NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis di kamar utama mansion Zyan. Karena sistem rumah pintarnya sudah diatur sedemikian rupa, gorden itu terbuka perlahan pada pukul 06.00 tepat, membiarkan cahaya terang menyapa siapa pun yang ada di dalamnya.

Zyan, yang memang sudah terbiasa bangun pagi, sudah rapi dengan handuk melingkar di pinggangnya, baru saja keluar dari kamar mandi dengan sisa uap air yang masih menempel di tubuh atletisnya. Ia melirik ke arah kasur dan mendapati pemandangan yang sangat tidak estetis menurut standarnya.

Pembatas bantal yang dibuat Alexa semalam sudah hancur lebur. Satu bantal ada di lantai, satu guling entah kenapa bisa sampai ke ujung kaki Zyan, dan si pelaku—Alexa—sedang tidur dalam posisi melintang dengan mulut sedikit terbuka, masih mengenakan kaos tengkoraknya yang kebesaran.

"Alexa, bangun. Sudah pagi," ujar Zyan sambil mengetuk kaki ranjang dengan jarinya.

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar gumaman tidak jelas dari mulut Alexa.

Zyan menghela napas. Ia mendekat, lalu menarik selimut yang menutupi kaki Alexa. "Alexa Atmadja, atau sekarang seharusnya Alexa Arsalan. Bangun. Kita harus ke rumah orang tuamu pukul sembilan."

Alexa menggeliat, membuka matanya sebelah, lalu menatap Zyan dengan pandangan horor. "Aaaaa! Setan ganteng!" teriaknya sambil langsung duduk tegak dan melempar bantal terakhir yang ia peluk ke arah wajah Zyan.

Zyan menangkap bantal itu dengan cekatan. "Berhenti berteriak. Ini sudah jam enam lewat. Mandi sekarang, dan pilih pakaian yang pantas. Jangan mempermalukan saya di depan mertua saya sendiri."

"Pantas gimana maksud lo? Ini juga pantas kok," sahut Alexa sambil menguap lebar dan menggaruk rambut wolfcut-nya yang sudah seperti sarang burung.

"Ganti pakaianmu. Pakai sesuatu yang... anggun. Ibu saya sudah mengirimkan beberapa tas belanja berisi pakaian baru untukmu di walk-in closet," perintah Zyan sebelum ia berbalik menuju ruang ganti pribadinya.

Tiga puluh menit kemudian, pertempuran yang sesungguhnya dimulai.

Zyan sudah tampil sempurna. Ia mengenakan kemeja batik tulis eksklusif berwarna cokelat gelap yang dipadukan dengan celana bahan hitam. Jam tangan Rolex-nya berkilau tertimpa cahaya lampu. Ia berdiri di depan pintu walk-in closet, menunggu istrinya keluar.

Begitu pintu terbuka, wajah Zyan langsung berubah mendung.

Alexa keluar dengan mengenakan celana jeans ripped (sobek-sobek) di bagian paha, dipadukan dengan kaos hitam bertuliskan nama band metal legendaris dengan huruf yang sulit dibaca. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas, dan ia memakai jaket denim yang penuh dengan coretan spidol permanen.

"Gue udah siap. Ayo gas!" ujar Alexa sambil menyampirkan tas selempangnya.

Zyan berdiri mematung. Matanya memindai penampilan Alexa dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tidak percaya. "Kamu... kamu mau pergi ke acara syukuran keluarga dengan pakaian seperti itu?"

"Emang kenapa? Ini kaos kesayangan gue tahu. Gue dapet ini pas konser di Bandung tiga tahun lalu, susah payah desek-desekan!" Alexa membanggakan kaosnya.

"Lepas. Sekarang," perintah Zyan dengan suara rendah yang penuh tekanan.

"Nggak mau! Ini gaya gue, Om. Lo nggak bisa dong ngatur-ngatur gue mau pake baju apa. Gue bukan karyawan lo!"

