Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 20
Happy Reading Guys!
-----
Arkan membeku.
Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun yang berbicara. Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di koridor yang sepi. Namun, keheningan itu justru membuat dada Sophia semakin sesak. Ia menatap lelaki di hadapannya, lelaki yang selama ini begitu ia cintai, lalu perlahan merasakan seluruh emosi yang selama ini berusaha ia pendam mulai runtuh satu per satu.
Matanya memerah.
Awalnya ia masih berusaha menahan diri. Ia sudah lelah menangis. Lelah marah. Lelah berharap. Namun semakin lama menatap wajah Arkan, semakin sulit baginya berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.
"Apa kau tahu apa yang terjadi hari ini?"
Suara Sophia terdengar lirih, tetapi cukup untuk membuat Arkan mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Sophia tertawa kecil. Suara tawanya terdengar pahit, bahkan lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Sintia datang ke tempat kerjaku."
Tubuh Arkan langsung menegang.
Seolah sudah menebak ke mana arah pembicaraan itu akan berjalan.
"Sophia, kau tenang dulu. Dengarkan aku .... "
"Kau yang harus dengarkan aku!"
Sophia menggeleng pelan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kau tahu apa yang dia katakan padaku? Dia bilang kau menungguku di rumah."
Arkan membuka mulut hendak menjelaskan, tetapi Sophia tidak memberinya kesempatan.
"Untuk apa, Arkan?"
Suaranya mulai bergetar.
"Untuk apa dia datang sejauh itu hanya untuk menyampaikan pesan? Kalau memang hanya ingin memberitahuku, dia bisa menelepon. Dia bisa mengirim pesan. Bahkan kau sendiri bisa mengatakannya padaku."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Tapi dia datang ke tempat kerjaku. Di depan rekan-rekan kerjaku. Di depan pelanggan. Di depan semua orang."
Sophia menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya yang semakin sulit dikendalikan.
"Menurutmu mereka akan berpikir apa?"
Arkan terdiam.
Diamnya justru membuat hati Sophia semakin sakit.
"Mereka pasti berpikir aku selingkuhan."
Suaranya terdengar serak.
"Mereka pasti berpikir aku sedang mengganggu rumah tangga orang lain. Mereka pasti berpikir aku wanita murahan yang mengejar pria yang sudah menikah."
"Sophia ...."
"Kau diam!"
Untuk pertama kalinya ia meninggikan suara.
Dadanya naik turun. Seluruh luka yang selama ini berusaha disembunyikan akhirnya pecah begitu saja.
"Kau selalu bilang pernikahan itu palsu. Kau selalu bilang semuanya hanya sementara. Tapi siapa yang tahu?"
Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.
"Siapa yang tahu, Arkan?"
"Hanya kita bertiga."
"Hanya kau, aku, dan Sintia."
Sophia tertawa getir sambil menggeleng pelan.
"Orang lain tidak tahu apa pun. Mereka hanya melihat apa yang ada di depan mata mereka. Mereka melihat seorang pria yang sudah menikah. Mereka melihat istrinya sedang hamil. Dan mereka melihat aku selalu berada di antara kalian."
Suara Sophia perlahan melemah.
Seolah seluruh tenaganya habis bersama air mata yang terus mengalir.
"Aku terus bertanya pada diriku sendiri."
Ia menunduk sesaat sebelum kembali menatap Arkan.
"Apa aku orang ketiga?"
"Apa aku sangat buruk?"
"Apa aku salah karena tetap mencintaimu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Arkan kehilangan kata-kata.
Sophia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Kemudian perlahan melangkah mendekat.
Tangannya terangkat dan tanpa sadar merapikan kerah kemeja Arkan yang sedikit miring. Gerakan sederhana yang sudah sering ia lakukan setelah mengenalnya. Namun kali ini terasa berbeda.
Ada perpisahan yang samar di dalamnya.
Sophia mengangkat wajah dan menatap kedua mata Arkan.
"Aku mencintaimu."
Jantung Arkan berdegup keras.
"Aku benar-benar mencintaimu. Karena itu aku menerimamu. Karena itu aku mencoba memahami keadaanmu. Karena itu aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini hanya sementara."
Ia tersenyum tipis.
