NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17 - MHB

Malam itu, di dalam kamarnya Maya merasa perlu melakukan sesuatu yang layak untuk membalas tindakan Arka di kampus. Dalam kamus besar kehidupan Maya Clarissa, rasa terima kasih harus diwujudkan dalam bentuk yang elegan, terukur, dan memiliki nilai prestise tinggi. Kemudian maya keluar dan mengetuk pintu kamar arka dan mengajaknya ke suatu tempat. Maka, di sinilah mereka, duduk di sebuah restoran fine dining di lantai 56 sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman.

​Lampu-lampu kota Jakarta berkelip di bawah sana seperti hamparan berlian, namun suasana di meja mereka terasa sekaku kerah kemeja yang dikenakan Arka. Musik jazz yang diputar sangat pelan justru membuat kesunyian di antara mereka terasa menekan. Seorang pelayan dengan sarung tangan putih menuangkan air mineral ke gelas kristal dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah satu tetesan air yang meleset bisa memicu alarm kebakaran.

​"Cobalah wagyu tartare-nya, Arka. Ini salah satu yang terbaik di kota ini," ucap Maya dengan nada formal, meskipun ia sendiri merasa sedikit terintimidasi oleh tumpukan sendok dan garpu di depannya.

​Arka melihat piringnya yang hanya berisi sedikit daging mentah yang dihias bunga-bunga kecil. Ia melirik Maya, lalu melirik ke sekeliling restoran di mana orang-orang berbicara dengan suara yang nyaris berbisik. Ia merasa seperti sedang berada di dalam perpustakaan yang sangat mahal, bukan di sebuah tempat makan.

​"Kak," bisik Arka, mencondongkan tubuhnya ke meja.

​"Ya?"

​"Kamu benar-benar menikmati ini? Maksudku, porsinya lebih kecil dari penghapus pensilku, dan aku merasa kalau aku bersin, aku akan diusir oleh satpam di depan," ucap Arka dengan wajah polos namun penuh kejujuran.

​Maya mengerutkan kening. "Ini soal pengalaman kuliner, Arka. Soal suasana. Aku ingin memberikan yang terbaik sebagai rasa terima kasihku."

​Arka menghela napas, ia meletakkan garpu kecilnya. "Terima kasihnya aku terima, Kak. Tapi suasananya... ini bukan kita. Ini 'Maya sang Direktur' yang sedang traktir klien, bukan Maya yang kemarin aku peluk di vila. Aku merasa kita sedang diaudit oleh pelayan-pelayan itu."

​Arka tiba-tiba berdiri. Ia merapikan jasnya yang terasa sempit. "Ayo ikut aku."

​"Ke mana? Kita bahkan belum pesan hidangan utama!"

​"Percayalah padaku sekali ini saja. Aku tahu tempat yang lebih 'manusiawi'."

​Dua puluh menit kemudian, mereka berada di sebuah trotoar di daerah sabang. Suasananya sangat kontras. Tidak ada musik jazz, yang ada hanyalah suara klakson kendaraan, deru mesin motor, dan teriakan abang tukang parkir. Udara tidak lagi berbau parfum mahal, melainkan aroma lemak daging yang terbakar di atas arang—aroma yang entah kenapa langsung membangkitkan selera makan yang tadi sempat mati.

​Maya menatap kursi plastik berwarna hijau neon di depannya dengan ragu. "Arka, serius? Kita pakai baju begini duduk di pinggir jalan?"

​Arka tertawa, ia sudah melepas jas dan dasinya, menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. "Baju cuma kain, Kak. Rasa lapar itu nyata. Bang! Sate kambing dua porsi, lemaknya dikit, lontongnya banyakin!"

​Maya akhirnya duduk, mencoba menyesuaikan gaun sutranya agar tidak terkena debu meja kayu yang dilap seadanya. Awalnya ia merasa risih. Ia merasa orang-orang yang lewat memperhatikan mereka. Namun, saat sepiring sate dengan bumbu kacang yang kental dan kepulan asap yang menggoda diletakkan di depan mereka, pertahanannya runtuh.

