NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POV ARGA

Hari pertama Arga mengajar di kampus itu sebenarnya tidak berbeda jauh dari bayangannya selama ini.

Kelas yang terlalu ramai dan berisik sebelum dosen masuk, mahasiswa yang mendadak serentak diam begitu perkuliahan dimulai, serta tatapan penuh rasa segan...bahkan sedikit takut.

Yang sudah terlalu sering ia terima sejak awal memutuskan menjadi dosen muda. Semua terasa biasa saja, berjalan menurut pola yang sudah ia duga sebelumnya.

Pagi itu, Arga berdiri di depan kelas mengenakan kemeja hitam polos yang membuatnya tampak semakin tegas dan dingin, sambil menggenggam map materi di tangan.

Ia memperkenalkan diri secara singkat dan padat, tanpa basa-basi berlebihan, sebelum langsung mulai menjelaskan tentang perkuliahan serta aturan-aturan yang berlaku di kelasnya.

Suasana kelas cukup tenang.

Hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas dan ketikan keyboard sesekali. Sebagian mahasiswa sibuk mencatat setiap kata yang keluar dari mulutnya, sebagian lain hanya duduk diam sambil sesekali meliriknya dengan hati-hati, seolah takut salah gerak.

Arga sendiri tidak terlalu peduli. Baginya, kelas hanyalah tempat untuk mengajar, menyelesaikan materi sesuai jadwal, lalu pulang. Tidak lebih.

Sampai akhirnya...

“Pak, tapi menurut saya teori itu tidak selalu relevan dipakai sekarang.”

Kalimat itu terdengar jelas dan lantang dari arah bagian tengah kelas, memotong penjelasan Arga yang sedang berjalan lancar.

Arga yang sejak tadi menulis poin penting di papan tulis perlahan menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan spidol di samping papan, lalu menoleh perlahan ke arah sumber suara itu, sorot matanya tajam menelisik.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Rhea.

Gadis itu duduk bersandar santai di kursinya, satu tangannya memegang bolpoin yang ia putar pelan di antara jari-jarinya, dengan wajah yang sangat tenang.

Ekspresinya datar namun berani, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang paling biasa dan wajar di dunia ini, bukan menyanggah pernyataan dosen baru yang terkenal kaku dan dingin.

Beberapa mahasiswa yang duduk di sekitarnya langsung menoleh cepat ke arah gadis itu, wajah mereka tampak panik. Mungkin takut melihat ada yang berani bersuara, mungkin juga terkejut karena baru hari pertama kuliah saja sudah ada yang berani menyanggah pendapat dosen mereka.

Namun Rhea terlihat biasa saja. Tatapannya lurus menatap manik mata Arga, tanpa rasa canggung, tanpa rasa bersalah, dan sama sekali tidak ada ketakutan yang biasanya terlihat di mata mahasiswa lain.

“Kenapa begitu?” tanya Arga akhirnya.

Ia tidak marah, nada bicaranya tetap datar, namun ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menantang penjelasan lebih lanjut.

“Karena kondisi di lapangan sering beda dengan teori,” jawab Rhea santai, tanpa ragu sedikit pun.

“Kadang teori itu terlalu ideal dan dibuat dalam kondisi yang sempurna, padahal praktiknya di dunia nyata tidak sesederhana itu, Pak. Banyak faktor lain yang masuk dan mengubah segalanya.”

Cara gadis itu berbicara tidak terdengar sok pintar. Tidak juga terdengar berusaha mencari perhatian atau ingin terlihat beda dari yang lain. Ia hanya mengatakan pendapatnya dengan jujur, sederhana, dan apa adanya.

Dan anehnya, justru hal itulah yang membuat Arga tertarik. Bukan pada jawaban atau argumennya saja. Melainkan pada keberanian Rhea untuk menatapnya langsung, berbicara setara, dan tidak menunduk takut seperti mahasiswa lainnya yang terlihat terlalu hati-hati dan kaku di hadapannya.

Sejak awal masuk kelas, hampir seluruh isi ruangan ini memandangnya dengan jarak. Ada tembok tebal yang terbangun karena jabatan dan usia. Namun gadis itu berbeda.

Ekspresinya hidup. Cara bicaranya spontan, apa adanya. Dan matanya...terlalu jujur untuk disembunyikan, terlalu berani untuk dihindari.

Hari itu perkuliahan tetap berjalan seperti biasa setelah momen itu berlalu. Arga kembali menjelaskan materi lebih dalam, bahkan membuka ruang diskusi lebih lebar karena suasana kelas perlahan mulai mencair.

Mahasiswa lain yang tadinya diam seribu bahasa mulai berani mengangkat tangan dan bertanya, sedikit banyak tergerus keberaniannya setelah melihat keberanian Rhea tadi.

Namun entah kenapa, sejak saat itu, di sela-sela penjelasannya, di sela-sela menjawab pertanyaan mahasiswa lain, perhatian Arga beberapa kali tanpa sadar kembali tertuju pada satu orang yang sama.

Pada Rhea.

Pada gadis yang terlalu banyak bicara itu. Pada gadis yang selalu terlihat santai, bahkan saat duduk diam sekalipun di kelasnya.

Dan pada gadis yang, tanpa Arga sadari sejak hari pertama itu, perlahan mulai masuk dan memenuhi setiap ruang pikirannya sedikit demi sedikit.

...****************...

Setelah hari pertama itu berlalu, Arga mulai menyadari satu hal kecil yang awalnya sama sekali tidak ia pedulikan: Rhea selalu menjadi mahasiswa paling berisik di kelasnya.