Namun senyum itu terlihat begitu rapuh.
"Tapi kau tidak bisa melindungiku, Arkan."
Kalimat itu terasa seperti pukulan yang menghantam tepat ke dada Arkan.
"Kau tidak bisa melindungiku dari pandangan orang lain. Kau tidak bisa melindungiku dari gosip. Dan kau tidak bisa mengubah kenyataan bahwa di mata dunia, kau adalah suami Sintia."
Sophia menunduk sesaat sebelum kembali berbicara.
"Keluarga Damian menawarkan pertunangan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa ada jalan keluar."
Arkan langsung menggeleng.
"Jalan pikiranmu salah."
"Mungkin."
Sophia tidak membantah.
"Mungkin memang salah."
Ia menarik napas panjang.
"Tapi kalau aku berdiri di samping Damian, siapa yang akan percaya gosip tentangku? Damian punya segalanya. Status. Kekuasaan. Nama keluarga. Tak seorang pun akan berpikir aku sedang mengejar pria yang sudah menikah."
Suaranya perlahan melemah.
"Aku lelah, Arkan."
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Hanya lelah.
Lelah mempertahankan sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki sepenuhnya.
Setelah mengatakan itu, Sophia melepaskan tangannya dari kerah Arkan dan mundur selangkah.
"Aku tidak ingin membahas ini lagi."
Ia berbalik.
"Sophia."
Arkan spontan memanggilnya.
Namun wanita itu tidak berhenti.
"Jangan ikuti aku."
Ada ketenangan aneh dalam suaranya.
Bukan ketenangan seseorang yang sudah tidak peduli.
Melainkan ketenangan seseorang yang terlalu lelah untuk terus berjuang sendirian.
Arkan hanya bisa berdiri diam di tempatnya.
Memandang Sophia yang berjalan menjauh darinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ketakutan.
Ketakutan bahwa suatu hari nanti, wanita itu benar-benar tidak akan kembali menoleh padanya.
-----
"Anda sangat berpikiran matang, Tuan. Sekarang saya mengerti maksudnya."
"Apa yang kau mengerti?"
Damian bertanya tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptopnya. Jari-jarinya tetap bergerak di atas keyboard, seolah percakapan itu tidak cukup penting untuk membuatnya berhenti bekerja.
Jack tersenyum kecil.
"Anda yang memberitahukan keberadaan Nona Sophia pada Nyonya Sarah."
Damian mengangkat sebelah alis.
"Lalu?"
"Supaya Nona Sophia tidak bisa berkutik."
Kali ini Damian akhirnya menoleh sekilas.
"Aku tidak memberitahunya."
"Tentu saja tidak secara langsung."
Jack mengangguk-angguk seperti sudah memahami semuanya.
"Anda hanya mengatakan keberadaan Nona Sophia."
Damian kembali memusatkan perhatian pada laptopnya.
"Ibuku bertanya. Aku menjawab."
"Tuan hanya mengatakan dia berada di minimarket?"
"Hm."
"Aku tidak pernah mengatakan dia bekerja di sana." Damian mencoba membela diri.
Senyum Jack semakin lebar.
"Tuan benar."
Namun nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sama sekali tidak percaya.
Damian bahkan tidak repot-repot membantah.
Ruangan kembali hening.
Hanya suara ketikan keyboard yang terdengar sesekali.
Sementara itu, Jack justru semakin yakin dengan kesimpulannya sendiri.
Ia masih ingat dengan jelas hari ketika Nyonya Sarah datang menemui Damian. Saat itu wanita paruh baya tersebut terus bertanya tentang Sophia. Anehnya, Damian tidak pernah mengatakan bahwa hubungan mereka hanyalah sandiwara.
Ia juga tidak berusaha menunjukkan bahwa dirinya menyukai Sophia.
Damian hanya menjawab seperlunya.
Dingin.
Acuh tak acuh.
Seolah tidak peduli.
Namun justru karena itulah Nyonya Sarah menjadi semakin khawatir.
Siapa yang tidak mengenal wanita itu?
Nyonya Sarah mungkin terlihat lembut, tetapi seluruh keluarga tahu satu hal. Tidak ada yang lebih membuatnya cemas selain urusan pernikahan putra tunggalnya.
