NovelToon NovelToon
CERMIN (Sesuatu Yang Datang Dari Dalam Cermin)

CERMIN (Sesuatu Yang Datang Dari Dalam Cermin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.

Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.

Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.

Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 029 : Menemukan Penerangan

Klekk

Klekkk

Haikal dan Aldi tetap berjalan, meskipun di sini altar tempat mereka berpijak sangat tidak lazim. Ya, ribuan cermin itu masih di sana. Mereka masih berada di belantara gelap nan sunyi. Tetapi, alas yang tadinya tanah, berubah drastis menjadi cermin.

Hanya cermin, hanya cermin yang mereka lewati. Hanya suara tapak kaki mereka yang menjadi melodi di antara sunyinya tempat ini. Haikal yang sudah merasa berjalan cukup jauh pun memutuskan untuk berhenti.

"Berhenti aja dulu!" usul Haikal. Aldi di sampingnya mengangguk. Dia menatap ke sekeliling sejenak. Tak ada apapun, hanya mereka. Sejenak, mereka berdua kembali mengingat perihal sosok seram yang sempat mengejar mereka.

 Hmm... membayangkan wajahnya saja, sekarang bulu kuduk Aldi mulai meremang. Aldi berjongkok, sorot matanya tidak pernah lepas dari arah depan sana.

Sesekali dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari-cari titik terang atau mungkin sandi tersembunyi.

"Anehnya, belantara yang tadinya ada pegonnya, mendadak hilang!" ujar Aldi. Dia masih mencerna dengan baik betapa cepatnya pergantian latar tempat di sini.

Haikal mengangguk. Jika tadi sebelum dikejar sosok seram itu. Belantara ini, pepohonannya banyak sekali ditempeli oleh kertas-kertas.

Sekarang, tidak. Kertas itu seperti lenyap. Justru, kini hanya cermin aneh ini yang menjadi pertanyaan mereka sekarang.

 Di tengah kebingungannya itu, Haikal, tiba-tiba saja nampak terkejut ketika dia merasakan alat bantu dengarnya mulai mendengar suara-suara aneh.

"Aku dengar suara!" kata Haikal secara tiba-tiba. Aldi yang saat itu berjongkok jelas perhatiannya segera teralih kepada Haikal. Dia memperhatikan Haikal yang beberapa kali sibuk membetulkan alat bantu dengarnya.

"Aku gak dengar apa-apa!" kata Aldi menimpali. Memang, ketika Haikal mengatakan bahwa dia mendengar sesuatu. Aldi mencoba menajamkan pendengarannya. Dia justru tidak mendengar apapun di sini.

Sementara Haikal, dia justru mengerutkan keningnya. Wajahnya nampak fokus. Pasalnya, suara yang kini dia dengarkan ini.

 Berbisik, ramai, tidak jelas. Tapi, ada satu suara kecil. Yang menurutnya, suara itu seperti sedang menyampaikan pesan.

Bersamaan dengan apa yang didengarkan oleh Haikal. Jauh dari tempat mereka. Telah duduk satu sosok berkulit hitam terbakar. Dia duduk di atas batu.

Dia adalah sosok bocah perempuan yang kini wujudnya dipengaruhi separuh Iblis yang menguasai dirinya. Setengah dari tubuhnya yang masih memiliki nurani.

Mencoba menyampaikan pesan pada Haikal. Mulutnya bergerak dengan susah payah mencoba melawan pengaruh iblis.

Hingga, kalimat itu pun tersampaikan pada Haikal di sana. Haikal pada akhirnya menemukan kalimat yang disampaikan itu. Susah payah dia mendengarnya.

"Pergi dari sana! Pejamkan matamu, sebut nama Ijah, lalu buka kembali. Lihatlah kaca!" kata Haikal, itulah isi kalimat yang didengarkan olehnya sebelum suara-suara itu benar-benar hilang.

Aldi yang mendengar itu segera berdiri.

"Dari mana kamu dapat pesannya itu?" tanya Aldi kebingungan pada Haikal. Haikal yang juga tidak tahu, pesan dari siapakah itu? Dia hanya menggelengkan kepalanya.

