Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Adam yang sudah menjadi buronan akhirnya ditemukan oleh kepolisian dan juga kemiliteran, media sosial dan media massa bergerak mengawal semuanya dengan seksama bahkan kekuatan hukum yang dikerahkan tidak mampu membungkam mereka, bahkan demo besar-besaran terjadi di markas petinggi kemiliteran.
Mereka menuntut kasus Adam diselesaikan diselenggarakan oleh nasional tanpa ada batasan hukum.
Biah yang biasanya menggunakan jilbab panjang kini datang ke markas besar kemiliteran mengenakan seragam kebanggaannya .
Setelah memastikan anak-anaknya berada ditempat yang aman dan dia juga sudah membalas jasa orang yang telah menyematkan anaknya itu dan parahnya dia juga salah satu korban dari ayahnya dan bersedia bersaksi untuk menjadi lawan sang ayah dipengadilan nanti.
Biah dan semua tim yang dia buat bekerja keras membawa masalah ini sehingga berita nasional hanya menampilkan semua perbuatan Adam bahkan pihak kemiliteran kalang kabut sekarang karena mereka tahu jika mereka semua dalam bahaya sebab mereka semua berhubungan dengan pekerjaan kotor Adam selama ini.
"Apa yang kamu lakukan ini komandan Nurbiah?, jangan mencampur adukkan masalah pribadimu dengan instansi ini". Bentak Jendral Bram dengan penuh emosi.
Dia menatap berang kearah anak buahnya ini karena berani melakukan hal ini apalagi dia membuat kasus Adam dikawal langsung masyarakat dan itu membahayakan dirinya dan banyak petinggi elit kepolisian dan kemiliteran bahkan penegak hukum
Biah tetap dalam berdiri dalam pose keadaan istirahat sesuai instruksi sebelumnya.
"Saya tidak pernah mencampur adukkan masalah pribadi saya jendral, anda bisa melihat sendiri semua berita yang beredar, saya menjalankan tugas utama saya membongkar mafia hukum termasuk kita para anggota militer yang terlibat disana dan saya pastikan semuanya yang terlibat akan ikut terseret tanpa terkecuali siapapun itu". Jawabnya dengan dingin.
Bram menatap murka kearahnya, dia bahkan nyaris ingin menembak kepala perempuan dihadapannua ini karena berani melawannya tapi dia takut jika Biah mempersiapkan kejutan besar untuknya karena dia yakin perempuan ini penuh dengan rencana matang
"Saya atasanmu, jangan bicara sembarangan!!". Ucapnya dengan suara menggelegar.
Ruang ditempat ini terasa sangat panas dan tegang tapi Nurbiah tidak takut apalagi mundur, dia sudah punya banyak bukti dan semuanya lebih dari cukup membuat mereka semua ikut terseret bahkan jendral didepannya ini juga akan mendapatkan bagiannya nanti
"Maafkan saya jendral, saya memang harus patuh tapi saya memegang sumpah dan janji sebagai tentara untuk melindungi negeri, apalagi saya mendapatkan mandat langsung dari presiden bahkan sekelas jendral atau siapapun tidak bisa menghalangi saya untuk melakukan tugas saya". Jawab Biah dengan sangat dingin.
Dia mempertahankan posisinya tanpa takut sedikit pun, apalagi kini dia berada di area kekuasaan sang Jendral dan banyak anggota tentara yang tengah berjaga dan mendukung Bram.
"Kau". Ucapnya terbata-bata karena terkejut aksi anak buahnya itu.
Matanya membelalak sempurna, aksi itu begitu menghancurkan harga dirinya sebagai petinggi di kemiliteran khusus ini.
"Saya punya bukti, Jendral ikut dalam hilangnya nyawa ibu dan kedua adik saya, saya juga punya catatan hitam yang anda lakukan untuk membuat semuanya lenyap tanpa sisa, aku tidak hanya menegakkan keadilan hukum untuk negara tapi juga menuntut keadilan atas kepergian keluarga saya yang kalian lenyapkan tanpa belas kasih". Ucapnya semakin dingin
Bram memundurkan langkahnya karena mulai ketakutan, bagaimana bisa semuanya terbongkar padahal dia sudah menghapus jejak itu.
