NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tangga ke Bawah

Langkah pertama Wira ke bawah terasa seperti melangkah ke dalam waktu yang telah membusuk.

Tangga batu itu sempit, licin, dan dingin. Permukaannya lembap oleh udara yang lama terperangkap di bawah tanah. Wira menahan tubuhnya agar tidak terpeleset, satu tangan menempel di dinding yang kasar, sementara tangan lainnya masih berusaha menjaga keseimbangan. Di belakangnya, Ki Rangga menunggu sampai ia benar-benar turun dua anak tangga sebelum ikut menyusul. Jaya berada paling dekat dengan pintu batu, memperhatikan bagian atas ruangan sambil sesekali melirik ke lorong. Panca turun paling akhir dengan wajah tegang dan bibir yang terus menggerutu pelan.

Raden Seta tidak segera ikut turun. Ia justru tetap di atas sesaat, menengok ke arah luar melalui celah ruangan, seperti sedang memastikan tak ada yang menyusul terlalu cepat.

“Cepat,” desis Ki Rangga.

Raden Seta mengangguk singkat, lalu menyusul turun. Begitu kakinya menyentuh anak tangga terakhir, bunyi mekanisme batu di atas mereka perlahan berhenti. Pintu rahasia itu tetap terbuka sebagian, tetapi tidak cukup lebar untuk seseorang yang tidak tahu cara melewatinya dengan benar.

Wira mengangkat kepala dan menatap ruang di bawahnya.

Lorong kecil itu tidak langsung berujung pada ruangan besar, melainkan membuka ke koridor sempit yang dindingnya terbuat dari batu gelap. Di sana-sini ada bekas ukiran yang sudah aus, dan di beberapa titik terlihat sisa lilin tua yang mengeras seperti bekas waktu yang tidak pernah dibersihkan. Udara lebih dingin daripada yang ia bayangkan, tetapi ada sesuatu yang aneh dalam udara itu. Bukan bau tanah biasa, melainkan campuran debu lama, kayu tua, dan sesuatu yang menyerupai minyak lampu yang sudah lama padam.

Panca menatap ke depan dengan ekspresi campur aduk. “Aku berharap setelah ini ada pintu keluar.”

Jaya mendengus pelan. “Kau berharap terlalu banyak.”

“Sekarang aku cuma berusaha tetap hidup dengan harapan kecil,” balas Panca.

Ki Rangga memberi isyarat agar mereka mulai bergerak. Wira melangkah pelan di depan, diikuti Panca, lalu Jaya, sementara Raden Seta tetap berada di belakang. Semakin jauh mereka masuk, lorong itu perlahan melebar. Dinding kiri dan kanan menjadi lebih rapi, tanda bahwa tempat ini memang dibangun dengan tujuan khusus, bukan sekadar liang sembunyi.

Di salah satu sisi lorong, Wira melihat lubang kecil selebar telapak tangan. Ada semacam aliran udara tipis yang keluar dari sana. Ia berhenti sebentar dan menatapnya.

“Kenapa ada lubang kecil di sini?” tanyanya.

Raden Seta menjawab dari belakang, “Untuk sirkulasi. Tempat seperti ini tidak boleh tertutup rapat.”

Wira mengangguk pelan, lalu lanjut berjalan. Namun kepalanya terus penuh oleh pertanyaan yang belum selesai. Di bawah tanah ini, semua terasa lebih tua, lebih tertutup, dan lebih berat daripada tempat mana pun yang pernah ia datangi. Seolah ia sedang masuk ke ruang yang sengaja dibangun bukan untuk dilihat, melainkan untuk disembunyikan dari dunia.

Setelah beberapa belokan, lorong itu akhirnya berakhir pada sebuah ruang yang lebih besar.

Wira berhenti dan menatap ruangan itu dengan napas tertahan.

Di tengah ruang terdapat pilar batu bundar yang menopang langit-langit rendah. Pada dinding-dindingnya terpasang beberapa rak kayu tua yang masih berisi kotak-kotak kecil, gulungan kain, dan benda-benda yang dibungkus rapi. Sebagian sudah rusak, tetapi sebagian lainnya masih utuh. Di sisi kanan, ada meja panjang dengan permukaan batu, dan di ujung ruangan terdapat pintu kayu tebal yang tampaknya mengarah ke tempat lain.

Namun yang paling membuat Wira diam adalah simbol di dinding utama.

