NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17

Kepergian Amieyara Walker dari ruang UKS menyisakan keheningan yang janggal, menyisakan aroma parfum blackcurrant dan vanilla gelap yang masih samar-samar tertinggal di udara, berbaur dengan bau obat-obatan yang tajam.

Begitu pintu kaca depan berdentang menutup, tirai putih pembatas bilik langsung disibak dengan sentakan kasar dari luar.

Demon dan Carter melangkah masuk dengan raut wajah yang tidak lagi menampilkan keterkejutan konyol seperti beberapa menit lalu. Kini, ekspresi keduanya berubah menjadi sangat serius, sarat akan kecemasan dan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap sahabat karib mereka sendiri.

Carter melemparkan kantong berisi roti lapis ke atas meja nakas dengan asal, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Maximilian yang masih bersandar santai di bantalan ranjang.

"Lo gila, Max?!" suara Carter naik satu oktav, tertahan di tenggorokan agar tidak terdengar sampai ke koridor luar. "Dari sekian banyak cewek di kampus ini, kenapa harus dia? Dia itu bukan cuma asisten dosen yang galak, Max. Dia itu gadis panggilan! Nama lo, reputasi lo, bahkan nama besar keluarga Valerio bisa ikut rusak dan terseret ke dalam lumpur kalau lo berhubungan dengan perempuan kayak dia!"

Max tidak langsung menjawab. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya, mempertahankan wajah tenangnya yang seolah tak peduli. Namun, sebelum dia sempat bersuara, Demon sudah menyela, melangkah mendekat ke sisi ranjang dengan tatapan mata yang menghakimi.

"Wah, asli, ini parah banget, Max," timpal Demon, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gurat frustrasi yang kentara. "Gue tahu lo di Boston sering gonta-ganti cewek dan punya gaya hidup yang liar. Tapi yang ini beda cerita, Bro. Lo... lo sudah bayar dia atau gimana? Kalian sudah tidur bersama? Sampai ada omongan soal apartemen dan semalaman penuh nggak istirahat tadi dari mulutnya sendiri?"

Demon mengembuskan napas pendek, mencondongkan tubuhnya ke arah Max. "Gue nggak habis pikir, bisa-bisanya lo tergiur dengan kesempurnaan fisik itu. Iya, gue akuin Amieyara Walker itu sangat cantik, tubuhnya luar biasa seksi, tapi lo nggak takut penyakit, Max? Cewek simpanan dan pemuas nafsu pria-pria di kota ini... lo bener-bener nekat atau udah kehilangan akal sehat?"

Deg.

Dada Maximilian mendadak berdenyut aneh mendengarkan untaian kalimat yang meluncur dari mulut dua sahabatnya. Sebuah tanya besar yang dingin mendadak menghantam dinding kesadarannya.

Sehina itu Yara di mata orang-orang?

Sebutan 'gadis panggilan', 'simpanan', hingga kekhawatiran tentang 'penyakit' keluar begitu mudahnya dari mulut Demon dan Carter, mencerminkan bagaimana reputasi Amieyara Walker telah hancur lebur tak tersisa di lingkungan universitas ini.

Semua orang menganggapnya sebagai komoditas seksual yang bisa dibeli dengan lembaran uang dolar, seorang wanita murahan yang menyandang status 'janda satu malam' setelah diceraikan oleh David Joseph.

Max terdiam seru. Pikirannya mendadak terlempar kembali pada memori beberapa menit lalu, saat bibirnya membungkam bibir ranum Yara di depan Bella Moon.

Jika Yara memang seorang gadis panggilan profesional yang sudah terbiasa melayani puluhan pria hidung belang seperti yang dirumorkan orang-orang, maka ciumannya seharusnya terasa begitu ahli, sensual, dan penuh dengan teknik bujuk rayu yang matang. Namun, kenyataan yang dirasakan Max justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Sentuhan bibir Yara tadi terasa begitu kaku. Ada sebuah keraguan yang amat nyata, sebuah keterkejutan yang polos, dan cara wanita itu menerima lumatan Max menunjukkan bahwa dia tidak memiliki pengalaman yang luas dalam hal keintiman emosional seperti itu. Itu bukan ciuman seorang wanita jalang yang ahli; itu adalah ciuman ragu-ragu dari seorang gadis yang benteng pertahanannya baru saja dipaksa runtuh.

