NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tante gak lagi nungguin Arvin, kan?

Enam bulan setelah surat pertama itu, sebuah paket serupa kembali tiba di teras rumah Karin. Sama seperti sebelumnya, isinya adalah lembar hasil ujian Arvin dengan nilai yang jauh lebih meroket, seolah cowok itu benar-benar membuktikan ucapannya untuk belajar dengan gila-gilaan. Namun kali ini, Arvin menyertakan beberapa lembar cetakan foto. Foto-foto pemandangan Times Square yang gemerlap di malam hari, sudut tenang Central Park, dan jembatan Brooklyn yang megah. Di balik setiap lembar foto itu, terselip tulisan pendek.

‘Nanti aku mau datang lagi ke tempat-tempat ini, tapi harus bareng Tante.’

Karin hanya bisa tersenyum simpul menatap deretan foto itu, menyimpannya rapat-rapat di laci meja riasnya bersama surat-surat terdahulu sebagai suntikan semangatnya setiap hari.

Waktu berjalan begitu cepat hingga tibalah hari kelulusan sekolah Reza. Suasana SMA Harapan Bangsa riuh rendah oleh coretan seragam dan tawa haru para siswa. Karin datang meluangkan waktu demi keponakannya, menyempatkan diri berfoto bersama Reza, Bima, Dito, Fino, dan anak-anak lainnya. Namun, tak lama setelah sesi foto bersama selesai, Karin langsung berpamitan pulang lebih dulu. Dia harus segera kembali bekerja. Akhir-akhir ini Karin memang sedang sangat fokus mengejar freelance dan proyek tulisan demi mengumpulkan pundi-pundi uang lagi.

Di sepanjang jalan raya yang terik, pikiran Karin mendadak melayang jauh menembus benua. Dia teringat, bukankah ini juga hari kelulusan bagi Arvin di Amerika? Namun, anehnya... kali ini tidak ada surat, tidak ada lembar ujian, bahkan secarik kertas kabar pun tidak dikirimkan lagi oleh cowok itu.

Ada rasa kesal dan sesak yang perlahan menumpuk di dada Karin. Setiap kali mendapat surat, Arvin dengan sengaja tidak pernah mencantumkan alamat pengirim, nomor telepon, atau akun media sosial barunya sedikit pun. Seolah sengaja menutup akses agar Karin tidak bisa membalas suratnya atau menghubunginya lebih dulu, memaksa Karin untuk benar-benar menjadi pihak yang pasif dan menunggu.

Hingga suatu malam, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas dini hari. Karin yang baru saja berhasil membeli sebuah motor sport berwarna hitam pekat memutuskan untuk keluar mencari angin malam. Di tengah keheningan jalanan kota, saat melintasi sebuah jembatan besar, mata Karin menangkap segerombolan cowok yang sedang nongkrong di atas trotoar di samping deretan motor yang sangat familiar.

Karin memicingkan mata. Benar saja, itu Reza dan teman-temannya.

Karin langsung memutar balik motornya, lalu dengan mulus memarkirkan motor barunya tepat di samping motor teman-teman Reza. Kedatangan motor misterius itu tentu saja langsung menarik perhatian anak-anak yang lagi nongkrong.

"Eh, siapa tuh?" celetuk Dito, menyenggol lengan Bima.

"Si Arvin bukan sih?" sahut Fino menebak asal karena melihat motornya yang sangat mirip.

"Nggak mungkin, Cok. Tubuhnya aja lebih kecil gitu," timpal Bima ragu.

Begitu Karin membuka kaca helm full face-nya dan melepas pelindung kepala itu hingga rambutnya terurai, semua lelaki yang di sana seketika melotot. Detik berikutnya, suara kagum serempak langsung menggema di atas jembatan.

"Wah... Tante Karin?! Serius?!" seru Fino gak percaya.

"Kapan Tante bisa bawa motor kopling?!" tanya Bima heboh, melihat motor besar yang baru saja ditunggangi wanita itu.

Karin terkekeh pelan. "Lah, Tante udah bisa kali dari dulu. Kalian aja yang gak tahu."

Karin melangkah mendekat lalu tanpa canggung langsung ikut duduk lesehan di atas trotoar, bergabung dengan lingkaran nongkrong mereka. Melihat Karin duduk di sana, Fino secara refleks menyodorkan bungkus rokoknya tanpa sepatah kata pun. Karin melirik bungkus itu sekilas, lalu meraih sebatang. Bima dengan sigap langsung menyalakan pemantik api, membiarkan Karin menyesap dan menyalakan ujung rokoknya.

