NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PEMILIHAN KETUA YANG MEMBAWA BERKAH

Malam Sabtu di lingkungan RT 04 Kompleks Karang Taruna selalu punya cerita sendiri. Namun, malam ini suasananya tiga kali lipat lebih ramai. Ruang tamu rumah Bu RT yang bercat putih gading itu mendadak disulap menjadi aula mini. Karpet bulu berwarna hijau lumut digelar memenuhi ruangan, sementara kursi-kursi plastik berwarna biru dipasang berderet di teras luar untuk menampung warga yang membeludak.

Aroma kue apem, lemper, dan gorengan hangat menguar di udara, bersaing sengit dengan asap bapak-bapak yang mengumpul di sudut halaman. Malam ini adalah malam Pemilihan Ketua Karang Taruna RT 04 yang baru.

Di sudut karpet sebelah kanan, barisan remaja perempuan sudah duduk melingkar sambil berbisik-bisik heboh. Ada Halimah yang sibuk mengipas-ngipas wajahnya dengan buku tulis, Rina yang tak berhentinya membetulkan kunciran rambutnya, dan Zakia yang terus-terusan mengunyah keripik pisang dengan mata menyipit tajam.

"Eh, sumpah ya, gerah banget ini rumah. Kipas anginnya cuma satu, yang nikmatin bapak-bapak di depan lagi," keluh Halimah sambil mengibaskan kerah kausnya.

"Sabar, Halimah. Namanya juga rapat warga. Lagian mata lu jangan merem-melek gitu dong, liat tuh di depan, hidangannya enak-enak pengen comot bawa balik rasanya." sahut Rina sambil menyenggol lengan Halimah, lalu mengerlingkan matanya ke arah pintu penghubung dapur.

Dari arah dalam rumah, muncullah sang pemilik kediaman. Jasmine Sitohang, atau yang akrab disapa Bu RT Jasmine oleh warga komplek. Malam ini, wanita berusia 27 tahun itu hanya mengenakan daster batik berwarna navy yang pas di tubuhnya, dengan rambut hitam panjang yang digulung asal-asalan ke atas menggunakan jepitan badai. Meski tampil sangat sederhana tanpa riasan tebal, statusnya sebagai kembang desa dan janda muda paling seksi di komplek itu tidak bisa dibantah.

Di gandengan tangan kirinya, ada Nadeo, anak laki-lakinya yang baru berusia 4 tahun. Bocah itu sibuk memeluk sebuah robot mainan plastik yang salah satu lengannya sudah patah.

"Permisi ya, Ibu-Ibu, Adik-Adik semua. Ini gorengannya baru matang, masih agak panas. Silakan dicicipi," ujar Jasmine dengan suara lembut khasnya, meletakkan dua piring besar berisi tahu isi dan bakwan di tengah-tengah karpet.

"Waduh, repot-repot banget toh, Bu RT Jasmine ini. Makasih lho ya," sahut Mbak Catur yang duduk di dekat pintu, langsung menyambar sepotong tahu isi dengan cekatan.

Di sudut teras, Bu Ratna dan Bu Widuri yang sedang duduk berdempetan langsung saling bertukar pandang. Mata mereka menyipit, mengamati lekuk tubuh Jasmine dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik yang penuh muatan gosip.

"Heh, Jeng Widuri," bisik Bu Ratna sambil menutup mulutnya dengan kipas anyaman bambu. "Liat tuh si Jasmine. Rapat karang taruna anak-anak muda, tapi dasternya ketat begitu. Sengaja banget ya pengen pamer sama bapak-bapak di depan. Dasar janda gatel."

"Hush, Jeng Ratna, jangan keras-keras, nanti kedengeran Pak Lurah," balas Bu Widuri, meski matanya sendiri tidak berkedip menatap Jasmine. "Tapi bener sih, mana ada RT muda bentukan begitu kalau bukan karena... ya tahu sendirilah ya, dulu kan gosipnya hamil duluan makanya nikah muda sama almarhum suaminya. Yatim piatu pula, gak ada yang ngajarin sopan santun kayaknya."

Jasmine mendengarnya. Telinganya sudah terlalu terlatih untuk menangkap bisikan-bisikan beracun dari Duo Lambe Turah komplek itu. Namun, ia hanya menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum tipis yang dipaksakan, lalu memilih mengelus kepala Nadeo yang mulai merengek minta dipangku. Sebagai single mother yang harus mengurus wilayah sekaligus anaknya sendirian, Jasmine sudah kenyang dijuliti sejak suaminya meninggal dunia dua tahun lalu.