"Aku gak tahu! Tapi, pesan itu sampai di telinga. Seperti ada yang berbisik. Suara perempuan!" jelas Haikal, penjelasan itu membuat Aldi berpikir sekarang.

Dia menoleh lagi ke sekeliling. Hingga pandangannya jatuh tepat ke arah belakang. Di mana jauh sekali dari tempat mereka berdiri.

Aldi melihat sepasang mata berwarna kuning menyala sedang memperhatikan mereka. Saat itu, dengan tubuh yang gemetar. Aldi susah payah mengangkat tangan kanannya. Dia menunjuk ke arah itu.

"Dia ikut!" kata Aldi gelagapan. Haikal seger menoleh ke arah yang Aldi tunjuk. Dan pada saat itu juga area ini bergetar.

Dumbbbb

"Wanjirr!" umpat Haikal, tubuhnya limbung sekarang begitupun dengan Aldi. Mereka hampir kehilangan keseimbangan. Saat itu, ketika mereka berada dalam situasi yang cukup berbahaya ini.

 Mereka lalai terhadap apa yang sosok itu sampaikan tadi pada mereka. Hingga ketika mereka benar-benar jatuh. Ketika tangan mereka bertumpu tepat di atas cermin.

Juga ketika mereka melihat pantulan diri mereka di cermin. Saat itulah mereka baru ingat perihal pesan yang Haikal tadi katakan dari suara sosok perempuan itu.

 Maka selagi sepasang mata, juga getaran pijakan besar itu datang ke arah mereka. Gerakan seakan melambat. Mereka memejamkan kedua mata mereka. Secara bersamaan setelah kedua mata mereka terpejam.

"Ijah!" kata mereka berdua. Beberapa detik kemudian mereka membuka kedua matanya. Dan di sana, di atas cermin itu.

Nampak sesosok perempuan cantik dengan rambut panjangnya. Perempuan itu menatap mereka. Perempuan itu hanya berkata,

"Ikuti aksara timbul!" katanya lalu menghilang.

"Huh!" pekik Aldi dan Haikal secara bersamaan setelah hilangnya sosok perempuan itu. Namun dalam sekejap, ketika sosok itu menghilang dari sana.

Huruf-huruf timbul begitu saja dari dalam cermin. Itu aksara Jawa. Refleks, dikarenakan mereka dalam keadaan terancam.

 Keduanya langsung bangkit dan berlari menjauh sejauh-jauhnya dari apa yang kini mengejar mereka. Sadar jika mangsanya kini berlari.

Sepasang mata berwarna kuning yang tadinya mengikuti mereka secara perlahan. Mulai mempercepat laju kejarnya.

"Sialan sekali!" kata mereka berdua susah payah sekali mempercepat langkahnya.

_________

Sementara Aldi dan Haikal berlari menjauhi ancaman, kini terlihat Desta yang juga berlari mengikuti geraknya monyet putih yang menuntunnya di atas dahan-dahan pohon. Hanya Desta, di sini yang tidak dikejar oleh ancaman. Berbeda dengan Rifki.

"Bangsatnya!" umpatnya ketika melihat dari jarak puluhan meter. Sesosok tinggi besar dengan tanduk di kepalanya sedang memperhatikannya.

Auranya gelap sekali mencekam area itu rasanya. Pandangan mereka saling bertemu. Dan Rifki bisa melihat dengan jelas bahwa kedua mata sosok bertanduk itu merah marah.

"Mau kemana kamu, Rifki!" kata sosok itu, meskipun jarak mereka jauh. Tetapi gema suaranya yang berat serta besar itu sampai pada Rifki. Cukup membuat dia merinding.

"Bacot, buat meriang saja!" katanya, Rifki yang sebetulnya juga ketakutan sekarang pun memilih membalikkan badannya.

Mencoba mengacuhkan sosok itu seakan tak ada. Dia menarik nafas kemudian membuangnya dengan kasar. Dan pada saat itu, di sisi kanan dan kirinya Rifki.

Muncul, tiga sosok bocah lelaki. Bocah ini adalah hantu yang sering mendatangi Rifki di alam manusia.

