NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Bayangan Harapan

Dua hari telah berlalu sejak Ryosuke meninggalkan reruntuhan kuno tempat Tenkū Matō memilihnya sebagai pemilik baru. Meskipun pedang legendaris itu kini tergantung di pinggang kirinya berdampingan dengan Nichirin-gatana, Ryosuke masih belum sepenuhnya memahami kekuatan yang berada di dalam bilah hitam tersebut. Beberapa kali ia mencoba merasakan aliran mana yang mengalir melalui gagangnya ketika berjalan, tetapi setiap kali energi itu mulai bergerak, sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang segera memenuhi tubuhnya, seolah-olah pedang itu masih menahan sebagian besar kekuatannya di balik segel yang belum terbuka.

Hal itu justru membuat Ryosuke semakin berhati-hati. Ia tidak pernah menganggap Tenkū Matō sebagai jalan pintas untuk menjadi lebih kuat. Haruto selalu mengajarkan bahwa seorang pendekar yang bergantung pada senjata akan kehilangan dirinya sendiri ketika senjata itu tidak lagi berada di tangannya. Karena itulah, selama perjalanan, Ryosuke tetap mengulang gerakan dasar Hyoho Niten Ichi-ryū sebagaimana yang diajarkan ayahnya sejak kecil, hanya saja kini kedua tangannya memegang dua katana yang memiliki sifat bertolak belakang. Nichirin-gatana terasa hangat dan ringan, sementara Tenkū Matō membawa tekanan yang berat dan dingin, membuat keseimbangan gerakannya beberapa kali berubah.

Pada suatu sore, ketika melewati sebuah lembah sempit yang dipenuhi bebatuan, langkah Ryosuke terhenti karena mendengar suara teriakan meminta tolong dari arah depan. Beberapa pedagang yang mengendarai dua kereta barang tampak berusaha mempertahankan diri dari sekelompok monster kecil yang keluar dari celah-celah batu. Makhluk-makhluk itu memiliki tubuh menyerupai serigala, tetapi kulitnya dipenuhi retakan berwarna keunguan yang memancarkan sisa-sisa mana tidak stabil.

"Monster itu datang lagi!"

"Semuanya mundur!"

Salah seorang pengawal telah terluka di bahunya, sementara para pedagang hanya mampu bertahan di sekitar kereta sambil mengacungkan tombak dengan tangan gemetar.

Tanpa berkata apa pun, Ryosuke segera melangkah maju.

Nichirin-gatana perlahan keluar dari sarungnya, disusul Tenkū Matō yang mengeluarkan bunyi logam panjang ketika bilah hitamnya menyentuh udara.

Untuk pertama kalinya sejak memperoleh pedang itu, Ryosuke menggunakan keduanya secara bersamaan.

Ia menarik napas perlahan.

Kaki kirinya bergeser ke depan.

Posisi tubuhnya berubah ke dalam kuda-kuda Hyoho Niten Ichi-ryū.

Seekor monster menerjang lebih dahulu.

Ryosuke mengangkat Nichirin-gatana untuk membelokkan arah serangan, kemudian dalam gerakan yang hampir bersamaan Tenkū Matō mengayun dari sisi berlawanan. Bilah hitam itu mengenai tubuh monster tersebut dengan bersih, tetapi berbeda dari yang ia bayangkan, tidak muncul ledakan sihir ataupun gelombang kegelapan. Hanya ada semburat hitam tipis yang menyelimuti mata pedang sebelum menghilang kembali.

"Jadi... segelnya memang belum terbuka."

Ia tidak memiliki waktu untuk berpikir lebih lama.

Dua monster lainnya menyerang dari sisi kanan dan kiri secara bersamaan.

Ryosuke memutar tubuhnya, memanfaatkan kedua pedangnya sesuai prinsip Hyoho Niten Ichi-ryū. Nichirin-gatana digunakan untuk menahan dan mengalihkan arah serangan lawan, sedangkan Tenkū Matō menjadi bilah utama yang mencari celah untuk melakukan serangan balasan. Gerakannya memang belum sehalus ketika hanya menggunakan satu pedang, tetapi setiap pertukaran serangan membuat tangannya semakin terbiasa dengan berat Tenkū Matō.

Beberapa saat kemudian, monster terakhir akhirnya roboh.

Ryosuke mengembuskan napas panjang sebelum menyarungkan kedua pedangnya.

Ia menatap Tenkū Matō beberapa saat.

Pedang itu tidak memberikan reaksi apa pun.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Seolah-olah pedang tersebut sedang mengamati pemilik barunya dan menunggu saat yang tepat untuk memperlihatkan kekuatan sesungguhnya.

Para pedagang segera menghampirinya dengan wajah penuh rasa syukur.

"Terima kasih, Tuan Pendekar."