Bukan berisik yang mengganggu atau tidak tahu aturan. Namun gadis itu seolah selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan. Kadang bertanya hal-hal di luar materi yang justru menarik untuk dibahas, kadang membantah pendapatnya dengan argumen yang tak bisa diremehkan, dan lebih sering lagi...membuat satu kelas tertawa lepas hanya karena komentar spontan dan polosnya sendiri.

Dan anehnya, perlahan namun pasti, Arga mulai terbiasa mendengar suara itu. Bahkan lebih dari itu, ia mulai menunggunya.

Beberapa minggu pertama menjalani peran sebagai dosen muda sebenarnya cukup melelahkan bagi Arga.

Jadwal mengajar yang padat, tumpukan revisi penelitian yang tak pernah habis, serta berbagai urusan administrasi kampus yang berbelit-belit perlahan membuat hari-harinya berjalan monoton, seperti dijalankan oleh mesin.

Datang, mengajar, duduk di ruang dosen, lalu pulang. Begitu terus berulang setiap hari. Hampa dan biasa saja.

Namun sejak mengajar kelas tempat Rhea berada, ada sesuatu yang perlahan berubah tanpa ia sadari. Kelas itu tidak pernah benar-benar terasa membosankan atau kaku. Karena selalu ada satu orang yang mampu membuat suasananya hidup, hangat, dan terasa lebih ringan.

Kadang Rhea datang tergesa-gesa sambil meminta maaf dengan napas terengah-engah dan wajah bersalah karena hampir terlambat.

Kadang gadis itu sibuk mengeluh soal tugas yang terlalu banyak dan sulit, namun tangannya tetap cekatan menulis dan mengerjakannya sampai selesai.

Dan yang paling sering terjadi, ia berbicara padanya... Arga...seolah sedang berbicara dengan teman atau manusia biasa, bukan pada sosok dosen yang seharusnya dihormati dan ditakuti.

Padahal Arga tahu betul, di balik sikap santai, berisik, dan sering kali ceroboh itu, Rhea bukanlah mahasiswa biasa.

Namanya cukup dikenal luas di fakultas sebagai salah satu mahasiswa berprestasi dengan nilai yang hampir selalu berada di atas rata-rata. Ia aktif di berbagai kegiatan kampus, beberapa kali memenangkan perlombaan akademik, dan cukup sering dipercaya menjadi perwakilan fakultas dalam acara penting.

Namun hal yang paling Arga sadari dan kagumi bukanlah deretan prestasi itu. Melainkan kenyataan bahwa Rhea tidak pernah terlihat berusaha menarik perhatian siapa pun dengan pencapaiannya.

Ia tetap sama. Tetap berisik, tetap spontan, tetap apa adanya, dan tetap mampu membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman tanpa perlu bersikap berlebihan atau sombong.

Awalnya Arga menganggap semua itu hanya kebiasaan Rhea yang memang terlalu santai dan terbuka pada siapa saja. Namun lama-kelamaan, ia mulai sadar bahwa dirinyalah yang memiliki masalah. Ia mulai menyadari bahwa ia sendiri selalu memperhatikan gadis itu lebih lama dari yang seharusnya.

Ia hafal betul tempat duduk favorit Rhea di kelas...kursi di barisan tengah, tepat di sebelah jendela.

Ia hafal setiap ekspresi kecil gadis itu: cara matanya menyipit saat mengantuk berusaha tetap terjaga, cara bibirnya mengerucut saat bingung, hingga senyum kecil yang muncul saat ia akhirnya mengerti penjelasan yang rumit.

Ia bahkan mulai bisa menebak kapan Rhea benar-benar memperhatikan materi dengan serius, dan kapan pikirannya sedang pergi entah ke mana meski matanya menatap ke depan.

Dan yang paling parah...Arga mulai mencari keberadaan Rhea secara refleks setiap kali ia melangkah masuk ke dalam kelas.

Jika gadis itu belum datang, matanya akan tanpa sadar melirik ke arah pintu beberapa kali di sela-sela penjelasannya, bertanya-tanya dalam diam.

Jika Rhea diam terlalu lama dan tidak bersuara sama sekali di tengah pelajaran, Arga justru merasa suasana menjadi aneh, ada yang kurang, dan rasanya ada beban tak kasat mata yang mengganjal.

Sampai suatu hari, ketika Rhea tidak masuk kuliah karena sedang sakit, Arga baru benar-benar menyadari betapa besar dampak gadis itu dalam hidupnya.

Kelas itu berjalan seperti biasa. Mahasiswa mencatat, bertanya, dan mendengarkan. Namun bagi Arga, ruangan itu terasa terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu sunyi.

Tidak ada suara bantahan yang cerdas. Tidak ada komentar spontan yang membuatnya ingin tertawa sekaligus menggelengkan kepala. Tidak ada tawa kecil yang biasanya terdengar dari barisan tengah itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi dosen di kampus itu, Arga mendapati dirinya kehilangan fokus mengajar, pikirannya melayang ke tempat lain, hanya karena satu mahasiswa tidak hadir.

Hari itu ia mengajar dengan perasaan yang tidak menentu, seolah ada bagian dari dirinya yang ikut hilang bersama ketidakhadiran gadis itu.

Sejak saat itu ia tahu.

Bahwa perhatiannya pada Rhea sudah berjalan terlalu jauh. Bahwa ia sudah tidak lagi melihat Rhea sekadar sebagai mahasiswanya. Dan bahwa perasaan yang tumbuh diam-diam itu sudah tak bisa lagi ia tolak atau ia sembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!