 Rifki menoleh ke kanan dan ke kirinya. Wajah tiga bocah itu di sini jelas menyeramkan. Tetapi Rifki paham, mereka tidak jahat. Terasa dari auranya.

"Ayo lari, Rifki! Dia jahat!" kata salah satunya.

"Iya, aku tahu! Jadi lari ke mana kita?" tanya Rifki pada mereka.

"Protagonis itu bilang katanya kamu harus terus ke depan. Biarkan dia mengejarmu. Katanya nanti lelah sendiri!" kata salah satu di antara mereka lagi.

Rifki menaikkan salah satu alisnya. Ah, absurd sekali rasanya ucapan ketiga setan ini.

"Jadi kita estafet, ya?!" kata Rifki pada mereka. Ucapan Rifki yang gamblang itu pun membuat ketiga bocah itu tersenyum.

"Pergi!" kata mereka bertiga yang langsung pergi dari sana. Diikuti dengan Rifki yang juga berlari.

Adegan lari-larian ini terjadi di antara mereka semua. Meskipun berbeda tempatnya. Yang satu mengejar, yang satu dikejar, ada pula yang berlari mengikuti sesuatu. Derap langkah kaki mereka yang cepat saat itu terus menyusuri belantara.

Depppp

Depppp

Depppp

"Hah!"

"Hah!"

Suara nafas mereka yang tersengal-sengal adalah satu-satunya suara yang mengisi kesunyian di sini. Hingga,

"Hah!" pekik mereka berlima membulatkan kedua matanya tatkala ilalang yang tingginya tak berujung.

 Membentang luas di hadapan mereka. Mereka yang saat itu tidak memiliki pilihan untuk berhenti pun memilih untuk menembusnya.

Brukkkkk

Brukkkkk

Brukkkkk

Dan pada saat itu, kedua kaki mereka seakan sengaja dijegal oleh sesuatu. Sehingga kelima-limanya jatuh tersungkur dengan posisi tengkurap.

"Sakit!" kata Desta meringis. Farah yang masih mengatur nafasnya itu pun menoleh ke samping.

Sungguh, kedua matanya berbinar sekarang. Mereka yang tadinya terpisah. Kini dikumpulkan kembali dalam satu tempat setelah melewati ilalang tinggi yang membentang tadi.

"Kalian?!" panggil Farah pada mereka. Sontak Haikal, Aldi, Rifki dan Desta segera menoleh ke arah Farah. Dan betapa bersyukurnya mereka sekarang saling bertemu.

"Kita di mana ini?" tanya Desta, dia lebih dulu berdiri sekarang memperhatikan sekitar.

Diikuti dengan Aldi serta Haikal, kemudian Farah dan Rifki. Haikal dan Aldi memperhatikan tempat mereka berada sekarang.

Sedikit jauh di depan mereka. Mereka melihat bangunan itu. Bangunan yang sering mereka mimpikan.

"Jawaban dari segala pertanyaan kita, akan terjawab di sana!" kata Aldi, sorot matanya fokus ke arah bangunan itu kemudian menunjuk ke arah sana.

Farah tahu sekarang di mana mereka.

"Bangunan itu, rumah!" kata Farah, Haikal menoleh ke arah Farah.

"Maksudnya?" tanya Haikal padanya.

"Kita terikat, karena memang kita ini sedarah!" kata Farah lagi menjawab Haikal yang kebingungan.

Pada saat itu, setelah mendengar apa yang Farah katakan. Mereka pun terdiam. Mereka mencoba mencerna perihal apa yang Farah beritahukan kepada mereka? Berita mendadak! Yang entah Farah dapatkan dari mana itu?

"Kata siapa?" tanya Desta menimpali.

Farah memijat pelipisnya sekarang. Segala hal yang terjadi pada mereka terlalu mendadak untuk diterima rasanya.

"Logikakan saja," kata Farah, dia menatap Desta kemudian.