Karin menghembuskan asap tipis ke udara malam, lalu menatap mereka satu per satu. "Kenapa kalian malah nongkrong di sini? Udah jam 12 malem loh ini."

Reza yang duduk agak berjarak langsung mendengus. "Lah, Tante sendiri ngapain keluyuran jam segini? Mau pamer motor baru ya?"

"Cuma cari angin aja," jawab Karin santai, menjepit rokoknya di antara jari.

"Cari angin apaan malam-malam begini, sendirian lagi. Tante itu cewek, keluyuran tengah malam begini bahaya tahu," omel Reza dengan dahi berkerut, nadanya terdengar protektif.

Mendengar omelan itu, seulas senyum hangat terbit di bibir Karin. Dia menggeser duduknya, lalu dengan gemas mencubit kedua pipi keponakan laki-lakinya itu sampai Reza mengaduh. "Uh... ponakanku ini ternyata lagi khawatirin Tantenya, ya?"

Teman-teman Reza langsung terkekeh geli melihat wajah dongkol Reza yang pasrah diperlakukan seperti anak kecil di depan gengnya sendiri. Namun, setelah tawa mereka mereda, keheningan malam kembali mengambil alih. Fino tiba-tiba melontarkan satu pertanyaan yang membuat atmosfer langsung berubah drastis.

"Tante... kangen Arvin, ya?"

Mendengar pertanyaan itu, tawa anak-anak langsung lenyap. Semua mata kompak beralih menatap ke arah Karin yang masih duduk dengan posisi santai. Karin terdiam sejenak. Dia kembali menyesap rokoknya perlahan, membiarkan jeda beberapa detik sebelum mematikan bara rokok itu ke lantai trotoar sambil menghembuskan sisa asap terakhirnya ke langit malam.

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" tanya Karin balik, suaranya terdengar datar tanpa emosi.

"Karena Tante beli motor yang mirip banget kayak punya Arvin dulu. Bahkan warnanya pun sama, warna hitam," jawab Fino pelan, menunjuk ke arah motor sport baru Karin.

Karin tertegun. Pandangannya bergulir menatap motor hitamnya yang berdiri kokoh di bawah pendar lampu jalanan.

"Tante juga sekarang jarang banget main ke rumah Mama. Sampe bisa dihitung pakai jari, dan Tante selalu bilang sibuk sama kerjaan," sahut Reza ikut membuka suara. Tatapan matanya lurus menatap Karin, menyuarakan apa yang selama ini dia pendam sendiri. "Bahkan pas kelulusan gue waktu itu... Tante buru-buru pulang. Itu karena gak ada Arvin di sana, kan?"

Karin menoleh, menatap tepat ke arah manik mata keponakannya. Suasana di atas jembatan malam itu mendadak berubah menjadi sangat hening dan canggung.

"Tante... gak lagi nungguin si Arvin pulang, kan? Atau... Tante emang beneran nungguin dia, makanya sampai sekarang Tante belum nikah?" tanya Reza lagi, sebuah pertanyaan telak yang langsung menusuk ke lubuk hati Karin yang paling dalam.

Menyadari situasi menjadi terlalu berat dan intim, Bima buru-buru menepuk pundak Reza dan berdiri. "Hey, udah, udah! Ayo kita jalan lagi cari angin, kan sekarang udah ada Tante Karin nih yang nemenin," potong Bima mencoba memecah ketegangan.

Karin menundukkan kepalanya, menghembuskan napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Dia tidak menjawab pertanyaan Reza. Wanita itu perlahan beranjak berdiri dari trotoar, merapikan pakaiannya, lalu berjalan kembali menuju motornya sendiri. Dia memakai helmnya, menyalakan mesin motor koplingnya yang menderu pelan.

Di sepanjang jalan raya yang sunyi, air mata Karin diam-diam mengalir di balik kaca helmnya yang gelap. Kata-kata Reza terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak, meruntuhkan seluruh dinding pertahanan dan sangkalan yang dia bangun selama ini.

Reza benar. Semua yang dia lakukan, kesibukannya yang gila-gilaan, motor hitam yang dia beli, hingga keheningan yang dia cari di tengah malam semuanya bermuara pada satu nama. Detik itu, di atas motornya yang melaju cepat, Karin harus mengakui pada dirinya sendiri dengan rasa sakit yang luar biasa, bahwa dia memang sudah sangat, sangat merindukan Arvin.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!