NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Ibu yang Hilang

Suasana di dalam ruangan bekas tambang itu perlahan berubah. Teriakan Wijaya yang penuh amarah kini mereda saat para pasukan mengawalnya pergi, meninggalkan Putra, Citra, dan Andi di tengah keheningan yang kini terasa damai namun sarat tanya. Cahaya matahari sore yang masuk lewat celah-celah dinding tua itu menyinari tiga sosok yang kini bersatu, meski ikatan di antara mereka masih penuh teka-teki.

Citra masih memegang kalung logam itu di tangannya, jemarinya mengusap ukiran tulisan kecil di belakangnya. "Untuk Andi, dari Ibumu yang sesungguhnya." Kalimat itu berputar terus di kepalanya, menimbulkan rasa bingung sekaligus kekhawatiran. Ia menatap Putra yang masih berlutut, memeluk erat tubuh kecil Andi seolah tak ingin melepaskannya lagi. Wajah pria itu tampak bahagia, namun di sudut matanya terselip kebingungan yang sama dengan yang dirasakan Citra.

Perlahan, Putra melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah anak di hadapannya lekat-lekat. Ia menyisir rambut hitam legam itu dengan tangan gemetar, takjub melihat betapa miripnya wajah anak itu dengan dirinya saat kecil, namun ada garis halus dan kelembutan yang bukan milik Rania. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum bisa ia jelaskan.

"Andi..." panggil Putra lirih, suaranya penuh kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. "Nak, bisakah kau bercerita pada Ayah... siapa yang memberimu kalung ini? Dan apa yang kau ketahui tentang ibumu?"

Andi menundukkan wajahnya, tangannya kecil meremas ujung baju Putra. Matanya kembali berkaca-kaca, teringat pada segala hal yang pernah ia lihat dan dengar selama ini. Ia melirik sekilas ke arah Citra, seolah mencari kekuatan, sebelum akhirnya berbicara dengan suara pelan namun jelas.

"Bu Rania... orang yang dulu bilang dia Ibu... dia tidak pernah memberiku ini," mulai Andi perlahan. "Dia selalu marah kalau aku memegang benda ini, dia ingin mengambilnya dan membuangnya. Tapi ada seorang Bibi... Bibi Sari. Dia yang merawatku diam-diam saat Bu Rania pergi atau saat Pak Wijaya datang. Beliau yang memberiku kalung ini, dan bilang kalau ini pemberian dari Ibu kandungku, pesan agar aku selalu membawanya di dekat hati."

Hati Citra berdebar kencang. Ia berlutut lebih dekat, menatap anak itu penuh perhatian sebagai seorang dokter dan sebagai calon ibu yang mulai menyayangi anak itu. "Di mana Bibi Sari sekarang, Nak? Apakah kau masih ingat apa yang beliau katakan tentang ibumu? Bagaimana wajahnya? Di mana dia sekarang?"

Andi menggeleng pelan, air mata mulai menetes lagi. "Bibi Sari pergi dua tahun lalu. Dia dibawa pergi oleh orang suruhan Pak Wijaya. Beliau sempat berpesan sebelum pergi... katanya, ibuku bukan orang jahat. Katanya, ibuku pergi bukan karena tidak sayang, tapi karena dipaksa. Katanya... ibuku sangat mirip dengan Ibu Citra."

Kalimat terakhir itu membuat jantung Putra dan Citra serasa berhenti berdetak. Mereka saling pandang, keduanya sama-sama melihat kebingungan yang mendalam di mata satu sama lain. Mirip dengan Citra? Bagaimana mungkin? Selama ini mereka yakin Rania adalah ibunya, namun kenyataan yang terungkap perlahan-lahan meruntuhkan semua keyakinan itu.

Putra mengambil kalung itu dari tangan Citra, menelitinya dengan saksama. Bentuknya, ukirannya, bahan logamnya... semuanya terasa sangat familier. Sejenak ingatannya melayang ke masa lalu, ke masa saat ia masih remaja, saat ia sering diajak ayahnya ke bengkel kerja militer atau lokasi pembuatan barang-barang khusus. Lalu, satu ingatan penting muncul, membuat wajah Putra memucat.