"Kita semua anak adopsi! Lalu, kenapa kalian tidak bertanya-tanya selama ini? Perihal orang tua kalian? Kalian mungkin menganggap aku gila. Tapi, sesuatu di sini memberitahuku bahwa ibu kita. Adalah wanita yang sering kita lihat di mimpi. Dia, wanita yang terbakar tiap hampir menemui kita di mimpi. Itu adalah, Ijah! Dia menyelamatkan kita dari Rossa dan Parman, antagonis sesungguhnya di dalam masalah ini!" jelas Farah, sesekali dia mencoba meyakinkan semua orang di sini. Dengan menatapnya satu persatu dengan mimik muka serius serta nada bicara yang sangat serius.

Haikal dan Aldi memilih untuk membuang nafas sekarang. Dia tidak ingin mendebat apapun.

"Simpan semua pertanyaan kalian! Sekarang, kita harus ke sana!" kata Aldi sembari menunjuk ke arah bangunan tua yang berdiri di depan sana.

Di sela perdebatan itu. Lagi-lagi, suara hentakan kaki yang cukup besar. Membuat mereka kembali menoleh ke belakang. Dan pada saat itu betapa sangat terkejutnya mereka ketika melihat rombongan makhluk menyeramkan datang ke arah mereka.

"Rombongan sirkus!" celoteh Desta merinding sambil memicingkan matanya.

"Ayo!" ajak Aldi pada mereka. Namun, ketika mereka baru saja melangkah lima langkah dari posisi mereka. Farah ingat, bahwa Ardin tidak ada di antara mereka.

"Tunggu," kata Farah berhenti. Rifki yang mendengar itu menoleh. Sementara Farah menoleh ke belakang. Dia mencari ke kanan dan ke kiri, berharap bahwa dia akan menemukan Ardin. Nyatanya tidak ada!

"Ardin mana?!" tanya Farah pada mereka. Mendengar hal itu mereka tidak bisa menjawab. Tetapi Rifki sebagai yang tertua. Memilih langsung menarik tangan Farah untuk segera pergi dari sana.

"Mas, Ardin!" kata Farah pada Rifki yang membawa mereka berlari menuju bangunan tua di depan sana.

"Sekarang fokus selamatkan diri dulu! Nanti, kita cari Ardin sama-sama. Yang penting masuk dulu ke sana!" tutur Rifki pada Farah.

1
Nurul
Zed mampir thor
☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴: loh kak Nurul 🙊🙊🙊
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
ayo Ardin selamat kan mereka
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
cepatlah ardin
Safitri Agus
menari apa si Dhani apakah tarian tradisional Jawa Thor?
Teuing Saha🙃
Akhirnya, mereka bisa bertemu dengan ibunya🤧
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
ayoo bebaskan anak2 Ijah .. semangat terus
Teuing Saha🙃
Apa sih.. Baca yg begini aja air mataku sampe bleberan😭
Teuing Saha🙃
Jangan gegabah lho, jangan sampai perjuangan mereka gagal karena kecerobohan anda!
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
deg degan gak sih ....wih banyak banget rintangan nya 🤭
☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴: hidup memang kudu banyak rintangan kak... wajar 🚶✨ mereka kan kandidat ninja warrior tahun depan
total 1 replies
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
semoga mereka semua berhasil keluar dari hutan itu
Teuing Saha🙃
Semoga kamu, Farah dan saudaranya, semua pulang alam keadaan selamat..
Kang Dhani: aamiin
total 1 replies
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
harga harga pada naik eh ini malah umur yang didiskon
Kᵝ⃟ᴸᏒᎥҽ_ϒαη.POTEK.ѕͣυͣηͪηͪ💋💋
kayaknya gue ketempar deeh🫠
Teuing Saha🙃
Keras kepalamu gak ilang² Hel, yg ada makin menjadi😒
Teuing Saha🙃
Diskonan kok umur, coba kalau minyak sama beras, aku antri paling depan deh/Facepalm/
Teuing Saha🙃: Maklum, pemburu diskon🤭
total 2 replies
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
sebenarnya bukan salahnya sepenuhnya
Teuing Saha🙃
Hallahh... Pagi² dah dibikin mewek🤧
Nyai Aksara 👩‍🦯
Hah, eh waduh, semoga dia terjungkal
SANG
Aku hadir ya Thor, turut meramaikan💪👍
SANG
Aku tidak tau ayah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!