Simbol itu dipahat besar-besar, melingkar, dengan garis tengah yang memanjang ke bawah seperti akar atau jalan. Ia merasa pernah melihat bentuk seperti itu pada lempeng kayu miliknya, pada keping logam, dan pada kertas tua pemberian ibunya. Semuanya ternyata saling berhubungan.

Panca memandang ruangan itu dengan mata membesar. “Ini bukan gudang biasa.”

“Tidak,” kata Jaya. “Ini ruang simpan khusus.”

Ki Rangga menatap dinding sejenak, lalu mengamati rak-rak yang tertata. “Benda-benda ini disiapkan untuk waktu yang lama.”

Raden Seta berjalan maju perlahan. “Dan sekarang waktunya mungkin sudah tiba.”

Wira menatapnya. “Apa yang disimpan di sini?”

Raden Seta tidak langsung menjawab. Ia justru menghampiri meja batu di sisi kanan ruangan dan membersihkan debu tipis dengan telapak tangan. Di atas meja itu terdapat tiga cekungan yang bentuknya hampir sama dengan benda yang dibawa Wira, hanya saja ukurannya berbeda.

Wira langsung menegang. “Tiga cekungan.”

Raden Seta mengangguk. “Tiga bagian itu memang dibuat untuk ditempatkan di sini.”

Panca menatapnya dengan curiga. “Jadi kotak, peta, dan ruang bawah tanah ini semua bagian dari satu sistem?”

“Kurang lebih,” jawab Raden Seta.

Ki Rangga menoleh pada Wira. “Letakkan yang kita punya.”

Wira mendekat perlahan. Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Ia mengeluarkan lempeng kayu, lalu menyerahkannya pada Ki Rangga. Gurunya meletakkan benda itu pada cekungan pertama. Kemudian keping logam dipasang pada cekungan kedua. Saat dua benda itu berada di tempatnya, ada bunyi halus dari dalam batu, seperti roda kecil yang mulai bergerak.

Wira terdiam.

Raden Seta mengambil benda ketiga yang mereka temukan dari ruang bawah rumah singgah. Ia menaruhnya di cekungan terakhir. Begitu benda itu menyentuh batu, ruangan seketika mengeluarkan bunyi panjang dari bawah lantai. Getarannya pelan, tetapi cukup membuat debu kecil berjatuhan dari celah langit-langit.

Panca mundur setengah langkah. “Aku benci suara itu.”

Jaya menatap pintu kayu tebal di ujung ruangan. “Ada yang terbuka.”

Benar saja, dari bagian lantai di depan meja batu terdengar bunyi gesekan. Sebuah bidang batu di tengah ruangan perlahan terbelah, lalu bergeser ke samping. Di bawahnya muncul lubang bundar yang disembunyikan sangat rapi. Dari lubang itu keluar udara yang lebih dingin, lebih tua, dan lebih kering.

Wira menatap ke bawah dengan mata tak berkedip.

Di sana ada tangga turun lagi.

Bukan satu ruang simpan. Melainkan ruang yang lebih dalam lagi.

Panca langsung menggeleng. “Kenapa selalu ada tingkat bawah berikutnya?”

“Karena rahasia besar biasanya tidak ditaruh di permukaan,” jawab Jaya.

Ki Rangga memandang lubang itu dengan wajah tenang, tetapi Wira bisa melihat kewaspadaan di matanya. Ia tahu gurunya sedang menghitung risiko. Raden Seta sendiri tampak seperti seseorang yang akhirnya sampai di pintu yang selama ini ia hindari.

Wira akhirnya bertanya, “Apa yang ada di bawah sana?”

Raden Seta menatapnya lama, lalu berkata, “Jawaban.”

Kata itu singkat, tetapi justru membuat dada Wira semakin sesak.

Ki Rangga menatapnya. “Kalau begitu kita turun.”

Raden Seta mengangguk. “Tapi dengar dulu. Setelah masuk, jangan menyentuh apa pun sebelum kita lihat semuanya. Tempat ini dijaga bukan hanya dengan batu dan kayu, tapi juga dengan tanda.”

Panca mengernyit. “Tanda lagi?”

“Ya,” jawab Raden Seta. “Kalau salah langkah, sistem lama bisa tertutup atau lebih buruk.”