Terlebih lagi, Max mengingat bagaimana hancurnya Yara di atas jembatan layang semalam. Tubuh yang bergetar hebat, tangisan keputusasaan yang memanggil ibunya, serta rintihan bahwa rumahnya sendiri telah berubah menjadi neraka.

Seorang pelacur kelas atas yang matre tidak akan menangis sekencang itu di tepi jurang kematian hanya karena kehilangan harta atau nama baik. Ada luka yang jauh lebih busuk dan mengerikan yang sedang disembunyikan oleh wanita itu.

Apa benar berita-berita itu nyata? Ataukah ada sebuah konspirasi lain yang sengaja menjatuhkannya? batin Max bertanya-tanya, rasa penasarannya kini beralih menjadi sebuah misteri yang menuntut untuk dipecahkan.

"Hei, Max! Malah bengong lo! Jawab pertanyaan gue, lo udah tidur sama dia?!" sentak Carter, menepuk ujung ranjang besi untuk mengembalikan fokus Max.

Max mengalihkan pandangan matanya dari lantai, menatap Demon dan Carter bergantian dengan ekspresi wajah yang mendadak kembali datar dan acuh tak acuh. Dia tidak ingin kedua sahabatnya mengetahui tentang fakta bahwa Yara menginap di apartemennya, apalagi soal kejadian tragis di jembatan semalam. Itu adalah rahasia yang telah dia sepakati dalam hati untuk dijaga.

"Gue cuma ciuman doang," jawab Max pendek, suaranya terdengar bariton dan santai, mengabaikan ketegangan yang dibangun kedua temannya. "Gue nggak pernah tidur sama dia. Kejadian tadi itu cuma akting spontan buat ngusir Bella Moon yang tiba-tiba datang mengganggu ketenangan gue. Lo berdua tahu sendiri seberapa muaknya gue sama wanita itu."

Mendengar pengakuan jujur dari mulut Max, ketegangan di wajah Demon dan Carter seketika mengendur. Gurat kelegaan yang amat nyata terpancar dari air muka keduanya. Mereka mengembuskan napas panjang, seolah-olah baru saja mengangkat sebongkah batu besar yang menyumbat dada mereka.

"Sialan, lo bikin jantung gue mau copot, Max," Carter terduduk di kursi besi yang tadi ditempati Yara, menyeka keringat imajiner di dahinya. "Gue pikir lo beneran udah kemakan umpan pelacur kampus itu. Baguslah kalau cuma akting. Jangan sampai lo menyentuh dia lebih jauh, Max. Reputasi lo taruhannya."

"Iya, lagipula lo baru seminggu pindah ke sini. Jangan sampai bokap lo denger lo bikin skandal sama simpanan pejabat lokal," tambah Demon, merapikan kembali posisi tas ranselnya. "Ayo balik ke kelas, jam istirahat bentar lagi habis. Lo udah kelihatan lebih seger daripada tadi pagi."

Max mengangguk samar, menurunkan kakinya dari ranjang UKS dan memakai kembali sepatu sneakers-nya. Namun, di dalam sudut hatinya yang paling dalam, ganjalan tentang jati diri Amieyara Walker yang sesungguhnya justru semakin mencengkeram kuat.

Satu jam kemudian, sebuah badai informasi yang tak kasat mata namun berdaya ledak tinggi resmi menghantam seisi lingkungan Universitas.

Di era digital di mana informasi menyebar lebih cepat daripada kecepatan suara melalui aplikasi pesan singkat dan forum rahasia kampus, drama yang terjadi di dalam ruang UKS tadi tidak butuh waktu lama untuk bertransformasi menjadi sebuah konsumsi publik yang liar.

