Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante mau gak jadi pacar aku?
Arvin mengajak Karin duduk di tepi ranjang. Dia menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Karin dengan erat.
"Marah, pasti. Papa ngamuk besar di rumah," ucap Arvin jujur, tatapannya beralih menatap jemari mereka yang saling bertautan. "Tapi aku gak peduli lagi, Tan. Aku udah bilang ke Papa kalau aku gak akan bisa disetir lagi kayak dulu."
Karin menatap Arvin dengan cemas. "Terus gimana kuliah kamu, Vin? Bukannya kamu bentar lagi baru mau lulus?"
Arvin mengangguk, membenarkan ucapan Karin. "Iya, Tan. Kuliah aku tinggal sedikit lagi selesai, beberapa bulan lagi aku sidang kelulusan akhir."
Arvin mendongak, menatap lekat mata Karin untuk meyakinkan wanita itu. "Tapi kali ini aku gak akan tunduk lagi sama ancaman Papa. Aku udah mutusin, setelah sidang kelulusan nanti, aku bakal langsung cari kerja sendiri di sini. Aku gak akan minta sepeserpun uang Papa setelah lulus. Jadi, Papa udah gak punya kartu as lagi buat ngancem atau bikin hidup Tante susah di sana. Aku yang bakal tanggung jawab penuh buat kita berdua."
Mendengar penuturan Arvin, rasa haru sekaligus lega yang luar biasa seketika membuncah di dada Karin. Meskipun Arvin belum sepenuhnya mandiri dan masih harus menyelesaikan sisa kuliahnya yang sebentar lagi, tekad dan keberanian pria itu untuk melindunginya membuat Karin merasa begitu dihargai. Beban berat yang mengganjal hatinya sejak tiba di sini rasanya menguap begitu saja, digantikan rasa bangga yang teramat besar pada pria di depannya ini.
Arvin tersenyum tipis melihat raut lega di wajah Karin. Dia menarik tangan Karin, memaksa wanita itu untuk berdiri dari tepi ranjang.
"Udahan ah bahas soal Papa. Sore ini jadwalnya aku buat nebus waktu empat tahun yang hilang," ucap Arvin, matanya berbinar jenaka. "Ganti baju yang hangat, Tan. Aku mau ngajak tante kencan."
"Mau ke mana?" tanya Karin penasaran, tapi tangannya tetap bergerak mengambil jaket tebal di lemari.
"Rahasia. Pokoknya Tante bakal suka."
Arvin ternyata membawa Karin ke Santa Monica Pier. Jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel, dan tempat ini adalah salah satu ikon paling romantis di Los Angeles, terutama saat menjelang malam.
Begitu mereka sampai, matahari sore sedang bersiap untuk tenggelam, memancarkan warna jingga keunguan yang luar biasa indah di atas hamparan Samudra Pasifik. Angin laut bertiup cukup kencang, membuat Karin refleks merapatkan jaketnya. Melihat itu, Arvin dengan sigap merangkul bahu Karin dari samping, membawa tubuh wanita itu merapat ke dadanya yang hangat.
Mereka berjalan santai menyusuri dermaga kayu yang panjang. Di kencan pertama ini, Arvin benar-benar memanjakan Karin.
Arvin membelikan sekantong churros hangat bertabur gula kayu manis. Mereka berjalan sambil gantian saling menyuapi, mengabaikan beberapa pasang mata yang melihat interaksi manis mereka.
Arvin menarik tangan Karin untuk mengantre naik bianglala raksasa yang terkenal di sana. Begitu gondola mereka bergerak naik tinggi ke atas, pemandangan lampu-lampu kota Los Angeles dan deburan ombak di bawah sana terlihat begitu indah berkilauan seperti hamparan permata.
Arvin tiba-tiba menggeser duduknya, berpindah ke samping Karin. Dia meraih kedua tangan Karin, menggenggamnya erat-erat. Tatapan mata Arvin yang biasanya datar, kini tersorot kilat kesungguhan yang amat dalam.
"Tan..." panggil Arvin, suaranya mendadak berat dan serius.
Karin menoleh, sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi Arvin. "Kenapa, Vin?"
"Selama ini... gak ada satu malam pun aku gak mikirin Tante. Aku ke sini buat belajar, buat cepet lulus, biar aku bisa jadi pria yang pantas buat berdiri di samping Tante. Aku gak mau lagi dianggap cuma anak kecil atau keponakan yang harus dilindungi," ucap Arvin, napasnya berembun tipis di udara malam yang dingin.
Arvin menatap langsung ke manik mata Karin. "Malam ini, di umur aku yang udah 21 tahun, aku mau minta satu hal. Tante... mau gak jadi pacar aku? Jadi wanita aku, bukan cuma sekadar Tante buat aku lagi?"
