NovelToon NovelToon
Jangan, Dia Datang!

Jangan, Dia Datang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.

Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…

Entitas urban legend itu akan datang.

Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.

Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?

Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Partner In Crime

Kesunyian menyelimuti tempat di mana Naja dan Satria tengah duduk berdua. Angin sore itu berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang ada di ranting pohon. Beberapa daun terseret dan jatuh ke tanah yang kering.

Di sini, suasananya tidak begitu sepi. Masih ada orang lain selain Naja, hanya saja tidak begitu rame dan tidak ada suara kendaraan yang bising. Hanya suara kicau burung dan daun yang terseret angin, membuat mereka merasa seperti ada yang menemani.

Langit mulai redup dengan kemunculan cahaya bulan yang samar di balik awan. Bersamaan dengan itu, Naja menundukkan kepala. Dia memainkan jemarinya sebentar sebelum menatap Satria dengan dalam. Ia menghela napas perlahan.

"Makasih ya, kamu sudah bantu memecahkan kasus ini," ucap Naja sambil tersenyum.

Satria membalas senyuman Naja dengan tatapan ramah. "Sama-sama, lagi pula aku senang membantumu," jawab lelaki itu, membuat Naja senang.

Biasanya, Naja akan mengadili orang-orang yang berbuat kesalahan dengan melihat skor kenakalan atau perbuatan secara langsung. Namun, dia tidak menyadari jika sikapnya ini aja berisiko jika terjadi kasus berat seperti yang terjadi pada Evan dan adik perempuannya.

Andai jika ia tidak menemukan secarik kertas tentang ratapan adik Evan, mungkin Evan sudah hancur dihukum oleh Naja tanpa keadilan yang benar. Dan lebih parah lagi, Dara, adiknya juga tidak akan mendapat keadilan dan mati sia-sia.

Hal yang paling Naja syukuri adalah, dia bisa bertemu Satria dan memberinya kekuatan. Kekuatan lelaki itu sangat membantu dia dalam menghukum atau menolong orang-orang. Satria membantu dia dalam menyelidiki kasus yang sangat berat dan membantu dia menyelidiki kebenaran di saat sistem deteksi moral banyak dimanipulasi oleh oknum.

"Aku sepertinya bakal sering manggil kamu deh. Jaga-jaga jika ada kasus berat seperti Evan dan adik perempuannya," kata Naja.

Satria membalas itu dengan senyuman hangat. Dia mengangguk pelan sambil menjawab, "Oke. Panggil aja, gunain jam mewah ini.” Satria memainkan pergelangan tangan, dengan smartwatch pemberian Naja yang melingkar.

Sesaat pikiran mereka larut dunia masing-masing. Tanpa sadar, Satria teringat kejadian beberapa hari lalu. Hari di mana dia tidak sengaja mendengarkan percakapan beberapa guru dan kepala sekolah.

Senyuman di wajah Satria perlahan memudar, matanya memicing dan alisnya bertaut. Dia menggenggam segelas kopi di depannya dengan rasa gelisah. Lelaki itu menghela napas cukup panjang, membuat Naja seketika menoleh padanya.

"Ada apa, kamu mikirin sesuatu?" tanya Naja sambil memperhatikan Satria dalam-dalam.

Satria masih ragu untuk menceritakan semuanya pada Naja. Namun, agar gadis itu tidak penasaran, dia pun menoleh dengan menatap penuh rasa simpati.

"Kemarin aku tidak sengaja denger percakapan guru sama kepala sekolah. Mereka kaya lagi bicarakan masalalu," ujar Satria pelan-pelan, dia mengatur napasnya sebentar membuat kalimat penting nya tertahan.

Naja mengerutkan kening, dia menepuk tangan Satria pelan untuk menyadarkan lelaki itu. "Kenapa?"

"Aku penasaran saja, sebenarnya apa si masalah mereka. Kenapa mereka ketakutan pas bahas soal kematian seorang gadis," tegas Satria membuat Naja membulatkan matanya.

"Apa?!"

Satria mengangkat bahu acuh. "Iya, tapi aku tidak tahu. Siapa gadis yang meninggal dan yang mereka bicarakan itu kejadian bertahun-tahun lalu," tegas lelaki itu membuat Naja menghela napas.

Pandangan Naja tertuju ke sembarang arah. Hati gadis itu tiba-tiba saja berkecamuk saat Satria membicarakan guru, termasuk kepala sekolah. Rasa sakit di jiwanya bertambah saat Satria berkata mereka meratapi kematian seorang gadis.

"Apa ini ada kaitannya denganku?" tebak Naja dalam pikirannya sendiri. Dia terus berdialog dalam hati sambil mengingat apa yang sebenarnya terjadi padanya sebelum meninggal. Namun, kepala gadis itu malah makin sakit dan berat.

Satria yang melihat Naja kesakitan segera merangkul untuk menenangkan dan memberi segelas air. "Naja, kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

Naja menggeleng, dadanya sesak bahkan matanya mulai berair. Tidak tahu kenapa topik kali ini menyinggung dia padahal dia sendiri belum melihat orang yang dibicarakan Satria secara langsung. Secara samar-samar, bayangan masa lalu nya terbayang di benak. Namun, masih tidak sejelas itu sampai Naja bisa memutuskan untuk memberi keadilan. Semuanya masih terasa abu-abu.

