NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Wajah Baru yang Menyembunyikan Niat

Setelah masa pemulihan dan kemenangan atas Klan Elang, suasana di lingkungan Klan Felix kembali tenang dan tertib. Jalur perdagangan dibuka kembali, keamanan diperketat, dan kesejahteraan anggota serta warga di wilayah kekuasaannya perlahan membaik. Bagi Zerrin, ini adalah momen yang sangat dibutuhkan untuk menarik napas panjang, mengatur kembali rencana jangka panjang, dan lebih fokus menjalani kehidupan sehari-hari sebagai Claudia Ramirez.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Seolah sudah menjadi hukum alam, setiap kali satu tantangan berakhir, tantangan lain akan segera muncul kadang datang dari arah yang paling tidak terduga.

Di sekolah tempat Claudia belajar, awal tahun ajaran baru telah dimulai. Seperti biasa, setiap pergantian periode selalu ada siswa-siswa baru yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang. Namun kedatangan kelompok kali ini langsung menarik perhatian seluruh penghuni sekolah sejak hari pertama mereka melangkah masuk ke gerbang.

Mereka terdiri dari empat orang pemuda yang memiliki penampilan luar biasa: tinggi tegap, berpenampilan rapi namun tetap memancarkan wibawa alami, dan tatapan mata yang terlihat lebih tajam serta penuh pengalaman dibandingkan siswa seusianya. Di samping mereka berjalan seorang gadis yang terlihat sangat kontras bertubuh mungil, berwajah manis, rambutnya terurai lembut, dan berjalan dengan langkah yang terlihat ragu-ragu seolah takut menabrak siapa pun.

Kelima siswa baru ini langsung menjadi pusat perhatian. Para siswi lain menatap keempat pemuda itu dengan pandangan kagum dan penasaran, sementara para siswa lain merasa tersaingi, bertanya-tanya siapa sebenarnya mereka dan dari mana asalnya.

Claudia yang duduk di bangku kelasnya dan melihat kedatangan mereka dari kejauhan langsung merasakan sesuatu yang tidak biasa. Instingnya yang telah terasah selama puluhan tahun sebagai pemimpin klan segera memberikan peringatan ada sesuatu yang tersembunyi di balik penampilan mereka yang biasa saja.

“Mereka tidak terlihat seperti siswa biasa yang baru pindah,” gumam Claudia pelan, cukup hanya didengar oleh dirinya sendiri. “Ada tekanan dan kekuatan yang terasa dari mereka, seolah mereka terbiasa hidup di lingkungan yang penuh persaingan dan bahaya.”

Tak lama kemudian, dalam upacara perkenalan siswa baru, nama-nama mereka disebutkan satu per satu.

Keempat pemuda itu bernama Raka Pratama, Dimas Ardiansyah, Bima Setiawan, dan Galang Saputra. Namun yang paling menarik perhatian Claudia adalah Raka , dia adalah pemimpin tak terucapkan dari kelompok itu, memiliki tatapan yang paling tajam, dan gerak-geriknya menunjukkan kebiasaan memerintah dan membuat keputusan.

Sementara itu, gadis yang berjalan di samping mereka bernama Sinta Melati. Saat diperkenalkan, dia menundukkan kepalanya dengan lembut, berbicara dengan suara sangat pelan dan lembut seolah takut didengar banyak orang.

“Saya… saya Sinta Melati. Senang bisa bergabung di sekolah ini. Mohon bimbingan dan maaf jika saya banyak kekurangan…” ucapnya dengan nada yang terdengar sangat polos dan tidak berdaya, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa ingin melindungi dan menolongnya.

Namun, saat Sinta mengangkat wajahnya sebentar untuk menatap sekeliling ruangan, pandangan Claudia menangkap kilatan yang sangat samar di matanya kilatan yang bukan kepolosan, melainkan kecerdikan dan perhitungan yang tersembunyi rapat. Hanya seseorang yang juga terbiasa menyembunyikan identitas dan niat yang bisa menangkap perbedaan halus seperti itu.

“Jadi dia juga memakai topeng,” batin Claudia dengan pandangan yang semakin waspada. “Terlihat seperti korban yang lemah, tapi sebenarnya dia adalah orang yang tahu cara memanfaatkan rasa kasihan orang lain untuk keuntungannya sendiri.”

Setelah upacara selesai, keempat pemuda itu ditempatkan di kelas yang sama dengan Claudia, sementara Sinta juga ditempatkan di kelas yang berdekatan. Sejak hari pertama itu, dinamika di sekolah mulai berubah.