Wira mengangguk pelan. Ia sudah terlalu jauh untuk mundur. Dengan hati-hati ia menuruni tangga bundar itu. Dinding di kiri dan kanan terasa sangat dekat, membuatnya seperti masuk ke dalam sumur batu. Setelah beberapa langkah, ruangan di bawah mulai terlihat.

Dan Wira terhenti lagi.

Ruang bawah itu lebih kecil, tetapi jauh lebih terang. Bukan terang lampu, melainkan cahaya samar yang berasal dari lubang-lubang kecil di atas. Di tengah ruangan terdapat alas batu berbentuk lingkaran, dan di atasnya diletakkan sebuah kotak besar berlapis kain putih yang sudah menguning. Di sekelilingnya, ada tiga tiang kecil dengan ukiran yang sama seperti simbol di dinding atas.

Wira merasakan tengkuknya merinding.

Kotak itu bukan sembarang kotak. Cara ia diletakkan di tengah ruangan, cara kainnya dibungkus, semuanya menunjukkan bahwa benda itu sangat penting.

Panca ikut turun di belakangnya dan langsung berbisik, “Jadi ini yang mereka sembunyikan?”

Jaya mengangguk pelan. “Mungkin salah satunya.”

Ki Rangga berhenti di sisi ruangan, menatap kotak itu tanpa mendekat. “Ada segel lama.”

Wira menatap tiang-tiang kecil di sekeliling alas batu. Pada masing-masing tiang terdapat lingkaran logam berwarna gelap. Di salah satu tiang, bentuk ukirannya mirip dengan pola pada keping logam. Di tiang lainnya, pola itu serupa dengan lempeng kayu. Dan tiang terakhir menyerupai bentuk benda ketiga.

“Ini seperti tempat pembukaan,” gumam Wira.

Raden Seta mengangguk. “Benar.”

Wira melangkah hati-hati mendekat. “Apa isi kotak itu?”

Raden Seta mengangkat bahu sedikit. “Aku tahu isinya pernah diperiksa. Tapi setelah itu disegel kembali.”

Panca memandangnya curiga. “Kau tahu banyak, tapi tetap saja seperti orang yang sengaja menahan bagian paling penting.”

Raden Seta menatap Panca dengan tenang. “Karena kalau aku menyebut semuanya sebelum waktunya, kau akan lebih banyak bertanya daripada bergerak.”

Panca mendecak. “Aku sudah banyak bertanya karena memang semua ini gila.”

Ki Rangga menatap Wira. “Buka kainnya perlahan.”

Wira menelan ludah. Ia mendekat ke kotak besar di tengah ruangan, lalu menyentuh kain putih yang membungkusnya. Kain itu rapuh namun masih terikat kuat di beberapa sudut. Ia membuka satu simpul kecil, lalu satu lagi. Setiap simpul seperti mewakili satu lapis masa lalu yang akhirnya harus disingkap.

Saat kain terakhir tersibak, tampak permukaan kotak kayu hitam yang sangat tua. Di bagian tengahnya ada ukiran bulat yang sama dengan simbol-simbol lain, tetapi lebih besar dan lebih rumit. Ada pula bekas retakan kecil di salah satu sisi, seakan kotak itu pernah dibuka dengan paksa lalu ditutup kembali.

Wira menahan napas.

Kemudian sesuatu yang tak ia duga terjadi.

Begitu kotak itu terlihat utuh di depan mereka, lempeng kayu, keping logam, dan benda ketiga di ruang atas mengeluarkan suara kecil seolah saling beresonansi. Suara itu sangat halus, tetapi nyata. Wira menatap ke atas, lalu ke bawah. Ki Rangga juga menatap tajam. Raden Seta mengeraskan rahangnya.

“Ini menandakan segelnya masih aktif,” kata Raden Seta.

Panca mengerutkan dahi. “Aktif artinya?”

“Artinya kotak itu belum boleh dibuka sembarang orang.”

Wira menatapnya cepat. “Kalau begitu kenapa kita ke sini?”

“Karena hanya orang yang tepat yang bisa membuka dan melihat isi sebenarnya.”

“Dan siapa orang yang tepat itu?”

Raden Seta menatap Wira. “Kemungkinan besar kau.”

Wira membeku. Suara di kepalanya seperti berhenti sebentar. Ia menatap kotak itu, lalu menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Ki Rangga tenang seperti biasa, Jaya tampak waspada, Panca tampak tidak percaya, dan Raden Seta memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Aku?” tanya Wira pelan.

