Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
“Kalian tidak dengar? Manga Rom-Kom (Romantis-Komedi) itu milikku!!” aku kembali berteriak kalimat yang sama karena tidak mendapatkan respons apa pun dari Sari dan kelompoknya. Bahkan Elma, gadis yang sedang kubela, hanya menatapku tanpa reaksi selain memasang raut wajah terkejut yang luar biasa.
Suaraku terasa bergema di dalam kelas. Mungkin karena aku berteriak terlalu keras. Lagi pula, kenapa suaraku tiba-tiba bisa lantang begini? Dan yang lebih penting, kenapa aku harus mengucapkannya sampai dua kali?! Otak logikaku ingin sekali mendebat dua pertanyaan itu, namun harus segera kuabaikan. Kejadian ini harus cepat diselesaikan. Tubuhku sudah bergetar hebat; rasanya aku bisa pingsan kalau terlalu lama terlibat dalam drama tidak penting ini.
“Hah?!” Hanya itu yang keluar dari mulut Sari. Dia ini tuli atau bagaimana, sih?
“Itu manga punyaku!” tegasku untuk ketiga kalinya. Kali ini, aku tidak perlu berteriak lagi.
Semua orang kini menatap ke arahku. Aku sudah terlanjur basah dan tidak mungkin bisa mundur lagi. Mengucapkan kata 'Aku bercanda' pun sudah sangat terlambat. Satu-satunya jalan keluar bagiku adalah tancap gas sedalam-dalamnya menuju puncak konflik ini.
“I... ini... Yah! Mau bagaimana lagi, kan?! Semua ini gara-gara Elma bilang aku menjijikkan saat sedang membaca manga Rom-Kom! Aku dendam dan marah! Tapi, aku lebih kasihan pada jiwa malangnya yang tidak pernah memahami betapa asyiknya membaca manga Rom-Kom! Itu sebabnya aku diam-diam memasukkan manga rekomendasiku ke dalam tasnya! Aku hanya ingin menunjukkan padamu kalau manga Rom-Kom itu sangat menyenangkan!” seruku kepada seluruh isi kelas. Aku sengaja menunjuk wajah Elma dengan penuh semangat dan dendam yang membara agar terlihat lebih meyakinkan.
...Setelah ini, aku rasa aku layak memenangkan piala Oscar...
“Wuahahaha! Semua ini adalah rencanaku agar Elma mau memahami dan mengapresiasi kehebatan dari manga Rom-Kom!!” jelasku kemudian.
Arrrrghh!! Kenapa aku malah menjelaskan hal tidak masuk akal seperti itu?!! Sebenarnya apa yang sedang kulakukan?!!! Aku sudah di titik putus asa!!! Tidak adakah seseorang di dunia ini yang mau menolongku keluar dari situasi aneh ini?!!
“Eeh... aaa... Ra... Ra... kamu... kamu serius?” tanya Sari. Dia bahkan sempat tergagap dan sampai melupakan namaku, lalu menggantinya begitu saja dengan kata ‘Kamu’ di tengah kalimat.
“Duarius malah! Aku juga bisa memberitahu plot cerita manga itu. Kalau kamu tidak keberatan terkena spoiler, aku bahkan bisa membeberkan ending-nya sekarang,” jawabku. Di kehidupan sebelumnya, aku memang sudah membaca manga yang dibawa Elma, jadi kali ini aku tidak berbohong.
“Eeh... heee... oh. Elma... apa itu benar?” tanya Sari yang kini menatap Elma dengan raut wajah bingung. Masih belum ada rasa penyesalan di wajah Sari.
Saat itu, Elma tidak menjawab apa pun. Dia tampaknya masih sangat syok dengan perkembangan drama kehidupan SMA yang menimpanya. Perlahan tapi pasti, ekspresi Elma mendadak berubah sedih. Dia menoleh menatapku, dan aku segera melipat kedua tangan di dada sambil membalas tatapannya dengan wajah penuh amarah dan dendam yang sengaja aku buat-buat.
“Wuahahaha! Elma! Berani-beraninya kamu menjelek-jelekkan manga Rom-Kom yang legendaris itu! Sana baca manga rekomendasiku, lalu pelajari seberapa menariknya genre itu!” perintahku pada Elma. Namun, dia hanya diam sambil terus menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Dalam hati aku menjerit, ‘Oh ayolah, blonde! Ikuti saja permainannya agar drama bodoh ini segera selesai!!!’ Aku sudah tidak tahan berada di posisi ini, oke? Lagi pula, kenapa Elma malah terlihat seperti mau menangis saat menatapku?! Hei!!! Seharusnya yang ingin menangis itu aku!! Tapi serius... buat apa juga aku berdiri melipat tangan seperti ini?! Seseorang, tolong selamatkan aku dari situasi memalukan ini sekarang juga!
“...Iya...” celetuk Elma akhirnya. Dia kembali menatap Sari dengan pandangan menunduk. Perlahan, raut wajah Sari pun mulai menunjukkan rasa penyesalan.