Sementara itu, di sudut ruangan bagian belakang, barisan remaja laki-laki kompleks sudah berkumpul. Suasananya jauh lebih berisik. Di sana ada Aldi Wijaya, anak kuliah semester empat yang malam ini mendadak dandan super rapi. Rambutnya klimis karena minyak rambut pomade, dan aroma parfumnya yang menyengat bahkan sampai mengalahkan bau gorengan di ruangan itu.

Di sebelah kiri dan kanannya, dua sahabat setianya sekaligus rekan satu tongkrongan, Kenan dan Sendy, sedang menahan tawa sampai pundak mereka terguncang-guncang. Tidak jauh dari mereka, ada tiga remaja komplek lainnya yang ikut bergabung: Gito, fajar, dan Rendra yang sibuk main gim di HP mereka masing-masing.

"Di, lu mau pemilihan ketua karang taruna atau mau pergi kondangan sih? Wangi bener, sumpah pesing idung gue," bisik Kenan sambil menyenggol pinggang Aldi.

"Berisik lu, Nan! Ini namanya menghargai tuan rumah. Kita kan lagi bertamu di kediaman Ibu RT yang terhormat," jawab Aldi sambil matanya lurus menatap Jasmine. Jantung Aldi berdegup dua kali lebih cepat. Di matanya, Jasmine yang cuma dasteran malam ini kelihatan sepuluh kali lebih menawan daripada mahasiswi tercantik di kampusnya.

"Halah, menghargai tuan rumah jidatmu!" sahut Sendy sambil terkekeh pelan. "Bilang aja lu sengaja dandan begini biar dilirik sama Bu RT Jasmine, kan? Inget umur, Al! Lu masih beban orang tua!"

"Heh, Sendy! Jaga mulut lu ya. Cinta itu tidak memandang status, tahu gak lu? Lagian Bu RT Jasmine itu masih muda, baru dua puluh tujuh tahun. Cuma beda beberapa tahun doang sama gue. Masuk hitungan!" bela Aldi dengan wajah yang mendadak memerah.

"Wah, parah si Aldi, fiks fix bucin akut ini mah," timpal Gito yang akhirnya mengalihkan pandangan dari layar HP-nya.

"Udah-udah, diem dulu. Itu Pak Lurah udah mau mulai acaranya," lerai Rendra sambil menunjuk ke arah meja depan di mana Pak Slamet selaku Pak Lurah sudah mengetukkan pulpennya ke meja.

Di barisan kursi plastik depan, Pak Dadang dan Bu Baren, orang tua kandung Aldi, duduk berdampingan. Bu Baren sejak tadi memasang wajah masam, matanya sesekali melirik sinis ke arah Jasmine, lalu beralih menatap anak bujangnya yang duduk di belakang dengan gelagat yang sangat mencurigakan.

"Pak," bisik Bu Baren sambil menyenggol lengan Pak Dadang dengan kasar. "Lihat tuh anak bujang kamu si Aldi. Matanya melotot terus ke arah si Jasmine dari tadi. Awas ya kalau sampai anak kita ketularan genit kayak bapak-bapak di komplek ini!"

Pak Dadang yang sedang asyik membetulkan letak kacamatanya langsung tersentak. "Aduh, Ibu ini apa-apaan sih. Orang Aldi cuma lagi fokus nungguin rapat dimulai kok. Jangan suuzan dulu sama anak sendiri."

Pak Slamet membetulkan posisi mikrofonnya, berdeham keras-keras sampai suaranya menggema di speaker jinjing yang diletakkan di pojok teras. "Cek, satu, dua... Baik, bapak-bapak, ibu-ibu PKK yang saya hormati, serta adik-adik remaja Karang Taruna RT 04 yang saya banggakan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab warga serempak.

"Malam ini, kita berkumpul di kediaman Bu RT Jasmine yang sudah berbaik hati menyediakan tempat dan hidangan untuk kita semua," lanjut Pak Slamet, yang langsung disambut anggukan ramah dari Jasmine. "Agenda utama kita malam ini tidak lain dan tidak bukan adalah meremajakan kepengurusan Karang Taruna RT 04 yang sudah vakum hampir satu tahun. Berdasarkan hasil diskusi singkat tadi, kita sudah mengantongi beberapa nama kandidat ketua yang diajukan oleh perwakilan remaja."

