NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

happy reading guys

------------------------------

BAB 22: Sidang Keluarga Darurat

Suara deru mesin mobil limosin hitam milik Nicholas Syailendra membelah keheningan malam di kawasan elite Menteng. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Elena Vance menatap lurus ke depan, sementara Nicholas menggenggam jemari tangannya dengan begitu erat dan posesif. Baru beberapa jam yang lalu Elena melabrak Clarissa Utama di ruang kerjanya, kini badai baru sudah menghadang mereka di kediaman utama keluarga besar Syailendra.

Cklek.

Pintu gerbang besi raksasa ditarik terbuka. Begitu limosin berhenti tepat di lobi utama rumah dinasti tersebut, Yan langsung membuka pintu penumpang dengan wajah yang tampak tegang. "Tuan Besar, Ibu Suri dan seluruh dewan komisaris keluarga sudah berkumpul di dalam ruang sidang utama sejak satu jam yang lalu," bisik Yan memberikan peringatan darurat.

Nicholas hanya mengangguk datar. Ia merangkul pinggang ramping Elena dengan lengan kekarnya, menarik tubuh wanita itu agar merapat sempurna ke sisi tubuhnya sebelum melangkah masuk. "Jangan lepaskan genggamanmu, Elena. Apapun yang terjadi di dalam, aku ada di sampingmu," bisik Nicholas rendah, suaranya sarat akan aura dominasi yang menenangkan.

"Tenang saja, Nicholas. Aku tidak akan membiarkan mereka menginjak harga diri kita," jawab Elena dengan senyuman miring yang begitu tipis namun tajam.

Mereka berdua melangkah mantap membelah koridor luas berlantai marmer kuno, menuju ke sebuah ruangan berpintu ganda yang biasanya hanya digunakan untuk memutuskan perkara besar dinasti Syailendra. Begitu pintu ditarik terbuka, atmosfer dingin laksana es langsung menyergap indra penciuman.

Di tengah ruangan, sebuah meja jati raksasa dikelilingi oleh belasan anggota senior keluarga Syailendra. Di ujung meja, Ibu Suri Syailendra—Nenek kandung Nicholas—duduk dengan anggun memegang tongkat emasnya. Di sisi kirinya, Sarah Syailendra duduk dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa puas dan dendam yang membara setelah kehancuran Ardi siang tadi.

Brak!

"Nicholas! Berani sekali kamu melangkah masuk ke ruangan ini setelah menghancurkan aliansi bisnis kita dengan Utama Group?!" Sarah langsung melompat dari kursinya, berteriak histeris sembari menunjuk wajah Nicholas. "Hanya demi membela wanita asing ini, kamu tega membeli paksa saham Utama Group dan menjebloskan Ardi ke pemeriksaan polisi! Kamu sudah merusak stabilitas korporasi kita!"

Nicholas tidak memedulikan teriakan bibinya. Ia membimbing Elena untuk duduk di dua kursi utama yang berada tepat di hadapan Nenek Syailendra, lalu mengambil tempat duduknya sendiri dengan gerakan santai yang teramat elegan.

"Bibi Sarah, jika putra Anda tidak melakukan spionase korporat dan menjual draf rahasia perusahaan ke pihak Rusia, polisi tidak akan pernah menyentuh seujung kuku dari tubuhnya," suara berat Nicholas bergaung tenang namun dingin, membungkam seluruh ruangan dengan wibawa mutlak seorang CEO tertinggi.

"Cukup!"

Suara ketukan tongkat emas Nenek Syailendra berbunyi nyaring di atas lantai marmer, seketika menghentikan perdebatan. Wanita tua itu mengalihkan sepasang mata elangnya yang tajam langsung ke arah Elena Vance.

"Elena Vance," panggil Nenek Syailendra, nadanya berat dan sarat akan intimidasi tingkat tinggi. "Aku tidak peduli dengan masalah Ardi atau Jonathan Utama. Tapi siang ini, Utama Group mengirimkan sebuah draf laporan audit resmi dari Prancis ke tangan dewan komisaris kita. Di dalam dokumen ini, nama Elena Vance dinyatakan tidak pernah terdaftar sebagai pemegang lisensi pasokan berlian internasional di Vance Jewelry Paris."

Sarah Syailendra langsung tersenyum miring, menimpali dengan nada beracun. "Dengar itu, Elena?! Laporan keuangan dari Prancis membuktikan kalau kamu hanyalah seorang penipu internasional berwajah palsu! Nicholas sengaja membuat identitas fiktif untukmu agar bisa membawamu masuk ke dalam silsilah keluarga kita! Katakan yang sebenarnya, siapa kamu sebenarnya?! Apakah kamu adalah Adeline Wijaya, jalang murahan yang sudah diusir dari rumah Bramantara itu?!"

Deg!

Suasana di dalam ruang sidang seketika membeku. Belasan pasang mata dewan komisaris keluarga kini menatap Elena dengan pandangan menilai yang sangat merendahkan. Mereka mengira Elena akan panik, menangis, atau gemetar ketakutan karena kedok identitas barunya terancam dikuliti habis.

Namun, Elena Vance justru melakukan hal yang sebaliknya. Ia bersandar santai di kursi beludrunya, melipat kedua tangannya di dada dengan gerakan yang sangat tenang. Sebuah kekehan renyah yang terdengar sangat beracun dan dingin keluar dari bibir merah meronanya.

