NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: AIR MATA DI MEJA DIREKSI

AIR MATA DI MEJA DIREKSI

​Lantai marmer lobi gedung Pratama Tower yang terletak di kawasan segitiga emas Jakarta itu berkilat sempurna, memantulkan cahaya lampu kristal besar yang menggantung di langit-langit. Langkah kaki Amira terasa begitu berat dan canggung saat ia melewati pintu kaca otomatis. Ia meremas tali tas kulit lamanya yang sudah sedikit mengelupas di bagian sudut.

​Penampilannya siang itu sangat kontras dengan kemewahan gedung di sekelilingnya. Amira hanya mengenakan tunik katun berwarna biru pudar yang warnanya sudah agak turun akibat terlalu sering dicuci, dipadukan dengan celana kain hitam dan kerudung instan sewarna. Pipi kirinya yang dihantam map merah oleh Ibu Ratna tadi pagi masih menyisakan rona kemerahan yang samar, sengaja ia tutupi dengan sedikit bedak padat, meski rasa perihnya masih menembus hingga ke rahang.

​Beberapa staf administrasi yang duduk di balik meja resepsionis marmer hitam melirik Amira dengan pandangan menilai. Mereka tahu siapa Amira—istri sang pemilik perusahaan—namun tatapan mereka tidak lagi menyiratkan rasa hormat. Kasak-kusuk tentang runtuhnya posisi Amira di hati Aris rupanya sudah menyebar seperti virus di antara para karyawan sejak Lista masuk sebagai sekretaris pribadi baru.

​"Selamat siang, Mbak Amira. Ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis bernama panggung Chika, nadanya terdengar formal namun ada nada meremehkan yang terselip tipis.

​"Siang, Chika. Mas Aris ada di ruangannya? Saya mau bertemu sebentar," suara Amira bergetar, ia mencoba tersenyum seadanya.

​"Waduh, Pak Aris sedang ada rapat internal penting dengan divisi pemasaran dan jalur distribusi baru, Mbak. Tadi pesannya tidak boleh diganggu oleh siapa pun," jawab Chika sambil jemarinya sibuk mengetik di komputer, bahkan tanpa memandang wajah Amira dengan sopan.

​Amira menarik napas dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. "Saya istrinya, Chika. Saya hanya butuh waktu lima menit. Ini penting sekali."

​Chika menghela napas panjang, tampak jengkel. "Ya sudah, Mbak langsung naik saja ke lantai lima. Tapi saya tidak menjamin Pak Aris mau menemui ya."

​Amira mengangguk pendek. Ia berjalan menuju deretan lift eksekutif. Ketika pintu lift berdinding cermin itu tertutup, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Matanya yang sembab, kulit sawo matangnya yang tampak kusam karena kurang tidur dan tekanan batin, serta gurat-gurat kelelahan yang nyata. Ia teringat kembali senyum tipis Lista di ruang tamu tadi pagi. Senyuman ular yang membuatnya tidak bisa duduk diam di rumah. Ia harus mendapatkan penjelasan dari Aris, langsung dari mulut suaminya sendiri.

​Ting.

​Pintu lift terbuka di lantai lima. Lantai ini adalah area privat direksi. Suasananya jauh lebih tenang, berlantai karpet tebal sewarna abu-abu arang yang meredam setiap langkah kaki. Saat Amira berjalan melewati kubikel-kubikel staf senior, keheningan itu mendadak pecah oleh suara tawa yang sangat ia kenal dari arah ruang rapat utama yang berdinding kaca buram.

​Itu suara Aris. Suara tawa lepas yang sudah berbulan-bulan tidak pernah Amira dengar di rumah.

​Amira melangkah mendekat ke dinding kaca yang sedikit terbuka celah pintunya. Melalui celah itu, ia bisa melihat dengan jelas suasana di dalam ruang rapat. Aris duduk di kursi utama direksi, dasinya sudah sedikit dilonggarkan, wajahnya tampak segar dan penuh karisma. Dan di sebelah kanannya, duduk Lista.

​Lista mengenakan kemeja kerja pas badan berwarna putih gading dan rok pensil hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Kulitnya yang putih mulus tampak bersinar di bawah pendar lampu ruang rapat. Di depan mereka terhampar peta jalur distribusi Jawa Timur.

​"Jadi, Mas... maksud saya, Pak Aris," Lista meralat ucapannya dengan gaya manja yang menggemaskan, membuat beberapa manajer di dalam ruangan tertawa kecil. "Kalau kita memotong jalur agen ketiga di Surabaya dan langsung masuk ke gudang pusat, kita bisa menghemat biaya operasional hingga dua belas persen. Ini simulasi yang saya buat semalam."