“...Itu... bukan milikku...” ucap Elma lirih. Dia melipat kedua tangan di dada sambil meremas lengannya dengan sangat kuat. Sepertinya dia sangat terpaksa mengakui kebohongan ini.
“Aah... jadi... begitu ya...” gumam Sari, tampak kikuk.
“Lah, jadi cuma salah paham,” celetuk seorang siswa entah siapa.
“Huuu, ternyata...” timpal orang lain di dalam kelas.
Kegaduhan kembali pecah. Suara-suara sumbang itu terdengar kecewa dengan akhir cerita yang antiklimaks. Mungkin bagi mereka, memang lebih seru merundung siswi kasta atas daripada merundung seekor serigala penyendiri sepertiku. Tapi, apakah hubungan antar manusia yang sebenarnya memang memuakkan seperti ini? Aku tidak mengerti kenapa mereka memilih bertahan menjaga hubungan sosial palsu dibanding menjadi penyendiri yang tenang sepertiku..
Namun, aku cukup puas. Skenario terburuk sudah terlewati. Seharusnya dengan begini, baik Elma maupun Sari tidak akan sampai berhenti sekolah, kan? Tunggu, kalau dipikir-pikir kembali... bukankah epilog buatanku tadi sangat sempurna? Itu jauh melampaui ekspektasiku sendiri. Jangan-jangan, aku punya bakat membuat klub yang bertugas membereskan masalah semua orang? Aku mendadak bangga pada diri sen...
“Jijik!!” bentak seseorang, seketika menghentikan aksi puji diri di dalam kepalaku. Aku menoleh menatap sumber suara di belakangku.
Dia adalah salah satu dari empat teman Elma. Siapa ya namanya? Aku lupa karena saat ini aku terlalu ketakutan menatap matanya yang setajam silet. Raut wajahnya tidak bersahabat, dan sisa lingkaran pertemanan Elma yang lain juga menatapku dengan penuh amarah serta aura permusuhan yang kental.
Tidak lama, gadis itu berjalan melewatiku, tetapi sorot mata penuh amarah dan rasa jijik itu terus tertancap padaku. Tidak hanya satu, keempat teman Elma semuanya menatapku seperti aku ini kotoran kucing yang telah terinjak.
“Jangan dekat-dekat dengan dia, Elma. Kamu jangan bicara dengan orang menjijikkan seperti itu,” perintah teman Elma sambil mendorong Elma agar memberi jarak dariku.
“Biar aku hajar dia kalau berani mendekatimu lagi,” timpal temannya yang bermata tajam itu.
Dalam hati aku merespons, ‘Eh? Kok malah aku yang mau dihajar?’ Namun, kalau dipikir baik-baik lagi, ucapan teman Elma itu ada benarnya juga. Ada seorang remaja laki-laki yang diam-diam memasukkan manga misterius ke dalam tas seorang gadis populer. Bukankah itu sudah memenuhi syarat sebagai tindakan kriminal yang mencurigakan? Malahan, aku sendiri pasti merasa jijik kalau ada orang yang benar-benar melakukan hal itu di dunia nyata.
Apa itu artinya aku jijik pada diriku sendiri?! Sial!! Ini sangat membingungkan!! Aku baru saja memuji diriku sendiri dan sekarang aku malah merasa jijik pada diriku sendiri...
Lebih dari itu... lingkaran pertemanan Elma ini rupanya suka main fisik, ya? Tidak hanya Elma, sekarang teman-temannya pun sama. Mereka suka sekali memukul orang. Apa mereka semua ikut klub pencak silat?
“Uum... ahaha... Duh, Elma... aku minta maaf, ya...” ucap Sari penuh penyesalan. Aku bisa merasakan kalau kali ini Sari benar-benar tulus.
...Meski Sari terlihat agak arogan, ternyata dia tetap gadis yang berhati jujur dan baik...
“Tidak apa-apa, selama kamu bisa mengerti,” timpal Elma.
“Duh, bagaimana bilangnya, ya... rasanya jadi lucu sendiri. Ah, maksudku... aku benar-benar sudah kelewatan tadi...” ucap Sari terbata-bata. Dia tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya. Aku tahu betul seberapa canggungnya situasi ini.
“Tapi kalau dipikir-pikir, memang tidak mungkin kamu membaca buku begituan... Se... seharusnya kamu bilang saja dari awal, aku hampir salah paham tadi...” ucap Sari lagi, melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong.
Begitulah. Mungkin karena rasa bersalah inilah yang di kehidupan sebelumnya membuat Sari ikut berhenti sekolah setelah Elma memutuskan keluar. Pokoknya, masalah Elma dan Sari sudah selesai sekarang. Itu hal yang bagus, tapi...
“Awas, dia bahaya banget...”
“Aku jadi kasihan pada Elma...”
“Bukankah itu termasuk tindak kejahatan? Perlu lapor polisi tidak, sih?”
Kegaduhan dan pandangan sinis dari seluruh penjuru kelas kini berpindah sepenuhnya kepadaku. Omongan mereka sangat menusuk hatiku yang selembut sutra ini. Rasanya hatiku sudah berdarah-darah, dan aku ingin memohon agar mereka berhenti, tetapi aku tahu itu hanya akan memperburuk keadaan. Mereka tidak menegurku secara langsung, melainkan berbisik-bisik massal sampai suaranya terdengar jelas di telingaku. Efek kerusakannya benar-benar tidak masuk akal, sialan!
Bahkan Wisnu dan kelompoknya juga ikut membicarakanku. Mereka itu kelompok wibu di kelas, tapi sekarang mereka mendadak berlagak seperti orang normal yang berbeda dariku. Padahal aslinya sama saja, bahkan koleksi mereka lebih parah! Mereka saling berbisik.
“Gila, sih. Aku tidak menyangka anak itu se-nekat ini.”
“Wibu yang tidak tahu batasan memang mengerikan!” timpal Wisnu.
Dalam hati aku memaki, ‘Berisik kalian, wibu!! Cuma di saat seperti ini saja kalian berlagak jadi orang normal, ya?!’
Di sela-sela makianku pada lingkaran pertemanan para wibu tersebut, tiba-tiba bel tanda berakhirnya jam istirahat berdering. Tidak lama kemudian, aku melihat Sari berjalan mendekatiku dengan raut wajah khawatir bercampur takut. Meski dia mencoba mengintimidasi dengan wajah sangarnya, tetap saja terlihat kalau dia takut aku akan menjadikannya target "teror" berikutnya setelah Elma.
Dia perlahan mengembalikan manga itu kepadaku. Tanpa kata, tanpa basa-basi, dia segera berlari kecil sesaat setelah aku menerima buku itu dari tangannya. Aku bisa merasakan kalau dia benar-benar ingin menjaga jarak dari si cowok berbahaya di kelas ini. Masalah manga, nanti saja kukurasi dan kukembalikan ke Elma. Tidak lama setelah itu, guru masuk dan pelajaran pun dimulai kembali.
...Hari ini terasa sangaaaaat panjang...
...Haaah... lelahnya...
Bip... Bip...
Ponselku bergetar. Tanpa menunda, aku langsung membuka pesan masuk yang ternyata dari Maya. Isinya singkat: ‘Memang bukan hari Senin, tapi kita harus rapat darurat di kafe biasa.’ Sempurna, hariku akan menjadi jauh lebih melelahkan.
Beberapa jam berlalu, bel tanda pulang sekolah akhirnya berdering. Aku segera melangkahkan kaki menuju kafe tempat biasa aku bertemu dengan Maya. Aku cukup terkejut melihatnya sudah duduk manis di dalam kafe, padahal aku sama sekali tidak membuang waktu begitu bel berbunyi. Entah bagaimana caranya dia bisa sampai lebih cepat dariku.
Maya menatapku datar, namun sorot matanya terasa begitu tajam. Dia terlihat marah, tetapi entah kenapa aura kesedihannya juga terasa kuat. Aku mencoba mengabaikan firasat buruk itu, lalu duduk di depannya seperti biasa. Tanpa basa-basi, Maya langsung membuka percakapan dengan kalimat interogasi.
“Aku mendengar hal menarik tadi di sekolah,” celetuknya.
“Oh,” timpalku pendek.
“Katanya, ada anak laki-laki yang diam-diam memasukkan manga Rom-Kom ke dalam tas anak perempuan. Menakutkan sekali, ya?” sindirnya. Aku sebenarnya sudah menduga kalau berita itu akan beredar luas dan liar di sekolah.
“Begitu, ya. Memang terdengar menakutkan,” jawabku sedatar mungkin.
“Orang itu juga kabarnya sudah sering mengintip siswi saat berganti pakaian olahraga di kelas, bahkan sampai nekat masuk ke kamar mandi perempuan. Dia itu kriminal,” ucap Maya meneruskan sindirannya yang makin melantur.
“Wooii!! Itu sudah jelas dilebih-lebihkan!!!” bentakku panik. Kali ini aku tidak bisa bersikap tenang lagi. Dari mana sebenarnya semua gosip sesat itu berasal?!
“Nama korbannya Elma, dan nama kriminalnya Raka. Ada komentar?” tanya Maya. Kali ini dia benar-benar terlihat menyeramkan. Dia menekanku dengan pertanyaan itu, dan sorot matanya menyimpan begitu banyak kebencian serta dendam.
Aku sudah tidak bisa mengerti lagi cara orang-orang ini hidup. Mereka dengan seenak jidat menyebarkan gosip aneh tentang diriku yang sudah digoreng habis-habisan. Ya, aku akui bagian menaruh manga romantis-komedi ke dalam tas itu memang ideku. Tapi, apa perlu mereka menambahkan bumbu penyedap yang membuatku terlihat seperti buronan kelas kakap?!
Tolong, kembalikan aku ke satu hari sebelum aku tertabrak sajaaaa!!