Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Suasana di depan pagar kayu rumah Jasmine mendadak membeku. Axel tidak bergeming sedikit pun, tangannya masih mengepal kuat di dalam saku, sementara Liam tetap berdiri dengan santai sambil menjinjing kotak pie buah seolah tidak ada ketegangan apa pun. Jasmine, yang berdiri di antara dua pria ini, merasa jantungnya berdegup kencang karena canggung. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini, apalagi diperebutkan secara terang-terangan.
"Udah malam, Kak Liam. Sebaiknya Kakak pulang aja," cicit Jasmine pelan, mencoba meredam api yang hampir meledak dari tubuh Axel.
Liam menoleh ke arah Jasmine, senyumannya melembut. "Ok, kalau itu mau kamu. Tapi pie ini tetap untuk kamu, ya. Letakkan saja di meja belajar kamu, makan saat kamu ngerasa jenuh berlatih. Gula alami dari buah dan aroma melatinya bagus untuk saraf yang tegang." Liam melangkah maju, meletakkan kotak itu di atas pilar pagar kayu tanpa menyentuh Axel, lalu melambai ringan. "Selamat istirahat, Jasmine dan selamat malam, Mas Kapten. Jangan terlalu galak, nanti cepat tua."
Liam berbalik dan berjalan santai menuju kafenya yang mulai meredupkan lampu. Axel menatap punggung itu dengan kebencian yang nyata, sebelum akhirnya menoleh ke arah Jasmine.
"Masuk, Jasmine. Sekarang," perintah Axel dengan suara yang serak menahan amarah. Jasmine hanya bisa menunduk dan masuk ke dalam rumah, sementara Axel mengambil kotak pie itu dengan kasar dan membawanya masuk, seolah-olah benda itu adalah ancaman keamanan tingkat tinggi.
---
Malam itu, di dalam kamarnya, Jasmine duduk di depan komputer yang sudah mati. Kotak pie dari Liam tergeletak di samping mousepadnya. Ia teringat kata-kata Liam tentang "hak untuk memilih". Selama ini, hidup Jasmine memang selalu diatur oleh Axel. Mulai dari jadwal makan, jam tidur, hingga taktik bermain. Axel adalah penyelamatnya, tapi terkadang, perhatian Axel terasa seperti jeruji besi yang sangat kokoh. Jasmine menyuap sepotong pie buah itu, rasanya manis, segar, dan menenangkan, persis seperti kehadiran Liam di tengah hidupnya yang kaku. Kehangatan dari mentega krim dan kesegaran buah beri bercampur kelopak melati di dalam pie tersebut perlahan-lahan merentangkan otot-otot bahunya yang tegang. Sambil terus mengunyah pelan, Jasmine menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi gaming, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Di luar, suara jangkrik malam dan deru angin danau berpadu, menciptakan ritme konstan yang biasanya membantunya tertidur. Tapi malam ini, otaknya menolak untuk diajak beristirahat. Ia memejamkan mata sebentar, selama lima tahun ini, Jasmine selalu menganggap proteksi Axel sebagai bentuk kasih sayang seorang kakak, seorang penyelamat yang menariknya dari kerasnya hidup.
Namun, baru saja ketika Liam berdiri di depan pagar dan menyebutkan tentang "hak untuk memilih", ada sebuah dinding tak kasatmata di dalam kepala Jasmine yang mendadak retak. Untuk pertama kalinya, Jasmine menyadari betapa sesak ruang gerak yang dia miliki. Axel mengontrol hampir seluruh aspek hidupnya demi satu tujuan, yaitu menjadikannya pro player nomor satu yang tanpa cela. Di mata Axel, kesalahan sekecil apa pun adalah dosa besar yang bisa menghancurkan masa depan tim.
"Apa aku cuma sebuah karakter di layar komputer bagi Kak Axel ya?" gumam Jasmine lirih, mengulangi kata-kata tajam yang dilontarkan Liam tadi.
