Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecurigaan sindi
Sebuah pesan masuk ke ponsel Nadia dari Ibu Rosidah, kepala sekolah Nanda.
Sebuah foto kuitansi pelunasan biaya study tour muncul di layar, disertai bukti transfer atas nama Raka.
Tak hanya itu, Ibu Rosidah juga mengirimkan tangkapan layar percakapannya dengan Raka.
Mulai sekarang, untuk semua biaya sekolah Nanda, langsung hubungi saya saja, Bu.
Nadia menatap layar ponselnya lama.
Dadanya terasa sesak.
Ini di luar dugaan.
Ia dan Sindi sempat menduga, setelah bercerai nanti, Raka akan keberatan menanggung biaya pendidikan Nanda yang tidak sedikit. Mereka bahkan memperkirakan, lambat laun Raka akan menyerahkan hak asuh Nanda kepada Nadia karena merasa kewalahan.
Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Tanpa banyak bicara, Raka langsung melunasi biaya study tour Nanda.
Padahal, baru semalam mereka bertengkar hebat. Semua bermula dari pembahasan mengenai biaya sekolah Nanda.
Nadia menggigit bibir.
Selama ini, ternyata Raka memang selalu menyediakan uang untuk kebutuhan pendidikan Nanda. Hanya saja, uang itu kerap berhenti di tangan Yuni.
Dengan hati gelisah, Nadia segera menghubungi Sindi.
“Sin, Raka sudah membayar biaya study tour Nanda.”
Suara Sindi terdengar terkejut.
“Serius?”
“Iya.”
“Wah, ini di luar perkiraan.”
Nadia mengembuskan napas pelan.
“Dan selama ini, sebenarnya Raka selalu memberikan uang sekolah Nanda kepada Ibu.”
“Lalu?”
“Tidak dibayarkan.”
Sindi mendengus.
“Berarti uang itu dikorupsi ibu mertuamu?”
“Kurang lebih begitu.”
Hening sesaat.
Lalu, Sindi bertanya pelan.
“Nad, selama ini Ibu Yuni bagaimana kepada Nanda?”
Nadia berpikir sejenak.
“Baik. Sangat baik, malah. Kalau aku terlalu tegas, Nanda biasanya mengadu kepada Oma.”
“Kalau Raka?”
Nadia tersenyum tipis.
“Dia sangat sayang pada Nanda.”
Ia terdiam, lalu menambahkan dengan suara lirih.
“Walaupun beberapa tahun terakhir dia berubah padaku, dia tidak pernah berubah kepada Nanda.”
Kembali hening.
Sampai akhirnya Sindi berkata,
“Jadi, Raka dan ibu mertuamu benar-benar menyayangi Nanda.”
“Iya.”
Suara Nadia mulai bergetar.
“Aku malah takut, Sin.”
“Takut apa?”
“Kalau aku bercerai, Nanda akan kehilangan Papa dan Omanya.”
Ia menelan ludah.
“Bagaimanapun, mereka sangat menyayangi Nanda.”
Sindi menghela napas.
“Wajar kalau kamu berpikir begitu. Kamu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Nanda, termasuk memastikan orang-orang yang ia sayangi tetap ada di hidupnya.”
Nadia memejamkan mata.
“Namun, aku ingin bertanya sesuatu.”
“Silakan.”
“Selama ini, ibu mertuamu pernah memberimu uang?”
“Setahuku, tidak pernah.”
“Kalau kepada Mbak Tari?”
“Kadang-kadang, kalau sedang menyuruh sesuatu. Bahkan THR Mbak Tari pun biasanya aku yang memberi.”
Sindi terdiam beberapa detik.
Ketika kembali berbicara, suaranya terdengar hati-hati.
“Nad… aku justru curiga.”
“Curiga apa?”
Sindi menarik napas.
“Aku curiga… Nanda adalah anak kandung Raka.”
Jantung Nadia seolah berhenti berdetak.
Ponsel di tangannya hampir terlepas.
“Apa?” tanya Nadia. Ponsel itu nyaris lepas dari tangannya.
“Ibu mertuamu itu tipe orang yang sangat mementingkan keluarga sedarah,” tutur Sindi pelan. “Dia bisa pelit dan keras kepada orang lain. Tapi kalau sudah menyangkut darah dagingnya sendiri, dia akan berubah total.”
Nadia terdiam.
Potongan-potongan peristiwa yang selama ini terasa janggal mendadak bermunculan di benaknya.
Berulang kali Yuni berkata ingin punya cucu lagi.
Awalnya, kalimat itu terdengar biasa saja. Namun, kali ini Nadia mulai menyimpan kecurigaan.
Jangan-jangan yang dimaksud Yuni dengan ingin punya cucu lagi adalah cucu kandung.
Berarti, Yuni sudah memiliki cucu kandung.
Cucu kandung dari siapa? Sedangkan Yuni hanya memiliki satu anak, yaitu Raka.
Kemungkinan-kemungkinan itu membuat dada Nadia terasa sesak.
“Tidak mungkin, Sin,” sahut Nadia, mencoba menepis kemungkinan itu.
