Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Penulis Gagal dan Buku Seharga Satu Unit Apartemen
Gedung Adhitya Publishing & Media tampak begitu megah di bawah sinar matahari pagi, sebuah menara kaca yang mencerminkan dominasi keluarga Adhitya di dunia literasi dan informasi. Namun, bagi Rizky Adhitya, gedung ini lebih dari sekadar aset bisnis. Baginya, tempat ini adalah altar penebusan atas rasa sakit hatinya di masa lalu sebagai seorang penulis yang selalu gagal diterbitkan.
Rizky melangkah masuk ke lobi utama dengan langkah ringan dan wajah yang sangat periang, kontras dengan reputasi tubuh aslinya yang dikenal dingin dan kejam. Di belakangnya, Rafa Ariyanto berjalan dengan bahu merosot, memegangi sebuah tas koper yang berisi dokumen-dokumen yang siap membuat jantung siapa pun berhenti berdetak.
"Tuan Muda, saya mohon... pertimbangkan kembali," bisik Rafa dengan nada meratap. "Mencetak satu juta eksemplar novel 'tak populer' dengan sampul kulit domba asli dan tinta emas? Itu bukan bisnis, itu namanya membuang uang ke laut!".
Rizky tertawa terbahak-bahak, menepuk punggung Rafa hingga asistennya itu terbatuk. "Rafa, kamu masih belum mengerti! Justru karena itu membuang uang, maka itu sangat menyenangkan! Ingat, aku tidak mencari keuntungan, aku mencari kepuasan!".
Sebagai mantan penulis miskin, Rizky tahu betul rasanya draf novelnya dilempar ke tong sampah oleh editor karena dianggap "tidak memiliki nilai jual". Sekarang, setelah ia memiliki Kartu Hitam Tanpa Batas dan kendali penuh atas perusahaan penerbitan ibunya, Yeti Adhitya, ia akan menunjukkan pada dunia apa artinya "menulis tanpa batas".
Rizky memasuki ruang rapat utama di mana para editor senior sudah berkumpul dengan wajah pucat. Mereka sudah mendengar desas-desus bahwa Tuan Muda mereka yang baru kini sangat eksentrik.
"Selamat pagi, para pecinta kata-kata!" sapa Rizky sambil duduk di kursi pimpinan dan mengangkat kakinya ke atas meja marmer tersebut dengan santai. "Hari ini adalah hari bersejarah. Aku ingin kalian menerbitkan novel ini."
Rizky meletakkan sebuah draf tebal berjudul "Gerimis Sembilan Februari" di atas meja. Itu adalah draf novel yang di dunia aslinya telah ditolak oleh 50 penerbit berbeda.
Kepala Editor, seorang pria berkacamata bernama Pak Gunawan, mengambil draf itu dengan tangan gemetar. Ia membacanya sekilas dan mengerutkan kening. "Umm... Tuan Muda, temanya sangat... melankolis dan tidak mengikuti tren pasar saat ini. Biasanya pembaca lebih suka tema pahlawan seperti karya Rama Wijaya—"
Mendengar nama Rama Wijaya, mata Rizky berkilat penuh humor. "Rama Wijaya? Pahlawan munafik itu? Tidak, tidak. Mulai sekarang, semua buku Rama di toko kita akan dipindahkan ke bagian 'Buku Diskon 99%' atau lebih baik lagi, dijadikan bungkus gorengan di kantin.".
"Tapi Tuan Muda, itu akan merusak kontrak kita dengan—"
"Aku pemiliknya sekarang, Gunawan! Aku adalah hukum di sini!" seru Rizky dengan tawa periang. "Dengarkan instruksiku: Cetak novel ini sebanyak satu juta eksemplar. Aku ingin sampulnya menggunakan kain sutra Italia, judulnya diembos dengan emas murni, dan setiap buku harus memiliki pembatas buku dari perak. Aku ingin setiap buku ini dijual dengan harga seratus juta rupiah!".
Seluruh ruangan hening seketika. Rafa bahkan harus menyandarkan tubuhnya ke dinding agar tidak pingsan.
"Seratus juta per buku? Siapa yang mau beli, Tuan Muda?" tanya Gunawan lirih.
"Tidak ada yang beli? Bagus! Kalau tidak ada yang beli, aku akan membelinya sendiri menggunakan kartu hitamku dan membagikannya secara gratis di setiap persimpangan jalan!" Rizky menyeringai lebar. "Aku ingin setiap orang di negeri ini memegang karyaku, meskipun mereka hanya menggunakannya untuk alas duduk. Yang penting, namaku sebagai penulis terpampang di mana-mana!".
[Ding! Transaksi Gila Terdeteksi!] [Inang telah menghamburkan 500 Miliar Rupiah untuk penerbitan buku yang tidak masuk akal secara ekonomi!] [Tingkat Kepuasan: Maksimal!] [Hadiah: Peningkatan Atribut 'Kecerdasan Literasi' dan Skill: 'Aura Penulis Agung'!]
Rizky merasakan gelombang energi mengalir ke tubuhnya. Tiba-tiba, ia merasa bisa menulis sepuluh novel best-seller dalam semalam. Namun, tujuannya bukan menjadi sukses secara konvensional; ia hanya ingin menikmati kehidupan mewahnya sambil merusak alur asli novel yang membosankan ini.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan cetak massal itu, pintu ruang rapat terbuka. Aprillia Rahma masuk dengan ekspresi yang merupakan campuran antara kemarahan dan kebingungan. Ia telah mendengar berita bahwa Rizky membuang-buang uang perusahaan untuk hal yang dianggap sampah oleh publik.
"Rizky! Apa-apaan ini?" April melempar brosur promosi buku Rizky ke meja. "Satu juta eksemplar? Seratus juta per buku? Apakah kamu benar-benar ingin menghancurkan warisan ibumu demi sebuah lelucon?".
Rizky bangkit dan mendekati April dengan senyum yang sangat santai. Ia tidak lagi mengejar April dengan tatapan obsesif seperti dulu, yang membuat April justru merasa bimbang.
"April, sayangku... oh, maksudku mantan tunanganku," Rizky mengoreksi dirinya sendiri sambil tertawa kecil. "Ini bukan lelucon. Ini adalah seni. Kamu tahu berapa biaya untuk membuat satu juta orang membaca kata-kataku? Itu tak ternilai harganya. Lagipula, bukankah aku terlihat sangat tampan saat sedang menghamburkan uang?".
April menatap Rizky, mencoba mencari jejak kegelapan di matanya, namun yang ia temukan hanyalah sosok pria periang yang seolah tidak memiliki beban. "Kamu sudah gila. Rama bilang kamu sedang mengalami gangguan jiwa karena tekanan keluarga—"
"Rama?" Rizky menyeringai. "Berbicara tentang si hero munafik itu, Rafa! Berapa biaya untuk menyewa semua baliho di sepanjang jalan menuju rumah Rama?".
Rafa melihat tabletnya dengan wajah pasrah. "Sekitar sepuluh miliar per bulan, Tuan Muda."
"Bagus! Pasang poster bukuku di sana dengan tulisan raksasa: 'Rama Wijaya, Bacalah Buku Ini Agar Kamu Tahu Cara Menulis Tanpa Plagiasi'. Pakai kartu hitamku!".
April terpaku. Strategi sabotase Rizky terhadap Rama bukan lagi dilakukan dengan kekerasan, melainkan dengan "trolling" finansial yang sangat mempermalukan. Ia mulai merasa bahwa Rizky jauh lebih menarik dan berbahaya dalam versi periangnya ini daripada saat ia menjadi antagonis dingin dulu.
Seminggu kemudian, seluruh negeri gempar. Buku "Gerimis Sembilan Februari" benar-benar diterbitkan dengan kemewahan yang tak masuk akal. Karena tidak ada orang waras yang mau membeli buku seharga seratus juta, Rizky melakukan apa yang ia janjikan: ia menyewa sepuluh ribu orang untuk memborong bukunya sendiri dan membagikannya secara cuma-cuma di jalanan, sekolah, dan panti asuhan.
Rizky duduk di balkon apartemennya, menatap ke arah jalan raya di mana orang-orang sedang memegang bukunya dengan ekspresi tak percaya.
"Dulu aku memohon pada penerbit agar drafku dibaca, sekarang mereka membacanya karena aku membayar mereka untuk itu," gumam Rizky sambil menyesap anggur mahalnya. "Kekuasaan uang memang luar biasa.".
[Ding! Misi 'Ego Penulis' Selesai!] [Sabotase Reputasi Rama Wijaya Berhasil: Rama dituduh plagiat oleh netizen karena membandingkan bukunya dengan buku Inang yang lebih mendalam.] [Hadiah: Poin Hedon +50.000 dan Voucher 'Membeli Takdir'!]
Rafa masuk ke ruangan dengan laporan baru. "Tuan Muda... buku Anda... entah bagaimana, kritikus sastra mulai memujinya karena dianggap sebagai 'sindiran tajam terhadap kapitalisme' dan 'eksperimen seni tingkat tinggi'. Sekarang orang-orang benar-benar berebut untuk membelinya dengan harga asli!".
Rizky tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. "Mereka memujiku? Padahal aku hanya ingin menghamburkan uang! Rafa, kalau begitu naikkan harganya jadi dua ratus juta! Aku tidak ingin buku ini jadi terlalu populer di kalangan orang biasa, ini harus tetap menjadi buku paling eksklusif di dunia!".
Rafa hanya bisa menjatuhkan kepalanya ke meja. Baginya, bekerja dengan Rizky Adhitya yang baru adalah petualangan finansial yang lebih mengerikan daripada kiamat. Namun, bagi Rizky, ini hanyalah bab baru dalam ceritanya sebagai Antagonis Sultan yang paling bahagia, yang berhasil mengubah kegagalan masa lalunya menjadi sebuah pesta kemewahan yang tak tertandingi.
Sementara itu, di kediamannya, Rama Wijaya menatap poster raksasa Rizky di depan jendela kamarnya dengan kemarahan yang meluap. Ia merasa panggung utamanya telah dicuri oleh seorang pria yang hanya tahu cara menggesek kartu. Dan jauh di dalam hatinya, Aprillia Rahma mulai bertanya-tanya, apakah ia benar-benar ingin melepaskan pria "gila" yang baru saja membuat dunia literasi bertekuk lutut di bawah kakinya?