Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
Saat sunset akhirnya tiba, Lady memperhatikan keindahan alam tersebut. Disandarkannya kepalanya di bahu tegap Ace sambil tersenyum lebar.
"Cantik banget," gumam Lady.
"Lebay. Cuman sunset doang padahal," ucap Ace yang malah bodo amatan melihat pemandangan di depannya itu.
Lady menatap Ace dengan datar. Psikopat mana yang nggak suka sunset?! Hah?! Psikopat mana?!
"Yok pulang," ajak Leo mendengar adzan Maghrib yang sudah berkumandang. Ace lalu menoleh, menatap sekeliling yang rupanya beberapa orang sudah mulai minggat karna hari yang sudah mulai malam.
"Bentar lagi yah, Ace. " pinta Lady, namun dibalas gelengan oleh Ace.
"Keburu tengah malam kita nyampe rumah, belum lagi kalo macet." Lady menghela nafasnya dan kemudian mengangguk.
Sebelum menjauh dari pantai, Lady menyempatkan untuk mengambil ranting kecil yang tergeletak dan kemudian menggambar sesuatu di atas pasir pantai yang putih itu.
"Gambar apaan, sih? Buruan jalan." Ace berkacak pinggang memperhatikan Lady yang asik menggambar tanpa menghiraukan omongannya.
"Selesai," ucap Lady sambil memperhatikan mahakarya nya itu.
Ace mengernyit melihat dua gambar love yang baru saja dibuat oleh Lady. Di setiap love itu terdapat sepasang nama di tengahnya. Satunya berisikan nama Ace dan Lady, sementara satunya lagi berisikan nama Zena dan Kellan.
"Cantik banget gambaran gue," ucap Lady tersenyum lebar.
"Ada namanya Kellan sama Zena juga?" tanya Ace. Lady mengangguk cepat kepalanya.
"Kellan sama Zena cocok banget. Zena juga suka banget sama Kellan. Jad, gue harap kedepannva mereka bisa iadi jodoh kayak kita berdua," Jelas Lady yang hanya diangguki oleh Ace.
Lady kemudian berjalan pergi dari sana sambil memeluk lengan Ace. Mereka bergegas masuk ke dalam mobil.
Tanpa menoleh kebelakang, Lady tidak melihat bahwa salah satu gambar hati yang dibuatnya ternyata disapu oleh ombak kecil. Gambar itu akhirnya hilang begitu saja.
*
*
"Ladyanne, kamu ngapain malah duduk di situ? Buruan masuk kelapangan buat ikut olahraga."
Lady yang sedang duduk di tribun lantas cemberut memandangi Pak Ferry yang menyuruh-nyuruhnya untuk ikut bermain basket di lapangan bersama Zena dan teman sekelasnya yang lain.
Ogah.
"Nggak mau, Pak. Panas," keluh Lady, membuat Pak Ferry menggelengkan kepalanya.
"Udah, buruan gabung sama teman-teman kamu. Nanti kamu nggak dapat nilai loh," ancam Pak Ferry, membuat Lady mendengus sebal.
Lady berpikir sejenak untuk mencari cara agar dirinya tidak usah ikut olahraga.
"Tapi, Pak. Perut saya tiba-tiba sakit banget. Aww...aduh....perut saya sakit, Pak."
"Perut kamu kenapa, Lady?" tanya pak Ferry.
"Nggak tau, Pak. Kayaknya saya mau lahiran deh."
Pak Ferry menggelengkan kepalanya saat melihat Lady yang merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. "Kamu jangan bohong, Ladyanne."
"Tapi saya serius, Pak. Perut saya sakit banget." Lady merintih kesakitan seperti sedang sekarat.
Pak Ferry yang melihat Lady sedang berakting lantas hanya bisa menghela nafasnya. "Yaudah. Kalau gitu, kamu ke UKS aja sana buat istirahat."
"Ihh, Pak! Kok dikasih izin, sih?!" celutuk Zena yang sedang berdiri di lapangan.
Ladymenjulurkan lidahnya kepada Zena yang tampak sangat kesal.
"Yaudah, Pak. Kalau gitu, saya permisi dulu, ya, mau ke UKS." Pak Ferry menganggukkan kepalanya dan menatap punggung Lady yang berjalan pergi meninggalkan tribun.
"Pagi, Lady."
"Pagi cantik."
"Halo, Kak. Selamat pagi."
"Cantik banget, sih, Kak."
"Lady, aku padamu."
Lady membalas semua sapaan itu dengan senyum ramahnya yang sangat manis. Resiko jadi cewek cantik, hot, pintar, lucu, sama gemesin tuh emang kayak gini.
Saat sudah melewati koridor yang sangat ramai, kini langkah Lady terhenti saat melewati ruang musik.
BRAK!
Seketika alis gadis itu langsung mengernyit saat mendengar suara gaduh di dalam sana.
"Apaan tuh?" gumam Lady penasaran. Mau dibuka, tapi pintunya terkunci.
Lady menoleh kiri kanan. Ia tidak mendapati siapapun di sekitar ruang musik itu selain dirinya. Maklum, ruang musik ini terpisah dari gedung lain.
Mendapat sedikit celah di pintu, Lady lantas mengintip ke dalam. Jiwa kepo Lady yang sudah akut terlihat sangat meronta-ronta.
"BERANI LO SAMA GUE?! HAH?!" teriak Rebecca sambil menarik kerah seragam seorang murid lusuh di depannya.
Rebecca menghempaskan seragam gadis itu hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
"Periksa kantong seragamnya. Gue mau tau dia bawa berapa duit jajan ke sekolah," perintah Rebecca yang diangguki oleh kelima temannya.
