NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGHADAPI TATAPAN DINGIN SANG SNIPER

Jika Lucien adalah baja yang kaku, maka Julien adalah es abadi. Dari keempat kembar De Calvi, Julien adalah yang paling irit bicara. Dia adalah bayangan di balik lensa bidik, pria yang bisa menahan napas selama tiga menit hanya untuk menunggu targetnya lengah. Baginya, dunia ini hanyalah kumpulan koordinat, arah angin, dan jarak tempuh peluru. Tidak ada ruang untuk basa-basi, apalagi untuk seorang gadis Indonesia yang hobinya menyanyi dangdut di kamar mandi.

​Alya menyadari bahwa setelah "menaklukkan" sisi lembut Lucien lewat miniatur kapal, tantangan berikutnya adalah si pendiam Julien. Masalahnya, Julien tidak punya hobi yang terlihat. Dia menghabiskan waktunya di ruang latihan menembak atau duduk di balkon sambil membersihkan senapan runduknya yang panjangnya hampir menyamai tinggi badan Alya.

​"Bang Julien," panggil Alya suatu pagi, mencoba mendekati Julien yang sedang duduk di ruang tengah. Julien sedang membongkar pasang senjata apinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Julien tidak menoleh. Hanya suara klik logam yang menjawab panggilan Alya.

​"Bang, saya mau nanya. Abang kalau kedip itu berapa jam sekali sih? Kok kayaknya matanya melotot terus?" tanya Alya sambil duduk di sofa tepat di depan Julien.

​Julien berhenti sejenak. Dia mengangkat kepalanya, menatap Alya dengan mata biru pucatnya yang sangat dingin. Tatapan itu jenis tatapan yang bisa membuat nyali preman pasar langsung ciut, tapi Alya sudah kebal. Dia sudah pernah menghadapi emak-emak yang berebut diskon minyak goreng di supermarket; tatapan sniper bukan apa-apa.

​"Kau berisik," sahut Julien pendek. Suaranya datar tanpa intonasi.

​"Dih, galak amat. Saya cuma mau nawarin, Abang mau saya bikinin kopi nggak? Tapi kopinya bukan kopi kafe yang rasanya kayak air cucian piring itu. Kopi tubruk asli, ampasnya bisa buat ngeramal masa depan."

​"Tidak perlu." Julien kembali fokus pada senjatanya.

​Alya tidak menyerah. Dia tahu, di balik sifat dingin itu, Julien adalah orang yang paling sigap melindungi keseluruhannya. Saat pelarian di kastil dulu, Julien-lah yang mengangkatnya tanpa banyak bicara.

​"Bang, saya tahu loh kenapa Abang nggak mau ngomong sama saya. Abang takut naksir saya kan? Soalnya saya kalau lagi diem begini emang mirip artis-artis drakor," goda Alya sambil menopang dagu.

​Julien meletakkan laras senjatanya di meja dengan bunyi dentang yang cukup keras. Dia menatap Alya lagi, kali ini lebih lama. "Alya, hidupku adalah tentang ketenangan. Kau adalah gangguan frekuensi yang konstan. Kenapa kau tidak bisa duduk diam seperti Marc atau setidaknya pergi berbelanja dengan Etienne?"

​"Karena saya mau berteman sama Abang! Masa kita udah sah tapi kayak orang musuhan di angkot," balas Alya. "Ayo dong, Bang. Sekali-kali keluar dari mode 'siap tembak' itu. Kita main apa gitu yang seru."

​Julien menghela napas, sebuah ekspresi langka yang menunjukkan rasa frustrasi. "Main apa?"

​"Lomba menatap! Siapa yang kedip duluan, dia harus turutin satu permintaan pemenang. Gimana?"

​Julien menyipitkan mata. Menatap adalah keahliannya. Dia bisa menatap satu titik selama berjam-jam tanpa menggerakkan satu otot wajah pun. Ini adalah tantangan yang sangat mudah baginya. "Baik. Tapi jika aku menang, kau harus diam selama dua puluh empat jam."

​"Oke! Tapi kalau saya menang, Abang harus temenin saya ke pasar tradisional di pinggiran Paris buat nyari bumbu dapur. Gimana?"

​"Sepakat."

