Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 17
Nadia menerima notifikasi dari Bu Rosidah.
[Study tour Nanda sudah lunas, Bu.]
Kemudian muncul sebuah gambar kwitansi dan bukti transfer atas nama Raka.
Nadia menatap layar ponselnya cukup lama.
“Ternyata Mas Raka perhatian sama Nanda. Dia mau mengusahakan biaya Nanda. Jadi selama ini ibu mertuaku yang korupsi.”
Tak lama kemudian, sebuah pesan kembali masuk.
[Kata Pak Raka, ke depan seluruh biaya pendidikan Nanda akan dibayarkan oleh Pak Raka.]
Andai saja Raka tidak berkhianat padanya, tentu Nadia akan merasa senang.
Namun sekarang perasaannya justru semakin kacau.
Di satu sisi, dia tidak terima dikhianati. Namun di sisi lain, dia juga tidak ingin kebahagiaan Nanda hancur karena dirinya dan Raka bercerai.
Nadia menggenggam ponselnya erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aku akan bawa Nanda pergi, apa pun yang terjadi.”
Nadia keluar dari kamar. Sedari tadi, dari dalam kamar ia mendengar suara banyak orang.
“Mbak Tari, ada apa ini?”
“Itu, Bu Yuni menyuruh saya menata kamar tamu.”
“Memang ada tamu siapa?” tanya Nadia.
Mbak Tari menggeleng.
“Saya enggak tahu, Bu. Saya hanya disuruh menata saja. Tadi pas saya tanya sama Bu Yuni, beliau malah marah sama saya.”
Nadia terus memperhatikan para pekerja yang menurunkan barang-barang. Ada kasur, ranjang, meja rias, kipas angin, dan berbagai furnitur berwarna biru laut.
“Ini warna kesukaanku,” gumam Nadia.
Keningnya berkerut.
“Kenapa tiba-tiba ibu mertuaku membelikan barang-barang ini? Apa untukku?”
Nadia menggeleng pelan.
Saat hubungan mereka baik-baik saja, ibu mertuanya tidak pernah seroyal ini, apalagi sekarang.
“Mungkinkah ini untuk Ratna?”
Rahang Nadia mengeras. Tangannya perlahan mengepal.
“Kenapa, Ratna? Kamu selalu ingin menyakitiku.”
Menjelang sore, kamar tamu sudah tertata rapi. Warna dan dekorasinya persis seperti selera Nadia, dan tentu saja juga menjadi selera Ratna. Ratna selalu ingin merebut apa pun yang Nadia miliki, termasuk hobi dan warna kesukaannya.
Terdengar deru mobil dari luar.
Nadia menoleh ke arah jam dinding.
“Waktunya Nanda pulang.”
Seperti biasa, Nadia berjalan menuju teras untuk menyambut putrinya.
Namun bukan mobil jemputan Nanda yang datang.
Yang datang justru sebuah Avanza hitam.
Nadia langsung mengenalinya.
“Itu mobil Ratna.”
Klakson berbunyi beberapa kali.
Namun Nadia tetap berdiri diam.
Klakson kembali terdengar.
Tetap saja Nadia tidak bergerak.
Mbak Tari akhirnya berlari membuka gerbang.
“Kenapa kamu tidak membuka pintu gerbang? Mbak Tari sedang sibuk, Nadia,” tegur Yuni dari belakang.
“Malas aku membukakan pintu untuk pelakor,” jawab Nadia dingin.
“Kamu ini, Nadia. Kapan dewasanya?”
Yuni memilih masuk kembali ke dalam rumah daripada memperpanjang pertengkaran.
Sementara itu, Nadia berdiri dengan tangan terkepal erat di samping tubuhnya.
Mobil Ratna masuk ke halaman.
Mbak Tari kembali menutup gerbang.
Ratna keluar dengan langkah dramatis. Dagunya terangkat tinggi, seolah sengaja ingin memancing emosi Nadia.
“Budek, ya? Atau masih marah karena suami kamu aku rebut?” ucap Ratna sinis.
Darah Nadia langsung berdesir.
Tangannya refleks mengepal. Ia bahkan sempat melangkah satu langkah ke depan.
Namun suara cempreng Nanda tiba-tiba terdengar.
“Bunda!”
Nadia menoleh cepat.
Nanda keluar dari mobil Ratna sambil tersenyum lebar.
Rahang Nadia kembali mengeras.
“Ini semua pasti sudah diatur Mas Raka. Sepertinya dia ingin gundiknya dekat dengan Nanda agar hak asuh jatuh padanya.”
Nadia menekan emosinya kuat-kuat.
“Tidak akan aku biarkan. Aku tetap akan membawa Nanda pergi.”
“Bunda!”