Jantung Karin mendadak berdegup kencang. Mendengar kalimat lugas dan berani itu keluar dari mulut Arvin langsung meruntuhkan sisa-sisa keraguannya selama ini. Karin tersenyum sangat manis, matanya berkaca-kaca karena haru. Dia membalas genggaman tangan Arvin tidak kalah erat. "Iya, Arvin. Aku mau."
Begitu jawaban keluar dari bibir Karin, kelegaan yang luar biasa terpancar dari wajah Arvin. Tanpa membuang waktu lagi, Arvin langsung menangkup wajah Karin dan menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang manis, dalam, dan penuh perasaan di bawah pendar lampu neon warna-warni bianglala. Ciuman itu menjadi segel resmi bahwa malam ini, mereka bukan lagi sekadar masa lalu yang sembunyi-sembunyi, melainkan sepasang kekasih yang siap menghadapi apapun bersama.
Di dekat area bermain arcade, Arvin melihat mesin photo box jadul. Dia langsung menarik Karin masuk. "Sekarang kita harus punya foto berdua," kata Arvin. Mereka mengambil beberapa kali foto dengan berbagai gaya, mulai dari gaya kaku khas Arvin, gaya tersenyum lebar, sampai gaya Arvin yang tiba-tiba mencium pipi Karin hingga membuat ekspresi Karin di foto terlihat terkejut sekaligus merona merah.
Malam semakin larut saat mereka duduk di salah satu bangku kayu di ujung dermaga, mendengarkan suara deburan ombak dan musik dari musisi jalanan di kejauhan. Karin menyandarkan kepalanya di bahu tegap Arvin, sementara tangan mereka bertautan erat di dalam saku jaket Arvin.
"Makasih ya, Vin. Tante seneng banget hari ini," bisik Karin tulus, menatap hamparan laut malam.
Arvin mengecup pucuk kepala Karin dengan sayang. "Ini baru permulaan, Tan. Masih banyak tempat di sini yang mau aku tunjukkin ke Tante sebelum Tante pulang ke Jakarta.”
Karin yang sedang menikmati angin malam, tiba-tiba teringat satu hal yang selama ini jadi ganjalan. "Vin," panggilnya pelan. "Kamu... masih gak mau ngasih kontak kamu ke Tante? Kita kan udah ketemu, udah pacaran juga, masa harus putus kontak lagi?"
Arvin menghela napas panjang, tatapannya menyendu ke arah ombak yang memecah di bawah dermaga. "Gak dulu, Tan. HP aku yang sekarang... aku takut banget Papa sudah menyadapnya. Kalau sampai Papa tahu kita berhubungan lagi, aku takut dia bakal nekat lakuin sesuatu ke Tante."
Arvin menoleh, menatap mata Karin dengan sungguh-sungguh. "Sekarang aku lagi ambil banyak freelance sampingan. Begitu tabungannya cukup buat beli HP baru yang benar-benar bersih dan rahasia, aku janji bakal langsung hubungi Tante. Saat itu, cuma aku dan Tante yang tahu nomor itu."
Karin terkekeh pelan, merasa lucu dengan sifat protektif Arvin yang kini jauh lebih dewasa. "Emangnya kamu tau nomor hp-ku?"
Arvin tersenyum miring, lalu dengan lancar menyebutkan deretan sepuluh digit angka milik Karin tanpa ragu sedikitpun. "Mana mungkin aku lupa? Angka itu yang selalu aku tulis di buku catatan setiap malam pas aku kangen banget sama Tante."
Karin tersenyum lebar, merasa hatinya menghangat mendengar pengakuan itu.
Tak lama kemudian, Arvin melirik jam tangannya. Dia harus segera kembali sebelum papanya curiga lagi.
“Ayo, kita pulang. Aku anterin balik dulu sampai depan hotel.”
Karin mengangguk pelan. Sepanjang perjalanan pulang ke hotel dengan taksi online, Arvin terus-terusan merangkul Karin. Barulah setelah mereka sampai di depan hotel, Arvin bersiap untuk pamit.
Arvin menunduk, menatap lekat mata Karin. "Besok sore aku jemput lagi di sini ya, Tan. Kita ke tempat yang lain."
Karin tersenyum manis dan mengangguk. "Iya, Arvin. Hati-hati di jalan ya."
Arvin mengecup kening Karin dengan lembut dan lama, lalu memberikan lambaian tangan sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi menuju mobil taxi, meninggalkan Karin yang masuk ke kamarnya dengan senyum yang tidak luntur seulas pun.