Pak Slamet melihat ke lembar kertas di tangannya. "Kandidat pertama ada Mas Gito, kandidat kedua ada Mas fajar, dan kandidat ketiga... ada Mas Aldi Wijaya."

Mendengar nama Aldi disebut, Kenan dan Sendy langsung bersorak heboh sambil bertepuk tangan paling keras di pojokan. "Wooo! Hidup Aldi! Aldi untuk RT 04!" teriak Sendy tanpa tahu malu.

"Aldi! Aldi! Aldi!" sahut Kenan ikutan memanas-manasi suasana.

"Diem, bego! Malu-maluin banget lu berdua!" desis Aldi sambil berusaha menarik kaus kedua temannya agar kembali duduk tegak. Wajahnya sudah merah padam karena sekarang seluruh pandangan warga, termasuk Jasmine, langsung tertuju ke arahnya.

Jasmine menatap Aldi yang sedang salah tingkah itu, lalu tersenyum tipis. Di mata Jasmine, Aldi adalah sosok anak muda yang sopan, meskipun kadang perilakunya kalau sedang membayar iuran bulanan ke rumahnya suka agak aneh dan terlalu ramah.

"Baik, karena keterbatasan waktu dan agar adil, pemilihan kita lakukan dengan cara pemungutan suara terbuka saja ya, biar cepat," usul Pak Slamet. "Kita mulai dari kandidat pertama. Siapa yang memilih Mas Gito untuk jadi Ketua Karang Taruna? Silakan angkat tangan."

Hanya ada sekitar tiga orang yang mengangkat tangan, termasuk Rendra dan fajar yang berteman dekat dengan Gito.

"Baik, tiga suara untuk Mas Gito. Selanjutnya, siapa yang memilih Mas fajar? Silakan angkat tangan."

Kali ini ada sekitar lima orang yang mengangkat tangan, termasuk Halimah dan Rina yang tampaknya kasihan melihat fajar sepi peminat.

"Oke, lima suara untuk Mas fajar. Sekarang, kandidat terakhir. Siapa yang memilih Mas Aldi Wijaya untuk memimpin Karang Taruna RT 04? Silakan angkat tangan tinggi-tinggi."

Tanpa diduga, hampir seluruh remaja perempuan, termasuk Halimah, Rina, dan Zakia langsung mengangkat tangan mereka dengan kompak. Tak ketinggalan, Kenan, Sendy, dan beberapa pemuda komplek lainnya ikut mengangkat tangan sambil bersiul heboh.

Bahkan, dari barisan bapak-bapak di teras depan, beberapa orang ikut mengangkat tangan karena merasa Aldi adalah anak Pak Dadang yang rajin ikut ronda malam.

"Wah, tampaknya mayoritas mutlak memilih Mas Aldi ya," ujar Pak Slamet sambil menghitung jumlah tangan yang terangkat. "Bagaimana Ibu-Ibu PKK dan Bapak-Bapak, setuju kalau Mas Aldi Wijaya resmi menjadi Ketua Karang Taruna yang baru?"

"Setujuuuuu!" sahut warga kompak.

Bu Baren yang duduk di depan langsung menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, Gusti... alamat ini anak bakal makin sering kelayapan pake alasan urusan karang taruna," gumamnya lemas, sementara Pak Dadang hanya bisa terkekeh melihat kepasrahan istrinya.

"Selamat untuk Mas Aldi Wijaya! Dengan ini, kamu resmi menjadi Ketua Karang Taruna RT 04," ucap Pak Slamet formal, diikuti tepuk tangan riuh dari seluruh ruangan. "Sebagai ketua baru, silakan Mas Aldi maju ke depan untuk memberikan sepatah dua patah kata sambutan, sekaligus bersalaman dengan Bu RT kita sebagai simbolis mulainya masa bakti."

Mendengar kata "bersalaman dengan Bu RT", mata Aldi langsung berbinar cerah. Seluruh rasa gugup dan malunya mendadak lenyap digantikan oleh semangat membara yang tak terbendung.

"Nah, maju lu, Pak Ketua! Jangan bikin malu!" bisik Sendy sambil mendorong punggung Aldi dengan keras.

