11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda kumaliti yg terbuka
Setelah obrolan hangat sambil minum teh selesai, Brisa berpamitan untuk berjalan-jalan mengelilingi padepokan. Ia ingin mengenal lebih dekat setiap sudut tempat tinggal barunya ini.
Langkah kakinya membawanya kembali ke halaman utama. Dari kejauhan, ia langsung melihat sosok Yuse yang masih sibuk mengayunkan sapu. Tapi pemandangan itu membuat Brisa harus menggigit bibir supaya tidak tertawa terbahak-bahak.
Wajah Yuse sudah cemberut parah. Setiap kali ia berhasil mengumpulkan tumpukan daun kering di satu sudut, tiba-tiba ada angin kecil yang berputar entah dari mana, lalu menerbangkan semua daun itu kembali ke tengah halaman. Rasanya daun-daun itu tidak akan pernah habis disapu. Yuse yang makin frustrasi sampai mengacak-acak rambutnya sendiri dengan wajah konyol yang sangat lucu. Dari balik tiang bangunan, Brisa segera sadar siapa pelakunya: dari selasar atas, Bibi Liana diam-diam menggerakkan jari-jarinya, membuat angin kecil khusus untuk menjahili keponakannya itu.
Melihat Yuse yang sudah basah keringat dan hampir menangis, Brisa akhirnya berniat maju untuk membantunya. Tapi baru saja ia hendak mengambil sapu cadangan, sesosok bayangan bergerak sangat cepat.
Bibi Liana sudah berdiri tepat di depannya, menghalangi jalan dengan senyum khasnya yang penuh teka-teki.
"Biarkan bocah itu menyelesaikan hukumannya, Brisa," ujarnya tenang. "Daripada membantunya, bagaimana kalau kita bermain sedikit di sini?"
Dahi Brisa berkerut bingung. "Bermain apa, Tetua?"
"Anggap saja ini tes kecil untuk melihat kemampuanmu," jawab Liana sambil mengangkat tangan kanannya ke udara. Di atas telapak tangannya, selembar daun hijau segar tiba-tiba melayang dan berputar seimbang tanpa menyentuh kulitnya sama sekali. "Bukan tes bertarung atau pakai senjata. Aku cuma mau tahu seberapa tenang hatimu dan seberapa baik kamu menguasai dasar elemen angin."
Liana mengibaskan tangannya, dan daun hijau itu melayang perlahan ke arah Brisa. "Coba tahan daun ini di udara pakai energimu sendiri. Jangan sampai jatuh atau hancur."
Brisa menarik napas panjang, lalu memejamkan mata sebentar untuk menenangkan detak jantungnya. Saat matanya terbuka lagi, pandangannya sudah terkunci penuh pada daun itu. Perlahan ia mengangkat kedua tangannya, dan seketika aliran angin yang sangat halus dan sejuk mulai berputar di sekeliling jari-jarinya. Dengan kendali yang luar biasa tenang, ia berhasil menangkap dan menahan gerakan daun itu di udara, membuatnya terus berputar stabil di antara kedua telapak tangannya.
Melihat kemampuan yang sudah begitu matang di usia muda, Bibi Liana mengangguk kagum. Tapi tepat saat ia melangkah maju untuk memeriksa aliran energi itu lebih dekat, embusan angin halus dari tangan Brisa sedikit menyingkap kain penutup di pergelangan tangan kirinya.
Deg.
Mata Bibi Liana terbelalak lebar, dan senyum di wajahnya yang awet muda langsung lenyap seketika. Di kulit pergelangan tangan Brisa, terlihat jelas sebuah tanda simbol kuno yang memancarkan cahaya samar.
Itu adalah tanda Kumaliti.
Suasana halaman yang tadinya damai mendadak berubah menjadi sangat tegang dan serius. Rasa curiga yang besar langsung memenuhi pikiran Liana, dan ingatan tentang peristiwa mengerikan dua puluh tahun lalu serta sosok wanita pemilik angin murni langsung berputar jelas di kepalanya.
Ia memegang lembut pergelangan tangan Brisa, sampai daun hijau yang sedang melayang itu jatuh ke tanah. Matanya menatap tajam lurus ke mata gadis berambut perak itu.
"Brisa... dari mana kamu dapat tanda ini?" tanyanya dengan nada rendah dan sangat serius, sampai membuat Brisa tersentak kaget.
Brisa sadar penyamarannya terbuka sedikit, lalu segera menarik tangannya kembali dengan cemas. Ia diam dan bingung harus menjawab apa.
Melihat kekhawatiran di wajah Brisa, Liana menghela napas panjang untuk menenangkan perasaannya sendiri. Ia menoleh sebentar ke arah Yuse, untungnya pemuda itu masih sibuk mengomeli daun-daun kering di ujung sana dan tidak mendengar apa-apa.
"Kamu tidak perlu takut padaku," bisik Liana, tatapannya melembut tapi menyimpan luka lama yang mendalam. "Tanda Kumaliti di tanganmu itu bukan sekadar tanda lahir biasa. Itu tanda suci yang hanya dimiliki oleh keturunan darah murni pemilik elemen angin dari kitab Janma Manunggal."
Liana menatap ke langit yang sudah mulai bersih dari sisa gerimis.
"Dua puluh tahun yang lalu... ada wanita yang sangat dekat dengan keluarga kami memiliki tanda yang sama persis sepertimu. Tapi ingatlah ini baik-baik: tanda itu akan membawa takdir yang sangat buruk kalau pemiliknya membiarkan hatinya dikuasai oleh dendam."
Brisa diam terpaku di tempat, jantungnya berdegup kencang mendengar kata-kata itu. Perlahan tabir misteri tentang asal-usul tanda di tubuhnya serta hubungannya dengan masa lalu keluarga Yuse mulai terbuka sedikit demi sedikit.