untuk meminta-minta. Urus sendiri lelaki tua itu. Kalau memang dia mati, itu bukan urusan saya."

"Bu... tolong. Felisyah mohon..."

Dengan tubuh yang gemetar, Felisyah berlutut dan memegang kaki ibunya.

Harga dirinya hancur saat itu juga.

Ia tidak peduli.

Selama ayahnya bisa diselamatkan, ia rela mengemis bahkan di hadapan ibu kandungnya sendiri.

Namun Bu Wirdah justru menarik kakinya dengan kasar.

"SATPAM!"

Teriakan itu menggema di halaman rumah.

Satpam segera datang dengan wajah serba salah.

"Usir dia dari sini sekarang juga."

"Maaf, Neng..." ucap satpam itu lirih.

Dengan berat hati, ia menggiring Felisyah menuju gerbang.

"Bu... Bu, Felisyah mohon. Tolong selamatkan ayah. Hanya kali ini saja, Bu! Felisyah berjanji akan mengembalikan semuanya!"

Tangis dan teriakannya menggema, tetapi tidak mampu meluluhkan hati wanita yang melahirkannya.

Bu Wirdah bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Brak!

Gerbang besar itu tertutup dengan keras tepat di hadapan wajah Felisyah.

Bersamaan dengan tertutupnya gerbang itu, runtuh pula harapan terakhir yang ia miliki.

Kakinya melemas hingga tubuhnya jatuh terduduk di depan gerbang.

Air matanya mengalir tanpa henti.

Betapa sia-sianya perjuangannya berjalan jauh dengan membawa secercah harapan.

Ternyata bagi ibunya, ia dan ayahnya sudah tidak berarti apa-apa.

"Ayah..." suara Felisyah bergetar di sela isak tangisnya.

"Maafkan Felisyah. Felisyah sudah mencoba sekuat tenaga... tapi Felisyah gagal menyelamatkan Ayah."

Tangisnya pecah semakin keras di bawah langit senja yang mulai gelap.

Sementara di balik gerbang mewah itu, tidak ada satu pun hati yang tergerak mendengar tangisan seorang anak yang sedang berjuang menyelamatkan ayahnya.

Dengan hati yang telah hancur berkeping-keping, Felisyah kembali melangkah meninggalkan rumah mewah itu. Kini, harapan terakhir yang selama ini ia genggam telah terkubur bersama dinginnya penolakan sang ibu.

Tidak ada lagi langkah terburu-buru seperti sebelumnya.

Tidak ada lagi semangat yang membawanya berlari demi menyelamatkan ayahnya.

Kini langkahnya terasa berat, pelan, namun tetap berjalan. Karena meskipun hatinya ingin menyerah, waktu tidak akan menunggu. Ayahnya masih berjuang melawan rasa sakit di rumah sakit.

Felisyah berjalan menyusuri trotoar jalan yang mulai sepi. Lampu-lampu kota telah menyala, menggantikan cahaya matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala.

Malam mulai datang.

Bersamaan dengan kesedihan yang semakin memenuhi relung hatinya.

Tetes demi tetes air hujan mulai turun dari langit. Awalnya hanya gerimis kecil, hingga akhirnya berubah menjadi hujan yang semakin deras.

Seolah langit pun ikut menangis menyaksikan penderitaan yang harus dipikul oleh seorang gadis yang masih begitu muda.

Namun bagi Felisyah, hujan bukanlah penghalang.

Ia tetap berjalan tanpa memedulikan tubuhnya yang semakin basah dan menggigil kedinginan.

Di bawah derasnya hujan, air matanya akhirnya tumpah tanpa ada lagi yang perlu ia sembunyikan.

Tidak ada seorang pun yang mengenalnya.

Tidak ada yang melihat betapa hancurnya ia saat ini.

"Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" lirihnya dengan suara yang hampir tenggelam oleh suara hujan.

"Kenapa ujiannya begitu berat, Ya Allah? Aku tidak sekuat itu... ini terlalu menyakitkan. Aku sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa untuk berbagi rasa sakit ini."

Suaranya bergetar.

Untuk pertama kalinya, Felisyah merasa benar-benar sendirian di dunia ini.

Rumah yang dulu menjadi tempatnya pulang kini tidak lagi aman. Ibu kandungnya sendiri telah menutup pintu dan hatinya untuk mereka.

Sedangkan satu-satunya orang yang ia miliki sedang terbaring lemah di rumah sakit, menunggu keajaiban yang belum tentu datang.

Entah berapa lama ia berjalan di bawah hujan, hingga tanpa sadar gedung rumah sakit kembali terlihat di hadapannya.

