Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01: Traces of the Past and New Realities
Di dalam kamar yang luas namun terasa dingin dan sepi itu, Amorette duduk di tepi tempat tidur berukuran besar yang beralaskan kain beludru berwarna ungu tua. Napasnya masih sedikit memburu, bukan karena ketakutan akibat ancaman kakaknya, Pangeran Cornelius, namun lebih karena guncangan besar yang baru saja ia alami. Di luar sana, matahari kerajaan Elowen bersinar terang, memancarkan cahayanya melalui jendela-jendela kaca tinggi yang dihiasi ukiran bunga mawar—simbol kerajaan ini. Namun bagi wanita yang kini mendiami tubuh Putri Amorette ini, cahaya itu terasa asing, jauh berbeda dengan sinar matahari hangat yang biasa ia rasakan di dunia lamanya.
Autumn Isabella. Itulah nama yang dulu melekat padanya, nama yang dibawa oleh seorang wanita yang berjuang sekuat tenaga hanya untuk bertahan hidup, namun berakhir dengan kematian yang begitu kejam dan menyedihkan. Saat duduk diam di sana, kenangan-kenangan itu kembali berputar jelas di kepalanya seolah baru saja terjadi kemarin, menusuk jauh ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Ia ingat betul bagaimana kehidupannya dimulai. Orang tuanya adalah sosok yang egois dan tidak bertanggung jawab, yang membuangnya begitu saja saat ia masih kanak-kanak, menganggapnya sebagai beban yang tidak berguna. Sejak kecil, Autumn sudah paham bahwa dunia ini keras, dan ia harus berjuang sendiri jika ingin bertahan.
Ketika usianya menginjak masa remaja dan saatnya melanjutkan pendidikan tinggi, tidak ada satu pun anggota keluarga yang mau mengulurkan tangan atau memberikan dukungan. Namun, Autumn tidak menyerah. Ia memiliki tekad baja dan kecerdasan yang luar biasa. Ia diterima di salah satu universitas paling bergengsi di negaranya, sebuah pencapaian besar yang sayangnya tidak disambut dengan kebanggaan oleh orang-orang yang seharusnya menyayanginya.
Untuk membayar biaya kuliah yang sangat mahal itu, Autumn bekerja siang dan malam. Ia mengambil berbagai jenis pekerjaan paruh waktu, mulai dari menjadi pelayan toko, pencuci piring di restoran, hingga menjadi asisten peneliti di laboratorium. Tidurnya sangat sedikit, tubuhnya sering kali lelah luar biasa, namun ia terus maju. Ia tahu bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan dan nasib buruk yang menimpanya. Dengan kerja keras dan kecerdasan yang ia miliki, Autumn berhasil menyelesaikan pendidikan S1-nya dengan predikat yang sangat memuaskan, bahkan menjadi lulusan terbaik di jurusannya. Ia memiliki dua keahlian besar: kedokteran hewan dan ahli botani sebagai hobi. Dunia tumbuhan dan hewan adalah dunianya, tempat di mana ia merasa damai, karena baginya, makhluk hidup itu lebih tulus daripada manusia.
Setelah lulus, ia segera membuka praktik kecil dan bekerja dengan penuh dedikasi. Hidupnya mulai terlihat lebih cerah, meski masih harus bekerja keras. Di saat itulah, ia bertemu dengan Hans. Pria itu datang ke kliniknya membawa seekor kucing yang sakit, dan dari pertemuan itulah benih-benih cinta mulai tumbuh. Hans tampak begitu baik, begitu penyayang, dan begitu memahami dirinya. Ia memberikan perhatian yang tidak pernah Autumn dapatkan dari keluarganya sendiri. Perlahan namun pasti, dinding pertahanan hati Autumn runtuh, dan ia membiarkan Hans masuk ke dalam kehidupannya. Hubungan mereka berjalan harmonis selama beberapa tahun, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertunangan. Bagi Autumn, Hans adalah segalanya—keluarga, rumah, dan masa depan yang ia impikan. Ia berpikir bahwa akhirnya takdir tersenyum padanya.
Namun, ternyata takdir hanyalah sedang mempermainkannya.