​Lista menyodorkan sebuah tablet mewah ke hadapan Aris. Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga lengan kemeja Aris sesekali bergesekan dengan bahu Lista.

​Aris menatap layar tablet itu dengan mata berbinar penuh kekaguman. "Luar biasa, Lista. Kamu benar-benar jeli. Analisis ini bahkan tidak terpikirkan oleh tim pemasaran lama kita. Jalur distribusi Jawa Timur ini memang butuh sentuhan segar seperti pikiranmu."

​"Ah, Pak Aris bisa saja. Ini juga berkat bimbingan Pak Aris kok," sahut Lista sambil menunduk malu-malu, jemarinya sengaja merapikan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat feminin.

​Dadanya Amira berdenyut hebat, rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Analisis itu... simulasi itu... Amira meremas tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Itu adalah ide yang pernah ia diskusikan dengan Aris setahun lalu di meja makan mereka! Amira yang mencoret-coret konsep pemotongan agen Surabaya itu di atas kertas bekas saat Aris mengeluh soal margin yang menipis. Mengapa sekarang ide itu diklaim oleh Lista seolah-olah itu adalah hasil pemikiran jenius sang sekretaris baru?

​Tidak tahan lagi menahan gejolak di dadanya, Amira mendorong pintu kaca itu hingga terbuka lebar.

​Brak!

​Suara pintu yang membentur dinding pembatas mengejutkan semua orang di dalam ruangan. Seluruh pasang mata seketika tertuju ke ambang pintu. Tawa lepas Aris langsung lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya saat melihat sosok perempuan yang berdiri di sana dengan napas terengah-engah.

​"Amira?" Aris berdiri dari kursinya, wajahnya berubah mengeras dan dingin. "Sedang apa kamu di sini? Dan kenapa pakaianmu seperti itu?"

​Amira melangkah masuk ke dalam ruang rapat, mengabaikan tatapan heran dan berbisik dari para manajer bawahannya. Ia berjalan lurus menuju meja direksi, matanya menatap tajam ke arah Lista yang kini langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi ketakutan dan serba salah.

​"Mas, aku butuh bicara. Soal dokumen klinis yang dibawa Ibu tadi pagi, dan soal... soal jalur distribusi Jawa Timur ini," suara Amira bergetar, namun ia mencoba menuntut haknya sebagai seorang istri.

​Aris melirik ke arah para stafnya yang mulai saling berbisik, membuat harga diri lakilakinya merasa tercoreng di depan umum. "Amira, ini ruang rapat profesional! Bukan tempat untuk mengurus urusan dapur rumah tangga! Keluar sekarang, tunggu di ruangan saya."

​"Tidak, Mas! Aku tidak mau menunggu lagi!" Amira meletakkan kedua tangannya di atas meja marmer rapat, menatap Aris dengan mata yang mulai meneteskan air mata. "Jalur Jawa Timur ini... konsep pemotongan agen Surabaya ini, ini adalah ideku yang pernah aku ceritakan padamu, Mas! Mengapa sekarang wanita ini yang mengambil alih semuanya? Dan soal dokumen program hamil itu, dia yang menjebakku, Mas! Dia menaruhnya di mobilmu agar Ibu membenciku!"

​"Mbak Amira..." Lista tiba-tiba berdiri dari kursinya, matanya langsung berkaca-kaca dengan sempurna, suaranya bergetar hebat seolah-olah ia adalah korban kelaliman yang paling teraniaya. "Demi Tuhan, Mbak... Lista tidak pernah mengambil ide Mbak Amira. Analisis ini Lista buat sendiri dari data laporan keuangan kuartal lalu. Dan soal dokumen Bude Ratna... Lista tidak pernah menjebak Mbak. Lista cuma mau bantu..."

​"Diam kamu, Lista! Jangan berakting lagi di depanku!" bentak Amira, emosinya yang dipendam sejak pagi akhirnya pecah.

​"AMIRA, CUKUP!"

​Bentakan menggelegar Aris membuat ruangan itu seketika senyap seolah tak ada kehidupan. Aris memukul meja rapat dengan telapak tangannya dengan sangat keras. Napasnya memburu, matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa kepada istrinya sendiri.

