Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Tiba-tiba, sebuah suara tawa anak kecil bergema dari arah rimbunan bambu di sebelah utara mereka.
Suara tawa itu terdengar sangat polos, namun di tengah situasi mematikan ini, tawa itu justru terdengar seperti panggilan dari dasar neraka.
"S-siapa di sana?! Jangan bersembunyi seperti pengecut! Keluar dan hadapi golokku!" raung Zhang Wei mencoba mengusir ketakutan di hatinya.
Bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan suara langkah kaki yang diseret pelan dari arah selatan di belakang kelompok mereka.
Sreeek... sreeek... sreeek...
Suara seretan kaki itu terdengar sangat dekat, seolah-olah ada sesuatu yang sedang berjalan tepat di belakang punggung mereka.
Salah satu murid yang berdiri di bagian belakang formasi lingkaran tidak tahan lagi dan segera menoleh ke belakang dengan panik.
Namun ia tidak melihat apa pun selain batang-batang bambu hitam yang berdiri kokoh.
Saat ia hendak menghembuskan napas lega dan memalingkan wajahnya kembali ke depan, sebuah wajah pucat pasi yang meneteskan darah tiba-tiba muncul terbalik tepat di depan matanya dari atas dahan bambu.
"AAAAARRRGGGHHH!" murid itu menjerit histeris hingga pita suaranya hampir robek dan langsung jatuh terduduk di tanah.
Ia menunjuk-nunjuk ke arah dahan bambu yang kosong karena wajah mengerikan itu telah menghilang dalam sekejap mata.
"Ada hantu! Kakak Zhang, ada hantu di atas dahan itu!" teriak murid itu sambil menangis tersedu-sedu dan memegangi kepalanya.
Kepanikan langsung menyebar seperti wabah penyakit menular di antara dua puluh murid tersebut.
Formasi lingkaran pertahanan yang mereka bangun seketika hancur berantakan karena mereka mulai saling menabrak dan meracau tak karuan.
Zhang Wei menampar murid yang menangis itu dengan sangat keras hingga murid itu memuntahkan giginya yang rontok.
"Tutup mulutmu, bodoh! Ini pasti hanya ilusi dari sihir iblis rendahan! Jangan biarkan ketakutan menguasai pikiran kalian!" bentak Zhang Wei dengan mata melotot merah.
Namun, peringatan Zhang Wei sudah sangat terlambat untuk menenangkan akal sehat mereka yang mulai runtuh.
Dari dalam bayangan tanah di bawah kaki mereka, belasan tangan pucat yang membusuk tiba-tiba menyembul keluar dan mencengkeram pergelangan kaki beberapa murid.
Tangan-tangan gaib itu sedingin balok es dan memancarkan aura kematian yang langsung melumpuhkan aliran Qi di dalam tubuh mereka.
"Kakiku! Sesuatu memegang kakiku!"
"Tolong aku! Tarik aku keluar dari cengkeraman benda ini!"
Jeritan bersahut-sahutan memenuhi hutan bambu yang sunyi saat lima orang murid diseret secara paksa ke dalam kegelapan rimbunan bambu.
Zhang Wei menebaskan golok besarnya ke arah tangan-tangan bayangan tersebut dengan sekuat tenaga dan mengalirkan seluruh energi spiritualnya.
Namun goloknya hanya menembus udara kosong dan mengenai tanah berbatu hingga memercikkan bunga api yang menyilaukan.
Tangan-tangan bayangan itu tidak memiliki tubuh fisik padat, membuat serangan konvensional menjadi tidak berguna sama sekali.
Dalam sekejap mata, kelima murid yang diseret itu telah menghilang sepenuhnya dari pandangan, hanya menyisakan jejak seretan di atas tanah berlumpur.
Beberapa detik kemudian, jeritan penderitaan yang sangat panjang dan menyayat hati terdengar dari arah rimbunan gelap tersebut.
Suara daging yang dirobek dengan kasar dan tulang yang dikunyah paksa bergema menembus telinga kelima belas murid yang tersisa.
Darah segar tiba-tiba menyiprat dari balik rimbunan bambu dan mengenai wajah Zhang Wei beserta murid-murid lainnya.