Di hari ulang tahun Hans, Autumn bangun pagi-pagi sekali dengan hati yang penuh kasih sayang. Ia membeli bahan-bahan terbaik, lalu menghabiskan berjam-jam di dapur kecilnya untuk membuatkan kue ulang tahun istimewa bagi tunangannya itu. Ia menghias kue itu dengan indah, berharap malam itu akan menjadi momen yang indah bagi mereka berdua. Ia tidak tahu, bahwa di saat ia sibuk menyiapkan kejutan, Hans justru sedang sibuk merencanakan akhir hidupnya. Pria itu ternyata telah menjalin hubungan gelap dengan adik tirinya sendiri—wanita yang juga pernah membenci dan memanfaatkan Autumn di masa lalu. Keduanya bersekongkol hanya demi satu hal: kekayaan yang perlahan dikumpulkan Autumn dari hasil keringatnya sendiri.
Saat Autumn menyerahkan kue itu dengan senyum paling tulus yang ia miliki, Hans tidak tersenyum balik. Pria itu justru menatapnya dengan tatapan dingin yang asing, lalu dengan kejam menyerang dan membunuhnya di tempat itu. Uang tabungan, aset, dan segala harta benda yang susah payah dikumpulkan Autumn selama bertahun-tahun dirampas begitu saja, diserahkan kepada wanita lain yang seharusnya tidak berhak atas apa pun itu. Napas terakhir Autumn di dunia itu bukanlah napas damai, melainkan napas penuh rasa sakit, pengkhianatan, dan ketidakadilan yang luar biasa. Ia mati dengan pertanyaan mengapa nasibnya selalu seburuk itu, dan mengapa kebaikan selalu dibalas dengan kejahatan.
Dan sekarang, ia terbangun di sini. Di dunia yang asing, di tubuh seorang wanita yang ditakuti dan dibenci semua orang.
...***...
Sementara itu, di sudut lain ibu kota, di kediaman megah Keluarga Adipati Remington, kenangan serupa juga sedang berputar di kepala seorang pemuda yang baru saja sadar dari pingsannya. Jasper Herasio, pria yang dulu dikenal sebagai CEO muda yang cerdas, berwibawa, dan sangat kaya raya, kini merasakan kembali rasa pahit kematiannya sendiri.
Di dunia asalnya, Jasper adalah sosok yang dihormati sekaligus ditakuti. Ia membangun kerajaannya dari bawah dengan kecerdasan bisnis dan ketegasan. Namun, kekayaan dan kekuasaan itulah yang justru menjadi sumber malapetaka baginya. Malam itu, terbayang jelas di ingatannya saat ia duduk di meja makan panjang bersama seluruh anggota keluarga besarnya. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya lembut, hidangan mewah tersaji di depan mereka, dan percakapan terdengar begitu hangat dan sopan. Namun, di balik senyum-senyum palsu itu, ada mata-mata yang penuh dengan rasa iri dan dengki, terutama dari adik kandungnya sendiri.
Masalah hak waris selalu menjadi duri dalam daging di keluarganya. Sebagai anak sulung, Jasper adalah pewaris sah atas seluruh aset perusahaan dan kekayaan keluarga. Hal ini membuat adiknya, yang merasa dirinya jauh lebih pantas dan lebih berhak, merasa sangat tertekan dan penuh kebencian.
Malam itu, adiknya tersenyum manis sambil menuangkan segelas anggur merah ke dalam gelas Jasper. "Untuk kakakku tercinta, orang terhebat yang aku kenal," begitu katanya waktu itu. Tanpa curiga sedikit pun, Jasper meminumnya. Anggur itu terasa nikmat seperti biasa, namun tak lama kemudian rasa sakit yang luar biasa menyerang perut dan dadanya. Pandangannya menjadi kabur, napasnya tersendat, dan saat ia menatap adiknya, pria itu tidak lagi tersenyum ramah. Yang terlihat hanyalah senyum kemenangan yang dingin dan penuh kebencian.
"Bukan kakak yang pantas memimpin, melainkan aku," adalah kalimat terakhir yang didengar Jasper sebelum ia jatuh terjerembap ke lantai, nyawanya perlahan merenggang pergi. Ia mati karena dikhianati adiknya sendiri, dikorbankan demi ambisi dan kekuasaan yang buta.
Kini, pria itu hidup kembali sebagai Algernon Leandor Remington—sosok yang sangat kontras dengan dirinya yang dulu. Jika dulu ia adalah pemimpin yang disegani, kini ia menjadi "Pangeran Tidak Berguna", pemuda yang dianggap lemah, tidak memiliki bakat sihir, tidak pandai bergaul, dan hanya menjadi aib bagi nama besar keluarga Remington. Di dalam kamar yang berantakan itu, Jasper—atau Algernon—membuka matanya perlahan. Ia merasakan sakit di kepalanya akibat benturan saat jatuh tadi, mendengar bisik-bisik pelayan di luar pintu yang meremehkan.
...***...
Kamar Amorette
Wanita bengis itu—yang kini jiwanya Autumn—mengambil sebuah buku tulis tebal bersampul kulit dan sebatang pena tinta emas yang tergeletak di atas meja rias. Ia duduk tegak, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di hadapannya. Wajah di cermin itu cantik luar biasa, dengan rambut hitam legam yang beralun indah dan mata berwarna zamrud yang tajam. Namun, ia tahu betul betapa buruknya citra pemilik wajah ini di mata seluruh isi kerajaan.
Dengan tenang, ia mulai menuliskan poin-poin penting di atas kertas putih itu, menyusun kembali ingatan pemilik tubuh aslinya dan alur cerita novel Enchanted Rose yang ia ingat dengan sangat baik. Ia harus memahami peta nasibnya agar bisa mengubah akhir yang mengerikan yang menantinya.
Ayah Amorette, Raja Julius Elowen, adalah sosok yang berkuasa namun lemah di hadapan pesona wanita. Ibu kandung Amorette meninggal dunia saat ia masih kecil, meninggalkan gadis itu sendirian dengan kasih sayang ayah yang perlahan memudar. Beberapa tahun kemudian, Raja Julius menikah kembali dengan seorang wanita yang berasal dari daerah terpencil, seorang wanita cantik bernama Mirelle Morticia. Wanita itu konon memiliki bakat sihir alam yang kuat namun dianggap tidak sopan oleh kaum bangsawan. Bersama Mirelle, datanglah seorang anak perempuan yang seusia dengan Amorette, bernama Elarise Lunaria Elowen.
Saat itu, Amorette baru berusia sepuluh tahun. Seperti anak-anak lain, ia hanya menginginkan kasih sayang ayahnya. Namun, sejak kedatangan ibu dan anak itu, perhatian Raja Julius tercurah sepenuhnya kepada mereka. Terutama kepada Elarise. Gadis itu selalu tampak lemah, manja, dan membutuhkan perlindungan, sifat yang membuat ayahnya luluh. Amorette merasa iri, itu benar adanya. Ia merasa terpinggirkan, merasa tidak lagi disayangi. Namun, di dalam ingatan pemilik tubuh aslinya, Amorette kecil tidak pernah berbuat jahat sedikit pun kepada Elarise. Ia hanya diam dan menjauh.
Hingga suatu hari, terjadi insiden yang mengubah segalanya. Elarise jatuh ke dalam kolam istana. Saat itu, Amorette kecil sedang berada di kamarnya, sedang membaca buku sendirian. Ia tidak pergi ke taman, ia tidak bertemu Elarise, dan ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Namun, saat insiden itu terjadi, tiba-tiba muncul saksi mata yang bersaksi melihat Amorette yang mendorong Elarise ke air. Tidak ada pembuktian, tidak ada penyelidikan mendalam. Raja Julius langsung mempercayai perkataan orang lain dan air mata Elarise. Hukuman yang didapat Amorette sangat berat: dikurung di ruangan gelap bawah tanah selama tiga hari tanpa sepotong makanan pun. Di usia sepuluh tahun, rasa dingin, lapar, dan rasa tidak adil itu menanam benih kebencian yang mendalam di hati gadis kecil itu.