"Aku hanya seorang ronin."

"Tetap saja, kalau bukan karena bantuanmu, mungkin barang dagangan kami sudah habis dirampas monster."

Ryosuke hanya menganggukkan kepala pelan.

Ia membantu para pedagang membereskan kereta yang rusak sebelum kembali melanjutkan perjalanan bersama rombongan mereka menuju desa berikutnya. Selama perjalanan, percakapan para pedagang lebih banyak membahas keadaan perang yang semakin memburuk daripada hasil perdagangan mereka.

"Aku baru datang dari arah Greenville," ujar seorang pedagang tua sambil menghela napas. "Sekarang hampir setiap minggu ada kota yang diserang."

"Bukan hanya Meriam Rune biasa," timpal pedagang lain. "Katanya Krusador menggunakan senjata baru. Satu tembakan saja mampu menghancurkan sebagian kota."

"Aku juga mendengar cerita itu."

"Bahkan ada yang bilang orang-orang yang selamat justru berubah menjadi monster."

Percakapan itu membuat langkah Ryosuke melambat.

Ingatannya kembali pada malam ketika Desa Tagawa dihancurkan. Cahaya merah yang memenuhi langit, ledakan yang mengguncang bumi, dan warga desa yang kehilangan kewarasan setelah terkena dampak Beast Crust Rune Cannon kembali muncul di benaknya dengan begitu jelas hingga telapak tangannya tanpa sadar mengepal.

("Krusador...") gumamnya dalam hati

("Berarti...")

("...Kejadian itu semua ulah Empire Krusador dan mereka memanipulasi seolah olah Green continent yang melanggar perjanjian damai.")

Desanya bukan satu-satunya korban, Ryosuke mengepal erat.

Senjata mengerikan itu kini benar-benar digunakan dalam peperangan.

Ryosuke memandang ke arah utara.

Perang yang telah merenggut keluarganya ternyata tidak berhenti di Desa Tagawa. Api yang dinyalakan malam itu kini menyebar ke berbagai penjuru Green Continent, menghancurkan kota demi kota, meninggalkan penderitaan yang sama seperti yang pernah ia rasakan.

Menjelang malam, rombongan akhirnya tiba di sebuah desa kecil yang menjadi tempat persinggahan para pedagang dan pengungsi. Suasana desa jauh dari kata tenang. Banyak rumah dipenuhi keluarga yang mengungsi dari daerah perbatasan, sementara halaman balai desa dipenuhi kereta yang membawa barang-barang seadanya.

Di sebuah kedai sederhana, Ryosuke duduk di sudut ruangan sambil menikmati semangkuk sup hangat. Ia tidak berniat mencampuri pembicaraan orang-orang di sekitarnya, tetapi sebuah percakapan di meja sebelah membuat tangannya berhenti sebelum menyendok makanan.

"Aku bersumpah melihatnya sendiri."

"Benarkah?"

"Ya. Waktu itu iring-iringan pasukan Krusador melewati Desa Elmar. Ada beberapa kereta tertutup di tengah barisan."

"Aku juga melihat rombongan itu," sahut seorang pengungsi yang duduk tidak jauh dari sana. "Di salah satu kereta ada seorang gadis kecil."

"Usianya sekitar dua belas tahun," tambah seorang tentara bayaran yang baru tiba dari perbatasan. "Tangannya terikat, tetapi dia masih hidup."

Pedagang lain ikut mengangguk.

"Rombongan itu bergerak ke utara. Katanya akan kembali memasuki wilayah Empire Krusador."

Percakapan itu berlangsung singkat, tetapi setiap kalimat terasa menghantam dada Ryosuke jauh lebih keras daripada ayunan pedang mana pun.

Dua belas tahun.

Seorang gadis.

Dibawa dari wilayah perbatasan.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Usia itu...

Sama dengan Hana.

Ryosuke tidak berani menarik kesimpulan.

Benua Aldabaron begitu luas. Gadis berusia dua belas tahun tentu bukan hanya Hana seorang.

Namun, sejak malam ketika mereka terpisah di tepi jurang, inilah petunjuk pertama yang benar-benar menghidupkan kembali harapan yang selama ini ia pendam.

Ia menundukkan kepala, menggenggam mangkuk di hadapannya dengan erat.

Di dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan yang terus berulang.

Mungkinkah... Hana masih hidup?

Tidak ada seorang pun di dalam kedai yang mengetahui gejolak yang sedang berkecamuk di hati seorang ronin muda yang duduk sendirian di sudut ruangan. Mereka kembali melanjutkan percakapan mengenai perang dan perdagangan, sementara Ryosuke terdiam memandang nyala api kecil di atas lampu minyak.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Tagawa, harapan kembali menemukan tempat di dalam hatinya.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!