Seseorang—atau mungkin beberapa mahasiswa yang kebetulan melintas di depan jendela UKS saat tirai disibak oleh Demon—telah menyebarkan visualisasi dan potongan cerita yang telah dibumbui dengan narasi yang teramat sangat menyudutkan.

Rumor gila itu menjalar dari Fakultas Bisnis, menyeberang ke Fakultas Hukum, hingga ke kantin utama dalam hitungan menit.

Kalimat-kalimat tajam tertulis di berbagai forum mahasiswa: "Maximilian Valerio, mahasiswa baru yang juga merupakan anak pewaris gurita bisnis Valerio Group, ternyata telah bertekuk lutut di bawah selangkangan Amieyara Walker!"

Gosip itu berkembang menjadi lebih liar. Orang-orang mulai mencocokkan Yara yang keluar setelah Dua Jam Berada di UKS.

sebagai bukti sahih bahwa mereka telah menghabiskan waktu di atas ranjang yang sama.

Citra Yara sebagai 'janda satu malam' dan 'simpanan pelacur' yang mahal kini semakin dipertegas dengan fakta bahwa dia berhasil memikat seorang pemuda kaya berusia dua puluh tahun yang baru saja menginjakkan kaki di kampus ini.

"Gila, ya. Si Yara itu bener-bener nggak milih-milih mangsa. Mahasiswa baru pun diembat juga asal uangnya banyak," bisik seorang mahasiswi hukum yang sedang berkumpul di koridor gedung utama, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto buram siluet Max dan Yara yang tampak intim di UKS.

"Tapi lo lihat cowoknya, Maximilian Valerio itu ganteng banget, tajir melintir lagi. Sayang banget harus ketularan sial karena berhubungan sama bekasnya David Joseph dan simpanan tua," timpal temannya dengan nada mencemooh yang kental.

Di sudut lain koridor Fakultas Hukum, Amieyara Walker sedang berjalan dengan langkah yang anggun, mendekap beberapa berkas dokumen tebal di dadanya.

Dia bisa merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat tidak nyaman. Setiap kali dia melewati sekelompok mahasiswa, obrolan mereka seketika terhenti, digantikan oleh tatapan mata yang sinis, meremehkan, dan beberapa bisikan tajam yang dengan sengaja dikeraskan agar menembus indra pendengarannya.

Yara menghentikan langkahnya tepat di depan mading utama. Sepasang matanya yang indah di balik kacamata tipis menatap layar ponsel pribadinya yang baru saja menerima notifikasi dari sebuah akun anonim kampus.

Di sana, foto dirinya yang sedang dipeluk posesif oleh Max di atas ranjang UKS terpampang nyata, lengkap dengan judul artikel murahan yang menyebutnya sebagai wanita yang menggunakan tubuhnya untuk memeras mahasiswa kaya.

Rahang Yara mengeras, jemarinya meremas tepi berkas dokumen hingga kertas-kertas itu sedikit menekuk. Rasa terhina, marah, dan murka kembali membakar dadanya. Namun, alih-alih menangis seperti semalam, kilatan dendam yang dingin justru terpancar dari sepasang manik matanya.

Dia tahu, ini semua adalah bagian dari dampak sandiwara gila yang dimulai oleh bocah birahi bernama Maximilian Valerio itu. Nama baiknya yang sudah cacat kini semakin diseret ke dalam jurang kehancuran yang paling dalam.

"Kau benar-benar menabuh genderang perang yang salah denganku, Maximilian," desis Yara dengan suara yang teramat sangat rendah, sarat akan ancaman mematikan.

Dia membalikkan badannya, mengabaikan seluruh tatapan menghakimi di sekitarnya, lalu melangkah dengan ritme kaki yang mantap menuju area parkir. Hitungan di antara mereka berdua di apartemen nanti siang dipastikan tidak akan berjalan dengan damai.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!