NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Retakan Saham dan Surat dari Seberang

Pukul dua dini hari, ketika sebagian besar kota Monaco terlelap dalam pendar lampu-lampu neon yang mewah, ruang kerja pribadi Xavier Garrick di Mansion Ketiga justru bermandikan cahaya neon biru dari belasan layar monitor. Ketukan jari-jari taktis dan dengung mesin server menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian. Di bawah instruksi langsung dari Alana yang memantau dari ranjang pemulihannya, Xavier mulai menggerakkan bidak-bidak finansialnya di pasar gelap.

Melalui jaringan broker bayangan yang biasa mengalirkan uang pencucian dari meja judi kasinonya, Xavier meluncurkan serangan siber-finansial yang masif. Saham-saham utilitas dan perusahaan cangkang yang menjadi fondasi kekayaan Faksi Pertama dilepas ke pasar dalam volume besar secara bertahap namun konstan. Aksi jual besar-besaran tanpa nama ini seketika memicu kepanikan di kalangan investor bawah tanah. Nilai aset Eleanor Rossi anjlok drastis, terjun bebas hingga menyentuh angka terendah dalam hitungan jam.

Namun, lubang kehancuran itu tidak berhenti di sana. Di Mansion Kedua, Adrian Garrick melengkapi jebakan tersebut dengan presisi seorang peretas jenius. Jari-jarinya menari di atas papan ketik, menyusup ke dalam manifes perbankan Swiss milik Faksi Pertama. Adrian memanipulasi riwayat transaksi digital, menyuntikkan puluhan data transfer fiktif bernilai jutaan euro yang seolah-olah ditarik langsung oleh Eleanor dari akun bersama Faksi Pertama, lalu dialirkan secara senyap ke dalam rekening luar negeri atas nama Dominic Garrick. Di permukaan, Eleanor tampak seperti seorang ibu yang panik, yang sengaja menguras seluruh sisa kekayaan faksinya demi menyelamatkan anak pertamanya sebelum badai besar tiba.

Sementara itu, di barak militer yang terletak di sayap barat kompleks Garrick, atmosfer berubah menjadi sangat mengerikan. Cedric Garrick berdiri di tengah ruang persenjataan dengan mata yang merah padam akibat kurang tidur dan paranoia yang kian memuncak. Di tangannya, sebuah tablet militer menampilkan laporan intelijen logistik yang baru saja dikirimkan secara anonim oleh jaringan Julian.

"Pasokan amunisi kaliber 5.56 mm untuk batalyon tiga... ditahan?" desis Cedric, suaranya bergetar menahan amarah yang luar biasa hebat.

Matanya menyipit saat membaca baris berikutnya. Surat perintah penahanan pasokan itu ditandatangani digital menggunakan cap otentik dari ruang kerja ibunya sendiri, Eleanor Rossi. Ditambah lagi, semenit kemudian, berkas manipulasi keuangan buatan Adrian masuk ke dalam server pribadinya secara otomatis. Ketika Cedric melihat grafik pencairan aset Faksi Pertama yang mengalir deras ke rekening Dominic di Swiss, kewarasan pria bertato ular itu runtuh sepenuhnya.

"Dia benar-benar membuangku," raung Cedric, menghantamkan senapan serbunya ke meja kaca hingga hancur berkeping-keping. "Sialan kau, Eleanor! Kau menahanku tanpa peluru di sini sementara kau mengirim seluruh uang kita untuk Dominic!"

Paranoia yang ditanamkan Alana di lobi pagi itu kini telah berbuah menjadi pengkhianatan yang paling nyata di mata Cedric. Tanpa berpikir panjang dan tanpa melakukan konfirmasi ulang, Cedric menyambar radio komunikasinya. Mengabaikan seluruh hierarki komando yang selama ini diatur oleh ibunya, dia memberikan perintah mutlak kepada seluruh pasukan setianya.

"Seluruh unit militer Faksi Pertama, dengarkan perintahku!" geram Cedric melalui jaringan radio terenkripsi. "Tarik mundur seluruh perimeter dari Mansion Utama malam ini juga! Kosongkan pos penjagaan dalam. Biarkan wanita tua itu membusuk sendirian di menaranya!"

Dalam hitungan menit, dua ratus pasukan militer bersenjata lengkap yang selama ini menjadi tameng pelindung Eleanor Rossi bergerak mundur, meninggalkan Mansion Utama dalam kondisi yang sangat rapuh tanpa perlindungan internal sama sekali.