Autumn menghentikan penanya sejenak, menatap tulisan itu dengan mata menyipit. Ada kejanggalan besar di sini. Amorette asli ada di kamar, jadi mustahil dia pelakunya. Tapi ada saksi palsu. Ini bukan sekadar kesalahpahaman, melainkan sebuah rencana yang disusun rapi untuk menjatuhkan posisi Amorette di mata ayahnya. Dan pelaku di baliknya, meski tidak tertulis jelas di novel, sangat mudah ditebak olehnya.
Sejak kejadian kolam itu, hidup Amorette berubah drastis. Ia selalu dipandang sebagai anak yang jahat, pendendam, dan penuh kecemburuan sosial. Di mana pun ada masalah yang menimpa Elarise, Amorette selalu menjadi tersangka utama. Awalnya ia membela diri, menangis, dan berteriak bahwa ia tidak bersalah. Namun, tidak ada yang mendengarkannya. Ayahnya, para pelayan, hingga kakaknya, Pangeran Cornelius, semuanya sudah memiliki pandangan sendiri bahwa Amorette adalah anak yang buruk.
Lama-kelamaan, jiwa kecilnya yang keras itu berubah. Pikirannya teracuni oleh rasa sakit hati. "Jika aku sudah difitnah sebagai penjahat, jika aku sudah dianggap jahat oleh semua orang tanpa peduli aku bersalah atau tidak... lalu kenapa aku tidak sekalian saja berbuat jahat yang nyata?"
Pemikiran itulah yang mengubah jalan hidupnya. Amorette yang asli mulai benar-benar melakukan hal-hal buruk kepada Elarise. Mulai dari hal kecil seperti menyembunyikan barang milik Elarise, menumpahkan minuman ke gaunnya, hingga perbuatan yang lebih serius saat mereka tumbuh remaja. Kebencian itu tumbuh subur, diberi makan oleh perlakuan tidak adil keluarga dan kebencian yang semakin membara.
Ketika keduanya masuk ke Akademi Sihir Kerajaan, persaingan semakin memanas. Di sana, Elarise yang lembut, cantik, dan memiliki bakat sihir yang besar menjadi pusat perhatian semua orang. Sementara Amorette, yang memiliki bakat sihir tidak kalah hebat namun berkarakter dingin dan kasar, dijauhi dan ditakuti. Di sanalah mereka bertemu dengannya—Pangeran Theodore Sullivan Remington, putra kedua Keluarga Kerajaan Remington, pemuda yang tampan, gagah, dan menjadi idaman semua gadis.
Sesuai perjanjian diplomatik antar dua kerajaan, Amorette seharusnya bertunangan dengan Pangeran Theodore. Itu adalah kesepakatan politik yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Namun, rencana itu hancur lebur. Pangeran Theodore, yang memiliki jiwa ksatria dan suka melindungi yang lemah, melihat Elarise dan jatuh hati padanya. Ia melihat betapa "kejamnya" Amorette sering mengganggu dan menyakiti Elarise, dan betapa "malang dan murninya" Elarise yang selalu menjadi korban. Pangeran Theodore membela Elarise di setiap kesempatan, membatalkan rencana pertunangan dengan Amorette, dan memilih untuk mendekati adik tirinya itu. Hal ini membuat nama baik Amorette semakin hancur, dan kebenciannya semakin tak terukur besarnya.
Autumn menulis poin ketiga ini dengan tangan yang sedikit gemetar, mengingat betapa tragis dan kejamnya nasib yang menunggu tubuh yang kini ia tempati ini.
Secara garis besar, alur cerita novel Enchanted Rose berpusat pada drama tak berujung antara si tokoh utama wanita yang suci, Elarise, melawan penjahat utama yang kejam, Amorette. Di setiap bab, Amorette selalu merencanakan kejahatan baru untuk mencelakai Elarise, baik itu menggunakan sihir, menjebaknya dalam situasi berbahaya, atau memfitnah balik. Namun, selalu saja di momen kritis, Pangeran Theodore datang tepat waktu bagaikan pahlawan, menyelamatkan Elarise, dan membuat Amorette semakin terlihat buruk dan konyol di mata semua orang. Pembaca novel itu tentu saja bersorak saat Amorette dipermalukan, sementara Elarise dipuji-puji, batin Amorette, kemudian mencurahkan isi pikiran itu kembali pada kertas dan pena di hadapannya.
