Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Hujan Desember turun perlahan, membasahi jendela kaca ruang kuliah dengan ritme yang monoton. Di luar, langit kelabu seolah memahami isi hati Nadya yang selama dua bulan terakhir hidup dalam kecemasan yang senyap. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Bahkan sekadar kabar singkat dari Rexsaka pun tak pernah datang.
Di tengah dinginnya hujan akhir tahun, Nadya mulai menyadari satu hal, rindu bisa terasa jauh lebih menyakitkan ketika seseorang menghilang tanpa jejak. Jemarinya menggenggam ponsel yang layarnya masih gelap, berharap nama itu muncul untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Namun lagi-lagi, hanya desau angin dan rintik hujan yang setia menemaninya.
Pikiran Nadya mendadak melayang, ditarik paksa oleh memori tepat dua bulan lalu. Hari itu adalah kali terakhir ia bertatap sapa di bawah pohon mangga di pekarangan rumah Rexsaka, tepat saat cowok itu keluar dengan menyeret sebuah koper besar.
"Kak Rex!" Nadya langsung menghambur, memeluk erat pinggang Rexsaka usai cowok itu memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Rexsaka bergeming, membiarkan tubuhnya dipeluk tanpa niat untuk membalas.
"Kak Rex mau kemana? Kok bawa koper segala?" tanya Nadya dengan nada manja yang khas. Di saat orang lain memanggil cowok itu dengan nama Saka, hanya Nadya yang memiliki hak istimewa, atau lebih tepatnya, memberanikan diri, memanggilnya 'Rex'. Nadya mendongak, menyandarkan dagunya di dada bidang Rexsaka yang sekaku batu.
"Saya ada urusan," jawab Rexsaka datar. Tangannya bergerak, mencoba melepaskan lilitan tangan Nadya di pinggangnya, namun kuncian itu terlampau kuat. Rexsaka menghela napas berat. "Lepaskan saya, Nona."
"Nggak mau! Kasih tahu dulu Kak Rex mau kemana? Aku ikut, ya?" Nadya merengek, menggoyang-goyangkan tubuhnya tanpa melepas pelukan itu sedikit pun.
"Bukan urusan Anda. Dan jangan pernah ikut campur urusan saya," ucap Rexsaka, kali ini dengan nada yang luar biasa dingin. Dengan satu sentakan tegas, ia menyentak tangan Nadya hingga terlepas. Dorongan itu membuat tubuh Nadya terjerembap mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kak Rex kok jahat banget, sih? Tangan Nadya sakit tahu!" Nadya merengut.
Nada manja itu justru membuat Rexsaka jengah. Tanpa membuang kata, ia berjalan ke pintu kemudi, masuk ke dalam mobil, dan langsung menghidupkan mesin. Ia mengabaikan Nadya yang panik mengetuk-ngetuk kaca jendela sambil memanggil namanya berulang kali. Detik berikutnya, mobil itu melaju membelah jalanan, meninggalkan Nadya yang berdiri sendirian dengan air mata bercucuran, meniup telapak tangannya yang memerah kebas sambil menatap nanar kendaraan yang kian menjauh.
"Ish! Gue sumpahin kejepit pintu lo!" teriak Nadya lantang. Napasnya memburu, sementara telunjuknya menuding geram ke arah mobil Rexsaka yang kian mengecil di ujung jalan.
Duarrr!
Glegar petir di siang bolong mendadak memecah langit, menyahuti kalimat kutukan yang baru saja lepas dari bibirnya. Nadya tersentak kaget. Dengan gerakan kilat, ia langsung membekap mulutnya sendiri rapat-rapat. Jantungnya berdegup liar, seketika panik dan menyesali ucapannya sendiri karena takut sumpah serapahnya benar-benar menjadi kenyataan bagi sang pujaan hati.
"Woi! Melamun Bae! Kesambet hantu hujan baru tau rasa lo"
Sentakan keras itu seketika menarik Nadya kembali ke realitas. Di depannya, Riska, sahabat dekatnya, sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Apa sih, Ris? Kaget gue tau. Lo kira jantung gue terbuat dari plastik apa?" sarkas Nadya sambil mengelus dadanya yang berdegup kaget.
"Lagian Lo ngapain, sih? Dari tadi hobi banget memandangi hujan. Nostalgia masa lalu atau bagaimana?" tanya Riska heran. Ia menarik kursi di depan Nadya lalu duduk di sana. Sejak kelas dimulai hingga dosen melangkah keluar, pandangan Nadya tidak pernah lepas dari luar jendela. Untungnya, posisi duduk mereka agak tertutup, sehingga aksi melamun Nadya luput dari teguran dosen.
