NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#27

Seminggu telah berlalu sejak badai di ruang isolasi Rumah Sakit Pusat Stone.

Selama tujuh hari itu pula, Chicago tampak tenang di permukaan, namun di bawah tanah, Martin Luther Stone telah menggerakkan seluruh pion hukum dan jaringan intelijennya untuk menabur bom waktu.

Dan pagi ini, bom itu meledak tepat di atas meja makan mewah kediaman utama keluarga Daendels.

Sebuah dokumen resmi bersampul hukum dengan logo firma hukum terbaik milik dinasti Stone telah mendarat.

Isinya sangat mutlak: gugatan perceraian atas nama Suzanne Klatten terhadap Willem Daendels, lengkap dengan tuntutan pengembalian seluruh aset nama baik serta bukti-bukti otentik mengenai perselingkuhan dan penelantaran.

Gilanya lagi, dokumen itu tidak dikirimkan ke apartemen Willem, melainkan langsung ke Mansion mewah orang tua Willem—Tuan besar dan Nyonya Daendels.

Membaca isi berkas dan melihat siapa di balik pengacara yang melayangkan gugatan tersebut, Tuan Daendels seketika terkena serangan panik sekaligus murka yang luar biasa.

Keluarga Stone bukanlah lawan yang bisa mereka hadapi. Melepaskan Suzanne berarti memicu perang terbuka dengan penguasa kota Chicago.

Tanpa membuang waktu, Tuan dan Nyonya Daendels langsung meminta sopir pribadi mereka untuk melesat menuju kantor pusat Daendels Group.

Sepanjang jalan, amarah mereka berdua sudah berada di ubun-ubun.

Sementara itu, di dalam ruang kerja eksekutifnya yang megah di lantai atas gedung Daendels Group, Willem sama sekali tidak menyadari bahwa ajalnya sebagai seorang pebisnis sudah berada di depan pintu.

Pria itu tampak bersandar di kursi kebesarannya, melonggarkan dasinya dengan tatapan penuh gairah.

Di atas pangkuannya, Lydia duduk dengan posisi yang teramat intim, mengenakan gaun ketat yang sengaja disingkap hingga ke paha.

Mereka sedang bermesraan, saling bertukar ciuman panas dan bersiap untuk bercinta di atas meja kerja, mengabaikan fakta bahwa ini masih jam kantor.

Brakkk!!!

Pintu ganda ruang kerja itu ditendang terbuka dari luar dengan sentakan yang begitu keras hingga nyaris terlepas dari engselnya.

Willem dan Lydia tersentak kaget. Lydia memekik tertahan dan dengan panik mencoba membenarkan letak gaunnya, sementara Willem langsung berdiri dengan wajah memerah karena aktivitas panasnya terganggu.

Namun, kemarahan Willem seketika membeku menjadi ketakutan saat melihat sosok sang ayah dan ibunya melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah yang menghitam karena murka.

"Pantas saja kau dengan begitu mudahnya melepaskan istrimu, anak tidak tahu diri!" Guntur suara Tuan Daendels menggelegar hebat, memecah keheningan ruangan kerja yang luas itu.

Ia melemparkan map dokumen perceraian dari keluarga Stone tepat ke wajah Willem hingga kertas-kertasnya berserakan di atas lantai.

"Ternyata di balik punggungku, kau sedang bersenang-senang dan mengotori kantormu dengan seorang jalang!"

"Duarrr!"

Kata-kata kasar yang keluar dari mulut sang ayah seketika membuat harga diri Willem tercabik.

Ego prianya meradang. Ia melangkah maju, mencoba melindungi Lydia yang kini berdiri di belakang tubuhnya.

"Dad! Jaga ucapanmu! Dia bukan jalang, dia kekasihku! Lydia adalah wanita yang kucintai jauh sebelum aku dipaksa menikahi Suzanne!" teriak Willem, mencoba membalas gertakan ayahnya dengan sisa keberanian yang ia miliki.

"Kekasih? Kau bilang wanita ini kekasihmu? Kau benar-benar gila, Willem!" Tuan Daendels tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan penghinaan dan rasa muak yang teramat mendalam.

