NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Satu minggu berlalu....

Matahari pagi menyinari halaman parkir kampus dengan hangat. Mobil hitam berpelat merah berhenti di tempat yang biasa. Pintu terbuka.

Rangga keluar.

Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dua kancing atas terbuka, rambutnya ia buat seperti ala-ala artis kpop, dan kacamata hitam bulat menutupi matanya. Sebuah rantai tipis bergantung di leher, sesekali berkilau terkena sinar matahari.

Beberapa mahasiswi yang sedang berjalan di dekat parkiran berhenti. Ada yang menutup mulut, ada yang berbisik-bisik, ada pula yang pura-pura tidak melihat tapi terus menoleh.

"Dia kembali..."

"Iya, Rangga. Akhirnya..."

"Tapi bukannya dia di-DO?"

"Itu sudah dibatalkan. Katanya Emily yang mengaku kalau dia yang bikin fitnah."

"Astaga, jadi Rangga tidak bersalah?"

"Hei, lihat dia. Tetap tampan meskipun baru sembuh dari kecelakaan."

Rangga berjalan tanpa menoleh. Kacamata hitamnya membuatnya tidak perlu repot-repot membalas tatapan penasaran yang mengarah padanya.

"AKHIRNYA!"

Empat suara laki-laki bersahutan dari kejauhan.

Renal, Dimas, Januar, dan Abimanyu berlari mendekat seperti anak kecil yang baru melihat ayahnya pulang kerja. Januar paling depan, tangannya sudah terentang lebar.

"Akhirnya lo kembali ke kampus, Ga!" Januar memeluk Rangga erat-erat, tidak peduli beberapa mahasiswi mulai tertawa melihat tingkahnya.

"Apasih lo, lebay!" Rangga mendorong Januar dengan setengah kesal, tapi sudut bibirnya terlihat naik tipis.

Dimas menepuk pundak Rangga. "Serius, kita kangen banget, Bro."

"Gue kangen muka lo yang nyebelin," tambah Abimanyu sambil nyengir.

Renal melangkah maju. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk memeluk, tapi untuk bersalaman. Rangga menatap tangan itu sebentar. Pikirannya melayang ke foto semalam..

Ia hanya menyeringai, lalu menggenggam tangan Renal singkat.

"Selamat datang kembali, Bro," ucap Renal.

Rangga tidak menjawab. Ia melepas kacamatanya, menyelipkannya ke saku kemeja, lalu berjalan menuju gedung fakultas. Keempat sahabatnya berjalan di samping dan di belakangnya, seperti pengawal yang setia.

Di depan gerbang fakultas, seorang gadis berdiri sendirian.

Emily.

Ia mengenakan dress berwarna krem, rambut panjangnya dikepang ke tengah, beberapa helai dibiarkan terurai di samping telinga. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, dan matanya sedikit sembab seperti orang yang kurang tidur atau sering menangis.

"Ha-halo, Ga." sapanya

"Lo sehat? Gue dengar lo kecelakaan... maafin gue, ya, Ga. Gue... gue salah."

Rangga berhenti. Matanya menatap Emily dingin, tanpa ekspresi. Tidak ada amarah yang terlihat, hanya tatapan kosong yang membuat Emily merasa takut.

Rangga terus berjalan, melewati Emily seperti tidak ada apa-apa. Emily terdiam, tapi perasaan Obesesinya semakin meledak. Terlebih saat ia melihat Rangga yang banyak berubah..

Di koridor lantai dua, suasana lebih ramai.

Rangga berjalan di depan, sesekali mengangguk pada mahasiswa yang menyapanya. Namanya sudah kembali bersih. Semua orang tahu bahwa Emily yang memfitnah. Semua orang tahu bahwa Rangga tidak bersalah.

Di ujung koridor, tiga orang gadis berjalan beriringan.

Aqeela di paling kanan, tangannya memegang ponsel, matanya menatap layar dengan penuh semangat. Wulandari di tengah, berjalan dengan gaya malas seperti biasa. Dan Meysa di paling kiri yang sibuk menghafal tugas.

"Eh, nanti kita ke mal yuk!" seru Aqeela dengan heboh. "Ada barang brand yang bagus, tahu! Limited edition! Aku lihat di Instagram tadi pagi, langsung ngiler."

"Kamu tuh kalau lihat barang branded pasti heboh," sahut Wulandari sambil memutar bola mata.

"Ya iyalah! Perempuan wajib tampil cantik!"

Meysa tidak ikut-ikutan. Matanya tertuju ke depan, ke arah kerumunan kecil yang mulai terbentuk di tengah koridor. Di tengah kerumunan itu, Rangga berjalan dengan keempat sahabatnya.

Meysa menatapnya. Hanya sekilas. Tapi cukup lama untuk membuat Aqeela menarik tangannya.

"Ayo, Cha! Ngapain malah bengong disitu!"

Tangan Meysa ditarik cepat oleh Aqeela yang tengil. Meysa tersentak, hampir tersandung, lalu berjalan cepat mengikuti langkah Aqeela dan Wulandari yang sudah mulai meninggalkan koridor.

Sampai di kelas, suasana semakin riuh.

Rangga masih duduk di bangku baris depan, tempatnya dulu. Renal duduk di sampingnya, Dimas, Januar, dan Abimanyu mengisi barisan di belakangnya..

Belum semuanya tenang, pintu kelas terbuka lagi. Dosen hukum pidana masuk dengan membawa map tebal di tangannya. Wajahnya yang biasanya serius, kali ini sedikit berbeda. Ada senyum kecil yang jarang muncul.

"Selamat pagi, mahasiswa yang cantik dan tampan."