"Aku ingat kalung ini..." gumam Putra tak percaya. Suaranya bergetar hebat. "Kalung ini dibuat khusus atas pesanan ayahku dua puluh tahun lalu. Hanya ada dua kalung dengan bentuk dan ukiran seperti ini. Satu untukku... dan satu lagi untuk..."

Putra terdiam, menatap tajam ke arah Citra. Matanya membelalak, menyadari satu fakta besar yang selama ini tersembunyi di depan matanya sendiri.

"...Untuk kakakmu, Citra. Untuk Kak Dinda."

Nama itu menggantung di udara, berat dan penuh makna. Dinda Lestari, kakak kandung Citra yang dianggap meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis sekitar lima belas tahun lalu, saat mereka masih kecil. Kejadian yang menjadi titik awal segala kesedihan keluarga Lestari, dan alasan mengapa ayah Citra begitu hancur hingga akhirnya difitnah dan meninggal dalam kesepian.

"Tidak mungkin..." bisik Citra, tubuhnya melemas. Air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Kak Dinda meninggal saat kecelakaan itu. Aku ingat... aku masih kecil, tapi aku ingat jelas berita itu. Kami sudah berdoa dan menganggapnya tiada."

"Apa kita benar-benar yakin dia meninggal?" potong Putra tajam, pikirannya mulai menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berserakan. "Ingat ucapan Wijaya tadi? Dia mengaku mengatur segala sesuatu, mulai dari kecelakaan ayahku hingga fitnah pada ayahmu. Apa kecelakaan Dinda juga bagian dari rencananya? Bagaimana jika dia tidak meninggal? Bagaimana jika dia diculik, disembunyikan, dan dipaksa menjadi bagian dari permainan jahat mereka, sama seperti Andi sekarang?"

Citra terisak, menutup mulutnya dengan tangan. Rasanya dunia berputar kacau. Selama ini ia berjuang memulihkan nama baik ayahnya, berjuang melindungi suaminya, dan sekarang ternyata kakak kandungnya yang hilang bertahun-tahun mungkin masih hidup, dan ternyata adalah ibu dari anak suaminya sendiri. Andi... keponakannya sekaligus anak angkat yang kini ia sayangi, ternyata berdarah daging dari saudara kandungnya.

"Kalau benar Kak Dinda ibunya... berarti Andi bukan anak Rania," gumam Citra di sela isak tangisnya, namun ada rasa lega luar biasa menyelinap di hatinya. "Berarti darah daging Andi murni dari keluarga kita. Berarti Rania hanya bohong besar, dia tidak pernah mengandung atau melahirkan anakmu, Mas. Itu semua akal-akalan mereka untuk menghancurkan kita."

Putra mengangguk mantap, genggamannya pada kalung itu semakin erat. "Itu masuk akal. Semua kejahatan Rania, semua kebohongannya, surat yang dia tinggalkan... semuanya dirancang agar kita percaya Andi adalah anaknya, agar selamanya ada rasa jijik, rasa bersalah, dan jarak di antara kita. Mereka ingin Andi dibenci, ingin aku membenci anakku sendiri, ingin kita hancur dari dalam. Tapi mereka lupa... darah lebih kental daripada air, dan kebenaran selalu punya cara untuk muncul."

Ia kembali menatap Andi, yang hanya diam menatap mereka berdua dengan wajah bingung namun tenang. Anak itu mungkin belum paham apa yang sedang dibicarakan, tapi ia merasakan kehangatan dan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Andi," ucap Putra tegas namun lembut, mencium kening anak itu lagi. "Dengarkan Ayah. Ibumu adalah wanita yang sangat baik, sangat berani, dan sangat menyayangimu. Dia bukan orang jahat, dan dia bukan orang yang membenci Ayah. Segala kebohongan yang kau dengar selama ini... semuanya salah. Ayah berjanji, sekarang setelah Ayah menemukanmu, kita akan mencari Ibumu bersama-sama. Kita akan mengembalikan kebahagiaan yang dirampas dari kalian berdua."