Zyan melangkah maju, masuk ke dalam walk-in closet dan mengambil sebuah paper bag besar dari butik ternama yang dikirim ibunya kemarin. Ia mengeluarkan sebuah dress selutut berwarna soft pink dengan aksen renda yang sangat feminin.

"Pakai ini. Ini pilihan Mama."

Alexa menatap dress itu seolah-olah itu adalah seonggok sampah medis. "Pink? Renda? Lo mau gue keliatan kayak babi kecil yang mau dipotong? Nggak akan! Gue alergi sama warna pink!"

"Alexa, ini masalah etiket. Kita akan bertemu keluarga besar. Kamu ingin mereka berpikir saya menikahi seorang preman jalanan?"

"Lah, emang iya kan? Lo emang nikah sama 'preman' yang bisa bongkar mesin ZX! Daripada lo nikah sama cewek-cewek sosialita yang isinya plastik semua," balas Alexa sambil berkacak pinggang.

Zyan memijat pelipisnya. Kesabarannya benar-benar diuji. "Pakaian adalah bentuk penghormatanmu pada tuan rumah. Jika kamu tidak menghargai saya sebagai suamimu, setidaknya hargai orang tuamu."

"Jangan bawa-bawa orang tua gue ya, Om Kaku! Papa gue aja nggak pernah komplain gue pake baju apa, kenapa lo yang baru jadi suami sehari aja udah ribet banget?!"

"Karena sekarang tanggung jawabmu ada di saya!" suara Zyan meninggi satu oktav, membuat suasana kamar mendadak mencekam.

Mereka saling tatap. Udara di antara mereka seolah penuh dengan percikan api. Alexa tidak mau kalah, ia justru maju satu langkah hingga dadanya hampir bersentuhan dengan dada Zyan.

"Kalau lo nggak suka gaya gue, kenapa lo setuju nikahin gue? Hah?! Harusnya lo cari aja tante-tante yang sukanya pake daster sutra atau baju kantor yang kancingnya sampe leher!"

Zyan menatap mata cokelat Alexa yang berkilat marah. Alih-alih mundur, Zyan justru meraih pinggang Alexa dan menariknya mendekat, membuat jarak di antara mereka hilang sama sekali. Alexa tersentak, tangannya secara refleks menahan di dada Zyan yang bidang.

"Saya setuju menikahi kamu karena saya pikir kamu punya potensi untuk dididik," bisik Zyan tepat di depan wajah Alexa. "Tapi kalau kamu tetap keras kepala seperti ini, mungkin saya harus menggunakan cara yang lebih... persuasif."

"Cara apa?! Mau potong uang jajan gue? Gue bisa kerja di bengkel!" tantang Alexa, meski suaranya sedikit bergetar karena posisi mereka yang terlalu intim.

Zyan tidak menjawab. Matanya beralih ke bibir Alexa yang sedang mengerucut kesal. "Saya bisa saja mengunci kamu di kamar ini dan tidak membiarkan kamu keluar sampai kamu mau mengganti baju itu."

"Itu namanya penculikan, Om!"

"Itu namanya mendisiplinkan istri yang nakal."

Zyan melepaskan pelukannya secara mendadak, membuat Alexa sedikit limbung. Zyan mengambil gunting kecil yang ada di meja rias Alexa (yang biasanya Alexa pakai untuk memotong label harga baju atau tali sepatu).

"Apa yang mau lo lakuin sama gunting itu?!" Alexa waspada.

Zyan berjalan mendekat dengan senyum miring yang terlihat sangat berbahaya. "Kalau kamu tidak mau melepas kaos ini secara baik-baik, biar saya yang membantu melepaskannya... dengan cara saya sendiri."

"Jangan macem-macem ya, Om! Ini kaos limited edition!" Alexa mundur teratur sampai punggungnya membentur pintu lemari.