Raka dan teman-temannya dengan cepat mendapatkan rasa hormat dan perhatian dari semua orang. Mereka cerdas dalam pelajaran, terampil dalam olahraga, dan selalu bertindak sopan namun tegas. Tidak ada yang berani mengganggu mereka, dan siapa pun yang mencoba mendekat selalu merasa ada batasan yang tidak boleh dilewati.

Namun, bagi Claudia, perhatian utamanya tetap tertuju pada Raka. Melalui pengamatan diam-diam dan informasi yang ia kumpulkan secara perlahan, kebenaran mulai terungkap Raka Pratama adalah putra dari Paman Hendra Pratama, pemimpin Klan Black Phantom, sebuah kelompok yang jauh lebih besar, lebih berpengaruh, dan memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibandingkan Klan Felix. Klan Black Phantom menguasai wilayah perdagangan utama di seluruh pulau dan memiliki hubungan dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri.

Mendengar hal ini, hati Claudia terasa sedikit tertekan namun tidak panik. Ia tahu bahwa kehadiran Raka bukanlah kebetulan semata. Jika putra pemimpin klan sebesar itu dikirim ke sekolah yang sama, pasti ada tujuan tertentu di baliknya apakah itu sekadar mengamati situasi, membangun hubungan, atau bahkan mengawasi dan menilai Klan Felix yang baru saja bangkit kembali.

“Klan Black Phantom adalah kekuatan yang harus kita hormati, tapi juga waspadai,” ujar Zerrin saat membahas hal ini dengan Tuan Han malam harinya. “Mereka tidak akan bertindak sembarangan, namun setiap langkah mereka pasti memiliki tujuan yang jelas. Kita harus bersikap sopan namun tetap menjaga jarak, tidak membuka terlalu banyak informasi, namun juga tidak menimbulkan kesan bermusuhan.”

Sementara itu, di lingkungan sekolah, sifat asli Sinta mulai terlihat sedikit demi sedikit, meskipun hampir tidak ada orang lain yang menyadarinya selain Claudia.

Sinta terus memainkan perannya sebagai gadis yang lemah, tidak berdaya, dan selalu merasa tersakiti. Setiap kali ada hal kecil yang tidak sesuai keinginannya, dia akan terlihat sedih, menunduk, dan berbicara dengan nada yang membuat orang lain merasa bersalah.

Suatu hari, saat jam istirahat, Sinta sengaja mendekati meja tempat Claudia, Arjuna, dan teman-temannya duduk. Dia membawa nampan makanan, lalu tiba-tiba “terpeleset” sedikit, sehingga minumannya tumpah ke lantai dan sedikit mengenai ujung baju Arjuna.

Dia langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca seolah ingin menangis.

“Aduh… maafkan aku! Aku tidak sengaja! Aku benar-benar ceroboh, pasti kau marah padaku ya?” ucapnya dengan suara terguncang, membuat Arjuna segera berdiri dan merasa tidak enak.

“Tidak apa-apa, Sinta, itu hanya kecelakaan kecil saja. Jangan dipikirkan,” jawab Arjuna segera mencoba menenangkannya.

Namun, Sinta justru semakin terlihat sedih, lalu menoleh ke arah Claudia dengan pandangan yang seolah meminta dukungan. “Aku… aku takut kalau ada yang membenciku karena sering berbuat salah. Aku tidak tahu harus berbuat apa…”

Claudia menatapnya dengan tenang, tidak terburu-buru memberi rasa kasihan berlebihan. Dia melihat dengan jelas bahwa kaki Sinta tidak terpeleset sama sekali, dan gerakannya dilakukan dengan sangat terukur.

“Tidak ada yang membencimu, Sinta,” jawab Claudia dengan nada datar namun sopan. “Setiap orang bisa membuat kesalahan. Yang penting adalah berhati-hati ke depannya.”

Jawaban itu tidak seperti yang diharapkan Sinta. Dia berharap mendapatkan belaian dan kata-kata yang lebih lembut, namun justru mendapatkan tanggapan yang dingin dan tidak terlibat secara emosional. Untuk sesaat, tatapan matanya berubah menjadi tajam dan kecewa, namun dengan cepat dia kembali memasang ekspresi sedih dan lembut.

“Terima kasih, Claudia… aku akan berusaha lebih baik lagi,” jawabnya pelan, lalu pergi dengan langkah yang terlihat berat.

Sejak kejadian itu, Sinta mulai merasa bahwa Claudia adalah satu-satunya orang yang tidak mudah terperangkap dalam perannya. Hal ini membuatnya merasa terganggu dan mulai memandang Claudia sebagai hambatan yang harus disingkirkan, meskipun dia tetap menyembunyikan niatnya dengan baik.

Di sisi lain, Raka juga mulai memperhatikan Claudia. Meskipun dia bersikap sopan kepada semua orang, dia merasa ada sesuatu yang berbeda pada gadis ini. Claudia tidak terpesona oleh penampilan atau statusnya, tidak berusaha mendekat untuk mencari keuntungan, dan selalu bersikap tenang serta percaya diri seolah dia memiliki kekuatan yang setara meskipun terlihat hanya sebagai gadis sekolah biasa.

Suatu sore, saat mereka berdua kebetulan bertemu sendirian di perpustakaan sekolah, Raka mendekat dengan senyum sopan namun tatapannya tetap tajam.

“Kau adalah Claudia Ramirez, bukan?” tanyanya lembut. “Aku sering mendengar namamu, dan melihat bagaimana kau bertindak. Kau terlihat berbeda dari siswa lain di sini.”

Claudia mengangkat kepalanya, menatap Raka dengan pandangan yang setara, tidak terlihat gugup atau terkesan berlebihan. “Terima kasih atas pujiannya, Raka. Aku hanya berusaha menjalani hari-hari dengan baik seperti orang lain.”

Raka tersenyum tipis, menyadari bahwa gadis ini tidak mudah dibaca. “Keluargaku bergerak di bidang usaha yang cukup luas, dan aku sering diajari untuk melihat orang dari cara mereka bersikap, bukan dari apa yang mereka katakan. Aku merasa ada sesuatu yang lebih dalam pada dirimu, Claudia. Apakah kita bisa menjadi teman yang saling memahami?”

Claudia menjawab dengan bijaksana, tetap menjaga batas. “Tentu saja, kita bisa berteman. Namun, setiap orang memiliki urusan dan kehidupan masing-masing. Aku berharap kita bisa saling menghormati ruang dan batasan satu sama lain.”

Percakapan singkat itu membuat Raka semakin yakin bahwa Claudia bukan orang biasa. Namun dia juga sadar bahwa dia tidak boleh terburu-buru mengungkapkan tujuan sebenarnya kehadirannya di kota ini.

Malam itu, Raka berbicara melalui saluran komunikasi rahasia dengan ayahnya, Paman Hendra.

“Ayah, aku sudah sampai dan melihat situasinya. Klan Felix memang sudah bangkit kembali, dan pemimpin baru mereka terlihat sangat cakap dan tegas. Namun ada satu hal yang menarik perhatianku ada gadis bernama Claudia Ramirez yang memiliki kehadiran yang tidak biasa, meskipun latar belakangnya terlihat hanya sebagai keluarga pengusaha lokal.”

Suara dari ujung sana terdengar berat namun tenang. “Amati saja, Raka. Kita tidak datang untuk bermusuhan, tapi untuk melihat apakah mereka bisa menjadi mitra yang bisa dipercaya atau justru menjadi ancaman. Ingat, kekuasaan besar tidak hanya dilihat dari seberapa banyak pasukan yang dimiliki, tapi juga dari seberapa bijak mereka mengelola hubungan dan menjaga keseimbangan. Jangan terlibat dalam konflik yang tidak perlu, tapi tetap awasi setiap gerakan.”

“Baik, Ayah. Aku akan mengikuti perintahmu.”

Sementara itu, di sisi lain, Sinta juga tidak diam. Dia mulai menyusun rencana kecil untuk menguji dan menjatuhkan posisi Claudia secara diam-diam. Dia tahu bahwa selama dia terlihat sebagai gadis yang lemah dan teraniaya, semua orang akan percaya padanya lebih dulu jika terjadi masalah.

“Jika dia tidak mau menjadi teman yang baik, maka dia harus menjadi sasaran yang mudah untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya menguasai situasi ini,” gumam Sinta dalam hati dengan senyum licik yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Kehadiran kelompok baru ini membawa angin perubahan yang tidak terduga. Di satu sisi, ada kekuatan besar yang datang untuk mengamati dan menilai; di sisi lain, ada musuh yang berjalan di samping dalam bentuk yang paling tidak mencurigakan.

Zerrin kini harus menghadapi tantangan baru yang lebih halus dan rumit bukan lagi pertempuran dengan senjata atau kekerasan, melainkan permainan intrik, kesan, dan kepercayaan, baik di dunia klan maupun di lingkungan sekolah.

Ia menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan pernah benar-benar tenang, namun justru di tengah tantangan itulah ia akan terus mengasah kebijaksanaannya, menjaga keseimbangan antara dua identitas yang dimilikinya, dan membuktikan bahwa ia mampu menghadapi segala bentuk bahaya, baik yang terlihat jelas maupun yang tersembunyi di balik topeng kepolosan.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!