"Bibi Sarah... dan para dewan komisaris yang terhormat," Elena memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja jati, menatap Sarah dengan pandangan mata yang menyipit penuh ejekan. "Saya sangat mengagumi kegigihan Utama Group dalam memalsukan dokumen demi menyelamatkan sisa saham mereka yang sedang anjlok di bursa efek."

Elena merogoh tas pesta kecilnya, mengeluarkan sebuah gawai pintar tipis khusus, lalu menekan beberapa tombol sebelum meletakkannya di atas meja rapat. Layar gawai itu memproyeksikan sebuah draf sertifikasi digital resmi terenkripsi langsung dari Kementerian Perdagangan dan Industri Prancis.

"Laporan yang dikirim oleh Utama Group kepada Nenek adalah draf laporan keuangan dari anak perusahaan Vance Retail, bukan Vance Wholesale & International Supply yang saya pimpin," ucap Elena, suaranya yang renyah terdengar begitu tegas laksana tamparan visual di depan wajah seluruh anggota keluarga. "Di Prancis, dua divisi itu terpisah secara hukum demi menghindari pajak ganda internasional. Utama Group sengaja memotong bagian draf atas untuk mengelabui dewan komisaris Syailendra Group yang kurang memahami struktur hukum korporasi Eropa."

Elena beralih menatap langsung ke manik mata Nenek Syailendra yang sejak tadi mengamatinya tanpa berkedip. "Nenek Syailendra, jika saya adalah penipu internasional tanpa lisensi, bagaimana mungkin siang ini Bank Sentral Prancis menyetujui jaminan pasokan berlian mentah senilai sepuluh triliun rupiah untuk dialihkan langsung ke divisi Syailendra Jewelry? Anda bisa memeriksa keaslian kode enkripsi digital ini sekarang juga melalui tim hukum utama Anda."

Skakmat.

Penjelasan analisis Elena yang sangat logis dan terstruktur seketika meruntuhkan seluruh narasi palsu yang dibawa oleh Sarah dan Clarissa Utama. Beberapa anggota komisaris senior keluarga mulai mengangguk-angguk setuju, beralih menatap Sarah dengan pandangan geli karena wanita paruh baya itu kembali mempermalukan dirinya sendiri akibat kecerobohannya.

Wajah Sarah seketika berubah dari merah padam menjadi seputih kertas semen. Ia lemas di kursinya, menyadari bahwa jebakan dokumen palsu yang disusunnya bersama Clarissa telah dipatahkan dalam waktu kurang dari lima menit oleh Elena.

Nenek Syailendra perlahan menghentikan ketukan jarinya ke tongkat emas. Sebuah senyuman tipis yang sangat misterius sempat terlintas di bibir keriputnya. "Kerja analisis yang sangat rapi, Elena. Kamu memang memiliki otak yang cukup tajam untuk menjadi menantu di rumah ini."

Nenek Syailendra kemudian memandang Nicholas dengan ketegasan yang tak berkurang. "Sidang malam ini selesai. Dokumen dari Prancis itu sah. Nicholas, bawa istrimu kembali ke paviliun. Tapi ingat... Utama Group tidak akan tinggal diam setelah kamu mengumumkan perang terbuka di bursa efek besok pagi."

"Saya tidak pernah takut pada sekumpulan ular yang sekarat, Nenek," jawab Nicholas tegas sembari bangkit berdiri. Pria itu dengan gerakan yang sangat posesif melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling pinggang Elena, menuntunnya berjalan keluar meninggalkan ruang sidang dengan keanggunan sepasang penguasa takhta yang tak tertandingi.

Ketika mereka kembali berjalan melintasi koridor taman paviliun yang sunyi, Nicholas mendadak menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan tubuh tegapnya, menatap Elena dengan sepasang mata elang yang dipenuhi kegilaan posesif dan gairah kepemilikan yang mutlak.

Nicholas meremas pelan pinggang Elena, menarik tubuh wanita itu hingga dada mereka merapat sempurna di bawah temaram cahaya bulan malam. "Cara kamu mematahkan jebakan laporan keuangan itu di depan Nenek tadi... benar-benar membuatku gila, Elena. Kamu jauh lebih mematikan dari apa yang pernah kubayangkan."

Elena mendongak, menyandarkan kedua tangannya di atas dada bidang suaminya dengan senyuman miring yang begitu memikat. "Ini baru babak penyisihan, Nicholas. Sarah dan Clarissa sudah kehilangan kartu as palsu mereka. Mari kita lihat, taktik kotor apa lagi yang akan mereka susun setelah saham Utama Group runtuh total di pasar bursa esok hari."

Nicholas tersenyum miring—sebuah senyuman kejam namun penuh pesona maskulin yang luar biasa memikat. Pria itu menundukkan kepalanya, mengecup bibir merah merona Elena dengan kecupan yang sangat intens dan menuntut, menegaskan perlindungan mutlak miliknya di dalam sangkar pernikahan kontrak yang kini perlahan-lahan mulai mengikat hati mereka dalam takdir pembalasan dendam yang sesungguhnya.

_____________

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!