Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Siham masih terduduk lemas di atas ranjang dengan laptop yang terbuka di pangkuannya saat ponselnya bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Pak Heru, tetangga sekaligus sahabat karib Ayahnya di desa. Jantung Siham mendadak berdegup tidak karuan. Pak Heru tidak pernah menelepon di jam sedini ini kecuali ada sesuatu yang sangat mendesak.
Dengan tangan gemetar, Siham menggeser tombol hijau.
"Halo, Pak Heru? Ada apa?" suara Siham sangat tipis.
"Neng Siham! Neng, Bapak... Bapak tadi di ladang terkena gigitan ular, Neng! Ular tanah sepertinya. Bapak pingsan dan kakinya sudah membiru. Ini kami sedang di jalan menuju Rumah Sakit Daerah, Neng. Bapak kritis!" suara Pak Heru terdengar panik dengan latar belakang suara sirine ambulans yang meraung-raung.
Detik itu juga, Siham merasa seolah seluruh oksigen di paru-parunya tersedot habis. Langit-langit kamar mewahnya seakan runtuh menimpa tubuhnya yang memang sudah rapuh. Rasa sakit akibat kankernya mendadak hilang, digantikan oleh rasa hampa yang luar biasa hebat. Pegangannya pada ponsel melonggar. Ponsel itu terjatuh ke atas sprei empuk tanpa suara, tepat saat kesadaran Siham seolah ikut melayang pergi.
Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia hanya diam dengan mata membelalak, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang benar-benar kosong. Tubuhnya membeku dalam posisi duduk, sementara pikirannya terjebak dalam bayang-bayang Ayahnya yang sendirian berjuang melawan maut di tengah ladang.
Rupanya, Dewangga belum sepenuhnya pergi. Ia baru saja hendak melangkah keluar kamar saat mendengar bunyi ponsel jatuh dan melihat perubahan drastis pada wajah istrinya. Dewangga berbalik, mendekati ranjang dengan langkah cepat. Ia memungut ponsel Siham yang masih tersambung.
"Halo? Siapa ini?" tanya Dewangga dengan nada otoriter.
Pak Heru menjelaskan kembali situasi darurat tersebut dengan tergesa-gesa. Dewangga terdiam. Ia menatap Siham yang masih mematung seperti patung lilin. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Dewangga melihat Siham dalam kondisi yang benar-benar hancur bukan karena amarahnya, tapi karena takdir yang mencekiknya.
Ada rasa iba yang mendadak menyeruak di hati Dewangga, rasa yang selama ini ia kunci rapat di bawah tumpukan ego. Ia mematikan ponsel itu, lalu memegang kedua bahu Siham. Bahu itu terasa sangat dingin dan kecil di tangannya.
"Siham... Siham, lihat aku!" Dewangga mengguncang tubuh Siham pelan.
Siham perlahan mengalihkan pandangannya pada Dewangga. Tidak ada binar di sana. Hanya ada kekosongan yang mengerikan.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Pakai jaketmu, aku yang setir," ucap Dewangga dengan nada yang tidak lagi memerintah, melainkan mengajak. "Ayahmu butuh kita. Ayo, Siham!"
Kata "Ayah" seolah menjadi sengatan listrik yang mengembalikan nyawa ke raga Siham. Ia mengerjap, lalu mengangguk pelan. Ia bangkit dengan sempoyongan, nyaris terjatuh jika Dewangga tidak sigap menahan pinggangnya.
Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat. Dewangga mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil. Sesekali ia melirik ke samping. Siham hanya menatap keluar jendela dengan tangan yang saling bertautan erat di pangkuan. Ia tidak mengeluarkan setetes air mata pun, namun Dewangga tahu bahwa di balik diamnya itu, Siham sedang menjerit sekencang mungkin.
Wajah Siham yang pucat karena penyakitnya kini tampak semakin transparan. Dewangga merasa ada yang aneh, namun ia memilih untuk melakukan sesuatu yang lebih mendesak. Ia mengambil ponselnya, memasang handsfree, dan menghubungi orang tuanya.
"Halo, Pah? Mah?" ucap Dewangga saat panggilannya diangkat. "Mah, tolong segera ke Rumah Sakit Daerah. Ayah Siham kritis, terkena gigitan ular di ladang. Kami sedang di jalan. Tolong, Mah... Papa juga."
Dewangga mendengar suara Mamanya yang terpekik kaget dan langsung menyanggupi. Ia tahu, di saat seperti ini, kehadiran orang tuanya yang hangat akan sangat dibutuhkan, terutama karena ia sadar dirinya sendiri terlalu kaku untuk menenangkan Siham.
Siham mendengar percakapan itu. Ia sedikit terkejut Dewangga mau repot-repot menghubungi mertuanya. Namun, rasa syukur itu tertutup oleh ketakutan yang lebih besar.
"Mas..." suara Siham akhirnya keluar, sangat lirih hingga nyaris tertelan suara mesin mobil.
"Ya?" sahut Dewangga tanpa menoleh, fokus pada jalanan.
"Kalau Ayah pergi... aku tidak punya siapa-siapa lagi," bisik Siham. Air matanya kini mulai menggenang, namun ia tetap menolak untuk membiarkannya jatuh.
Dewangga terdiam. Kalimat itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia teringat bagaimana selama ini ia mengabaikan Ayah Siham, menganggapnya hanya sebagai beban masa lalu. Ia menyadari bahwa jika pria tua itu pergi, ia akan menjadi satu-satunya orang yang dimiliki Siham pria yang selama lima tahun ini justru menjadi sumber penderitaan istrinya.
"Ayah akan baik-baik saja, Siham. Dia orang yang kuat," hanya itu yang sanggup Dewangga katakan. Ia tidak tahu bagaimana cara menghibur. Ia tidak pernah belajar cara memeluk luka istrinya sendiri.
Siham kembali terdiam, menatap jalanan yang seolah tak berujung. Di dalam tubuhnya, sel-sel kanker itu terus menggerogoti, dan kini di luar sana, racun ular sedang berusaha mengambil satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup.
"Jangan sekarang, Tuhan," batin Siham dalam doa yang sunyi. "Biarkan aku yang pergi lebih dulu. Tapi aku tidak mau membiarkan Ayah melihatku mati dan jangan biarkan aku hidup di dunia yang tidak ada lagi Ayah di dalamnya."
Mobil itu terus melaju cepat, membawa dua orang yang terikat dalam kepedihan yang berbeda, menuju sebuah gedung putih di mana maut sedang menunggu untuk membuat keputusan bab selanjutnya dalam hidup mereka.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor