"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sanggahan Dosa
*
*
*
"Aku masih merasa kalau ini salah, Risa. Aku, sudah mengkhianati Isana." Gumam Andreas.
Pria itu mengusap wajahnya, mengubah posisi yang tadinya rebahan disamping Risa kini duduk dengan kepala bersandar disandaran ranjang.
Setiap kali kebersamaan dengan Risa, rasa sesal itu selalu muncul. Rasa bersalah yang selalu berhasil menghantam relung jiwanya.
Tangan Risa yang masih melingkar dipinggang Andreas, sengaja ia jadikan pegangan untuk beringsut. Lebih rapat lagi pada pria bertubuh atletis itu.
Risa mendongak, mengecup lengan Andreas pelan. "Sayang ... Tidak ada yang salah dengan cinta kita. Aku cinta sama kamu, kamu juga cinta sama aku. Semuanya jelas."
"Tapi, aku dan Isana ... Pernikahan kami..." Andreas menghembuskan nafas kasar, mengusap dahinya dengan frustasi. "Bahkan, aku sudah menjadi contoh yang buruk untuk Ghazi. Anak laki-laki yang nantinya akan tumbuh menjadi laki-laki dewasa seperti aku. Bagaimana nanti kalau, Ghazi tumbuh dengan rasa benci karna memiliki Ayah yang mengkhianati Ibunya? Bagaimana kalau, orang tua aku tahu. Selama ini mereka mengira aku anak yang bisa mereka banggakan, bagaimana kalau ..."
"Ssstttt ..." Risa menaruh telunjuknya dibibir Andreas. Sebuah gerakan yang memaksa Andreas untuk diam. "An ... kenapa kamu terlalu memikirkan sesuatu yang bisa kita kendalikan?" lanjutnya, dengan suara lembut yang menenangkan.
"Maksud kamu apa, Risa?"
"Semua yang kamu takutkan, tidak akan terjadi. Kalau kita menutupnya rapat-rapat." Risa mendekatkan wajah, sengaja berbisik tepat ditelinga Andreas. "Aku butuh kamu, dan kamu juga membutuhkan aku. Aku sudah bilang, aku nggak masalah kalau kita jalani hubungan ini tanpa harus orang-orang tahu."
"Tapi, aku ..."
"Sudah, An. Percaya sama aku, semua akan berjalan baik-baik saja. Oke?!"
Andreas terdiam, kepalanya mengangguk ragu-ragu. Ia mulai mempercayai ucapan Risa. Terlebih saat wanita itu sengaja mendekatkan wajah.
Detak jantung Andreas kembali berpacu. Bibir tipis, yang tadi mengeluarkan suara terlihat begitu menggairahkan. Rasa sesal telah berganti dengan rasa percaya kalau semua akan berjalan baik-baik saja. Terlebih, saat bibir tipis itu, kembali merengkuhnya. Tenggelam dalam permainan menggelorakan.
Sampai, derit ponsel milik Andreas menghentikan aktifitas mereka.
"Aku terima telpon dulu, ya ..." Ucapnya ditengah deru nafas yang memburu.
Risa memejamkan mata. Bibirnya turun keceruk leher Andreas. Membiarkan pria itu menerima panggilan, dengan sesekali memberi sengatan kecil disana.
Mimik wajah Andreas berubah tegang. Tanggannya gemetar, dengan tatapan nanar pada layar ponsel. Risa membuka mata. Dahinya mengernyit ketika melihat apa yang terjadi dengan Andreas.
"Hey ... Kenapa?" Tanya Risa, dengan suara serak.
Andreas tidak menjawab, dia hanya memperlihatkan layar ponselnya. Tertera nama Mas Kahfi disana.
"Siapa Mas Kahfi?" Risa penasaran dengan nama yang belum pernah ia dengar.
"Kakak nya Isana." pelan suara Andreas menjawab.
Risa memegang lengan Andreas, seolah sedang menyalurkan kekuatan. "Kamu tenang, itu cuma telpon biasa. Kamu angkat dan bersikap biasa-biasa. Aku akan bantuin kamu. Oke ...!"
ujarnya, memberi pengarahan.
Andreas mengangguk, tangannya gemetar menggeser tombol terima panggilan. Secepat kilat, Risa mengubah mode speaker agar ia bisa ikut mendengar.
"Halo, An!" terdengar suara Kahfi diseberang. Disertai suara bising dari sendok dan piring beradu.
Andreas menahan nafas, memejamkan mata sebentar baru menjawab. "Iya, Mas?"
"Kamu lagi di Moonlight?"
Pertanyaan yang langsung menghujam jantung Andreas. Seketika suara bising memudar. Berganti dengan suara detak jantung yang menggila. Ia lupa kalau Kahfi sedang ditugaskan sebagai manajer hotel Moonlight.
"Tadi aku lihat diparkiran. Ada moge mirip punya kamu?" lanjut Kahfi, yang semakin membuat Andreas mati kutu.
Wajahnya berubah pucat pasi, bibirnya bergetar namun tak ada suara yang keluar.
Risa secepat kilat mengambil ponselnya. Mengetikkan sesuatu dan menunjukkannya pada Andreas.
"Iya, Mas. Ada delegasi dari kantor. Untuk bertemu klien." Andreas membaca tulisan dari ponsel Risa.