"Dewa Langit... kita semua akan mati di sini... ini bukanlah musuh yang bisa kita kalahkan," gumam salah satu murid sambil menjatuhkan pedangnya dengan tatapan kosong.
Keputusasaan absolut kini benar-benar telah menelan habis keberanian seluruh anggota patroli tersebut.
Mereka tidak lagi peduli dengan perintah Zhang Wei dan langsung berbalik arah untuk melarikan diri secara membabi buta ke segala arah.
"Kembali ke sini, kalian para pengecut anjing! Jangan tinggalkan formasi!" teriak Zhang Wei dengan panik saat melihat anak buahnya lari kocar-kacir.
Namun, melarikan diri dari wilayah perburuan Lin Ye adalah sebuah kemustahilan yang sangat mutlak.
Setiap murid yang berlari menjauh langsung dihadang oleh dinding kabut hitam tebal yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah.
Dari balik dinding kabut hitam itu, puluhan mata merah menyala menatap mereka dengan rasa lapar yang tak berujung.
Lin Ye melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan sangat anggun, bagaikan seorang raja yang sedang berjalan memeriksa halaman istananya.
Setiap kali kakinya menyentuh tanah, gelombang energi Yin purba menyapu ke segala arah dan membekukan udara di sekitarnya.
Ia berjalan menembus kabut hitam yang langsung menyingkir dan membuka jalan untuknya dengan penuh rasa hormat.
Kelima belas murid yang tersisa, termasuk Zhang Wei, langsung membeku di tempat saat melihat sosok pemuda berjubah abu-abu yang melangkah mendekati mereka.
Wajah pucat yang sedingin es abadi itu sangat familiar di ingatan mereka, wajah seorang sampah yang selalu mereka tindas dan ludahi.
Namun kini, sosok yang mereka sebut sampah itu memancarkan aura tekanan dari tahap kelima Alam Pengumpulan Qi yang bercampur dengan dominasi kematian murni.
"L-Lin Ye... b-bagaimana mungkin kau... aura ini... kau adalah kultivator iblis itu?!" gagap Zhang Wei dengan kaki yang bergetar hebat.
Mulutnya menganga lebar karena syok yang teramat sangat menyadari bahwa dalang dari semua pembantaian mengerikan ini adalah pemuda cacat di depannya.
Lin Ye berhenti melangkah sekitar sepuluh meter di hadapan mereka, menatap sekumpulan manusia putus asa itu dengan pandangan datar.
"Sepertinya ingatanmu masih cukup bagus untuk mengenali wajah sampah yang selalu kau pukuli demi batu spiritual rendahanmu, Zhang Wei."
Suara Lin Ye terdengar sangat tenang, namun setiap suku katanya membawa getaran kematian yang langsung menusuk ke dalam jantung mereka.
"Kau... kau membunuh Kakak Zhao Ming dan para penjaga itu... KAU IBLIS JAHANAM!" raung Zhang Wei mencoba menutupi ketakutannya dengan kemarahan buas.
Zhang Wei mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya dan menerjang ke arah Lin Ye dengan ayunan golok raksasa yang membelah udara.
Ini adalah serangan bunuh diri dari seseorang yang sudah tahu bahwa tidak ada jalan keluar lagi dari tempat ini.
Lin Ye hanya mendengus pelan dengan penuh penghinaan dan sama sekali tidak menghindar dari tebasan maut tersebut.
Ia mengaktifkan Langkah Hantu Bayangan, dan tubuhnya seketika berubah menjadi kabut hitam transparan.
Golok raksasa Zhang Wei menebas tepat menembus bayangan Lin Ye tanpa memberikan luka sedikit pun, membuat Zhang Wei kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan.
Di saat yang sama, sosok fisik Lin Ye tiba-tiba bermanifestasi tepat di belakang punggung Zhang Wei bagaikan hantu sesungguhnya.
Tangan kanan Lin Ye yang telah diselimuti oleh aura hitam mematikan langsung menembus punggung Zhang Wei dengan sangat mudah layaknya merobek secarik kertas.
