Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pesan di Balik Papan
Jari Niko berhenti di udara. Matanya terpaku pada kertas kecil itu, jari-jarinya menyentuh permukaannya perlahan. Tinta hitam itu masih sedikit basah, menempel tipis di ujung jari saat dia mengusapnya.
Dia mengangkat kertas itu, memutarnya ke arah cahaya yang masuk lewat celah atap. Tulisan kasar itu terbaca jelas, tanpa tanda tangan, tanpa simbol apa pun selain kalimat ancaman pendek.
Suara di ruangan itu seketika meredup. Bastian yang baru saja meminum tehnya langsung menurunkan cangkirnya dengan bunyi klak yang agak keras. Mikhael menegakkan punggungnya, matanya menyapu seluruh sudut ruangan seolah mencari sosok yang baru saja menyelinap masuk.
Kael melangkah mendekat, menatap kertas itu tanpa mengucap sepatah kata. Tangannya terulur, mengambil kertas itu dari tangan Niko, lalu membalik-baliknya perlahan. Ujung kertas itu agak lembap, sama seperti kertas yang biasa dijual di kios dekat dermaga.
"Kapan dia masuk?" tanya Bastian, suaranya rendah dan berat. Matanya melirik ke arah pintu, lalu ke jendela-jendela yang terbuka lebar.
Mikhael menggeleng pelan. "Pintu selalu tertutup rapat. Tidak ada tanda paksa masuk. Kalau ada orang yang lewat, pasti aku dengar langkah kakinya."
Niko menunjuk ke celah papan tempat kertas itu diselipkan. "Dia tidak perlu masuk sampai ke tengah ruangan. Cukup menjulurkan tangan dari luar, selipkan, lalu pergi. Selesai dalam hitungan detik."
Kael melipat kertas itu rapat, memasukkannya ke saku dalam jaketnya. Matanya kini mengamati sekeliling dengan pandangan yang lebih tajam dari biasanya.
Arda yang sedari tadi hanya duduk diam sambil memegang segenggam kacang, berhenti menggerakkan tangannya. Dia menoleh ke arah mereka, lalu melirik saku tempat Kael menyimpan kertas itu. Alisnya terangkat sedikit, tapi tidak ada tanda kaget di wajahnya.
"Jadi mereka tahu kita sedang mengawasi," ucapnya santai, seolah baru mendengar kabar bahwa hujan akan turun sore ini.
"Dan mereka tahu di mana kita tinggal," tambah Niko. Jarinya mengetuk meja pelan, satu ketukan setiap detik. "Itu yang paling berbahaya. Batas privasi kita sudah dilanggar."
Bastian mengepalkan tangannya di atas paha. "Berarti kita tidak perlu menunggu lagi. Kalau mereka sudah berani datang sampai ke depan pintu, lebih baik kita cari mereka duluan sebelum mereka menyerang kita saat lengah."
Kael menggeleng pelan. Dia berjalan ke arah jendela, menatap ke jalanan yang mulai ramai di kejauhan. Jari-jarinya mulai bergerak lagi, memutar koin perak itu dengan irama yang teratur.
"Mengirim pesan seperti ini bukan tanda keberanian," katanya pelan. "Kalau mereka yakin bisa mengalahkan kita, mereka tidak akan mengirim kertas. Mereka akan datang dengan membawa senjata dan membakar tempat ini sekarang juga."
Dia berbalik menghadap mereka. "Ini cara mereka menguji. Mencari tahu seberapa besar reaksi kita, seberapa cepat kita bertindak. Kalau kita terburu-buru keluar mencari mereka, kita sudah masuk ke dalam jebakan yang mereka siapkan."
Mikhael mengangguk setuju. "Mereka ingin kita marah, ingin kita bertindak tanpa berpikir. Kalau kita tetap tenang, pesan ini tidak ada gunanya."
Di sudut ruangan, Arda meniup kulit kacang yang menempel di telapak tangannya, lalu menoleh ke arah Kael.