Namun, puncak dari seluruh cerita ini adalah saat perang besar terjadi di perbatasan kerajaan. Pangeran Theodore pergi berjuang membela negaranya, dan Elarise—yang ternyata memiliki kekuatan besar—ikut serta mendampinginya. Keduanya pulang sebagai pahlawan yang disambut dengan gembira oleh seluruh rakyat. Namun, saat itulah kebenaran "besar" terungkap. Amorette Ysandre Elowen dan Algernon Leandor Remington—dua sosok yang dibenci dan dianggap sampah—ternyata dituduh sebagai pengkhianat besar. Konon, keduanya diam-diam bersekutu dengan kerajaan musuh, membocorkan rahasia negara, dan berencana menjatuhkan keluarga kerajaan.
Bukti-bukti "kuat" ditunjukkan, meski banyak yang terasa dipaksakan. Namun, karena citra buruk keduanya sudah tertanam kuat sejak lama, tidak ada yang meragukan kebenaran itu. Amorette dan Algernon ditangkap, diadili dengan cepat, dan dihukum mati dengan cara yang sangat memalukan. Sementara itu, Elarise dan Theodore dinikahkan dengan pesta besar, naik takhta, dan hidup bahagia selamanya sebagai raja dan ratu yang dicintai rakyat.
Itulah takdir yang tertulis. Itulah masa depan yang menanti Autumn dan Jasper jika mereka hanya diam saja dan mengikuti alur cerita seperti yang seharusnya terjadi.
Setelah selesai menuliskan semua poin itu, Amorette—atau Autumn—menutup buku tulis itu dengan bunyi plak yang cukup keras. Ia menghela napas panjang, napas yang terasa berat namun juga melepaskan segala kekhawatiran yang ada di dadanya. Matanya yang indah itu menyala dengan tekad yang kuat, persis seperti tekad yang dulu ia miliki saat berjuang melawan kerasnya hidup di dunia asalnya.
"Inilah ceritanya..." gumamnya pelan, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Semua ini hanyalah sebuah naskah yang sudah diatur. Aku ditulis sebagai penjahat, difitnah, dipojokkan, lalu dibunuh sebagai pengkhianat. Dan dia... Elarise, sang bunga mawar yang terlihat suci dan lembut, adalah pemenang yang mendapatkan segalanya."
Ia berdiri dari kursi riasnya, berjalan mendekati jendela besar dan menatap ke arah taman istana yang luas di bawah sana. Di sudut pandangannya, ia bisa melihat sosok wanita muda yang bergaun putih bersih sedang berjalan-jalan diiringi beberapa pelayan, tertawa riang. Itu adalah Elarise. Wanita yang di dalam cerita digambarkan begitu murni, namun yang dalam ingatan masa kecil Amorette selalu berada di balik setiap rencana buruk yang menimpanya.
"Dalam cerita aslinya, Amorette kalah karena dia bertindak emosional, dikendalikan oleh amarah, dan terlalu terang-terangan," batinnya, menganalisis situasi seperti saat ia sedang membedah kasus medis atau meneliti tanaman langka. "Dia bodoh karena memberi mereka alasan yang nyata untuk membenci dirinya. Dia kalah karena dia bermain sesuai aturan yang dibuat oleh musuhnya sendiri."
Autumn menggelengkan kepalanya perlahan. Ia bukanlah Amorette yang polos dan penuh dendam itu. Ia adalah Autumn Isabella, wanita yang selamat dari dunia kejam, lulusan terbaik universitas bergengsi, dokter hewan, ahli botani, wanita yang tahu betul rasanya dikhianati dan dibuang. Ia tidak akan membiarkan sejarah terulang, dan ia tidak akan membiarkan dirinya berakhir di tiang gantungan.