Kelima gadis tersebut sontak menyeringai lebar sambil perlahan-lahan mendekati gadis di depannya itu.
"Oh my god, bukannya itu babunya Leon, ya?" gumam Lady yang mengintip di pintu.
Lady ingat bahwa gadis itu adalah Yuna. Gadis lusuh yang pernah dibawa kakaknya ke rumahnya.
Tanpa ba bi bu, Lady buru-buru berlari mencari bantuan. Mengingat pintu ruang musiknya terkunci dan jumlah Lady cukup banyak, jadilah dia harus meminta bantuan.
Hingga akhirnya, langkah Lady terhenti tatkala melihat seorang cowok berambut sebahu yang sedang berjalan di koridor sambil merangkul dua orang gadis.
"Gaidan!" panggil Lady menghampiri Gaidan.
"GAIDAN, WOI!"
"OH MY GOD, GAIDAN! BUDEK LO, YA?!"
"GONDRONG, WOI!"
Menyadari ada yang memanggil dirinya, Gaidan lantas menoleh kebelakang. Seketika dirinya mengernyit saat melihat Lady yang kini sudah berdiri di sampingnya dengan ngos-ngosan.
"Hai, Ladies," sapa Gaidan seperti biasa.
"Bantuin gue!" Lady mencoba mengatur deru nafasnya yang ngos-ngosan.
"Tenang, Dy. Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas lagi, tahan sampai setahun," ujar Gaidan yang membuat Lady memelototinya.
Setahun keburu kejang-kejang kehabisan nafas.
"Lo ada kekuatan buat ngedobrak pintu, kan?" tanya Lady.
Gaidan menganggukkan kepalanya. "Iya. Kenapa emang?"
"Eh, Ra. Lo mau ngebawa pacar kita kemana?" teriak dua orang cewek cantik yang tadi dirangkul oleh Gaidan. Mereka menjadi panik ketika melihat Glora yang menarik tangan Gaidan pergi dari sana.
"Bentar, ya, Sayang! Aku mau selingkuh dulu sama Lady!" teriak Gaidan yang membuat kedua cewek berstatus pacarnya itu langsung cemberut.
*
BRAK!
Seketika para anak-anak Thunder yang sedang berkumpul tersebut langsung tersentak kaget saat Zena menendang pintu rooftop.
"Di sini ada yang liat Lady nggak?" tanya Zena kepada para anak-anak Thunder tersebut sambil berdiri di depan pintu rooftop dengan seragam olahraganya.
Seketika bahu Zena langsung merosot saat pertanyaannya barusan dibalas gelengan oleh semua orang.
"Emang adek gue kenapa?" tanya Leon yang sedang bermain gitar dipojokan.
"Adek lo tadi izin ke UKS pas jam olahraga, tapi gue udah nyari ke UKS dan adek lo nggak ada," jelas Zena sambil mengedip centil matanya kepada Kellan.
Kellan bergidik ngeri melihat Zena dan langsung membuang muka.
"Loh? Kok bisa? Lo udah nyari ke semua tempat di sekolah?" tanya Leon yang meletakkan gitar di tangannya itu ke atas meja. Raut wajahnya terlihat panik.
Zena menggeleng. "Gue belum nyari dia di mana-mana, sih. Soalnya gue langsung ke sini dari tadi."
"Apa lo semua?" sentak Zena saat para anak Thunder itu menatapnya dengan datar.
"Buruan cari Lady," ucap Atan diangguki oleh yang lain.
Seluruh anak-anak Thunder tersebut lantas menghentikan kegiatannya saat melihat para anggota inti mereka sudah bergegas untuk mencari keberadaan si cantik.
Melihat dua orang gadis yang sedang berdiri di ujung koridor, Ace lantas menghampiri mereka.
"Woi!" panggil Ace, membuat kedua gadis itu menoleh kepadanya. "Gaidan mana? Bukannya tadi kalian bareng?" tanya Ace.
"Buruan jawab, bego. Gagu lo?!" sentak Ace dengan tidak sabaran. Kedua gadis itu meringis. Padahal, mereka baru mau berbicara, tapi Ace malah langsung menyemprotnya.
Kedua gadis itu kemudian menghentak-hentakkan kakinya ketika mengingat kejadian tadi. "Tadi, kita emang sama Gaidan, tapi Lady malah tiba-tiba datang nggak jelas terus ngebawa Gaidan pergi," jelas mereka.
"Serius? Terus mereka pergi ke arah mana?" tanya Lady lagi.
"Tadi, kita ngeliat mereka pergi ke arah sana," tunjuk mereka yang langsung menjawab dengan cepat. Ia takut Ace menyemprotnya lagi.
Ace semakin mengernyit saat kedua gadis itu menunjuk ke arah ruang musik.
Tanpa ba bi bu, Zena dan para anak-anak Thunder tersebut langsung meninggalkan mereka begitu saja di ujung koridor.
"WOI! KASIH TAU TUH SAMA LADY BUAT NGGAK ASAL NARIK-NARIK COWOK ORANG SEMBARANGAN! CANTIK-CANTIK MALAH JADI PERUSAK!" teriak kedua gadis itu.
Seketika kedua gadis cantik tersebut langsung terdiam saat melihat manik coklat Leon yang melirik mereka dengan sinis.
Perasaan Zena dan anak-anak Thunder tersebut lantas ketar-ketir saat mendengar suara ribut-ribut dari dalam ruang ekskul.
Dan benar saja. Saat mereka sampai, rupanya di dalam sana sudah ada Gaidan, Lady, Yuna, Rebecca, dan beberapa anggota Leiden serta beberapa anggota Thunder pula.
Zena berlari kencang menghampiri Gaidan yang mencoba memisahkan Lady dan Rebecca