​Mereka duduk berhadapan. Jarak wajah mereka hanya sekitar tiga puluh sentimeter. Alya memasang wajah serius, sementara Julien tampak seperti patung marmer yang baru saja dipahat.

​Satu menit berlalu. Hening. Hanya ada suara detak jam dinding di ruang tengah.

​Dua menit. Julien tidak bergerak sedikit pun. Matanya tetap tajam, menusuk langsung ke iris mata Alya. Alya mulai merasa matanya perih, tapi dia bertahan. Dia mulai memikirkan hal-hal sedih, seperti harga cabai yang naik atau daster favoritnya yang robek, agar matanya tetap lembap.

​Tiga menit. Keringat mulai muncul di dahi Alya. Julien tampak masih sangat nyaman. Baginya, ini hanyalah latihan konsentrasi tingkat dasar.

​"Bang... kok... nggak... kedip... sih?" bisik Alya tanpa menggerakkan bibir terlalu banyak.

​Julien tidak menjawab. Dia bahkan tidak bernapas lewat mulut.

​Alya mulai merasa kalah. Namun, otaknya yang cerdik mulai bekerja. Dia tahu dia tidak bisa menang melawan sniper dalam hal adu mata secara jujur. Dia butuh taktik gerilya.

​Tiba-tiba, Alya memajukan wajahnya sedikit lagi, lalu dia menjulurkan lidahnya dan membuat wajah jelek yang sangat konyol, lengkap dengan mata yang diputar ke atas.

​Julien terkejut. Dia tidak menyangka targetnya akan melakukan tindakan yang sangat tidak bermartabat di tengah "pertempuran" serius. Sudut bibirnya bergetar. Dia mencoba menahan tawa, tapi pertahanannya runtuh saat Alya mengeluarkan suara * "Preeet!" * menggunakan tangannya.

​Julien berkedip. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali sambil memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyumnya yang hampir pecah.

​"HOREEE! MENANG!" teriak Alya sambil melompat-lompat kegirangan. "Abang kedip! Abang kedip!"

​Julien menutup wajahnya dengan satu tangan, bahunya terguncang sedikit. "Itu curang, Alya. Kau menggunakan taktik kotor."

​"Nggak ada aturan dilarang bikin muka jelek kan? Dalam perang, yang penting hasilnya, Bang! Kata Abang sendiri tadi, 'hidup adalah tentang ketenangan', nah ketenangan Abang barusan saya hancurkan pakai jurus muka semprul!"

​Julien menurunkan tangannya. Sisa-sisa senyum masih ada di matanya yang biasanya dingin. "Kau benar-benar tidak punya rasa malu."

​"Malu itu kalau nggak bisa beli makan, Bang. Sekarang, janji adalah janji. Besok temenin saya ke pasar!"

​Keesokan harinya, Julien benar-benar menepati janjinya. Namun, dia datang dengan penampilan yang membuat Alya melongo. Julien memakai jaket hoodie hitam, topi, dan kacamata hitam. Dia terlihat seperti agen rahasia yang sedang dalam misi penyamaran tingkat tinggi.

​"Bang, kita mau ke pasar, bukan mau ngerampok bank. Kenapa penampilannya mencurigakan banget begini?" protes Alya.

​"Ini prosedur keamanan," jawab Julien singkat. Dia membawa tas belanja kain di tangannya, seolah-olah itu adalah tas berisi uang tebusan.

​Mereka sampai di sebuah pasar terbuka yang ramai di daerah pinggiran yang banyak dihuni imigran. Bau rempah-rempah, sayuran segar, dan teriakan pedagang menyambut mereka. Alya langsung merasa seperti di rumah.

​"Wah, Bang! Liat itu! Ada lengkuas! Akhirnya nemu juga!" Alya berlari ke arah lapak pedagang Arab.

​Julien mengikuti di belakang dengan waspada. Matanya terus memindai atap bangunan sekitar, mencari titik-titik yang mungkin digunakan sniper musuh. Dia tidak peduli pada lengkuas; dia peduli pada sudut pandang 360 derajat.

​"Bang Julien, pegangin ini bentar," Alya menyodorkan seikat kangkung dan dua kilo bawang ke arah Julien.