“Tenang, Nad. Ini baru kemungkinan saja. Kamu jangan terlalu emosi dulu.”
Nadia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Kemungkinan-kemungkinan itu terasa terlalu menyesakkan.
“Sekarang coba kamu ceritakan bagaimana Nanda hadir dalam hidupmu,” lanjut Sindi.
Nadia berusaha mengingat.
“Waktu itu usia pernikahan kami baru setahun.”
Ia menelan ludah.
“Tiba-tiba Raka membawa pulang seorang bayi perempuan. Katanya ada bayi terlantar di panti asuhan dan dia merasa kasihan.”
“Setelah itu?”
“Ibu semakin sering mendesakku untuk segera hamil.”
Nadia memejamkan mata.
“Dan sejak saat itu, Raka juga mulai berubah.”
“Berubah jadi lebih dingin?”
Nadia tak menjawab.
Napasnya terasa berat.
Berbagai pikiran langsung membanjiri benaknya.
Bagaimana jika Nanda bukan sekadar anak adopsi?
Bagaimana jika selama ini Nanda memang darah daging Raka?
Dan jika itu benar…
Siapa ibu kandungnya?
“Itu baru dugaan, Nad,” kata Sindi lembut.
Nadia memejamkan mata.
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Sin?”
Suaranya bergetar.
“Aku sangat sayang pada Nanda.”
Sindi menjawab dengan tenang.
“Cari tahu dulu siapa sebenarnya Nanda.”
Nadia terdiam.
“Kalau nanti kamu menemukan ibu kandungnya,” lanjut Sindi, “kamu harus berlapang dada. Jangan sampai, tanpa sadar, kamu memisahkan seorang ibu dari anak kandungnya.”
Kalimat itu menghantam dada Nadia.
Ia menelan ludah.
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Kalau begitu… tolong bantu aku, Sin.”
“Ya, sebisa mungkin akan aku bantu, Beb,” jawab Sindi. “Kamu sekarang coba ingat-ingat saja tanggal berapa kamu menerima Nanda.”
“Itu dia yang membuatku bingung. Kata Mas Raka, Nanda adalah anak yang diambil dari panti asuhan, tapi sampai sekarang dokumennya saja aku belum pernah lihat,” jawab Nadia.
“Lah, terus bagaimana dengan administrasi Nanda di sekolah? Itu kan perlu akta lahir, KK, dan sebagainya.”
“Kami sepakat, di akta lahir Raka adalah ayahnya dan aku adalah ibunya. Di KK juga Nanda tercatat sebagai anak kandungku.”
“Oh, jadi kamu tidak punya keterangan apa pun dari yayasan atau pemerintah bahwa Nanda adalah anak adopsi?”
“Aku tidak pernah melihatnya.”
“Yah, kalau begitu terpaksa aku harus cari hacker.”
“Untuk apa?” tanya Nadia.
“Meretas ponsel Raka. Di sana pasti ada beberapa rahasia.”
“Itu aman?”
“Aman. Serahkan padaku.”
“Ya sudah. Aku minta bantuan kamu ya, Beb,” ujar Nadia.
Suara Sindi kembali terdengar hangat.
“Oh ya, aku juga sudah pilihkan beberapa rumah untukmu. Nanti aku kirim fotonya.”
“Baik.”
Sambungan telepon pun terputus.
Nadia masih memandangi layar ponselnya yang telah gelap.
Tangannya gemetar.
Pikirannya kacau.
Jika dugaan Sindi benar…
Maka selama enam tahun terakhir, ia telah membesarkan anak hasil pengkhianatan suaminya sendiri.
Dan yang paling menyakitkan…
Ia mencintai anak itu dengan seluruh hatinya.
Nadia meletakkan ponselnya perlahan di atas meja.
Namun, setelah percakapan dengan Sindi, dadanya justru terasa semakin sesak.
Kalau dugaan sahabatnya benar, berarti selama ini ia telah hidup di tengah kebohongan yang begitu rapi.
Raka.
Yuni.
Dan entah siapa lagi.
Nadia mengusap dadanya pelan.
“Ya Allah…” bisiknya lirih. “Kalau benar Nanda anak kandung Mas Raka, kenapa Engkau biarkan aku mencintainya sedalam ini?”
Tak ada jawaban selain rasa nyeri yang menjalar di dadanya.
Ia bangkit dari tempat duduk, lalu melangkah keluar kamar.
Suasana rumah tampak berbeda dari biasanya.
Di ruang tengah, Mbak Tari terlihat sibuk mengawasi beberapa orang pekerja yang keluar-masuk membawa furnitur baru.
Dua orang mengangkat kasur.
Yang lain mendorong lemari berwarna putih gading.
Seorang pekerja membawa meja rias dengan cermin besar.
Disusul karpet lembut, lampu tidur, dan beberapa kardus berisi perlengkapan lain.
Semua diarahkan ke kamar tamu.
Langkah Nadia terhenti.
Keningnya berkerut.
“Mbak Tari,” panggilnya pelan, “sebenarnya siapa yang mau datang?”
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