Riska menopang dagu, menatap Nadya dengan pandangan jengah. "Atau jangan-jangan... Lo sedang memikirkan si gunung Everest itu lagi? Si Rexsaka?" Riska mendengus. Ia sudah jenuh setengah mati melihat tingkah gila Nadya yang tak pernah lelah mengejar Rexsaka, lalu berakhir galau merana seperti sekarang.
Dari sekian banyak teman yang berlalu-lalang di hidupnya, Riska adalah sahabat terbaik yang Nadya punya. Mereka pertama kali bertemu saat menginjak bangku SMP. Nadya yang kala itu sangat tertutup dan kesulitan bersosialisasi tidak memiliki teman satu pun. Riska-lah, dengan sifatnya yang supel, ceria, dan sedikit ajaib, yang pertama kali mengulurkan tangan. Lambat laun, Nadya ketularan energi gila Riska hingga keduanya melekat tak terpisahkan sampai kuliah.
Riska adalah saksi hidup dari setiap tawa, tangis, dan semangat membara seorang Nadya Marlynda Sismoko dalam memperjuangkan cinta Rexsaka Pramuja. Meski Riska belum pernah bertatap muka langsung dengan cowok itu, dari rentetan curhatan pilu yang ia dengar, Riska tahu betul betapa dingin dan teganya pria itu pada sahabatnya. Namun apa boleh buat, jika menyangkut Rexsaka, kepala Nadya berubah keras layaknya batu sedimen yang mustahil ditembus nasihat.
"Dia sudah dua bulan tidak ada kabar, Ris. Gue bahkan tidak tahu dia ada di belahan bumi mana sekarang," jawab Nadya lirih, seluruh energinya menguap entah kemana.
"Ya sudah sih, mungkin dia memang bukan jodoh lo kali," jawab Riska santai, tanpa memikirkan bagaimana kalimat itu menghantam perasaan sahabatnya.
Mendengar itu, sepasang mata bulat milik gadis berlesung pipit tersebut seketika berkaca-kaca. Air mata sudah menggenang di pelupuk, siap terjun bebas membasahi pipinya yang putih dengan semburat rona merah menahan tangis.
"Eh... eh... lo kok malah nangis? Gue nggak ngapa-ngapain lo, ya!" seru Riska panik begitu melihat pertahanan Nadya runtuh.
"Huaaaa... lo jahat banget! Doain yang baik-baik kenapa, sih? Gue maunya berjodoh sama dia, Ris! Kok lo nggak mengerti gue banget, sih?" isak Nadya pilu. Nadya memang bisa berubah selebay dan se-cengeng itu jika sudah menyangkut urusan Rexsaka.
Riska menghela napas pasrah, mengangkat kedua tangannya ke udara. "Iya, iya... sorry, gue salah. Gue revisi, ya? Gue doain lo jodoh sama itu... siapa nama lengkapnya?"
"Rexsaka Pramuja." Nadya menjawab di sela isakannya, lengkap dengan hidung yang mulai memerah.
"Iya, dia."
"Sebut namanya, Ris!" tuntut Nadya dengan sisa-sisa air mata.
"Iya, Rexsaka Pramuja! Semoga kalian berdua bisa berjodoh, sampai menikah, dan langgeng selamanya. Amin! Sudah, kan? Apa perlu gue shalat tahajud setiap malam nih buat doain lo?" cerocos Riska gemas.
"Kalau perlu, iya," jawab Nadya polos sambil mengangguk mantap.
Riska langsung mendengus, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari menyengir tanpa dosa. "Hmm... kalau itu sulit, Nad. Kan lo tahu sendiri gue Kristen, hahaha!"
Seketika itu juga, tangis lebay Nadya mereda, digantikan oleh delikan tajam yang siap menguliti sahabatnya hidup-hidup.
"Tapi gue heran deh sama Lo Nad. Apa sih yang Lo harapkan dari dia? Kenapa Lo keras kepala sekali mengejar cowok dengan suhu minus Celsius begitu?"
Pertanyaan itu sebenarnya sudah jutaan kali Nadya tanyakan pada dirinya sendiri. Puluhan kali hatinya dipatahkan, puluhan kali harga dirinya dijatuhkan lewat penolakan yang memalukan, tetapi hatinya bebal. Kompas di dadanya egois, ia tidak bisa berpaling dan hanya mau menunjuk pada satu arah, Rexsaka.
Mungkin, itu semua karena Rexsaka adalah orang yang hadir tepat saat Nadya pertama kali membuka hati untuk mengenal cinta. Seseorang yang, jauh di masa lalu, pernah menawarkan kehangatan dan perhatian berwarna merah jambu yang terlanjur mengunci seluruh hidupnya.