​Julien menatap kangkung itu dengan bingung. Dia, seorang penembak jitu yang tangannya biasanya memegang senapan seharga ratusan juta, kini memegang kangkung. "Alya, aku bukan asisten belanjamu."

​"Cuma bentar, Bang. Saya mau tawar-tawaran harga sama mamang itu. Abang diem aja di sini, pasang muka galak biar dia takut terus kasih harga murah."

​Julien akhirnya hanya bisa pasrah. Dia berdiri tegak di tengah kerumunan pasar, memegang kangkung dan bawang, sambil tetap memakai kacamata hitam. Orang-orang yang lewat menatapnya dengan heran—dia terlihat seperti pengawal pribadi yang sedang menjalani hukuman dari bosnya.

​Setelah dua jam berkeliling, tas belanja Julien sudah penuh sesak. Ada cabai, tomat, lengkuas, bahkan sebuah ulekan batu baru yang lebih besar (Alya bilang yang lama kurang mantap).

​"Oke, misi selesai! Makasih ya, Bang Julien. Abang ternyata hebat juga bawa belanjaan, nggak ada yang jatuh satu pun," puji Alya saat mereka berjalan kembali ke mobil.

​Julien tidak menyahut, tapi dia tetap membawakan semua tas itu sampai ke bagasi. Saat mereka di dalam mobil, Julien melepas kacamata hitamnya. Matanya tampak lelah, tapi tidak sedingin biasanya.

​"Kenapa kau sangat menyukai tempat-tempat ramai dan kacau seperti itu?" tanya Julien tiba-tiba.

​Alya menoleh. "Karena di sana ada kehidupan, Bang. Orang-orang berjuang buat makan, mereka ngobrol, mereka ketawa meskipun hidupnya susah. Di apartemen kita itu... terlalu sepi. Terlalu rapi. Kadang-kadang saya ngerasa kayak tinggal di museum."

​Julien terdiam, merenungkan kata-kata Alya. "Sepi itu aman, Alya. Keramaian adalah variabel yang tidak bisa dikontrol."

​"Tapi hidup tanpa variabel itu namanya bukan hidup, Bang. Itu namanya simulasi," balas Alya lembut. "Abang terlalu lama liat dunia lewat lubang bidik. Sekali-kali liat pake mata telanjang, biar Abang tau kalau dunia ini warnanya bukan cuma item putih atau merah laser."

​Julien menatap ke depan, ke arah jalanan Paris yang mulai diterangi lampu kota. "Mungkin kau benar. Tapi variabel itu seringkali mematikan."

​"Nah, makanya ada saya! Saya adalah variabel paling berisik yang bakal jagain Abang dari rasa sepi."

​Julien tidak membalas, tapi dia menyalakan radio mobil. Alih-alih mendengarkan berita intelijen atau musik klasik yang biasa diputar Lucien, dia membiarkan Alya mencari gelombang radio. Alya menemukan lagu pop yang ceria dan mulai ikut bernyanyi dengan suara cemprengnya.

​Julien tidak menyuruhnya diam. Dia justru mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mengikuti irama, sebuah gerakan kecil yang menunjukkan bahwa es di dalam dirinya mulai mencair.

​Malam itu, saat sampai di apartemen, Julien membantu Alya merapikan belanjaan di dapur. Sebelum keluar, dia berhenti di ambang pintu.

​"Alya," panggilnya.

​"Ya, Bang?"

​"Besok... jika kau butuh bantuan untuk menawar harga lagi, beri tahu aku. Tapi jangan harap aku mau memegang kangkung lagi."

​Alya tertawa lebar. "Siap, Bang Sniper kesayangan! Tapi kalau saya suruh pegang ulekan batu gimana?"

​Julien hanya menggelengkan kepala dan berjalan pergi dengan langkah ringan. Di dalam hatinya, dia mulai menyadari bahwa tatapan dinginnya mungkin efektif untuk membunuh musuh, tapi tidak pernah bisa mengalahkan kehangatan konyol yang dibawa oleh gadis bernama Alya itu.

​Malam itu, Julien tidur dengan nyenyak tanpa bermimpi tentang koordinat atau kecepatan angin. Dia bermimpi tentang bau bawang goreng dan suara tawa yang memenuhi ruangan yang selama ini terasa seperti museum sepi.

1
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!