Zyan terus mendekat, mengangkat gunting itu seolah-olah benar-benar akan merobek kaos Alexa. "Pilih. Ganti baju sendiri dalam lima menit, atau saya yang akan merobek kaos ini sampai tidak berbentuk lagi."

Alexa menatap gunting itu, lalu menatap wajah Zyan yang tampak sangat serius dengan ancamannya. Ia tahu Zyan bukan tipe orang yang suka menggertak sambal.

"Lo... lo bener-bener duda gila!" teriak Alexa frustasi. "Oke! Gue ganti! Tapi jangan pake baju pink itu! Gue mau pilih sendiri!"

Zyan menurunkan guntingnya, ekspresinya kembali datar seolah tidak terjadi apa-apa. "Pilih yang sopan. Tidak ada jeans sobek, tidak ada kaos band, dan tidak ada jaket denim penuh coretan. Saya tunggu di bawah dalam sepuluh menit. Lewat satu detik, saya akan naik lagi dengan gunting yang lebih besar."

Zyan berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah santai, meninggalkan Alexa yang sedang menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan geram.

"Sialan! Gue benci banget sama lo, Om Duda Kaku!" teriah Alexa ke arah pintu yang tertutup.

Sepuluh menit kemudian, Alexa turun ke lantai bawah. Zyan yang sedang membaca koran digital di sofa ruang tamu mendongak.

Kali ini Alexa mengenakan celana kulot berwarna krem yang elegan dipadukan dengan kemeja putih oversized yang dimasukkan rapi ke dalam celana. Ia tetap menolak memakai dress, tapi setidaknya penampilannya sekarang terlihat seperti wanita muda yang berkelas namun tetap modern. Rambut wolfcut-nya ia rapikan sedikit dan ia memakai anting perak kecil.

Zyan memperhatikannya cukup lama. "Lumayan. Meskipun kemeja itu sepertinya masih terlalu besar untukmu."

"Ini namanya gaya minimalist, Om! Lo mana paham. Udah ah, ayo jalan! Keburu siang, ntar kena macet makin emosi gue liat muka lo," sahut Alexa ketus sambil berjalan mendahului Zyan menuju garasi.

Saat mereka berjalan menuju mobil, Alexa melihat motor ZX-nya yang ban belakangnya sudah kembali bulat dan bersih mengkilap, terparkir di pojok garasi.

"Lho? Motor gue udah dibenerin?" tanya Alexa kaget.

"Saya menyuruh orang bengkel mengambilnya semalam saat kita pergi. Bannya sudah diganti dengan yang baru, tipe yang lebih baik untuk jalanan basah," ujar Zyan santai sambil membukakan pintu mobil Rolls Royce-nya untuk Alexa.

Alexa terdiam sejenak. Ia menatap Zyan yang sekarang sedang sibuk memeriksa ponselnya. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup di hatinya. Ternyata di balik sifatnya yang suka memaksa dan kaku, Zyan tetap memperhatikan detail tentang hal yang Alexa sukai.

"Makasih... buat motornya," gumam Alexa pelan, hampir tidak terdengar.

Zyan menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tipis, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan teliti. "Sama-sama. Itu supaya kamu tidak punya alasan lagi untuk naik ojek atau merepotkan saya dengan ban bocor."

"Cih, tetep aja sombong!" balas Alexa, namun kali ini tanpa nada marah.

Mobil mewah itu pun meluncur keluar dari gerbang mansion. Perjalanan menuju rumah orang tua Alexa menjadi sedikit lebih tenang dibandingkan pagi tadi. Meski mereka masih sering saling sindir di dalam mobil, ada sebuah dinamika baru yang mulai terbentuk: perlawanan Alexa yang mulai melunak, dan ketegasan Zyan yang ternyata mengandung perhatian.

Tapi tentu saja, kedamaian itu tidak akan bertahan lama, karena Alexa sudah merencanakan sesuatu yang lebih gila untuk dilakukan di acara syukuran nanti demi membalas dendam soal "insiden gunting" tadi.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!