"Satria, aku minta padamu. Selidiki kasus mereka dengan baik. Aku ingin memastikan apa perbuatan mereka di masa lalu. Entah kenapa dari orang yang kamu ceritakan, baunya tidak asing di pikiranku," ungkap Naja. Dia menatap Satria dalam-dalam, mencoba mencari perhatian lelaki itu.

Satria mengangguk sambil tersenyum. Dia meraih tangan Naja dan mengusapnya pelan. Naja masih memandangnya penuh harap.

"Tanpa kamu minta seperti ini, aku akan membantumu. Jangan khawatir," balas Satria tenang tapi tegas.

Kondisi kelas pagi ini tidak setenang suasana sejuk di taman sekolah. Beberapa murid bercanda, tawa mereka terdengar cukup keras sampai kelas sebelah. Nando dan anak nakal lainnya juga sibuk bertengkar, mencoba beradu siapa yang paling kuat. Saat ini, jam pelajaran sedang kosong sementara karena guru sedang ada rapat.

Di bangku pojok, Satria duduk sendiri sambil sesekali membolak-balikkan lembaran kertas yang ada di bukunya. Pandangan lelaki itu kosong, tidak fokus. Dia terus memikirkan percakapan guru dan reaksi Naja saat mendengar ceritanya. Sejenak, tangan lelaki itu meraih pulpen dan mencoret lembaran kertas itu dengan gambar sembarang, menggambarkan kebingungan yang dirasakan.

Ceklek

Pintu kelas tiba-tiba terbuka. Suasana ribut tak karuan sekarang menjadi hening. Semua siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Sementara pak Andre, guru yang mengajar kelas mereka masuk dengan langkah tegap sambil membawa buku pelajaran dan laptop. Raut wajahnya begitu tenang, seolah tidak peduli dengan keributan yang baru saja terjadi.

"Wah, rame sekali kelasnya," komentar Pak Andre sambil tersenyum ramah memandangi murid-muridnya. Tidak ada yang menjawab, mereka semua canggung. Pak Andre terdiam sejenak sambil meletakkan alat belajarnya di meja guru.

Saat, pak Andre hendak menjelaskan materi sambil menuliskan di papan tulis, Satria merasakan aura tidak asing. Secara samar-samar lelaki itu melihat potongan-potongan bayangan asing di kepala.

Ruangan gelap, suara seorang gadis menangis, bercak darah di lantai dan dinding. Dan di pojok ruangan itu, secara samar terlihat seorang guru berdiri di sana, di tengah kegelapan membawa senjata dengan tatapan panik.

Satria menggelengkan kepala pelan dan menampar pipinya pelan. Dia menghela napas panjang. "Apa yang aku lihat barusan?" tanyanya saat tersadar dari lamunannya.

Lelaki itu memegang pelipisnya pelan. Wajahnya sedikit memucat. Penglihatan itu hanya muncul beberapa detik, seperti debu yang tersapu angin.

"Satria, coba jawab pertanyaan di papan tulis ini!" tegur Pak Andre yang sepertinya sadar salah satu muridnya sedang melamun.

Karena pada dasarnya pandai, Satria pun maju untuk menjawab soal yang diberikan pak Andre di papan tulis. Seksama, dia melirik pak Andre yang sedang memberikan penjelasan materi pada teman-temannya. Raut wajah gurunya seperti tidak asing dengan wajah yang dilihat di pikirannya tadi. Cara dia berbicara juga sama dengan guru yang dia dengar secara diam-diam kemarin.

"Apa Pak Andre ada kaitannya dengan masalalu kematian gadis itu?" tebak Satria dalam pikirannya.

1
SuryaNingsih
tuh kann ini tu tanah mereka tapi mau di rampas gitu
SuryaNingsih
Mau digusur demi bangun mall? ga ad hati klian ni
SuryaNingsih
Manaa🤣🤣
SuryaNingsih
naja itu santai tapi ngeselin tapi lucu🤣
SuryaNingsih
ooh si Naja nya mah udah tau ya🤣 cuma bru gentayangin aja
SuryaNingsih
sempet ketawa sama tepuk tangan🤣 lucu bgt ya🤣🤣
SuryaNingsih
jalur kakaen di desa penari kali ni andre🤭
SuryaNingsih
ramah pas ada maunya
SuryaNingsih
Lah yo si Andre dlu nganu 😡
Rosalina Ayyaee
Enak bgt jd Naja? dia smacem utusan tuhan ya?
Rosalina Ayyaee
Hadehh pak kepala dinasnya malah ky gt
Rosalina Ayyaee
Berhati lembut🤣 dia abis bunbun org🤣🤣
Rosalina Ayyaee
dia ngga mau kasus evan keulang lg salah tangkep
Rosalina Ayyaee
Hmm kek nya pembangunannya di tanah ilegal ya😡
Rosalina Ayyaee
seperti biasa mba Naja ini ngeselin tingkahnya🤣 tp bner sih kan yg di bully ya cewe itu
Rosalina Ayyaee
ooh semacem urban legend gt ya thor jd dy bales smua org gk cuma yg dsklh ini sj
Rosalina Ayyaee
Masih bgitu ya cuma dpn org dy pura2 pncitraan doang
Rosalina Ayyaee
Ya ampun andre kaya gitu dulunya😡
Rosalina Ayyaee
ya pasti wong korupsi kok
Wulandarry
Lhaa mala lari dy🤣 sukur dh d ksi sangsi sosial😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!