Suara tulang rusuk yang patah dan daging yang ditembus terdengar sangat menjijikkan di telinga para murid yang menonton.
Tangan Lin Ye keluar dari dada depan Zhang Wei, memegang sebuah jantung manusia yang masih berdetak kencang dan berlumuran darah segar.
Mata Zhang Wei melotot lebar melihat jantungnya sendiri berada di genggaman pemuda yang selalu ia hina di masa lalu.
"I-ini... tidak... m-mungkin..." gumam Zhang Wei dengan darah hitam yang menyembur keluar dari mulutnya bagaikan air mancur.
Lin Ye meremas jantung itu hingga hancur meledak menjadi serpihan daging di tangannya dengan wajah yang sama sekali tidak berubah.
Tubuh kekar Zhang Wei langsung roboh ke tanah, tak bernyawa dengan lubang besar menganga di dadanya.
Keempat belas murid lainnya langsung berlutut serentak di atas tanah sambil menangis histeris dan memohon ampun dengan membenturkan kepala mereka ke bebatuan.
"Tuan Lin Ye! Ampuni kami! Kami hanyalah bawahan yang disuruh oleh Zhang Wei! Kami bersumpah akan menjadi anjing peliharaanmu!" jerit mereka dengan suara serak.
Lin Ye menarik tangannya yang berlumuran darah dan mengibaskannya ke udara dengan tatapan penuh rasa jijik.
"Kalian terlalu kotor untuk menjadi anjingku, bahkan jiwa kalian hanya pantas menjadi makanan rendahan bagi pasukanku," balas Lin Ye dengan suara mematikan.
Lin Ye tidak repot-repot untuk membunuh mereka dengan tangannya sendiri karena itu hanya akan membuang-buang waktunya.
Ia mengibaskan lengan jubahnya, memberikan perintah tanpa suara kepada puluhan jiwa penasaran yang bersembunyi di dalam kabut.
"Makan mereka."
Seketika itu juga, jeritan paling mengerikan yang pernah terdengar di Benua Awan Ilahi menggema dari dalam hutan bambu tersebut.
Bayangan-bayangan hitam menerjang secara membabi buta, mencabik-cabik daging, merobek anggota tubuh, dan memakan jiwa-jiwa kelima belas murid tersebut hidup-hidup.
Darah segar mengalir deras mewarnai tanah berlumpur hutan bambu menjadi danau merah yang pekat dan berbau anyir.
Lin Ye berdiri di tengah lautan pembantaian itu sambil menyerap puluhan jiwa penasaran yang baru terbentuk ke dalam dantiannya.
Energi kultivasinya langsung bergolak hebat layaknya badai topan, menembus batas tahap kelima dan langsung melesat masuk ke tahap keenam Alam Pengumpulan Qi dengan mudah.
Aura kematian yang memancar dari tubuhnya semakin kuat dan menekan, membuat pepohonan bambu di sekitarnya layu dan mati dalam hitungan detik.
Layar sistem kembali muncul di depannya dengan notifikasi emas yang berkedip terang.
"Penyerapan Jiwa Massal berhasil."
"Kultivasi inang berhasil menembus Tahap Keenam Alam Pengumpulan Qi."
"Mendeteksi aura kekuatan besar yang mendekat dari arah pelataran dalam sekte."
Lin Ye menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih di tengah wajahnya yang pucat dan diselimuti bayangan darah.
"Sepertinya tamu kehormatan dari pelataran dalam sudah tiba untuk menjemput kematiannya," gumam Lin Ye dengan mata yang berkilat tajam.
Ia memerintahkan pasukan bayangannya untuk kembali ke dalam tubuhnya dan menggunakan darah Zhang Wei untuk menulis pesan baru di salah satu batang bambu raksasa.
"Pintu neraka terbuka untukmu, Chu Yan."
Setelah meninggalkan pesan kematian tersebut, sosok Lin Ye kembali melebur ke dalam bayangan hitam hutan bambu, menghilang tanpa jejak.
Ia bersiap menyambut mangsa sesungguhnya yang akan menjadi pijakan utamanya untuk menghancurkan Sekte Pedang Surgawi dari akarnya.