Dia dan Adam sudah membersihkan semua bukti yang ada tanpa tahu jika ada anak dan orang yang menyaksikan aksi mereka dan merekam nya sehingga bukti itu masih ada hanya saat itu biah tidak melihat langsung karena hanya melihat punggung itu.
"Jangan bicara omong kosong". Cicitnya pelan berusaha menjaga wibawanya. walau kini wajahnya memucat dan ketakutan setengah mati.
"Kita lihat saja Jendral, aku tidak hanya melakukan ini semua untuk menuntut balas tapi menegakkan hukum untuk semua yang kalian lakukan pada orang lain, kalian semua penegak hukum yang harus melindungi rakyat tapi keserakahan kalian membunuh orang tanpa ampun dan mereka semua warga kemiliteran dan sipil dan itu melanggar kode etik berat kemiliteran". Jawabnya tenang
Dia menatap sang jendral dengan mata berani dan penuh kesungguhan, senyum sinisnya terbit seperti seringai untuk membalas dan membuat Jendral ini ketakutan dan melakukan segala cara untuk menyerangnya itu memang bagian rencananya agar nantinya semua orang tahu kelakuan mereka tanpa dirinya bergerak bamuak
"Jangan omong kosong Komandan, kamu tahu apa akibatnya karena melawan kami?, kamu hanya seorang anak kecil dibanding kami dalam dunia ini, kamu tidak akan tahu apa yang kamu dapatkan saat kamu membongkar semuanya kamu pasti akan mati". Geramnya karena perempuan ini sangat keras kepala.
Dia akan melakukan segala cara untuk membungkam mulut sialan anak ini karena jika semua terbongkar habislah dia.
"Terserah apa yang anda katakan tapi ingat Jendral, sepandai-pandai manusia menyimpan bangkai pasti bau busuknya akan tercium juga, jadi jangan terlalu berbangga diri karena sudah berhasil menghilang kan bukti dan saksi karena Allah itu tidak tidur".
Bram memukul meja dengan keras dan menunjuk wajah komandan Biah dengan kasar, wajahnya memerah karena amarah yang meluap, emosinya sudah terpancing.
"Jangan banyak bicara komandan, aku akan melenyapkan kamu tanpa sisa begitu juga dengan anak-anak mu kamu tahu siapa kami, jadi kami tidak perlu bersembunyi lagi, kami akan bergerak melawan mu, kita lihat apa kamu bisa menang melawan petinggi Seperti kami".
Senyum sinis terbit diwajahnya kemudian dia hampir tertawa karena mendengar ancaman sang Jendral ksrena dia sudah mengantongi semua perbuatan mereka
"Silahkan saja lakukan apapun Jendral tapi aku pastikan anda kan ikut bersama tuan Adam kedalam sel karena negara sudah tahu kebejatan dirimu.
"Kurang ajar, ku tembak kepalamu". Bram menodongkan pistol itu kepada kepada Nurbiah dengan penuh emosi.
Semua yang ada disana langsung mengepung Biah tanpa ampun tapi dia tetap snagat santai seolah tidak terjadi apapun
Biah hanya terkekeh pelan melihat senjata diatas kepalanya kemudian menatap sang Jendral dengan tatapan mematikan dan berani
"Anda tidak akan berani Jendral karena saya sudah tahu kelemahan anda, jika anda bermain curang dan mengincar keluargaku, aku akan melakukan cara yang sama seperti anda lakukan, sekarang nyawa dibalas nyawa itulah saya inginkan"
"Apalagi Aku berdiri diatas kebenaran dan dukungan yang tidak bisa anda dan para petinggi disini dapatkan hanya karena anda adalah pemimpin, anda telah merampas banyak hidup teman-teman sejawat dan juga warga sipil, anda tidak akan bisa membungkam saya dan mereka setelah ini, bahkan presiden sudah turun tangan, permisi ".
Biah keluar dari ruangan itu membuat ruangan itu dipenuhi ketakutan, para petinggi yang berada disana kini saling menatap dan mulai gusar karena mereka semua juga terlibat.
"Kita harus melenyapkannya, bagaimana menurut kalian?".