Aldi berdiri dari duduknya, merapikan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan, lalu berjalan dengan langkah tegap menuju ke bagian depan ruangan. Ia berdiri di samping meja Pak Slamet, tepat berhadapan dengan Jasmine yang kini juga ikut berdiri sambil menggendong Nadeo di pinggang kirinya.

"Silakan, Mas Aldi, sambutannya singkat saja," kata Pak Slamet memberikan ruang.

Aldi berdeham, mencoba mengontrol suaranya agar terdengar berat dan berwibawa layaknya pemimpin masa depan, meskipun lututnya gemetaran luar biasa karena jaraknya dengan Jasmine kini hanya terpaut satu meter.

"Ehem... Selamat malam semuanya. Terima kasih atas kepercayaan bapak-bapak, ibu-ibu, dan teman-teman semua yang sudah memilih saya malam ini," buka Aldi, matanya sempat melirik ke arah barisan ibunya yang sedang melotot tajam, lalu dengan cepat ia alihkan pandangannya ke wajah cantik Jasmine. "Sebagai ketua yang baru, fokus utama saya adalah mengaktifkan kembali kegiatan remaja yang positif. Dan yang paling penting... saya siap lahir dan batin, dua puluh empat jam penuh untuk membantu seluruh program kerja dari Ibu RT Jasmine yang kita cintai ini."

"Wooooooo! Lahir batin katanya!" teriak Kenan dari pojokan yang langsung memicu tawa riuh dari bapak-bapak di teras luar.

"Di? Modus lu lancar amat kayak jalan tol!" sahut Sendy ikutan berteriak.

Wajah Jasmine seketika merona merah mendengar banyolan anak-anak muda itu. Ia hanya bisa tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang pening, sementara Nadeo di gendongannya menatap Aldi dengan polos sambil mengacungkan robot mainannya yang patah.

"Aduh, anak muda zaman sekarang kalau pidato bahasanya luar biasa ya," timpal Pak Slamet sambil tertawa kecil, tidak menyadari maksud terselubung di balik kalimat Aldi. "Baik, silakan bersalaman dengan Bu RT Jasmine sebagai tanda peresmian."

Jasmine mengulurkan tangan kanannya yang bebas dengan ramah. "Selamat ya, Aldi. Semoga bisa amanah dan bantu memajukan komplek kita."

Aldi dengan cepat menyambut uluran tangan itu. Kulit tangan Jasmine terasa begitu halus dan hangat di telapak tangannya. Aldi menggenggamnya dengan lembut, enggan melepaskannya terlalu cepat sampai-sampai hitungan detiknya terasa berjalan lambat di kepala Aldi.

"Sama-sama, Bu RT Jasmine. Saya janji... saya gak akan ngecewain Ibu," ucap Aldi dengan tatapan mata yang bener-bener dalam dan penuh keseriusan, membuat Jasmine sempat tertegun sesaat sebelum akhirnya menarik tangannya kembali dengan canggung.

Dari barisan ibu-ibu, Bu Ratna langsung menyenggol lengan Bu Widuri dengan heboh. "Tuh, Jeng, liat sendiri kan! Belum apa-apa si Aldi udah berani pegang-pegang tangan si Jasmine lama banget begitu. Dasar janda gatel, anak kuliahan aja dipikat juga!"

"Iya, Jeng Ratna, keterlaluan banget memang. Gak kasihan apa sama Bu Baren yang mukanya udah kayak mau nelan orang di depan itu," balas Bu Widuri sambil berdecak pinggang.

Pertemuan malam itu akhirnya ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pak Slamet, disusul dengan sesi ramah tamah di mana warga mulai menyerbu hidangan gorengan dan teh hangat yang tersisa. Aldi kembali ke pojokan karpet dengan senyum lebar yang terus mengembang di wajahnya, mengabaikan segala ledekan dari Kenan, Sendy, Gito, fajar, dan Rendra yang terus-menerus memanggilnya dengan sebutan "Pak Ketua Bucin".

Bagi Aldi, jabatan Ketua Karang Taruna malam ini bukanlah sebuah beban kerja bakti yang melelahkan. Melainkan, sebuah berkah dan surat izin resmi dari alam semesta untuk bisa berada di dekat Jasmine, sang Bu RT idaman hati, setiap hari.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!