"Benar, Nak," tambah Citra, menghapus air matanya dan tersenyum hangat, lalu merangkul tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya. "Ibu Citra juga akan ikut mencari Kak... eh, ibumu. Kita adalah keluarga. Dan keluarga tidak akan membiarkan satu sama lain hilang atau menderita lagi. Mulai hari ini, kau pulang bersamaku dan Ayah. Kau aman sekarang."

Di sudut ruangan, Kolonel Bayu yang sejak tadi diam menyimak pembicaraan itu akhirnya mendekat, wajahnya yang tua tampak lega namun juga penuh kekaguman pada takdir yang begitu rumit namun indah. Ia memegang bahu Putra dan Citra bergantian.

"Ini memang rencana Tuhan yang luar biasa," ucap Kolonel Bayu pelan. "Dulu perjodohan kalian dianggap paksaan, dianggap hukuman, dianggap jebakan. Tapi ternyata... perjodohan itulah yang menyatukan kembali dua saudara, menyatukan kembali dua keluarga, dan kini menyelamatkan penerus keluarga kita. Kalian tidak hanya memenangkan pertempuran melawan Wijaya, kalian juga menemukan kembali bagian terpenting dari diri kalian sendiri."

"Terima kasih, Paman," ucap Putra dengan rasa hormat. "Tapi perjalanan ini belum selesai. Wijaya sudah tertangkap, tapi dia pasti tahu di mana Dinda disembunyikan. Dia pasti tahu di mana Sari berada. Dan kita harus menemukan mereka sebelum jaringan sisa musuh yang lain menyadari bahwa rencana mereka gagal total dan mencoba melenyapkan bukti terakhir itu."

"Kau benar," sahut Kolonel Bayu tegas. "Aku akan langsung memerintahkan tim interogasi khusus menangani Wijaya. Dia sudah kalah, dan dengan bukti-bukti yang kita temukan di sini, ditambah kesaksian Andi, dia tidak punya pilihan selain bicara. Kita akan tahu di mana Dinda berada."

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam saat mereka keluar dari bangunan tua itu. Udara pegunungan terasa sejuk dan segar, berbeda dengan suasana pengap dan mencekam di dalam sana. Putra menggendong Andi di pundaknya, anak itu tertidur lelap setelah semua ketegangan dan emosi yang ia alami hari itu, wajahnya damai dan tenang. Di samping mereka, Citra berjalan berdampingan, sesekali menyentuh wajah tidur Andi dengan kasih sayang, hatinya penuh dengan harapan baru dan tekad yang membara.

Namun, di saat kebahagiaan dan kemenangan terasa begitu dekat, Citra tiba-tiba teringat satu hal kecil yang sempat terlupakan. Sebuah pesan singkat yang diterimanya di ponselnya pagi tadi, dari nomor yang tidak dikenal, pesan yang sempat ia abaikan karena sibuk bersiap ke lokasi tambang. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan itu kembali, dan darahnya serasa membeku saat membaca isinya.

"Kalian pikir menangkap Wijaya adalah akhir segalanya? Kalian pikir menemukan anak itu menyelesaikan masalah? Sayang sekali, Dokter. Kalian baru saja masuk ke dalam babak terakhir yang jauh lebih berbahaya. Kakakmu Dinda ada di tanganku. Dan jika kalian ingin melihatnya hidup, jangan pernah berani datang mencarinya. Ikuti saja aturanku, atau kau akan menyesal selamanya."

Di bagian bawah pesan itu, terlampir sebuah foto. Foto seorang wanita kurus, pucat, namun memiliki wajah yang sangat mirip dengannya, duduk di dalam ruangan gelap dengan tatapan penuh ketakutan. Itu pasti Dinda. Dan di sudut foto, terlihat bayangan sosok wanita lain yang berdiri di belakangnya, memegang pisau tajam di leher Dinda.

Sosok wanita itu... gaya rambutnya, gerak-geriknya... sangat dikenali oleh Citra. Wanita itu bukan orang asing. Wanita itu adalah seseorang yang mereka percayai, seseorang yang sering datang ke rumah, seseorang yang selama ini mereka anggap teman dekat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!