NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI SANG SAMUDERA

Arka melepas pelukan nya dari alana sambil berlari kecil menuju samudera dan berkata "apakah kamu mau jadi papaku ? "

Dengan sisa kekuatan yang ada, Alana bangkit berdiri. Ia melangkah cepat, lalu dengan lembut namun tegas, menarik bahu Arka agar terlepas dari pegangan Samudera.

​"Arka, dengar Ibu, Sayang," potong Alana cepat, suaranya terdengar agak tinggi dan bergetar karena panik.

​Arka mendongak menatap ibunya dengan tatapan bingung, sementara Samudera perlahan ikut berdiri, menatap Alana dengan kening berkerut dalam.

​Alana berlutut di depan Arka, menghalangi pandangan anaknya dari Samudera. "Arka tidak boleh bicara seperti itu pada Om Samudera. Om Samudera tidak bisa jadi papa Arka," ujar Alana, berbohong demi mempertahankan bentengnya.

​"Kenapa, Ibu? Om Samudera kan baik, sudah tolong Arka," tanya Arka polos, matanya berkaca-kaca karena permintaannya ditolak.

​Alana menarik napas dalam-dalam, lalu melirik sekilas ke arah Samudera dengan tatapan dingin sebelum kembali menatap Arka. "Karena... Om Samudera ini sudah punya keluarga sendiri, Arka. Om Samudera sudah punya istri, dan mungkin sudah punya anak-anak lain di rumahnya. Jadi, Om Samudera harus pulang ke keluarganya sendiri. Arka tidak boleh minta Om Samudera jadi papa Arka, ya? Itu tidak sopan."

​Bagai disambar petir, Samudera mematung mendengar dalih yang diucapkan Alana. Rahangnya mengeras. Ia tahu Alana sedang panik dan berusaha menjauhkannya dari Arka, tetapi tuduhan bahwa ia sudah memiliki wanita lain atau keluarga lain benar-benar menusuk egonya. Selama empat tahun ini, jangankan menikah, menyentuh wanita lain saja tidak pernah ia lakukan karena pikirannya sepenuhnya tertambat pada wanita yang berdiri di depannya ini.

​Samudera menatap Alana dengan kilat mata yang tajam, menuntut penjelasan atas kebohongan yang baru saja wanita itu bisikkan ke telinga anak mereka.

"Di kelas online guru sering menanyakan nama dan pekerjaan papa ku,aku sering sedih karna tidak punya papa".

Mendengar kalimat polos yang keluar dari mulut Arkana, tubuh Alana seketika menegang. Jantungnya bagai diremas kuat. Selama ini, ia mengira dengan memasukkan Arka ke kelas online dan homeschooling, ia bisa melindungi putranya dari pertanyaan-pertanyaan sensitif tentang sosok orang tua. Namun ternyata, ia salah. Rasa sedih dan hampa itu tetap membayangi hati kecil Arka tanpa pernah ia ketahui sebelumnya.

​Air mata Alana kembali menggenang. Rasa bersalah sebagai seorang ibu yang gagal memberikan sosok ayah yang utuh kini menghantamnya telanjur dalam.

​Di sisi lain, kalimat Arka barusan menghantam dada Samudera dengan telak. Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di hatinya. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak emosi dan amarah pada dirinya sendiri. Selama empat tahun ini, sementara ia hidup dalam kemewahan dan kekuasaan, putra kandungnya harus menahan kesedihan dan rasa minder di depan teman-teman dan gurunya hanya karena kelalaian masa lalu Samudera.

​Samudera tidak bisa lagi tinggal diam. Persetan dengan dalih Alana tentang "keluarga lain". Ia harus meluruskan semuanya sekarang juga.

​Samudera kembali melangkah maju, lalu berlutut di hadapan Arka. Dengan lembut namun penuh kepastian, ia menyingkirkan tangan Alana yang menghalangi, lalu memegang kedua pundak kecil Arka. Ia menatap lurus ke dalam mata bulat putranya yang kini mulai berkaca-kaca.

​"Arka, dengar Om... dengar Papa," ucap Samudera, suaranya berat, dalam, dan bergetar penuh penekanan.

​Alana terengah, mencoba memotong, "Samudera, jangan—"

​"Ibu salah, Arka," potong Samudera tanpa mengalihkan pandangannya dari Arka. "Papa tidak punya keluarga lain. Papa tidak punya istri, dan Papa tidak punya anak lain di luar sana. Rumah Papa sepi, karena selama empat tahun ini... Papa hanya mencari Arka dan Ibu."

​Arka mengerjapkan matanya yang sembap, menatap Samudera dengan binar harapan yang kembali menyala. "Benarkah?"

​"Iya,Papa berjanji, mulai hari Senin besok, kalau guru di kelas online bertanya lagi siapa nama ayah Arka..." Samudera jeda sejenak, melirik ke arah Alana dengan tatapan penuh komitmen yang tak terbantahkan, sebelum kembali menatap putranya. "Arka bisa sebut nama Papa dengan keras. Nama papa Arka adalah Samudera. Dan Papa tidak akan membiarkan Arka merasa sedih sendirian lagi."

​Arka mendengarnya dengan saksama, lalu perlahan sebuah senyuman tipis namun tulus terbit di wajah mungilnya. Rasa hangat yang asing namun menenangkan kini memenuhi hati bocah empat tahun itu.

​Sementara itu, Alana hanya bisa tertegun membisu. Kata-kata Samudera yang begitu tegas dan jujur di depan Arka meruntuhkan semua argumen dan kebohongan yang coba ia bangun. Ia tahu, mulai detik ini, ia tidak akan bisa lagi menjauhkan Samudera dari kehidupan mereka.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!