NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Posko di Tengah Badai

​Pintu Rolls-Royce Ghost terbuka, dan hawa dingin yang ekstrem langsung menerobos masuk bagai pisau yang menghantam wajah. Angin kencang menderu begitu keras, menerbangkan butiran es yang langsung memedihkan mata.

​Pak Lukas turun terlebih dahulu, memasang tubuh kekarnya di depan pintu untuk menahan hantaman angin. Kevin menyusul di belakangnya, memegang senter darurat berkekuatan tinggi untuk membelah pandangan yang memutih total.

​"Nona Aisya, pegang ujung kain mantel ini, tetap berada di belakang saya!" teriak Pak Lukas di tengah gemuruh angin. Sesuai batasan, ia tidak menyentuh Aisya langsung, melainkan mengulurkan ujung sabuk mantel tebalnya sebagai pegangan agar Aisya tidak tersesat atau tergelincir di atas es.

​Aisya melangkah turun dengan tubuh yang terbungkus mantel besar milik Cassian di atas jaketnya. Kakinya yang sempat terkilir terasa kaku saat menapak gundukan salju setinggi lutut. Langkahnya goyah seketika.

​Tepat saat tubuh mungilnya hampir limbung dihantam angin dari samping, sebuah pembatas kokoh hadir di sisi kirinya. Cassian sudah berdiri di sana. Pria itu tidak menyentuhnya, namun ia memposisikan tubuhnya yang tinggi besar sebagai tameng hidup untuk menghalau angin badai yang datang dari arah barat, memastikan Aisya terlindungi di antara dirinya dan Pak Lukas.

​"Jalan, Lukas! Jangan berhenti!" perintah Cassian dengan suara lantang yang bersaing dengan suara badai.

​Mereka bergerak perlahan, membelah trotoar yang tertimbun salju tebal. Lima menit berjalan di tengah badai Toronto terasa seperti berjam-jam. Jari-jari kaki Aisya sudah mati rasa, dan napasnya terasa sesak karena udara dingin yang membekukan kain niqabnya.

​Akhirnya, siluet bangunan St. Andrew's Community Hall terlihat di depan mata. Pak Lukas mendorong pintu besi besar gedung tersebut dengan sekuat tenaga, lalu mempersilakan Aisya masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Cassian dan Kevin.

​Brak!

​Pintu ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Seketika itu juga, suara mengerikan dari badai di luar meredup. Suhu di dalam ruangan jauh lebih manusiawi berkat generator darurat yang menyalakan sistem pemanas dinding.

​Aisya langsung terduduk di sebuah kursi lipat di dekat pintu, dadanya kembang kempis mencoba meraup udara hangat. Ia melepaskan sarung tangannya yang basah dengan tangan yang gemetar hebat.

​Namun, konflik baru langsung menyambut mereka. Gedung komunitas itu ternyata sudah dipenuhi oleh sekitar tiga puluh warga lokal yang juga terjebak di jalanan. Suasananya bising dan penuh sesak.

​Saat rombongan mereka masuk—terutama melihat Cassian yang meskipun tanpa mantel luar tetap memancarkan aura kelas atas yang dominan, diikuti oleh Aisya yang mengenakan pakaian serba hitam longgar dan wajah yang tertutup rapat—percakapan di dalam ruangan luas itu mendadak mereda.

​Pandangan berpuluh-puluh pasang mata langsung tertuju pada mereka. Beberapa orang menatap dengan rasa ingin tahu, namun di sudut ruangan, sekelompok pria paruh baya yang tampaknya frustrasi karena terjebak badai mulai menunjukkan gestur tidak suka. Mereka saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Aisya dengan pandangan yang penuh kecurigaan dan ketegangan.

​Seorang petugas sosial paruh baya dengan rompi kuning berjalan menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak tegang dan lelah.

​"Selamat malam, Tuan-Tuan. Selamat datang di posko darurat," ujar petugas itu, pandangannya sempat melirik Aisya dengan ragu sebelum beralih ke Cassian. "Maaf, kapasitas tempat tidur darurat dan selimut kami sudah penuh di dalam. Dan... demi kenyamanan warga lain yang sedang panik karena badai, apakah nona di sebelah Anda ini bisa membuka penutup wajahnya selama berada di area publik ini? Beberapa warga merasa... kurang nyaman."

​Kevin yang mendengar itu langsung maju satu langkah dengan wajah tersinggung, sementara Pak Lukas bersiap menopang situasi. Aisya sendiri terpaku, tangannya yang kaku kembali meremas kain mantel di pangkuannya. Rasa terasing dan terintimidasi kembali menghantamnya di tempat yang seharusnya menjadi tempat perlindungan ini.

​Sebelum Kevin sempat melayangkan protes keras, Cassian sudah mengangkat satu tangannya ke udara, menghentikan asistennya dengan gestur yang tenang namun mutlak. Pria itu mengambil satu langkah maju, menempatkan dirinya tepat di hadapan petugas sosial tersebut.