Ki Rangga mengangguk. “Karena darahmu yang paling dekat dengan asal tanda ini.”

Wira menatap gurunya, lalu menoleh ke Raden Seta. “Darah lagi.”

Raden Seta menghela napas. “Bukan sekadar darah. Ini garis waris.”

Panca mendadak berkata, “Aku mulai muak dengan semua kata itu.”

Jaya meliriknya sekilas. “Dan aku muak dengan orang yang belum paham tapi tetap ikut lari sejauh ini.”

Panca langsung membalas, “Karena aku tidak punya pilihan.”

“Semua orang juga begitu,” kata Jaya.

Wira hampir tidak mendengarkan pertengkaran mereka. Pandangannya tertancap pada kotak hitam di tengah ruangan. Ia bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya bergerak, semacam dorongan yang sulit dijelaskan. Bukan hanya rasa takut, tapi juga rasa ingin tahu yang bercampur dengan rasa sakit lama. Seolah jawaban yang ia cari ada tepat di depannya, tetapi untuk menyentuhnya ia harus berani menerima sesuatu yang mungkin akan mengubah semuanya.

Raden Seta menunduk dan menunjuk pada ukiran di tutup kotak. “Lihat pola ini.”

Wira mendekat. Garis-garis pada ukiran itu membentuk lingkaran di tengah, lalu bercabang ke tiga arah, sama seperti pola di batu atas. Namun di bagian bawah ukiran ada tambahan garis kecil yang menyerupai arah turun.

“Ini seperti petunjuk,” gumam Wira.

“Bukan seperti,” kata Raden Seta. “Ini memang petunjuk. Kotak ini tidak hanya menyimpan benda. Ia menyimpan arahan.”

Ki Rangga menatapnya. “Arahan ke tempat berikutnya?”

Raden Seta mengangguk. “Atau ke kebenaran yang lebih besar.”

Wira memejamkan mata sebentar. Ia merasa malam ini tidak pernah berhenti mengoreksi arah. Setiap kali ia merasa mendekati ujung, ternyata ada lapisan lain. Tetapi di saat yang sama, untuk pertama kalinya ia merasa tidak sedang berjalan tanpa tujuan. Semua ini menuju sesuatu yang nyata.

Tiba-tiba terdengar suara keras dari jauh, sangat samar namun jelas. Seperti batu besar yang dipukul atau pintu yang dibuka paksa.

Semua langsung menegang.

Jaya mengangkat kepala. “Mereka sampai ke ruang atas.”

Panca langsung berbisik, “Cepat sekali.”

Ki Rangga menatap ke arah tangga. “Kalau mereka menemukan lorong ini, kita tidak punya banyak waktu.”

Raden Seta mengangguk cepat. “Kotak itu harus dibawa.”

Wira menatapnya. “Bawa ke mana?”

Raden Seta menunjuk ke arah lorong kecil di sisi ruangan bawah. “Ada jalur keluar di belakang ruang ini. Sempit, tapi cukup.”

Wira menatap kotak hitam itu lagi. Tubuhnya seperti menolak mundur, tetapi akalnya tahu mereka tidak bisa tinggal di sana lebih lama. Jika orang-orang di atas berhasil turun, semua ini akan jatuh ke tangan yang salah.

Ki Rangga menghampiri Wira. “Kau harus memilih sekarang.”

Wira menatapnya. “Memilih apa?”

“Mau terus lari, atau mulai membuka.”

Wira terdiam.

Di atas, suara langkah mulai terdengar lebih dekat.

Akhirnya Wira mengulurkan tangan dan menyentuh tutup kotak hitam itu. Permukaannya dingin, tetapi bukan dingin biasa. Dingin yang terasa seperti menyimpan sesuatu selama bertahun-tahun. Di sela ketegangan itu, ia sadar bahwa ia tidak bisa lagi menolak. Ia memang masuk untuk mencari jawaban, dan jawaban itu ada di depannya.

Ia menarik napas, lalu berkata pelan, “Buka.”

Ki Rangga menatapnya lama, lalu mengangguk.

Dan saat jari Wira menyentuh ukiran di tutup kotak, ruang bawah tanah itu kembali bergetar pelan, seolah masa lalu sendiri sedang menahan napas menunggu isi kotak dibangunkan.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!