"Oh ... Gitu. Ya sudah kalo begitu. Mas tutup teleponnya. Nanti malah ganggu kamu."
Andreas mulai bisa menguasai dirinya. "Nggak kok, Mas. Sudah hampir selesai. Sebentar lagi aku pulang."
"Kalau begitu, kita bertemu dirumah kamu saja ya. Nanti Mas ke sana. Sampai jumpa, An ..."
"Sampai jumpa, Mas."
Telpon diputus oleh Kahfi, bersamaan dengan helaan nafas lega dari Andreas. "Aku hampir kehilangan nafas." Gumamnya.
Pria itu menunduk menatap layar ponselnya yang telah gelap. Namun bayangan wajah Isana dan Ghazi justru kembali memenuhi kepalanya. Dadanya terasa sesak.
Sedikit saja Kahfi naik ke lantai dua belas, mungkin semua kebohongannya akan terbongkar hari ini.
Risa mengalungkan lengannya dileher Andreas. "Jadi kamu mau pulang, Sayang? Padahal aku masih kangen sama kamu." ucapnya dengan suara manja.
"Aku harus pulang Risa,..." sahut Andreas, sembari menurunkan lengan Risa. "Kita masih bisa bertemu lagi nanti."
"Tapi, aku mau dengar suara kamu terus. Walaupun kita lagi nggak sama-sama."
Andreas menyipitkan mata, "Maksudnya?"
"Sebentar, ..." Rissa turun dari ranjang, merogoh tas yang ia taruh diatas nakas.
Jari jemarinya menggenggam sebuah kotak berwarna putih. Ia buka kotak itu, lantas mengangkat isi didalamnya.
"Kamu pakai ponsel ini, karna aku tahu ..." ujarnya, yang kemudian kembali naik keranjang. "Kamu tidak berani menyimpan nomorku di ponsel kamu. Dengan begitu, kita masih bisa bebas telponan tanpa membuat Isana tahu." lanjutnya, sembari menaruh ponsel ditangan Andreas.
Pria itu membulatkan mata, tidak percaya kalau Risa sudah mempersiapkan semuanya.
Risa mendaratkan bibirnya, di pelipis Andreas. "Sekarang, kamu mandi. Supaya, kamu pulang nggak bawa aroma parfum aku yang bisa bikin Isana tambah curiga."
Sudut bibir Andreas terangkat, tangan yang memegang ponsel perlahan mengerat. "Risa, aku nggak nyangka kalau kamu sampai rela menyiapkan ini semua."
"Kan aku sudah bilang," timpal Risa, seraya mengerlingkan mata. "Aku cinta sama kamu. Aku mau selalu bersama kamu. Dan aku akan bantuin kamu untuk nggak kehilangan apa yang sudah kamu punya."
Andreas menaruh ponsel di Nakas. Tangannya menjulur, meraih kepala Risa. Lantas mengecupnya, dengan jeda yang lama. "Terimakasih ya, sayang ..."
Lengkungan di bibir wanita itu semakin lebar. Senyuman kemenangan, ketika mendengar Andreas menyebutnya dengan panggilan sayang.
Risa mendorong tubuh Andreas pelan, "Sana, kamu mandi. Nanti nggak jadi pulang. Jangan salahkan aku, kalau akhirnya aku nggak mau kamu tinggal."
Andreas menunduk, dengan senyuman kecil diwajahnya. "Aku mandi dulu, ya ..." ucapnya, yang kemudian bergegas ke kamar mandi.
Gemericik air dari shower membasahi tubuh pria itu. Namun kali ini dengan rasa yang berbeda. Kalau kemarin ia pernah merasa guyuran air itu adalah tebusan untuk menghilangkan dosa, namun kali ini yang ia rasakan justru membela dirinya dengan alasan cinta. Rasa bersalah telah berganti dengan, kalimat sanggahan.
Ia mulai menyanggah rasa bersalahnya. Kini yang dalam pikirannya adalah, ia sedang jatuh cinta. Dengan wanita yang paling mengerti akan dirinya. Paling memahami kebutuhannya. Dan itu wajar, menurutnya.
Setelah merasa cukup, pria itu melilitkan handuk. Gerakannya tak lagi kasar, bahkan disertai siul dan senyum samar.
"Sudah selesai?" Risa menyambutnya, begitu pria itu menyembul di ambang pintu toilet.
Andreas hanya mengangguk, dan berjalan mendekati pakaian yang tadi ia lepas sembarangan.
"Eh ... jangan pake baju itu." Suara Risa menghentikan tangan Andreas yang menjulur, hendak mengambil bajunya.
"Aku udah siapin baju buat kamu. Aku juga udah semprot parfum Woody. Sama persis sama punya kamu. Kita harus lebih teliti, iya kan?"
Andreas menggeleng pelan, mengulum senyum. "Kamu, cerdas sekali sayang ..." ucapnya.
Pujian dari Andreas tadi, jelas membuat Risa tersenyum bangga. Dengan gerakan khas milik Risa, ia membantu Andreas memakai kaos lengan panjang, dan celana jeans yang begitu pas membingkai badan Andreas yang proporsional.
Suasana sky suite yang temaram, sunyi tanpa ada gangguan suara dari mana saja. Andreas dan Risa mengakhiri pertemuan mereka, dengan rencana pertemuan selanjutnya.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