​Aura dingin yang dipancarkan Cassian di dalam ruangan itu terasa jauh lebih mengintimidasi daripada badai es di luar sana.

​"Dengar," suara Cassian rendah, namun memiliki artikulasi yang sangat tajam hingga beberapa orang di baris depan kursi komunal langsung terdiam mendengarnya. "Ini adalah posko bantuan darurat yang didanai oleh pemerintah federal dan dikelola di bawah hukum kemanusiaan Kanada. Tidak ada satu pun pasal di negara ini yang mengizinkan Anda mendiskriminasi pakaian keagamaan seseorang di tengah situasi bencana bencana alam."

​Petugas sosial itu memucat, melangkah mundur satu langkah. "T-Tuan, saya hanya menyampaikan keluhan beberapa warga—"

​"Kalau begitu sampaikan kembali pada mereka," potong Cassian tanpa belas kasihan. "Jika mereka lebih memilih menghadapi badai mematikan di luar sana daripada berbagi ruang hangat dengan seorang wanita yang menjalankan keyakinannya dengan damai, pintu keluar gedung ini tidak dikunci. Mereka silakan pergi."

​Kata-kata Cassian yang telak membuat sekelompok pria di sudut ruangan yang tadi berbisik-bisik langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan cangkir kopi kertas mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menantang harga diri seorang pria yang jelas-jelas bukan orang sembarangan.

​Cassian kembali menatap petugas itu dengan pandangan menuntut. "Sekarang, tunjukkan di mana area yang lebih tenang. Kami tidak butuh selimut, kami hanya butuh ruang untuk duduk."

​"Di... di sebelah sana, Tuan. Ada ruang kelas kecil di koridor kiri yang kosong," jawab petugas itu dengan gugup sambil menunjuk ke sebuah lorong.

​"Lukas, periksa ruangannya," perintah Cassian.

​Pak Lukas segera bergerak maju untuk memastikan ruangan tersebut aman dan steril, diikuti oleh Kevin yang membawa tas logistik darurat dari mobil.

​Aisya perlahan bangkit dari kursi lipatnya. Di balik kain niqabnya, bibirnya bergetar bukan lagi karena dingin, melainkan karena rasa haru yang membuncah. Ia menatap punggung tegap Cassian yang berjalan beberapa langkah di depannya, menjaga jarak aman agar tidak terjadi khalwat, namun tetap memastikan jalurnya bersih dari gangguan orang lain.

​Mereka memasuki ruang kelas kecil yang menghadap ke area halaman dalam gedung. Pak Lukas menyalakan lampu, sementara Kevin segera membersihkan dua buah kursi kayu untuk Aisya dan Cassian. Setelah meletakkan beberapa botol air dan memastikan ruangan itu hangat, Pak Lukas dan Kevin pamit berdiri berjaga di depan pintu koridor, memberikan privasi namun tetap menjaga pengawasan agar batasan di antara mereka berdua tetap terjaga.

​Suasana di dalam ruang kelas itu mendadak sunyi, hanya menyisakan desis halus dari pemanas ruangan.

​Aisya duduk dengan tenang, meletakkan mantel besar Cassian di sandaran kursinya setelah memastikan pakaiannya sendiri sudah cukup kering. Ia menatap meja kayu di depannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.

​"Tuan Noir..." panggilan Aisya memecah keheningan.

​Cassian yang sedang memeriksa ponselnya yang mulai mendapatkan sinyal satelit darurat, mendongak. "Ya?"

​"Terima kasih. Anda... sudah dua kali membela saya dari hal seperti ini," ujar Aisya dengan tulus. "Saya tahu Anda melakukannya demi ketertiban umum, tapi bagi saya, tindakan Anda sangat berarti."

​Cassian menatap gadis di seberangnya selama beberapa detik. Ekspresi wajahnya yang tegas perlahan melunak, meski suaranya tetap terdengar datar. "Aku hanya tidak suka melihat orang-orang bodoh menggunakan mayoritas sebagai alasan untuk menindas orang lain, Aisya. Di dunia bisnis maupun di dunia nyata, aturan dan prinsip adalah hal yang harus dihormati. Kau memegang prinsipmu, dan itu adalah hal yang langka di kota ini."

​Pria itu kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku. "Lukas baru saja mendapat laporan. Tim pembersih salju khusus milik perusahaanku sudah bergerak ke rute ini. Mereka akan sampai dalam tiga puluh menit untuk menjemput kita."

​Aisya tersenyum di balik kain penutup wajahnya. Di tengah badai salju Toronto yang paling mengerikan tahun ini, di dalam ruang kelas kecil yang asing, ia justru menemukan sebuah rasa aman yang tak pernah ia duga sebelumnya—dari seorang pria asing yang sedingin es, namun memiliki cara sendiri untuk menjaga kehangatan di sekitarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!