Selama bertahun-tahun Damian menolak setiap wanita yang diperkenalkan kepadanya.
Bahkan Jessica, putri salah satu keluarga konglomerat yang dianggap sempurna oleh banyak orang, tidak pernah berhasil menarik perhatian Damian.
Alasan pekerjaan.
Alasan sibuk.
Alasan tidak tertarik.
Damian selalu memiliki seribu cara untuk menghindar.
Karena itu, begitu Nyonya Sarah mengetahui keberadaan Sophia, hasilnya sudah bisa ditebak.
Wanita itu pasti akan mempertahankan Sophia mati-matian.
Jack bahkan tidak perlu berpikir terlalu lama untuk memahami dampaknya.
Setelah Nyonya Sarah datang ke tempat kerja Sophia dan mengumumkan statusnya sebagai calon menantu keluarga Liam, semuanya sudah berakhir.
Sophia tidak lagi memiliki ruang untuk mundur.
Bukan karena Damian.
Bukan karena keluarga Liam.
Melainkan karena sifat Sophia sendiri.
Wanita itu terlalu menghargai Nyonya Sarah.
Terlalu menghormatinya.
Dan Damian mengetahui hal tersebut.
Karena itulah Jack semakin yakin bahwa semua ini bukanlah kebetulan.
Mungkin Damian memang tidak secara langsung memberitahukan tempat kerja Sophia.
Namun pria itu jelas sengaja memberikan petunjuk yang cukup agar ibunya menemukan sendiri jawabannya.
Memikirkan hal itu membuat Jack melirik sosok di balik meja kerja.
Damian masih terlihat tenang seperti biasa.
Wajahnya datar.
Ekspresinya nyaris tidak berubah.
Sulit dipercaya bahwa pria yang terlihat tidak tertarik pada apa pun itu mampu menyusun langkah sejauh ini hanya demi seorang wanita.
Pantas saja pagi ini Damian datang ke kantor lebih awal. Itu karena Ibunya menelponnya pagi-pagi sekali.
Pantas saja suasana hatinya terlihat jauh lebih baik daripada biasanya.
"Licik sekali," gumam Jack pelan.
"Hm?"
Damian mengangkat kepala.
"Tidak ada, Tuan."
Jack langsung menggeleng.
Sampai sekarang Jack masih meyakini bahwa ketertarikan Damian berawal dari aroma tubuh Sophia yang berbeda dari orang lain.
Tetapi semakin lama mengamati tuannya...
Ia mulai tidak terlalu yakin.
____
Seperti yang sudah direncanakan, hari-hari berlalu dengan sangat cepat.
Seluruh keluarga sibuk mempersiapkan acara pertunangan yang tinggal menghitung hari.
Undangan dikirim ke berbagai kalangan. Nama-nama besar di dunia bisnis mulai mengonfirmasi kehadiran mereka. Bahkan beberapa media hiburan ikut memberitakannya.
Hampir tidak ada yang tidak mengetahui kabar tersebut.
Terutama setelah identitas calon tunangan Damian diumumkan.
Sophia.
Nama yang sebelumnya tidak pernah terdengar kini muncul di berbagai artikel dan pemberitaan.
Di ruang rias yang luas, Sophia duduk diam di depan cermin. Kedua tangannya bertumpu di atas paha. Jari-jarinya saling menggenggam erat.
Beberapa penata rias masih sibuk menyempurnakan penampilannya. Ada yang merapikan rambut, ada yang memeriksa gaun, dan ada pula yang memastikan setiap detail terlihat sempurna.
Sophia menatap bayangannya sendiri.
Sesaat ia bahkan merasa asing dengan wanita di dalam cermin itu.
Wajah yang dirias sempurna.
Perhiasan mahal.
Gaun yang nilainya mungkin setara dengan penghasilannya selama bertahun-tahun. Semua orang mengatakan dirinya beruntung.
Seorang gadis biasa yang tiba-tiba masuk ke dalam dunia yang selama ini hanya bisa dilihat dari kejauhan.
Di mata banyak orang, ia seperti burung pipit yang mendadak berubah menjadi phoenix.
Namun anehnya...
B e r s a m b u n g ....
Segini dulu, tangan Mimin kriting. Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (^‿^)