Nanda langsung memeluk Nadia.
“Bunda, Mamah Ratna mau tinggal di sini.”
Nadia sebenarnya sudah menduga.
Namun saat mendengarnya langsung dari mulut Nanda, rasa sakit itu tetap menusuk dadanya.
“Bunda kok melamun?”
Ucapan Nanda membuyarkan pikirannya.
Nadia memaksakan senyum.
“Ayo, Sayang, masuk.”
Dia tidak ingin Nanda melihat dirinya bertengkar dengan Ratna.
Apa pun yang terjadi, Nanda tetap harus makan dengan baik dan tumbuh bahagia.
Nadia menggantikan pakaian Nanda, menyiapkan makan siang yang sehat, menemani belajar, hingga akhirnya Nanda tertidur pulas.
Saat itulah terdengar suara mobil kembali memasuki halaman.
Nadia keluar dari kamar Nanda.
Di meja makan, Ratna sedang duduk santai sambil memakan sosis goreng. Beberapa botol minuman bersoda sudah berjajar di atas meja.
“Sini, maduku. Makan bersamaku.”
Nadia mengabaikannya.
Pandangannya tertuju ke arah pintu.
Raka baru saja masuk.
Nadia langsung mengurungkan niatnya keluar dan memilih duduk di sofa.
“Astaga, suami kita pulang. Kamu layanin dong. Aku lagi makan, nih,” kata Ratna sambil terkekeh.
“Berisik,” balas Nadia kesal.
“Cih, segitu marahnya? Gimana, Nad, rasanya suami kamu aku rebut?”
Jelas sekali Ratna sedang memprovokasi.
Nadia menggigit bibir bagian dalam.
Ingin sekali ia mencakar wajah Ratna.
Namun dia menahan diri.
Kalau sampai terjadi kekerasan, Ratna bisa menjadikannya catatan kriminal. Dan jika Nadia memiliki catatan kriminal, perjuangannya mendapatkan hak asuh Nanda akan semakin sulit.
Raka masuk dengan wajah kusut.
“Ratna, sudah aku bilang beri aku waktu seminggu untuk memutuskan semuanya. Kenapa kamu sudah tinggal di rumahku?” ucap Raka kesal.
“Mas, aku ini juga istri kamu. Kamu harus bertindak adil. Nadia bisa tinggal di sini, aku juga mau dong. Mau numpang hidup, ongkang-ongkang kaki, dan dapat uang dari suami.”
“Diam kamu, Ratna!” bentak Raka.
“Aku kecewa sama kamu. Sebaiknya kamu pulang saja ke rumah kamu.”
“Lagian siapa juga yang mengizinkan kamu tinggal di sini?”
“Aku yang mengizinkan Ratna tinggal di sini.”
Suara Yuni terdengar tenang saat ia keluar dari kamarnya.
“Mah, kenapa enggak bilang dulu sama aku, sih, Mah?” Raka memijat pelipisnya yang berdenyut.
“Aku ini ibumu. Kenapa harus bilang sama kamu?” jawab Yuni dengan nada tegas.
“ Tapi, Mah...” Raka mencoba menyela.
“Enggak usah tapi-tapi. Nadia sudah tahu kamu menikah lagi, jadi dia harus terima. Kamu juga harus menjaga perasaan Ratna,” ucap Yuni sambil melipat tangan di dada.
Nadia yang duduk di sofa hanya menunduk. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan ibu mertuanya.
“Enteng sekali ibu mertuaku berkata begitu. Apa dia pernah memikirkan perasaanku?” batin Nadia pahit.
“Mah, ini enggak benar, Mah,” ucap Raka frustrasi sambil mengusap wajahnya kasar. “Kalau mereka tinggal bersama, pasti ribut terus. Kasihan Nanda nanti lihat pertengkaran setiap hari.”
“Mas Raka...” Ratna mendekat sambil tersenyum tipis. “Aku bersedia kok dimadu karena aku wanita modern, Mas. Paling nanti yang bikin ribut itu Nadia.”
Nadia langsung menatap Ratna tajam. Tangannya mengepal kuat di atas paha, tetapi dia masih menahan emosinya.
Raka melirik Nadia dengan wajah lelah.
Nadia berdiri perlahan. Sorot matanya dingin.
“Aku beri waktu dua hari, Mas. Kalau dalam dua hari Ratna tidak keluar dari rumah ini, maka aku yang akan pergi.”
Suasana langsung hening.
Tentu saja dua hari itu bukan untuk menunggu perubahan.
Nadia akan menggunakan semuanya sebagai bukti di persidangan nanti. Semakin banyak kesalahan Raka, semakin besar kemungkinan hak asuh Nanda jatuh kepadanya.
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