Di detik inilah, sebuah kebenaran menjijikkan yang menjadi alasan utama mengapa Tuan Daendels tidak pernah merestui hubungan putranya dengan Lydia sejak bertahun-tahun lalu akhirnya terkuak ke permukaan.

Tuan Daendels melangkah mendekat, menunjuk wajah Lydia dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa jijik yang mutlak.

"Kau mengagungkan wanita ini, Willem? Kau sangat bodoh! Rekan-rekan bisnisku di klub malam, bahkan para investor yang mendanai proyekmu, sudah sering menikmati tubuh jalang ini jauh sebelum kau membawanya masuk ke dalam hidup mu!"

DUAARRRR!!!

Bagai dihantam petir di siang bolong, seluruh sendi di tubuh Willem mendadak lemas. Ia menoleh perlahan ke arah Lydia dengan tatapan tidak percaya, meminta penjelasan.

Lydia yang rahasia kelamnya dibongkar secara gamblang di depan kekasihnya seketika mengubah ekspresi wajah manisnya.

Tidak ada lagi gurat manja atau lembut. Wajah cantiknya mengeras, dipenuhi kilat sinis yang dingin. Ia menatap ayah Willem dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.

"Diam kau, pak tua sialan!" bentak Lydia dengan suara yang melengking kasar, kehilangan seluruh tata kramanya. "Jangan sok suci di depanku!"

Willem terkesiap, matanya melebar mendengar kelancangan wanita di sampingnya. "Apa yang kau katakan, Lydia?! Dia ayahku!"

Tuan Daendels tidak memedulikan bentakan Lydia. Ia berbalik menatap putranya dengan pandangan kecewa yang teramat pekat.

"Kau mengabaikan Suzanne... kau menyiksa dan menelantarkan istrimu yang baik itu, apa hanya karena perempuan binal ini, hah?! Selama ini aku tidak menyelidiki atau mencampuri urusan apartemenmu karena aku pikir kau benar-benar sudah berubah dan hanya fokus pada pernikahanmu dengan Suzanne!"

Di samping sang ayah, Nyonya Daendels yang sejak tadi menahan tangisnya akhirnya melangkah maju.

Sang ibu menatap Willem dengan air mata kekecewaan yang luruh deras membasahi pipinya yang mulai berkerut.

"Kau sudah kami nikahkan dengan perempuan baik-baik seperti Suzanne, Willem... wanita suci yang menjaga kehormatannya meskipun kau telantarkan..." ucap sang ibu dengan suara yang bergetar hebat, sebelum akhirnya melayangkan kalimat yang menghancurkan seluruh sisa kewarasan Willem di ruangan itu.

"Tapi kau... kau malah memilih wanita yang merupakan bekas dari ayahmu sendiri!"

Duarrrrr!!!

Ruangan kerja itu mendadak hening laksana kuburan.

Willem Daendels membeku sempurna, dunianya runtuh seketika saat menyadari kenyataan menjijikkan bahwa wanita yang selama ini ia puja dan ia jadikan alasan untuk membuang Suzanne, ternyata adalah wanita yang pernah berada di ranjang ayahnya sendiri.

Kehancuran Daendels Group kini bukan lagi sekadar gertakan hukum dari keluarga Stone, melainkan kehancuran moral yang membusuk dari dalam dunia mereka sendiri.

...***...

Keheningan yang mencekam mencengkeram setiap sudut ruang kerja bernuansa mahogani itu.

Kata-kata sang ibu laksana sebilah pisau berkarat yang ditancapkan tepat di ulu hati Willem, lalu diputar tanpa belas kasihan.

Seluruh pasokan oksigen di dalam paru-paru Willem seolah menguap dalam sekejap. Matanya melebar sempurna, menatap sang ibu dengan pupil yang bergetar hebat karena syok yang teramat mendalam.

"M-Mom... apa yang kau katakan?" bisik Willem, suaranya mendadak parau, kehilangan seluruh kekuatannya.