"Selamat pagi, Pak!" sahut mereka kompak.

Dosen itu meletakkan map di atas meja, lalu matanya berkeliling ruangan. Berhenti sesaat di baris depan.

"Rangga. Selamat datang kembali, semoga kamu lebih semangat lagi untuk meraih mimpimu. SEMANGAT!!"

Rangga mengangguk. "Terima kasih, Pak."

Dosen itu tidak banyak bicara. Ia langsung membuka map, mengeluarkan selembar kertas berisi daftar tugas.

"Hari ini kalian akan bekerja dalam kelompok. Tugasnya merangkum materi hukum tentang sengketa perdata. Kelompok sudah saya tentukan."

Sontak kelas menjadi gaduh. Mahasiswa mulai mencari nama-nama mereka dalam daftar yang mulai diedarkan. Ada yang berteriak karena masuk kelompok dengan teman dekatnya, ada yang mengeluh karena kelompoknya dianggap kurang seru.

Emily yang duduk di baris kedua membaca daftar itu dengan mata membelalak. Bibirnya membentuk senyuman yang terlalu lebar untuk sekadar tugas kelompok.

Renal yang melihat daftar itu langsung menoleh ke Rangga. "Bro, lo sekelompok sama gue."

Rangga mengangguk biasa saja.

"Tapi sama Emily juga," sambut Renal pelan, hampir berbisik.

Rangga mendecak kesal.

Aqeela yang duduk di bangku belakang membaca daftar itu dengan ekspresi semakin muram. Matanya menyipit. Bibirnya mengerucut.

"Astaga," gerutunya. "Gue sekelompok sama Emily, Rangga, Meysa, dan Renal!!!"

Wulandari yang duduk di sampingnya tampak sedikit kecewa, karena ia tidak satu kelompok dengan kedua sahabatnya. "Ah males ahh."

"Dih, ada juga gue yang males, liat muka si Emily biang onar dikampus." mimik wajah Aqeela sulit di jelaskan.

"Ya sudah, anggap saja itu tantangan."

Saat dosen mempersilakan mereka untuk mulai berdiskusi, kelas berubah menjadi lautan suara kecil yang saling tumpang tindih.

Di meja paling depan, kelompok Rangga mulai berkumpul dengan posisi yang canggung.

Rangga duduk berhadapan dengan Meysa. Renal di sampingnya berusaha memecah kebekuan dengan membuka pembicaraan.

"Oke, kita bagi tugas," ucap Renal, berusaha profesional. "Ada lima bagian, kalian terserah mau ambil yang mana?"

Emily cepat-cepat mengangkat tangan. "Gue mau ambil bagian pengertian dasar sengketa perdata."

Renal mencatat. "Oke."

Aqeela yang duduk di seberang Emily memasang wajah masam. "Gue ambil bagian contoh kasus aja, biar cepet selesai."

"Meysa, lo ambil mana?" tanya Renal.

Meysa yang sedari tadi hanya diam, menatap buku catatannya, mengangkat wajah. "Aku ambil bagian kesimpulan.."

Rangga tidak ikut-ikutan menentukan. Ia hanya membaca buku, sesekali menulis, dan tidak menatap siapa pun.

Emily yang tidak bisa diam, memiringkan kepalanya ke arah Rangga. "Ga, kamu mau ambil bagian mana?"

Semua mata tertuju pada Rangga. Aqeela memutar bola matanya malas.

"Terserah," jawab Rangga singkat.

"Ya sudah, Rangga ambil bagian dasar hukumnya," ujar Renal..

Emily mencoba pindah duduk, lebih dekat dengan Rangga, dan berpura-pura melihat catatan pria itu.

"Catatan kamu rapi banget, Ga," pujinyam

Aqeela mendengkus. Ia menoleh ke arah Wulandari yang duduk dua meja di sebelah, lalu menunjuk Emily dengan telunjuknya sambil memasang ekspresi muak. Wulandari hanya menggeleng geli.

"Kamu punya catatan tentang pasal 1365 KUHPerdata, Ga?" tanya Emily lagi, masih tidak mau menyerah.

Rangga tidak menatapnya. Ia hanya menggeser bukunya sedikit menjauh.

"Buka bukumu sendiri, Em. Catatannya ada di halaman tiga puluh."

Aqeela tertawa melihat perlakuan Rangga pada Emily,

Emily merengut, tapi ia tidak mau menyerah. Ia kembali membaca bukunya dengan wajah sedikit memerah.

Tak lama, dosen berkeliling melihat perkembangan diskusi mereka. Ia berhenti di meja kelompok Rangga cukup lama, melihat-lihat catatan mereka, lalu mengangguk puas.

"Bagus. Lanjutkan."

Emily tersenyum manis pada dosen itu. "Siap, Pak!"

Aqeela, tanpa suara, menirukan senyum Emily dengan gaya lebay di belakang punggung dosen. Wulandari yang kebetulan melihat dari meja sebelah sampai terbatuk menahan tawa. Abimanyu yang duduk di dekatnya menepuk-nepuk punggung Wulandari sambil bingung.

"Lo kenapa, Lan?"

"Ga—ga ada, cuma kesedak air liur"

Dosen berjalan ke meja lain. Emily kembali memusatkan perhatian pada Rangga.

"Ga, besok gue bawain bekal buat lo ya?" ucapnya, nadanya manja.

BRAKKK!!!!!

Tiba-tiba Rangga menggebrak meja dengan keras, hingga semua orang yang sedang fokus mengerjakan tugas terkejut.

"BISA GAK SIH, LO DIEM..." bentak Rangga pada Emily.

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!