​"Kamu sudah keterlaluan, Amira! Kamu datang ke kantorku tanpa izin, berpenampilan acak-acakan seperti orang tidak waras, lalu memfitnah sekretarisku yang sudah bekerja mati-matian di depan staf-stafku?!" Suara Aris menekan, dingin, dan penuh racun penolakan. "Kamu menuduh Lista mencuri idemu? Sadar diri, Amira! Kamu itu cuma di rumah, otakmu sudah tumpul! Mana mungkin kamu bisa membuat analisis serumit ini? Jangan karena kamu iri dan dengki dengan kepintaran Lista, kamu jadi berbuat nekat dan memalukan seperti ini!"

​Amira melangkah mundur, tubuhnya bergetar hebat mendengar kalimat “otakmu sudah tumpul” keluar dari mulut suaminya sendiri. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang perih. Rasa sakit dari makian Aris jauh lebih menghancurkan daripada hantaman map merah Ibu Ratna tadi pagi.

​Lista berjalan memutari meja, mendekati Aris lalu memegang lengan pria itu dengan lembut, berakting mencoba meredakan amarah sang bos. "Pak Aris, sudah... jangan marahi Mbak Amira. Ini salah Lista. Mungkin Lista yang kurang sopan dalam berkomunikasi sehingga Mbak Amira salah paham. Mohon jangan perpanjang masalah ini, Pak..."

​Aris menatap Lista dengan pandangan yang melunak, penuh rasa bersalah karena sekretaris kesayangannya harus ikut terseret dalam keributan ini. "Kamu tidak salah, Lista. Dia yang tidak tahu cara menempatkan diri."

​Aris kembali menatap Amira dengan pandangan yang begitu asing, seolah perempuan di depannya bukan lagi wanita yang dulu ia tangisi saat berjuang mendapatkan restu orang tua. "Pulang kamu, Amira. Sebelum aku benar-benar kehilangan sisa rasa hormatku padamu sebagai istri. Pulang dan urus rumah dengan benar!"

​Amira menatap suaminya untuk terakhir kali di ruangan itu, lalu pandangannya beralih pada Lista. Dari balik bahu Aris yang tegap melindungi tubuhnya, Lista menatap Amira dengan mata yang jernih namun sudut bibirnya kembali tertarik membentuk senyuman kemenangan yang sangat tipis dan dingin—sebuah proklamasi bahwa takhta di kantor ini pun sudah resmi menjadi miliknya.

​Amira membalikkan badan dengan langkah gontai. Ia berjalan keluar dari ruang rapat diiringi oleh tatapan mencemooh dan kasihan dari para staf kantor. Air matanya menetes sepanjang koridor lantai lima, membasahi karpet abu-abu tebal itu. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh hari ini. Ia dipermalukan di depan umum oleh suaminya sendiri demi membela sang pelakor.

​Namun, di tengah rasa hancur dan sesak yang mendera paruparuhnya saat melangkah masuk ke dalam lift yang sunyi, tangan Amira tiba-tiba menyentuh kantong tunik katunnya. Ia merasakan sebuah benda kecil persegi panjang di dalam sana.

​Amira merogoh kantongnya dan mengeluarkan benda itu.

​Itu adalah sebuah alat tes kehamilan (test pack) yang baru saja ia beli di apotek bawah gedung sebelum ia naik ke lantai lima tadi, karena menyadari siklus bulanannya yang sudah terlambat dua minggu ditambah rasa mual yang luar biasa sejak subuh.

​Sambil bersandar pada dinding lift yang bergerak turun, dengan tangan yang gemetar dan pandangan yang kabur oleh air mata, Amira melihat ke arah jendela indikator alat kecil itu. Di sana, di bawah pendar lampu lift yang dingin, perlahan-lahan muncul dua garis merah yang sangat jelas dan tegas.

​Amira membekap mulutnya sendiri. Jantungnya berdentum kencang, berpacu di antara rasa bahagia yang luar biasa dan ketakutan yang mencekam yang mendadak menyerang seluruh sendi tubuhnya.

​Ia hamil. Di tengah badai fitnah program hamil palsu dari Ibu Ratna, di tengah pengkhianatan Aris dan Lista yang semakin terang-terangan di kantor, sebutir benih kehidupan sejati justru sedang tumbuh di dalam rahimnya yang dituduh mandul dan cacat.

​Pintu lift terbuka di lantai dasar, menampilkan lobi yang ramai. Amira meremas alat tes kehamilan itu erat-erat di dalam genggamannya, menyembunyikannya dari dunia luar. Pikirannya mendadak menjadi sangat kalut. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku memberi tahu Aris, apakah dia akan percaya? Ataukah ular di dalam rumahku akan menggunakan anak ini untuk menghancurkanku lebih dalam lagi?

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!