"Kau pasti bercanda, 'kan? Katakan padaku kalau kau hanya sedang mengarang cerita untuk membuatku membenci Lydia! Katakan, Mom!"

Nyonya Daendels hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak sejadi-jadinya memikirkan betapa menjijikkannya dosa yang telah bersarang di dalam lingkaran keluarga mereka.

Sementara itu, Tuan Daendels sama sekali tidak membantah ucapan istrinya.

Pria paruh baya itu justru memalingkan wajah dengan rahang yang mengeras, menyiratkan sebuah pengakuan bisu atas aib masa lalu yang selama ini ia kubur rapat-rapat demi menjaga nama baik korporasi.

Willem perlahan memutar tubuhnya. Gerakannya kaku laksana robot yang

kehabisan daya. Ia menatap Lydia—wanita yang selama beberapa tahun ini ia agungkan sebagai cinta sejatinya, wanita yang ia bela mati-matian di hadapan Suzanne, dan wanita yang ia izinkan untuk mengotori ranjang pernikahannya.

Lydia, di sisi lain, tidak lagi menunjukkan kepanikan.

Begitu kedoknya terbuka sepenuhnya oleh orang yang pernah menyewanya, topeng kepolosannya runtuh tanpa sisa.

Wanita itu justru bersedekap dada, mengangkat dagunya tinggi-tanggi dengan senyuman miring yang teramat sinis terukir di bibirnya yang tebal oleh lipstik merah.

"Kenapa menatapku seperti itu, Willem?" tanya Lydia, nada suaranya kini terdengar begitu dingin, ketus, dan sama sekali tidak ada lagi kelembutan mendayu-dayu seperti biasanya.

"Kau terkejut karena pangeran pelindungmu ini ternyata pernah tidur dengan pria yang kau panggil 'Daddy'?"

"KAU JALANG SIALAN!" raung Willem, suaranya menggelegar dipenuhi rasa frustrasi yang mematikan.

Ia maju satu langkah besar, mencengkeram kedua bahu Lydia dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.

"Katakan padaku itu tidak benar, Lydia! Katakan kalau ayahku berbohong! Kau bilang aku adalah pria satu-satunya dalam hidupmu setelah kita berpisah dulu!"

Lydia mendecit pelan, menepis tangan Willem dengan sentakan kasar yang mengejutkan.

"Buka matamu, Willem Daendels yang terhormat! Berhentilah menjadi bocah bodoh yang naif! Satu tahun lalu, saat kau dikirim oleh ayahmu untuk mengurus cabang di London dan meninggalkan aku tanpa sepeser pun uang di Chicago, kau pikir bagaimana cara aku bertahan hidup di kota sekejam ini?"

Lydia melirik ke arah Tuan Daendels dengan tatapan mengejek.

"Ayahmu yang terhormat ini... pria tua bangka yang selalu berlagak suci di depan ibumu, datang ke klub malam tempatku bekerja paruh waktu. Dia menawarkanku sebuah apartemen mewah dan cek senilai puluhan ribu dolar hanya untuk menemaninya setiap akhir pekan. Dan aku? Tentu saja aku menerimanya. Di dunia ini, uang adalah segalanya. Aku tidak peduli apakah dia ayahmu atau bukan, selama dia bisa membayar tagihanku!"

"CUKUP!" teriak Tuan Daendels, wajahnya memerah padam karena sisa-sisa aibnya ditelanjangi di depan istri dan anak kandungnya sendiri.

"Tutup mulutmu, jalang kotor! Keluar dari gedung ini sekarang juga sebelum aku menyuruh sekuriti menyeretmu seperti anjing kurap!"

"Aku akan keluar tanpa perlu kau suruh, pak tua," sahut Lydia santai. Ia meraih tas Hermes miliknya yang tergeletak di atas meja kerja Willem, merapikan gaun ketatnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sebelum melangkah pergi, ia menoleh kembali ke arah Willem yang kini sudah terduduk lemas di atas lantai marmer, dikelilingi oleh lembaran surat cerai dari Suzanne.