Rasa bersalah langsung menyergap hati Jasmine setelah memikirkan hal itu. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran buruk tersebut. Tidak, dia tidak boleh egois. Axel sudah mengorbankan banyak hal untuknya. Uang hasil turnamen pertama mereka dulu bahkan seluruhnya digunakan Axel untuk menyewa rumah asri di tepi danau ini agar Jasmine bisa hidup dengan layak dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota yang sempat membuatnya trauma. Hutang budi itu terlalu besar untuk dibayar dengan seulas rasa sebal. Jasmine menghela napas panjang, lalu kembali menatap kotak makan dari Liam yang kini tinggal menyisakan remah-remah kue pie. Kehadiran Liam benar-benar sebuah anomali. Pria berusia 30 tahun itu seperti angin musim semi yang tiba-tiba berembus di tengah badai salju kehidupannya yang monoton. Liam tidak menuntut apa-apa darinya, tidak meminta akurasi tembakan yang sempurna, tidak memaksanya menghafal rotasi map, dan tidak memandangnya sebagai aset tim berharga. Liam hanya memandangnya sebagai Jasmine, seorang tetangga kikuk yang butuh secangkir teh hangat setelah lelah bekerja. Dia meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan singkat, dan menatap ruang obrolannya dengan Liam yang masih menampilkan pesan terakhir tentang Donald. Jarinya ragu-ragu di atas papan ketik virtual. Dia ingin mengucapkan terima kasih atas pie buah yang sangat enak ini, tapi bayangan wajah kaku Axel kembali terlintas, membuatnya mengurungkan niat tersebut.
Ting.
Sebuah notifikasi baru mendadak muncul di bagian atas layar, bukan dari grup chat tim, melainkan pesan pribadi dari Ilias.
Kak Ilias : Jasmine, kamu udah tidur? Kakak cuma mau bilang, jangan terlalu dipikirin sikap Kak Axel di kafe tadi, ya. Dia cuma terlalu cemas karena turnamen London udah mau dekat. Dia peduli banget sama kamu, meskipun caranya kadang salah. Istirahat yang cukup ya Dek.
Jasmine tersenyum tipis membaca pesan dari abangnya itu. Ilias memang selalu tahu kapan harus bertindak sebagai penengah. Jasmine dengan cepat mengetik balasan singkat.
Jasmine : Iya Kak. Aku gak papa kok. Ini baru mau tidur. Makasih ya, Kak.
Setelah mengirim pesan itu, Jasmine mematikan daya ponsel seutuhnya, memutus hubungan dari dunia luar untuk malam ini. Dia berdiri, merapikan meja belajarnya, dan membuang kotak plastik kosong ke tempat sampah. Sebelum beranjak ke tempat tidur, Jasmine berjalan mendekati jendela, menyibak sedikit tirai kainnya untuk mengintip ke luar. Di seberang jalan aspal yang gelap, lampu-lampu utama di Floraison Cafe sudah padam seutuhnya, menyisakan satu lampu taman kecil bercahaya kuning temaram yang menerangi papan nama kafe. Suasana di sana tampak begitu damai di bawah hamparan langit malam penuh bintang yang luas. Entah kenapa, melihat siluet bangunan kaca itu membuat debaran kecemasan di dalam dada Jasmine perlahan-lahan menyusut, digantikan oleh rasa hangat yang asing. Jasmine kembali menutup tirai, merebahkan tubuh mungilnya di bawah selimut tebal, dan memejamkan mata rapat-rapat. Dia tahu, esok hari tekanan latihan untuk London akan jauh lebih berat, dan dinding proteksi Axel pasti akan semakin tinggi mengurungnya. Namun, malam ini, dengan sisa aroma manis melati dari pie buah Liam yang masih tertinggal di indra pengecapnya, Jasmine akhirnya bisa terlelap dengan senyuman kecil yang sudah lama tidak terukir di wajahnya.
Di dalam tidurnya yang lelap, Jasmine bahkan tidak menyadari bahwa di luar sana, angin malam berembus membawa kelopak mawar kering dari halaman Floraison Cafe menyeberangi jalan aspal dan mendarat tepat di depan pagar kayunya. Kehadiran Liam yang begitu dekat seolah-olah mulai mengikis batas-batas ketat yang selama ini membentengi hidup Jasmine dari dunia luar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mimpi Jasmine tidak lagi dipenuhi oleh kilatan taktis visual game, melainkan sebuah lanskap tenang tepi danau yang diterangi langit malam penuh bintang. Sementara itu, di balik jendela kamar seberang jalan, Liam masih berdiri diam menatap ke arah rumah Jasmine. Di dalam pelukannya, Donald sudah mendengkur halus, sama sekali tidak peduli pada ketegangan tak kasatmata yang baru saja ia sulut siang tadi. Liam tersenyum tipis, merapikan letak selimut si bebek konyol sebelum mematikan lampu kamarnya sendiri. Pria itu tahu betul, dinding protektif yang dibangun Axel untuk menjaga Jasmine tidak akan runtuh hanya dalam waktu satu malam. Namun, persaingan halus ini justru membuat hari-hari Liam yang monoton di tepi danau kini terasa jauh lebih hidup dan menantang untuk dijalani.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