Di saat yang sama, di dalam ruang kerja mahoninya yang megah di Mansion Utama, Eleanor Rossi berada di ambang histeria. Laporan demi laporan yang masuk ke komputernya terasa seperti hantaman ombak yang bertubi-tubi. Nilai saham faksinya hancur, sistem perbankannya menunjukkan penarikan ilegal yang tidak pernah dia lakukan, dan puncaknya—layar monitor keamanannya menunjukkan bahwa seluruh pos penjagaan luar telah dikosongkan oleh putranya sendiri.

"Cedric... apa yang telah kau lakukan?!" teriak Eleanor, jemarinya yang gemetar mencoba menghubungi nomor satelit putranya, namun hanya suara operator dingin yang menjawabnya.

Eleanor menyadari bahwa dia telah dikepung dari segala arah. Anak-anak tiri yang selama ini dia remehkan—Xavier dengan uangnya, Julian dengan otaknya, dan si tikus kecil Alana—telah berhasil memotong kedua tangannya sendiri. Dalam tindakan putus asa untuk menyelamatkan nyawanya yang kini berada di ujung tanduk, Eleanor melangkah menuju brankas dinding rahasia. Dia mengeluarkan sebuah telepon satelit khusus berkode merah dan mengetikkan sebuah pesan darurat yang langsung dikirimkan menembus awan badai menuju seberang laut.

“Monaco dalam bahaya. Anak-anak harammu melakukan kudeta. Faksi Pertama sekarat. Pulanglah, Victor.”

Ribuan kilometer dari Monaco, di dalam sebuah presidential suite hotel bintang lima yang mewah di pesisir Eropa Selatan, sebuah telepon satelit di atas meja kaca bergetar pelan. Sebuah tangan besar dengan cincin stempel keluarga Garrick yang ikonik menyambar ponsel tersebut.

Victor Garrick, sang Kepala Keluarga yang ditakuti, membaca pesan singkat dari istrinya dengan wajah yang sama sekali tidak berekspresi. Matanya yang tajam dan sarat akan kekejaman puluhan tahun menatap lurus ke arah pemandangan laut di luar jendela. Di sampingnya, berdiri Dominic Garrick, sang putra pertama yang memiliki postur tubuh tegap dan tatapan mata yang sama dinginnya dengan sang ayah.

"Ada masalah di rumah, Ayah?" tanya Dominic dengan suara berat yang tenang.

Victor meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, lalu mengancingkan jas hitamnya perlahan. "Ibumu kehilangan kendali atas Mansion. Adik-adikmu tampaknya lupa siapa yang membangun dinasti ini." Victor menoleh ke arah pengawal pribadinya yang berdiri di pintu. "Siapkan jet pribadi kita malam ini juga. Kita percepat kepulangan. Aku ingin melihat sejauh mana anak-anak haram itu bisa merangkak di atas papanku."

Kembali ke Mansion Ketiga, jam dinding telah menunjukkan pukul empat subuh ketika hujan lebat mulai mengguyur atap kaca lobi. Alana kini sudah bisa duduk tegak di atas ranjang medisnya, meskipun jubah sutra hitamnya masih menyembunyikan perban ketat yang membungkus luka punggungnya. Wajahnya masih pucat, namun sepasang mata jernihnya berkilat dengan kepuasan yang teramat pekat.

Julian melangkah masuk ke dalam kamar rawat steril dengan tablet di tangannya, disusul oleh Xavier yang membawa segelas anggur merah.

"Adrian baru saja menangkap sinyal transmisi satelit dari jet pribadi Victor," ucap Julian, membetulkan letak kacamata peraknya. "Jet mereka sudah lepas landas dari Eropa Selatan. Sang Bos Besar dan Dominic diperkirakan akan mendarat di bandara privat Monaco dalam waktu kurang dari tiga jam."

Xavier meneguk anggurnya sedikit, lalu menatap Alana dengan senyuman tajam yang sarat akan ketegangan. "Singa tua itu pulang lebih cepat dari perkiraan kita, Alana. Begitu dia menginjakkan kaki di Mansion ini dan melihat Faksi Pertama runtuh, dia akan mencari siapa dalangnya."

Alana tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dia justru memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang dialiri air hujan, menatap kegelapan malam yang perlahan mulai terkikis oleh fajar. Sebuah senyuman dingin, yang paling manipulatif dan mengerikan yang pernah dilihat oleh Xavier dan Julian, terukir jelas di bibirnya.

"Biarkan sang Raja pulang, Xavier... Julian," bisik Alana, suaranya bergaung lirih namun penuh ancaman mutlak di dalam ruangan yang sunyi. "Singgasana yang akan dia duduki sudah terlanjur keropos dari dalam. Dan fajar ini, kita tidak akan menyambutnya dengan ketakutan, melainkan dengan upacara pemakaman bagi Faksi Pertama."

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!