"Terima kasih atas tumpangannya selama ini, Willem. Lagipula, kau sudah tidak berguna lagi sekarang," ucap Lydia dengan nada meremehkan, sebelum akhirnya melangkah lebar keluar dari ruangan dengan bunyi ketukan high heels-nya yang terdengar laksana melodi kematian bagi masa depan Willem.

Begitu pintu tertutup, Willem merasa dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping.

Rasa mual yang teramat sangat bergejolak di dalam dadanya. Ia mengingat bagaimana ia selalu membandingkan Suzanne dengan Lydia.

Ia mengingat bagaimana ia selalu mencaci Suzanne sebagai wanita murahan yang kotor dan tidak berpendidikan, sementara ia memuja Lydia setinggi langit.

Ternyata, selama ini dialah orang paling bodoh di dunia.

Ia telah membuang sebutir berlian suci yang dengan tulus menjaga kehormatannya demi memeluk seonggok sampah yang telah digilir oleh banyak orang—bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.

Tuan Daendels melangkah mendekati putranya yang kini tampak bernapas terengah-engah laksana orang yang sedang sekarat. Pria paruh baya itu mencengkeram kerah kemeja Willem, memaksanya untuk mendongak.

"Sekarang dengarkan aku, Willem," ucap Tuan Daendels dengan suara bariton yang bergetar menahan tekanan psikologis yang luar biasa.

"Gugatan cerai ini bukan dikirim oleh pengacara biasa. Ini dikirim langsung dari firma hukum keluarga Luther-Stone. Mengapa Suzanne bisa memiliki hubungan dengan penguasa Chicago itu?!"

Willem menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong. "A-Aiden... Aiden Hayes Stone. Apa Remaja itu Yang Bersama Suzanne Minggu lalu..."

"APA?!" Nyonya Daendels memekik histeris, hampir pingsan jika tidak berpegangan pada sandaran kursi.

Tuan Daendels melepaskan cengkeramannya hingga Willem kembali terjerembab. "Kau benar-benar telah menggali kuburan untuk keluarga kita, Willem! Aiden Stone adalah putra tunggal, pewaris mutlak dari seluruh dinasti Luther-Stone! Jika dia telah bergerak menggunakan hukum orang tuanya, itu berarti kita tidak memiliki kesempatan untuk melawan!"

Tuan Daendels menunjuk dokumen di lantai dengan jari yang bergetar. "Besok pagi, aku ingin kau merangkak. Cari Suzanne di mana pun dia berada! Bila Perlu Berlututlah di bawah kakinya, minta maaf, dan mohon padanya agar dia mencabut gugatan ini dan kembali padamu! Jika kau gagal mendapatkan pengampunan dari Suzanne, maka dalam waktu kurang dari satu bulan, Daendels Group akan dihapus dari peta bisnis dunia, dan kita semua akan membusuk di dalam penjara atas kasus penggelapan dana kesehatan yang dilaporkan oleh pengacara Stone!"

Setelah meluapkan ancaman terakhirnya, Tuan dan Nyonya Daendels melangkah keluar dari ruangan dengan langkah kaki yang terburu-buru, meninggalkan Willem sendirian di dalam ruang kerja yang kini terasa dingin laksana peti mati.

Willem menatap lembaran kertas yang berserakan di hadapannya.

Air mata penyesalan yang teramat pekat akhirnya luruh membasahi pipinya.

Rasa sakit, malu, dan hancur berbaur menjadi satu rasa frustrasi yang menyiksa jiwanya. Ia membayangkan wajah tenang dan senyuman tulus Suzanne yang selama enam bulan ini selalu ia balas dengan makian dan siksaan batin.

Kini, berlian itu telah pergi, diambil alih oleh seorang singa muda dari dinasti Stone yang siap mencabik-cabik siapa saja yang pernah melukainya.

Dan Willem tahu, penyesalannya yang datang terlambat ini tidak akan pernah bisa memutar kembali waktu yang telah ia sia-siakan di dalam kamar 202 yang busuk.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Rosdianah: huhuhu Maafkan typo author 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!