"Ck, kan, melamun lagi!" Riska mengetuk dahi Nadya dengan pulpen, membuat sang empu meringis kesakitan.
"Ish! Sakit, Riska! Ini kepala, ya, bukan batok kelapa yang bisa Lo ketuk seenak jidat!" kesal Nadya sambil mengusap dahinya yang memerah.
"Kepala Lo itu memang wajib diketuk setiap hari supaya sadar!"
"Gue sadar ris, Gue sadar sesadar-sadarnya, makanya Gue memperjuangkan cinta My Little T-Rex Gue. Dan Gue tidak akan pernah menyerah sampai kapan pun! sampai gue dapat" jawab Nadya menggebu-gebu, mengepalkan tangan di udara untuk menyemangati dirinya sendiri, melupakan rasa sedihnya beberapa saat lalu.
Riska menggeleng-gelengkan kepala, lalu bertepuk tangan pelan dengan raut wajah takjub sekaligus prihatin. "Lo memang cegil sejati, Nad. gue salut. Lo Tahan banting meski yang Lo hadapi itu sedingin gunung Everest, tapi tetap saja tidak mau menyerah jadi bucinnya."
Nadya menegakkan punggungnya, menatap Riska dengan binar mata yang kembali hidup. "Lo lupa. 'Cegil' itu nama tengah gue, dan 'Bucin' adalah nama belakang gue"
Ia tersenyum penuh arti, sebuah senyuman yang sarat akan tekad yang tidak bisa diganggu gugat. "Dan gue siap menaklukkan dinginnya gunung Everest itu dengan amunisi yang sudah gue siapkan di tas carrier gue. Jadi lo tenang saja, gue bakal bertahan."
"Hati-hati hipotermia, Neng," kelakar Riska lagi, mencoba mencairkan suasana.
"Nggak akan!" sahut Nadya yakin. Namun, sedetik kemudian bahunya kembali merosot. "Tapi... Sekarang bagaimana caranya, gue bisa dapat kabar tentang dia?" tanyanya kembali lesu.
Riska menjentikkan jarinya. "Mudah... kenapa nggak lo datangi saja tempat kerjanya?"
Mata Nadya seketika berbinar cerah. "Eh, iya! Tumben pintar lo!" Nadya merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Kenapa hal sejelas itu tidak terpikirkan olehnya sejak kemarin-kemarin? Kalau tahu begitu, ia tidak akan membuang waktu dua bulan untuk segalau ini.
"Gue memang pintar dari dulu kali! Lo saja yang nggak peka sama kepintaran gue," jawab Riska sombong, sengaja mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya dramatis.
"Iya, iya, sahabat gue yang paling pintar dan cerdas! Nanti gue traktir seblak, deh!" ucap Nadya bersemangat sambil bangkit berdiri dari kursinya.
Riska mengerutkan kening heran melihat pergerakan kilat sahabatnya. "Lah, mau kemana?"
"Ke markas militer. Kan lo yang menyuruh tadi!"
"Ya nggak harus sekarang juga, di luar masih hujan, Neng!" seru Riska, menunjuk ke arah jendela luar yang masih basah.
"Gue bawa mobil, tenang saja. Ya sudah, ya, bye!" ucap Nadya buru-buru. Sebelum melangkah pergi, ia sempat berbalik untuk melemparkan kecupan udara manis kepada sahabatnya itu.
"Eh, ingat, ya! Nanti jam empat kita ada kelas lagi!" teriak Riska setengah menjerit, memastikan suaranya terdengar oleh Nadya yang bayangannya sudah telanjur menghilang di balik pintu kelas.
Nadya setengah berlari menuju lorong tangga. Setiap ayunan langkahnya sarat akan luapan harapan bahwa sebentar lagi ia akan bertemu dengan sang pujaan hati, meluruhkan seluruh rindu yang selama dua bulan ini membuncah sesak di dalam dada.
Langkah kakinya berdentum begitu cepat, menciptakan ritme tergesa yang membuatnya abai pada eksistensi sepasang langkah lain yang sejak tadi mengintai dan mengikutinya dari belakang. Tepat ketika kakinya nyaris menuruni anak tangga pertama, sebuah tangan asing mencengkeram lengannya dengan kilat, menarik tubuhnya paksa masuk ke dalam sebuah ruang kelas kosong.
Sebuah tangan kekar dengan cekatan mendorong pelan tubuh Nadya ke balik pintu yang sedetik lalu telah tertutup rapat, mengunci pergerakannya.
Sebelum Nadya sempat mencerna rasa terkejutnya, sebuah suara bariton yang familier berbisik rendah di dekat telinganya.
"Lama tidak jumpa, baby."