Langkahnya terhenti.

Ia menatap bangunan itu dengan mata yang sembab.

Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat sosok ayahnya yang sedang menunggu dirinya membawa harapan.

Namun ia datang dengan tangan kosong.

Tidak ada uang.

Tidak ada bantuan.

Tidak ada keajaiban.

Felisyah menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa kekuatannya.

Perlahan ia masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan menyusuri lorong menuju ruang tempat ayahnya dirawat.

Ketika pintu kamar terbuka, beberapa tatapan langsung tertuju padanya.

Pakaian yang basah kuyup, rambut yang menempel di wajah, serta wajah pucat penuh air mata membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.

Namun Felisyah tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Ia hanya berdiri di depan tempat tidur ayahnya.

Memandang wajah lelaki yang selama ini menjadi pelindungnya.

Wajah yang kini terlihat semakin pucat dan lemah.

Hatinya kembali terasa seperti diremas.

Ia teringat setiap kata kejam yang keluar dari mulut ibunya.

"Biarkan saja dia mati."

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti sebuah luka yang tidak berhenti berdarah.

"Maafkan Felisyah, Yah..." bisiknya lirih.

"Untuk saat ini Felisyah belum bisa membawa apa pun untuk Ayah. Tapi Felisyah berjanji... Felisyah akan melakukan apa saja agar Ayah bisa sembuh."

Setelah mengucapkan itu, Felisyah keluar dari ruangan.

Ia kembali duduk di kursi lorong rumah sakit.

Tubuhnya meringkuk karena dingin, dengan pakaian yang masih basah.

Tidak ada tempat untuknya pulang.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung kini hanya menyisakan rasa takut dan luka.

Di tengah keputusasaan itu, matanya tiba-tiba menangkap sebuah tong sampah yang berada tak jauh darinya.

Seketika ingatannya kembali pada kartu kecil yang diberikan pria asing siang tadi.

Kartu yang sempat ia buang karena merasa tawaran itu adalah penghinaan.

Perlahan Felisyah bangkit.

Langkahnya ragu.

Namun pikirannya dipenuhi wajah sang ayah yang sedang menunggu pertolongan.

Tangannya gemetar saat merogoh tumpukan sampah.

Beberapa orang yang lewat memandang heran, tetapi Felisyah tidak lagi peduli.

Harga dirinya telah kalah oleh rasa takut kehilangan satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.

Beberapa saat kemudian, matanya menemukan kartu kecil yang sudah kotor dan basah.

Ia menggenggamnya erat.

"Apakah ini jalan yang Kau tunjukkan untukku, Ya Allah?" bisiknya dengan suara bergetar.

"Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Ayah, maka apa pun risikonya akan Felisyah hadapi."

Dengan tekad yang telah bulat, Felisyah berjalan menuju meja administrasi.

"Sus, boleh saya meminjam telepon sebentar?" tanyanya dengan sopan.

Perawat itu menatap kondisi Felisyah dengan iba, lalu mengangguk.

"Tentu, Mbak. Silakan."

"Terima kasih."

Tangan Felisyah kembali bergetar ketika menekan nomor yang tertera di kartu tersebut.

Jantungnya berdetak sangat cepat.

Rasa takut, malu, dan ragu bercampur menjadi satu.

Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.

Sampai akhirnya panggilan itu tersambung.

"Halo?" suara seorang pria terdengar dari seberang sana.

Felisyah menelan ludah.

"Apakah... apakah saya sedang berbicara dengan Tuan Garendra?" tanyanya dengan ragu.

"Benar. Saya sendiri."

Suara itu terdengar tenang, seolah sudah mengetahui alasan panggilan tersebut.

"Jadi... apakah kamu sudah berubah pikiran?"

Pertanyaan itu membuat tangan Felisyah semakin gemetar.

Ia teringat bagaimana siang tadi ia menolak dan mengusir pria itu tanpa memberi kesempatan untuk berbicara.

Harga dirinya terasa runtuh saat harus menghubungi orang yang sama.

Namun bayangan wajah ayahnya kembali muncul di benaknya.

Ia menutup mata sejenak.

Setetes air mata jatuh di pipinya.

"Iya..." jawabnya lirih.

"Aku menerima tawaranmu."

Keheningan menyelimuti beberapa detik.

Malam itu, Felisyah sadar bahwa keputusan yang baru saja ia ambil mungkin akan mengubah seluruh jalan hidupnya.

Entah akan membawanya pada keselamatan...

atau justru membuka luka yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!