"Mulai hari ini," ucapnya tegas, matanya berkilat dingin, "Aku tidak akan mendekati Elarise. Aku tidak akan menyakitinya, tidak akan mengganggunya, dan tidak akan menatapnya dengan pandang benci. Aku akan menjauh. Aku akan menjaga jarak sejauh mungkin dari dia dan pangeran kesayangannya itu. Biarkan mereka bermain drama pahlawan dan putri cantik mereka berdua. Selama aku tidak berada di dekat mereka, mereka tidak akan punya alasan untuk menjebakku, bukan?"
Pemikiran itu masuk akal. Selama ia tidak memberi bahan untuk fitnah, selama ia bertindak sopan, logis, dan jauh dari masalah, sulit bagi siapa pun untuk menjatuhkannya. Apalagi setelah pembelaannya yang logis dan tenang tadi di ruang sidang, ia sudah mulai mengubah sedikit persepsi orang-orang terhadapnya.
Belum sempat ia merenung lebih jauh lagi, terdengar ketukan halus di pintu kamar kamarnya.
"Yang Mulia Putri Amorette, izin masuk," suara beberapa wanita terdengar dari balik pintu.
"Masuk saja," jawab Amorette dengan nada suara yang tenang dan berwibawa, sangat berbeda dari nada bicara Amorette yang asli yang biasanya keras atau manja.
Pintu terbuka perlahan. Beberapa pelayan istana masuk berbaris rapi, masing-masing membawa gantungan baju berisi gaun-gaun indah yang dilapisi kain sutra pelindung. Wajah mereka terlihat sedikit takut-takut, mengingat reputasi buruk sang putri, namun mereka tetap melaksanakan tugasnya dengan patuh. Mereka meletakkan gaun-gaun itu satu per satu di atas tempat tidur, memperlihatkan keindahan dan kemewahan setiap helainya.
"Untuk apa ini semua?" tanya Amorette sambil melangkah mendekat, menatap kain-kain berwarna cerah itu.
"Maafkan kami, Yang Mulia," jawab salah satu pelayan sambil menunduk hormat. "Ini adalah gaun-gaun yang dipersiapkan khusus untuk Anda, atas perintah Baginda Raja. Lusa, seluruh istana dan keluarga kerajaan akan mengadakan pesta besar meriah dalam rangka ulang tahun ke tujuh belas Tuan Putri Elarise. Baginda Raja berpesan agar Yang Mulia Putri Amorette mengenakan gaun terbaik dan hadir dengan penampilan paling anggun."
Kata-kata itu membuat bibir Amorette perlahan melengkung ke atas, membentuk sebuah senyum yang samar namun penuh makna mendalam—senyum yang terlihat manis namun menyembunyikan ribuan rencana di baliknya.
Jadi, pesta ulang tahun Elarise. Momen besar di mana seluruh bangsawan berkumpul, di mana Pangeran Theodore akan hadir, di mana drama-drama penting dalam novel dimulai, dan di mana Amorette biasanya melakukan kesalahan fatal yang semakin merusak namanya.
Autumn mengusap lembut kain gaun berwarna merah delima yang berkilauan itu dengan jari-jarinya yang halus. Di dalam hatinya, ia sudah menyusun rencana baru. Baiklah... jika takdir memaksaku datang ke pesta itu, maka aku akan datang. Tapi aku tidak akan datang sebagai penjahat yang membuat keributan. Aku akan datang sebagai Amorette Ysandre Elowen yang baru—putri kerajaan yang cerdas, tenang, misterius, dan di luar jangkauan siapa pun. Mari kita lihat, bagaimana alur cerita ini akan berubah saat penjahat utamanya tiba-tiba berhenti berbuat jahat dan justru menjadi sosok yang jauh lebih mengerikan karena kecerdasannya.
Senyum itu semakin melebar, dingin dan penuh percaya diri. Di saat yang sama, jauh di kediaman keluarga Remington, pemuda yang bernasib sama dengannya baru saja merobek sebuah bantal dengan tangannya sendiri, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar dengan rencana balas dendam yang mulai terbentuk.
Takdir telah terikat. Dua jiwa yang mati karena pengkhianatan kini bersatu dalam satu dunia, memegang kendali atas nasib dua penjahat yang ditakdirkan kalah. Dan permainan untuk mengubah akhir cerita baru saja dimulai.