​Ia mengambil satu tusuk sate, mencicipinya, dan matanya membelalak. "Ini... enak banget."

​"Kan? Bunga-bunga di restoran tadi nggak bisa ngalahin bumbu kacang ini, Kak," ujar Arka sambil mengunyah dengan lahap.

​Di sela-sela kunyahan sate, percakapan mulai mengalir. Bukan lagi soal strategi kantor atau aturan rumah tangga, tapi soal hal-hal kecil yang selama ini mereka simpan. Arka bercerita tentang masa kecilnya yang nakal, tentang bagaimana ia pernah mencoba memanjat pohon mangga tetangga dan berakhir dikejar anjing pudel yang galak.

​"Anjing pudel? Kamu lari dari pudel?" Maya bertanya, mencoba menahan tawa.

​"Kak, jangan meremehkan pudel. Mereka itu kecil-kecil cabai rawit. Aku sampai harus manjat pagar seng dan celanaku robek di bagian belakang tepat saat ada gebetanku lewat," Arka memperagakan gerakannya dengan sangat ekspresif, membuat sendoknya hampir jatuh.

​Maya tidak bisa menahannya lagi. Bahunya mulai berguncang. Awalnya hanya tawa kecil yang tertahan, namun melihat wajah Arka yang begitu serius menceritakan penderitaannya, tawa Maya meledak.

​Ia tertawa lepas. Benar-benar lepas. Bukan tawa sopan yang biasa ia tunjukkan saat bertemu klien, tapi tawa yang membuat matanya menyipit dan perutnya sedikit sakit. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, di antara asap sate dan debu jalanan, Maya Clarissa tampak begitu cantik dan hidup.

​Arka berhenti makan. Ia terpaku menatap Maya. Ia belum pernah melihat istrinya sebahagia ini.

​"Kenapa?" tanya Maya sambil menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Ada noda bumbu di wajahku?"

​"Nggak," jawab Arka lembut. "Cuma... kamu cantik kalau tertawa begitu. Harusnya kamu lakukan itu lebih sering."

​Maya terdiam sejenak, wajahnya kembali merona, tapi kali ini bukan karena malu yang menyakitkan. Ia merasa ringan. Ia merasa beban sebagai "Wanita Besi" yang ia pikul setiap hari di kantor luruh bersama setiap tawa yang ia keluarkan.

​"Mungkin karena suasananya," gumam Maya pelan, menatap potongan lontong di piringnya. "Di restoran tadi, aku merasa harus jadi orang lain. Di sini... aku merasa nggak perlu jaga imej."

​"Itu poinnya, Maya," Arka meraih tangan Maya di atas meja, tidak peduli jika tangan mereka sedikit lengket karena bumbu sate. "Aku nggak butuh 'Direktur Maya'. Aku butuh kamu. Yang bisa ketawa soal pudel, yang berani makan di pinggir jalan pakai baju mahal. Itu Maya yang aku nikahi."

​Maya menatap tangan Arka yang menggenggamnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjodohan ini bukan lagi sebuah transaksi bisnis atau beban keluarga. Ini adalah sebuah perjalanan untuk menemukan bagian dari dirinya yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

​"Arka," panggil Maya.

​"Ya?"

​"Makasih ya. Untuk satenya... dan untuk mengingatkanku kalau aku masih bisa tertawa."

​Arka tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus yang membuat Maya sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat-tempat mewah dengan pelayanan bintang lima. Terkadang, kebahagiaan hanya butuh sepiring sate, trotoar yang ramai, dan seseorang yang tepat untuk diajak bicara.

​Malam itu, mereka pulang dengan perut kenyang dan hati yang jauh lebih lapang. Saat berjalan menuju mobil, Maya tidak lagi berjalan di depan Arka dengan langkah terburu-buru. Ia berjalan bersisian, membiarkan lengannya sesekali bersentuhan dengan lengan Arka, menyadari bahwa di antara keriuhan kota Jakarta, ia telah menemukan keheningan yang ia butuhkan pada diri pria yang dulu ia anggap sebagai bocah.

Bersambung....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!