"Tapi pesan itu tetap ada artinya," ucapnya lambat. "Mereka sudah melihat jejak kita. Mereka tahu kita mengikuti gerakan mereka. Artinya, mereka sudah mulai terdesak. Orang yang merasa aman tidak akan mengirim ancaman."
Kata-kata itu menggantung di udara. Mereka semua mengerti maksudnya. Ancaman itu bukan tanda kekuatan, melainkan tanda bahwa mereka sudah mulai khawatir.
Siang itu berjalan dengan suasana yang berbeda. Tidak ada lagi candaan ringan seperti biasanya. Setiap gerakan terasa lebih hati-hati. Bastian berjalan mengelilingi area luar pabrik, memeriksa setiap semak, setiap pohon, dan setiap jalan masuk. Niko duduk di dekat jendela, matanya mengawasi setiap orang yang lewat di jalan raya. Mikhael menyusun peralatan seadanya yang bisa dipakai sebagai pertahanan, meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau.
Kael duduk kembali di tempatnya, matanya menatap ke arah lantai, tapi pikirannya melayang jauh. Dia membayangkan wajah orang yang menyelipkan kertas itu, gerakannya yang cepat dan tenang, keberaniannya datang ke tempat yang dianggap sebagai sarang Malaikat Hitam.
Sore perlahan berganti. Sinar matahari miring, mewarnai dinding pabrik dengan warna keemasan yang pudar. Angin sore membawa bau tanah dan rumput kering, meniup daun-daun di sekitar bangunan.
Tiba-tiba, Lio melompat masuk lewat celah jendela belakang, bukan lewat pintu seperti biasanya. Napasnya terengah-engah, tapi dia langsung menunduk rendah dan memberi isyarat dengan tangannya agar tetap diam.
Dia melangkah cepat mendekat, lalu berbisik setengah terengah:
"Ada orang berkuda lewat jalan utama. Pakaiannya mewah, membawa lambang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Dia berhenti di ujung jalan, menunjuk ke arah pabrik ini, lalu berbicara dengan seseorang yang menyembunyikan wajahnya di balik jubah."
Semua mata langsung tertuju padanya.
Kael berdiri tegak. "Lambang apa?"
Lio mengerutkan dahi, berusaha mengingat. "Seperti sayap burung, tapi di tengahnya ada tanda lingkaran yang terbelah dua. Berwarna hitam dan merah."
Niko langsung berdiri, matanya melebar. Dia melangkah cepat ke sudut rak, mengambil sebuah buku lusuh yang terikat tali, lalu membukanya di halaman belakang. Jarinya menelusuri gambar-gambar lambang yang dia catat selama bertahun-tahun.
Dia berhenti di satu halaman, jarinya menekan gambar itu dengan kuat.
"Itu lambang Kelompok Elang Darah," ucapnya dengan suara yang tiba-tiba menjadi serak. "Bukan kelompok jalanan biasa. Mereka beroperasi di luar kota, punya hubungan dengan pedagang besar dan bahkan pejabat pemerintah. Mereka tidak bermain-main."
Suasana di ruangan itu terasa lebih berat. Bastian mendekat, melihat gambar itu di atas buku, lalu menatap Kael.
"Jadi yang kita hadapi bukan hanya Roderick dan orang berjubah itu," katanya pelan. "Ini jaringan yang jauh lebih besar."
Kael memasukkan tangannya ke dalam saku, meremas kertas ancaman itu di dalam genggamannya. Tatapannya menjadi lebih tajam, lebih terfokus.
Di sudut ruangan, Arda berhenti mengunyah kacangnya. Dia mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang tadi terlihat malas kini menyala samar, seolah awan tebal yang menutupi matahari baru saja terangkat sedikit.
Dia berdiri perlahan, menjentikkan sisa kulit kacang dari bajunya, lalu menoleh ke arah mereka semua.
"Kalau sudah sampai ke sini," ucapnya dengan nada yang lebih rendah dan berat dari biasanya, "berarti permainan kecil ini baru saja dimulai dengan sungguh-sungguh."
Bersambung...